
❌ Bab ini mengandung adeggan dewasa, harap bijak membacanya.❌
Setelah akad nikah berlangsung, Dinar menuju kamarnya untuk menidurkan Asyia.
Dengan hati-hati ia memasukan bayi kecil tersebut ke dalam ayunan.
Dinar tersenyum ke Arah Asyia kemudian menciumnya.
"Asyia sayang, malam ini kamu tidur yang nyenyak ya, jangan ganggu paman dan bibi dulu he he he. Setelah urusan kami selesai kamu boleh minta susu Dan mengganti popok kamu, " ucap Dinar seraya mengayun Asyia.
Dinar tersenyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan Arief malam ini.
Asyia tidur begitu lelap, setelah yakin jika bayi tersebut tertidur ,ia pun segera mengganti pakaiananya dengan daster yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kecil.
***
Setelah tamu undangan pulang, Arief langsung menuju kamar penggantin Mereka.
Tak ada dekorasi ataupun bunga yang menghiasi kamar Mereka.
Arief membuka pintu kamarnya kemudian berjalan menghampiri lemari, melepas pakaiananya.
Saat itu jantung Dinar berdetak kencang, wajah nya tertunduk dengan pipi yang merona.
Setelah melepas pakaiananya, Arief berjalan menghampiri Dinar yang berdiam diri di salah satu sudut tempat tidur.
Arief tersenyum seraya membelai rambut panjang Dinar yang terurai.
Dinar hanya mampu melempar Senyum, sesaat kemudian tertunduk malu kembali.
Arief semakim mendekat, di angkatnya wajah Dinar yang sedang tersipu tersebut, kemudian ia mendaratkan kecupan hangat di kening Dinar.
Deg deg deg.
Jantung Dinar berdetak semakin kencang, ketika Arief menggenggam erat tangannya, kemudian mencium setiap Inci dari wajahnya.
Dinar memejamkan matanya merasakan sentuhan dan hembusan napas Arief.
Seketika gairahnya bergelora.
Arief kembali menarik wajahnya untuk melihat wajah sang istri yang merona akibat malu.
Dengan perlahan Arief merebahkan tubuh Dinar hingga ia berada pada posisi terlentang.
Dengan lembut Arief mencium bibir gadis tersebut yang terasa begitu Manis.
Arief menyesap dan mengecup bibir Dinar membuat Dinar semakin bergairah, dengan pelan ia membalas luumatan bibir Arief,hingga keduanya semakin terbakar gairah.
Ciuman tersebut semakin lama semakin dalam, kini bibir Mereka saling bertaut Dan menyesap lembut.
__ADS_1
Dengan perlahan Arief menyingkap daster yang di kenakan oleh Dinar.
Hingga menampakan lekuk indah dari tubuh gadis tersebut .
Arief melepas pengait kaca mata berenda milik istrinya,hingga dua Bukit kembar yang masih padat tersebut terlihat begitu menggemaskan
Arief mendaratkan kecupan pada puncak bukit tersebut kemudian mengulumnya dengan perlahan.
Akh !,desahaan lolos begitu seketika keluar dari mulut Dinar, Ketika suaminya tersebut meremas dengan lembut bukit yang lainya, sementara ia masih menyesap lembut bibir Dinar.
Dinar mengeliat merasakan sensai yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, tubuhnya mengelinjang merasakan sentuhan lembut Arief yang memabukan.
Tak ingi berlama-lama lagi, Arief menarik tubuhnya Dan melepas semua penutup tubuhnya Tanpa terasa.
Melihat senjata suaminya yang menegang Dinar menelan ludahnya. Ada perasaan takut tapi juga penasaran.
Arief berada diatas tubuhnya kemudian mengukungnya.
Ia kembali mendaratkan kecupan pada bibir Dinar seraya melepasakan pelindung terakhir yakin segitiga berenda milik Dinar.
Beberapa detik kemudian tubuh Mereka pun sama-sama polos. Dengan segera Arief memulai serangannya.
Dinar merasakan gairah tengah membakarnya saat itu hampir saja ia tak mampu menahannya.
Ia pun membuka lebar paangkal pahaanya agar senjata Arief mudah menerobos gua suci milinya.
Arief memulai pertempuran pertama Mereka dengan lembut, ia mendorong secara perlahan tongkat sakti miliknya kedalam gua sempit sang istri.
Arief menjedah gerakannya, kemudian mengecup kening Dinar lembut.
"Maaf Dinar ini akan terasa sakit," bisik Arief, Kemudian ia mencium bibir Dinar untuk membungkam mulut nya, agar tak menjerit ketika benda tumpul miliknya Mencoba menerobos masuk.
Sambil menguulum bibir Dinar, Arief melakukan hentakan hentakan pada senjatanya.
"Akh! " teriakan tertahan Seketika Dinar menangis ketika dorongan Arief berhasil membobol dinding suci miliknya.
Arief melepas senjatanya agar lahar merah tersebut keluar.
Ia kembali melakukan rangsang kembali agar istrinya siap untuk melanjutkan pertempuran Mereka hingga mencapai klimax.
Setelah kembali bergairah, Arief kembali melakukan penyerangan, ia kembali mengukung tubuh istrinya kemudian melakukan gerakan memompa dan menghentakkan senjatanya.
Keringat membanjiri tubuh Keduanya Setelah setengah jam melakukan penyatuan.
Arief bergerak semakin cepat di atas tubuh sang istri, sementara tubuh Dinar mengelinjang merasakan sensai yang luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya.
Semakin lama gerakan Arief semakin cepat, satu hentakan terakhirnya berhasil menuntaskan pertatungan sengit mereka.
Akh, up ehm, Suara lengkuhan keluar dari mulut Arief Dan Dinar, Mereka begitu puas Dan bahagia Karna telah menikmati madu pertama dari rumah tangga mereka.
__ADS_1
Keduanya saling mentap dengan tatapan berbinar.
Arief tersenyum puas kemudian mengecup kening istrinya, begitu pun Dinar yang terasa bahagia bisa melayani suaminya dengan baik
Arief menumbangkan tubuhnya di samping tubuh Dinar , kemudian ia memeluk tubuh munggil Dinar, sambil menyapu Keringat yang membasahi wajah istrinya.
Beberapa saat mengatur napas, Arief pun turun dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya.
"Kamu mau Mandi? Tanya Arief.
"Iya Pak, saya harus selalu dalam keadaan bersih, karna harus mengurusi Asyia," ucap Dinar.
"Jangan panggil pak lagi dong, Nanti di Kira saya bapak kamu."Arief.
Dinar merasa malu, ia pun tertunduk.
"Jadi panggil apa? "Tanya Dinar malu-malu.
"Panggil mas atau abang saja.Nanti jika kita punya anak, baru panggil ayah atau papa, "ucap Arief.
"Hem, ia mas," jawab Dinar yang masih canggung.
Arief menyiap air hangat untuk ia Dan Dinar mandi, kemudian mereka secara bergantian mandi, agar Asyia Ada yang menjaganya. Bayi tersebut masih tidur pulas di dalam ayunannya.
Setelah Keduanya mandi Dan berganti pakaian, barulah Asyia terbangun Dan menangis.
Dinar meriah susu formula, , kemudian menyodorkannya pada mulut bayi Cantik tersebut.
Ia pun menggendongnya untuk memberinya susu formula.
'Arief menghampri Dinar, "Sudah kamu istirahat saja.Kamu pasti lelah, biar saya yang menggendong Dan menidurkannya, " ucap Arief seraya meriah Asyia dalah gendongan Dinar.
Dinar memang merasa lelah. Selain perjalanan panjang Mereka tadi pagi, pertempuran pertama yang mereka lakukan baru saja cukup menguras tenaganya.
Dinar bersandar pada headboard tempat tidur memperhatikan suaminya yang begitu sabar menunggu Asyia menghabiskan susu formulanya.
"Semoga saja aku bisa segera hamil' batin Dinar sambil mengusap perutnya.
Setelah susu tersebut habis, Asyia kembali tidur dalah pelukam Arief.
Bayi tersebut Memang tak rewel, Cukup memberi susu dan mengganti popoknya ia sudah terlelap.
Setelah Asyia tertidur ia pun meletakan Asyia di tempat tidur mereka, tepat di samping Dinar.
Dinar merebahkan tubuhnya di samping Asyia. Ia pun merebahkan tubuhnya yang terasa Penat.
Dengan lembut ia menepuk-nepuk paha Asyia.
Arief ikut berbaring di samping Dinar, ia pun mencium pucum Kepals Dinar.
__ADS_1
Arief mengusap Kepala Dinar hingga ia terlelap.
Bersambung, Terima kasih atas dukungannya reader, untuk tuan Marco Dan Wati episode selanjutnya