
Tok.. tok.. tok.. suara gedoran pintu yang cukup keras hingga membanggunkan Barley yang ikut terlelap di samping Santi setelah dua ronde bersambungnya.
Matanya menerjab-nerjab melihat ke arah petunjuk waktu yang ada di dinding kamarnya.
"Hah, sudah pukul tujuh!"
Barley bangkit dari tempat tidurnya kemudian menarik handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
Ia pun membuka pintu kamar yang terus di ketuk dengan kencang.
Krek pintu terbuka.
"Barley! ini sudah jam berapa?! bukannya kau harus mewakili Daddy mu dalam acara penghargaan malam ini." Andini.
" Iya Mommy, beri waktu setengah jam untuk aku bersiap."
Barley langsung menutup pintunya sebelum Andini melanjutkan kata-katanya.
Ia langsung menghampiri Santi.
"Sayang, sayang! Bagun aku siapin air panas sebentar lagi kita harus nenghadiri acara penghargaan!"
Barley menepuk-nepuk pipi Santi tapi istrinya itu masih terlelap.
"Nyonya ayo bangun." Barley menarik selimutnya hingga membuat tubuh bugil Santi kelihatan.
Ia pun mencium ceruk leher Santi agar dia terbangun.
"Sayang, ayolah nanti kita terlambat."
"Ehm, sayang aku ngantuk sekali, kalau kau mau lakukan saja lagi, yang penting jangan ganggu aku tidur," Santi pun terlentang dengan posisi menantang.
Barley menelan air liurnya, "Astaga! sayang aku menyuruhmu untuk bangun bukan minta jatah lagi pada mu," dengusnya.
Barley menggaruk kepalanya yang tak gatal karna binggung
Andai saja waktunya tak mepet mungkin ia akan kembali menyerang istrinya kembali.
"Santi, ayo bangun!" Baley menguncang tubuh Santi pelan, akhirnya ia pun membuka mata sebentar kemudian terlelap lagi.
"Astaga kau ini tidur atau berhibernasi sih?"
Entah apa yang terjadi pada Santi mungkin karna di tengah hamil saat itu hingga membuatnua susah untak bangun.
"Ya sudalah aku siapkan air hangat dulu untuk dia mandi."
Barley menuju kamar mandi dan mengisi air kedalam bathtub dan mengatur suhu air agar hangat.
Setelah siap ia pun kembali ke kamar untuk membangunkan istrinya kembali.
"Santi ayolah bangun! aku tak mungkin pergi sendirikan?"
Dengus Barley.
"Sayang, aku begitu lelah dan ngantuk, kau pergi sendiri saja ya." Santi menarik selimutnya, ia benar-benar ngantuk saat itu.
"Tidak bisa! kau harus ikut."
Barley menyibak selimut kemudian menggangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi.
Byur, mata Santi terbuka lebar ketika tubuhnya menyentuh air.
"Tuan kau!"sergahnya dengan mata yang melotot.
"Kalau tak seperti itu, kau tak akan bangun, ayo cepat mandi! kita bisa terlambat."
Mau tak mau Santi pun melanjurkan ritual mandinya, benar saja setelah terkena air tubuhnya terasa segar, meski ia merasa sedikit perih pada tubuh bagian bawahnya.
"Akh, rasanya sungguh tak nyaman." guman Santi setelah membersihkan area **** *-nya.
Setelah berendam sebentar, Santi pun membilas tubuhnya dengan air shower.
Setengah jam kemudian mereka pun siap.
__ADS_1
Santi tampak cantik dengan gaun panjang merah maron dengan leher rendah dan belahan samping dari betis hingga ke lutut.
Gaun tersebut membukus sempurna di tubuhnya hingga membuatnya terlihat seksi dengan warna lipstik shade ruler membuat nya tampil berani dan percaya diri.
Santi terlihat begitu cantik dan anggun, tak kalah dengan artis-artis papan atas.
Rambutnya di biarkan tergerai dengan sedikit bergelombang dan di jepit pada salah satu sisinya, karna ia juga tak punya banyak waktu.
Barley tersenyum melihat penampilan istrinya malam itu.
Barley hanya menggunakan pakaian resmi seperti jas.
"Ayo Nyonya kita turun," ucap Barley menghamipi Santi, ia pun mengecup bibitlr istrinya.
Hm, Santi mengandeng mesra tangan Barley, mereka memang terlihat pasangan yang serasi seperti jack dan Rose dalam film titanic.
Andini dan tuan Hasta sudah menunggu mereka di ruang tengah.
Andini langsung memasang wajah sinisnya ketika melihat kedua pasangan yang semakin mesra tersebut.
"Ayo kita harus berangkat sekarang!" ucap tuan Hasta.
Mereka pergi dengan dua mobil yang berbeda, Tuan Hasta dan Andini menggunakan sopir pribadinya sedangkan,
Barley lebih memilih menyetir sendiri.
Sesampainya di sana, mereka di sambut oleh bebetapa wartawan, apalagi Barley yang memang sudah terkenal sebagai pengusaha tampan dan sukses, banyak sekali publik figure yang ingin menjadi pendamping hidupnya.
Melihat kebersaama Santi dan Barley keduanya pun langsung di buru oleh pencari berita.
Mereka menanyakan status Santi kepada Barley, karna pernikahan merela yang tak terendus media.
Barley pun menjelaskan kepada wartawan jika Santi itu istrinya.
Setelah beberapa saat meladeni wartawan, Barley dan Santi pun masuk ke dalam aula.
Tuan Hasta di dampingi oleh Andini menghampiri koleganya yang kebetulan juga datang saat itu.
Disamping tuan Alex yang ikut hadir dan menjadi salah satu investor dalam perusahaannya adalah tuan Marco.
"Tuan Marco lihatlah, itu tuan Hasta pesaing bisnis ku. "ucap Alex dengan menatap sinis kearah tuan Hasta dan Andini.
Tuan Marco pun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh tuan Alex,betapa terkejutnya ia ketika melihat wanita yang bersanding dengan tuan Hasta.
Andini? Akhirnya aku menemukan mu di sini.Batin tuan Marco.
Tuan Marco adalah pria berdarah italia dan indonesia, ia memiliki sebuah perusahan di Milan Italia.
Kedatangannya kemari selain menjadi investor di perusahaan tuan Alex, ia juga mencari wanita yang menggelapkan uang perusahaannya hingga ia harus mendekam di penjara selama lima tahun, karna di tuduh korupsi dan harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang tak ia lakukan.
Perusahaannya hancur karna para investor menarik dana mereka kembali dan nilai saham perusahaannya pun anjolok.
Marco harus berjuang keras selama puluhan tahun untuk mengembalikan nama baik dan perusahaannya.
Kini Marco datang dengan penuh dendam mencari seorang wanita yang mengkhianatinya.
"Oh dia itu jadi Tuan Hasta? tapi aku lebih tertarik dengan wanita yang ada di sampingnya,"bisik tuan Marco.
Mendengar ucapan tuan Marco, tuan Alex tertawa kecil.
"Siapa? maksudmu wanita yang bersama tuan Hasta itu?".
"Ha ha haha,.Kurasa di memang seorang wanita yang sangat cantik sekitar dua puluh lima tahun yang lalu ha haha."
Tuan Alex tertawa mendengar ucapan tuan Marco.
"Tuan Marco, pengusaha sukses sepertimu harusnya bisa memiliki wanita yang lebih cantik dan lebih muda, kenapa kau malah tertarik pada wanita tua itu, kalau aku sendiri lebih tertarik pada menantunya."
Ucap Alex dengan tertawa.
Marco menyunggingkan senyum menyeringai.
"Bukan tertarik karna kecantikkannya tapi aku lebih tertarik untuk menghancurkanya, akan ku hancurkan dia sama seperti dia menghancurkan dan meninggalkan ku dulu!"ucap Marco menatap tajam Andini seraya mengepal tanganya.
__ADS_1
"Oh, apa kau pernah berurusan dengan istri tuan Hasta?"tanya Alex tak mengerti.
"Iya urusan ku tak akan pernah selesai sebelum aku melihat wanita itu hancur di hadapan ku."Marco.
"Tuan kalau kau ingin melihat wanita itu hancur, jangan hancurkan dirinya tapi hancurkan putranya."Alex
"Lihatlah! itu Barley, putra mereka, karna dialah perusahaan Hasta semakin maju hingga menjadi salah satu perusahan terbesar se-asia tenggara."
Marco melihat ke arah Barley, ia pun micingkan matanya.
"Apa Barley itu putra kandung mereka?"tanya Marco.
"Tentu saja, kenapa?"tanya Alex.
"Tapi aku tak melihat kemiripan antara putra dan orang tuanya, Barley tak mirip siapa pun." Marco matanya masih mengawasi pergerakan Barley.
"Hm, lalu jika ia tak mirip kedua orang tuanya, lalu dia mirip siapa?"tanya Alex.
"Siapa nama panjangnya?" tanya Marco penasaran.
"Hm, Barley milano. Kenapa?"Alex.
" Tak ada nama tuan Hasta di belangnya?" Marco.
"Hey tuan Marco,Kenapa kau begitu peduli dengan mereka, mereka itu rival kita." Alex.
"Hm, aku penasaran saja, kenapa kebetulan sekali?" Marco.
"Maksudmu kebetulan apa?" Alex semakin antusias.
"Milano itu bukan kota Milan?" tanya Marco.
"Mungkin, bisa saja." Alex.
"Hm, sudalah, ayo kita dekati mereka, berpura-puralah baik si hadapan mereka." Marco.
"Kau tak perlu ajari aku hal itu, aku sekalu melakukannya pada semua yang aku anggap rival." Alex.
Alex dan Marco berdiri, ia pun menghampiri tuan Hasta dan beberapa mitra bisnisnya.
"Hallo tuan Hasta sudah lama tak bertemu, apa kabarnya?" ucap Alex seraya memeluk tuan Hasta.
"Baik tuan Alex, kau sendiri bagaimana?"
Merela pun mengurai pelukan.
Sementara Andini ia tak memperdulikan tuan Alex hingga ia tak sadar siapa yang berada di belakang tuan Alex tersebut.
Perkenalka Tuan, beliau tuan Marco pengusaha asal Italia."
Alex memperkenalkan Marco ke tuan Hasta.
Srek deg ser, jantung Andini berdetak cepat ketika mendengar nama itu, ia pun mengalihkan pandangannya kearah Marco.
Marco!.
Tuan Marco tersenyum smirk kearah Andini.
Setelah menjabat tangan Tuan Hasta, Marco menyodorkan tangannya ke arah Andini yang mematung karna syok bisa bertemu dengan Marco.
"Apa kabar Nyonya, senang bertemu dengan Anda," ucap Marco dengan tangan yang terulur ke arah Andini.
Andini jadi salah tingkah, ia pun menyambut tangan Marco karna tak ingin mereka ciriga.
"Baik tuan." Andini.
Marco pun menatap tajam penuh dendam kearah Andini.
Bersambung guys, jangan lupa terus dukung author ya, nih author punya rekomendasi novel bagus dgn judul: jangan salahkan takdir
__ADS_1