
Amora berjalan lungkai menyusuri jalan yang ia lalui. Masih terngiang di telinganya kata-kata Aldo tentang Asyia.
Lima belas menit ia berjalan, ia pun tiba di sebuah gedung mewah lima lantai yakni gedung sekolah milik yayasan Hasta Raja Prawira.
Entah perasaan apa yang menuntunnya menuju ke gedung tersebut. Kenapa tiba-tiba ia ingin sekali bertemu Asyia.
Amora menatap sekolah yang terlihat sepi tersebut.
Ia pun duduk di sebuah warung kopi yang ada di seberang jalan.
***
Dua jam sudah materi pelajaran untuk sesi pertama hari ini.
Guru keluar dari kelas dan mereka pun di persilahkan untuk istirahat selama dua puluh menit sebelum sesi kedua di mulai.
Karna kantin sekolah tutup , ketiga orang siswa tersebut memang di anjurkan untuk membawa bekal sendiri.
Suasana sepi ketika guru tersebut meninggalkan ruang kelas.Maklum saja ketiga siswa tersebut memang type anak yang tak banyak bicara.
Asyia menutup bukunya dan menyimpannya di laci meja.
Ia pun mengeluarkan kotak nasi yang telah di siapkan Delia untuknya. Selain itu ia juga mengeluarkan beberapa obat.
Ada obat yang harus di komsumsi sebelum makan. Yakni obat lambung. Karna terlalu banyak mengkomumsi obat anti nyeri yang bisa mengiritasi lambung.
Karna itu sebelum makan, ia harus meminum obat yang menetralisir asam lambung.
Andhra menelan ludahnya ketika ia melihat Asyia meletakan beberapa obat di atas mejanya.
Andhra membawa kotak bekalnya ke meja Asyia.
"Asyia boleh aku makan bersama mu?" Andhra.
"Silahkan, "ucap Asyia.
Andhra menarik kursi dan duduk di samping Asyia.
Keduanya pun membuka kotak makan mereka.
"Asyia apa kau mengkomsumsi obat sebanyak itu, setiap hari ?" tanya Andhra yang terlihat sedikit ngeri.
Asyia meminum obat lambungnya.
Setelah obat tersebut masuk ke tenggorakannya barulah ia meminum air.
"Iya. Tapi biasanya tak sebanyak ini. Selama seminggu ini aku harus mengkomsumsinya secara rutin." Asyia.
"Kamu ngak bosan minum obat sebanyak itu ?" tanya Andhra. Andhra sendiri tak familiar dengan obat-obat medis.Karna keluarganya selalu membudayakan hidup sehat, hinga ia sendiri jarang sakit, bahkan untuk flu sekalipun.
"Kata dokter aku harus mengkomsumsi obat-obat ini untuk memperpanjang umurku. Terkecuali aku sudah bosan untuk hidup, aku bisa mengabaikannya,"sahut Asyia dengan nada bercanda.
Andhra melirik bekalan yang di bawa Asyia. Hanya telur goreng.
Ia membuka kotak makan siangnya. Yang seperti rantang-rantang kedap udara hingga makanan yang di bawanya tetap hangat.
__ADS_1
Andhra membawa nasi dan aneka sayuran yang di tumis serta beberapa buah bola-bola perkedel kentang dan ayam, ia pun membagi makanan tersebut kepada Asyia dan meletakan nya langsung di dalam kotak makan siang Asyia.
Hm Asyia kaget. Ia tak menyangka Andhra melakukan hal tersebut.
Asyia tersenyum. "Terima kasih."
"Hm, makanlah itu mommy ku sendiri yang menyiapkannya." Andhra.
Mereka pun menikmati makanan mereka bersama.
Nessa membelalakan matanya ketika melihat Andhra yang tampak akrab dengan Asyia. Seluruh sekolah juga tahu. Andhra tak punya teman yang terlalu akrab, meski teman sekelasnya.
Tak heran meski ia adalah sosok yang di kagumi banyak gadis.Namun, tak ada yang berani menyatakan perasaannya secara terang-terangan terhadap Andhra.
Setelah selesai makan dan menutup kotak makannya Asyia memberi jedah beberapa saat sebelum minum obatnya.
"Asyia apa kau tak ingin lepas dari obat-obatan tersebut dan hidup secara normal?"tanya Andhra. Sejujurnya ia benar-benar kasihan melihat Asyia.
Apalagi setelah melihat dan mendengar sendiri dari penuturan dokter terhadap riwayat penyakit yang di derita gadis itu. Andhra yang tak menyukainya, kini justru merasa simpati terhadapnya.
"Sepertinya itu hanya mimpi. Aku tak ingin menghabiskan uang paman ku lebih banyak lagi karna operasi cangkok Jantung itu mahal sekali, "sahut Asyia dengan santai.
"Apa karna itu kau tak bersedia?"tanya Andhra.
Hm. Asyia mengangguk seraya meminum obatnya.
"Bagaimana jika ada donatur yang membiayai operasi mu dan kau tak perlu membayar sepeser pun. ?"tanya Andhra.
Ehm, Asyia menoleh.
"Iya, kau mau kan Asyia menjalani operasi tersebut?"tanya Andhra antusias.
"Ehm, siapa yang akan berbaik hati mengeluarkan dana yang begitu besar tersebut?"
"Kau tak perlu tahu siapa orangnya. Yang pasti jika ia bersedia membiayai mu orang tersebut pasti melakukannya dengan iklas." Andhra.
"Ehm apa orang itu kau?"tanya Asyia lirih.
Keduanya pun saling menatap.
Kring bel berbunyi.
Andhra tak menjawab pertanyaan dari Asyia.
Ia segera membereskan kotak makannya kemudian kembali ke mejanya.
Asyia menatap ke arah Andhra yang berjalan.
'Apa hatinya sebaik itu terhadap ku?'batin Asyia.
Seorang guru masuk ke kelas. Mereka pun kembali memulai akifitas belajar mengajar kembali
***
Bel berbunyi tanda pertemuan sesi dua telah berakhir.
__ADS_1
Mereka bertiga pun di perbolehkan untuk pulang.
Karna jadwal pelajaran berbeda dari hari-hari biasa ketika mereka sekolah. Asyia harus menghubungi Aldo terlebih dahulu untuk meminta jemputan.
Setelah menelpon Aldo, Asyia keluar dari ruang kelasnya karna ruangan tersebut akan di kunci.
Asyia keluar dari sekolahnya dan bermaksud menunggu di depan pagar sekolah.
Sambil menunggu Asyia bermain game online untuk menghilangkan rasa jenuh. Karna pada saat itu Aldo ada urusan dan kemungkinan akan terlambat menjemput Asyia.
Ketika sedang asik bermain game online Asyia tak menyadari seorang wanita datang menghampirinya.
"Asyia," Panggil Amora dengan lembut.
Asyia langsung melihat ke arah wanita yang ada di hadapannya.
"Ibu, "ucap Asyia lirih.Namun Amora bisa tahu apa yang di ucapkan Asyia dari gerak bibirnya.
Amora tersenyum menatap dengan bola mata yang berembun pada gadis cantik yang memiliki hidung mancung dengan ujung yang hampir lancip dan bibir munggil yang terlukis indah di wajahnya . Bulu matanya lentik seperti bulu mata Aldo dengan rambut hitam lurus tergerai. Perpaduan yang yang nyaris sempurna terpahat di wajah Asyia.Mungkin salah satu kelebihan yang di miliki Asyia adalah kecantikan dan kelembutan hatinya, selain itu dirinya adalah seorang gadis cerdas di samping kekurangan yang ia miliki, yakni penyakit yang di derita olehnya.
Amora semakin mendekat, ia berusaha menyentuh wajah Asyia. Namun, karna Asyia masih merasa takut, ia pun mundur beberapa langkah.
"Jangan takut Nak, ini ibu."Amora.
Andhra yang melihat Asyia sedang berbicara dengan orang asing dan terlihat ketakutan ia pun meminta sang sopir berhenti.
"Asyia! Jangan bicara pada orang asing. Ayo ikut aku, "ucap Andhra seraya menarik tangan Asyia.
Asyia hanya mengikuti Andhra yang menariknya menuju mobil, sementara ia terus menatap ke arah Amora yang terlihat kecewa karna di tinggal olehnya.
Asyia merasa ragu. Meski ia sadar jika Amora adalah ibu yang telah melahirkan kedunia. Tapi wanita tersebut adalah wanita yang juga tak menginginkannya lahir kedunia ini.
Asyia masuk ke dalam mobil Andhra. Pintu mobil tertutup.Namun Asyia masih menoleh ke arah Amora bahkan ketika mobil tersebut perlahan menjauh.
Melihat Asyia yang terus menatap wanita tersebut hingga kepalnya menoleh ke belakang.Membuat Andhra penasaran.
"Siapa wanita itu Asyia?"tanya Andhra.
Asyia tercekat atas pertanyaan dari Andhra, keduanya pun saling menatap lekat.
Bersambung dulu ya reader.
Moga bisa up satu part lagi. Terima kasih.
Selamat menjalan kan ibadah puasa.Assalammualaikum.Wr.Wb.
Rekomendasi novel baru author.Sambil nunggu author up he he.( Iklan say😃)
Judul: Aku hanya butuh pengakuan.
Menceritakan perjuangan seorang gadis yang di anggap pembawa sial oleh keluarganya. Hingga di dititipkan di panti asuhan sejak kecil. Suatu hari Mayang merasa bahagia ketika sang ayah menjemputnya untuk tinggal bersama keluarganya.Namun, kenyataan tak sesuai.ekspektasi.
Mayang di jemput pulang hanya untuk menjadi barang gadaian sebagai jaminan hutang keluarga ayahnya kepada seorang pengusa sekaligus mantan mafia yang terkenal kejam.Bagaimana nasib Mayang cus mampir
__ADS_1