Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Putusan Pengadilan


__ADS_3

"Apa?! Daddy bagaimana kau bisa menukah lagi sementara aku sedang di penjara?!" tanya Andini seperti histeris.


Sementara Amora dan Veronica tersenyum bahagia.


"Justru karna kau di penjara, makanya aku ingin menikahinya."


"Tapi Daddy, kenapa kau tega menyakiti perasaan ku, aku tak ingin di madu,hiks hiks hiks, " Andini merasa sedih.


"Mommy, sampai kapan aku menunggu mu!kau tenang saja, aku akan menunaikan kewajibanku sebagai suami," ucap tuan Hasta.


Hiks hiks, masalah seolah-olah menimpa Andini beruntun selain di penjara dalam waktu yang lama, ia pun harus menerima kenyataan jika suaminya tersebut menikah lagi.


***


Waktu terus berlalu, pada hari ini akandi gelar sidang putusan penggadilan untuk ketiga tersangka.


setelah melewati beberapa tahap persidangan, ketiga tersangka akan mendapat putusan hakim tetntang vonis hukuman yang akan mereka terima.


Amora dengan perut buncitnya yang kini sudah memasuki usia kandungan sembilan bulan duduk di meja pesakitan dengan dua terdakwa lainya, masing-masing Aldo dan Tomi.


Kedua terdakwa sudah di adili berdasarkan pasal yang menjerat mereka, Aldo dan Tomi mendapat hukuman Tujuh tahun penjara.


Kini giliran Amora yang akan di jatuhi hukuman berdasarkan keputusan hakim.


Santi dan Barley ikut hadir dan menyaksikan tersangka serta otak dari pelaku tersebut, begitupun denhan orang tuanya.


Asti sampai menangis melihat ketiga tersangka.


Sementara Amora kini harus mendengarkan vonis yang di jatuhkan pengadilan untuknya, ia sendiri tak ada siapa pun yang mendampinginya saat itu, karna Veronica dan Fedro juga harus mendekam di penjara selama lima tahun.


Jantung Amora berdetak kencang, inilah saat-saat yang mendebarkan untuknya.


Hakim ketua membaca pasal yang menjerat Amora sesuai dengan undang-undang pidana pembunuhan berencana.


"Saudari Amora sesuai dengan pasal 340 KUHP yang berbunyi


'Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh," Hakim


"Berdasarkan pasal tersebut, Dengan ini pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama dua puluh tahun penjara di potong masa tahanan selama empat bulan." Hakim


Tok tok tok.


Ketukan palu pengadilan terdengar nyaring memenuhi ruanga.


Hiks hiks Amora pun menangis sejadi-jadinya mendengar putusan pengadilan terhadapnya.


"Anda bisa mengajukan banding dalam waktu empat belas hari setelah jatuhnya hukuman " Hakim.


Tok tok tok.


Keputusan Hakim sudah final dan tak bisa di ganggu gugat terkecuali ia mengajukan banding ke mahkama pengadilan yang lebih tinggi.


Amora seketika merasa sesak mendengar vonis yang harus ia terima, selama dua puluh tahun ia harus habiskan hidupnya di penjara.

__ADS_1


Menangis tak lagi berguna, karna hukuman tersebut sudah sesuai dengan ketentuan hukum pidana.


Sementar Barley tersenyum puas, ia dan pengcaranya berhasil menjerat Amora dengan hukuman maksimal meski bukan hukuman mati.


Paling tidak ancaman tersebut bisa membuat orang-orang jahat akan berpikir seribu kali untuk menghabisi nyawa orang lain.


Hakim perlahan meninggalkan meja persidangan.


Barley mendekati pengacara nya," Terima kasih Pak Hilman, atas bantuanya, saya puas dengan hasil kerja anda, setelah ini kita akan kembali bertemu pada persidangan mommy ," ucap Barley seraya menjabat tangan pengacaranya.


"Sama-sama pak Barley, semoga yang berikutnya kita juga bisa mendapatkan hasil sesuai harapan."pak Hilman.


"Semoga saja," ucap Barley.


Amora di jemput oleh kedua orang petugas, setelah mendengar vonis hukumannya, tubuhnya terhuyung dan tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada bagian perut.


"Akh! Pak berhenti perut ku terasa sakit sekali!" ringisnya.


"Apa anda sedang bersandiwara Nona! agar bisa melarikan diri lagi?"tanya petugas tersebut.


"Akh !sakit! "Amora berlutut dan tersimpuh menajan sakitnya.


Semua yang ada di tenpat itu panik melihat Amora yang seperti hendak melahirkan seseorang pun memeriksa Amora.


Dan ternyata memang benar Amora sedang mengalami kontraksi.


Barley, Santi, dan Arief juga mendekat untuk melihat secara pasti keadaan Amora.


Karna kasihan petugas langsung menggotongnya menuju mobil guna di bawa ke rumah sakit untuk melakukan persalilan, tentu dengan pengawalan yang ketat.


"Sayang sepertinya Amora memamg benar-benar akan melahirkan,"ucap Ssnti yang merasa iba, ia pun mengelus perutnya.


"Iya sayang, semoga saja kali bukan alasan baginya untuk melarikan diri."


Arief berjalan cepat mendahului mereka.


"Arief!"seru Barley.


Arief pun berhenti menunggu Barley dan Santi menghampirinya.


"Ada apa Tuan?"tanya Arief.


"Kau mau kemana?"Barley


"Aku mau menyusul Amora, aku ingin lihat bayinya serta meng-azankannya, karna Aldo yang meminta ku,"papar Arief.


Ya sudah kau pergilah," ucap Barley.


Arief pun mengikutu mobil yang membawa Amora.


"Sayang, apa kau tak ingin melihat keadaan Amora dan bayinya?"tanya Santi.


"Ehm untuk apa sayang, biarkan saja, kau jaga saja janin yang ada di rahimu, aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu dan janin kita, sekarang aku antar kau pulang, karna nanti sore kita akan memeriksa kan kandungan mu."

__ADS_1


"Ehm, terserah pada mu tuan ku, aku pamit pada orang tuaku dulu ya." Santi.


Santi menghampiri Harjo dan Asti yang menangis bahagia, karna merasa pelaku mendapatkan hukuman setimpal.


Kedua orang tua Santi sedang berbicara pada tuan Hasta dan nyonya Hana yang relah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Ibu bapak kami permisi dulu ya," ucap Ssnti seraya menciumi pipi kedua orang tuanya.


Daddy, Mommy, kami jalan duluan," ucap Barley pada tuan dan Nyonya Hasta.


"Iya hati-hati bawa istri mu."tuan Hasta.


"Tentu saja Daddy," jawab Barley.


***


Arief membuntuti mobil yang membawa Amora.


Didalam mobil Amora masih meringis merasakan sakit," Akh! Akh! " Amora berteriak sembari menggenggam pakaiannya saat itu.


Tak berapa lama mobil perlahan masuk halaman parkir rumah sakit, Amora langsung di bawa di ruang UGD serta di periksa di ruang prenatal.


Arief mengikiti kemana saja petugas membawa Amora.


Begitupun dengan dua orang polisi yang bertugas menjaga Amora.


Meski Amora bukanlah siapa-siapa baginya, namun Arief juga ikut merasa tegang dan khawatir terhadap nasib bayi yang ada di kandungan Amora.


Setelah memeriksa keadaan Amora, seorang suster datang menghampiri Arief.


"Bapak suami pasien?"tanya suster kepada Arief.


"Bukan suster, hanya kenalannya." Arief.


"Kalau begitu di mana suami atau keluarga terdekatnya?"tanya suster itu lagi.


"Dia tak punya keluarga, memang-nya ada apa?"Arief balik bertanya.


" Ada masalah di kandunhannya pak, jadi pasien tak bisa melahirkan secara normal, jadi saya butuh tanda tangan untuk memenuhi prosedur operasi,"papar suster tersebut.


"Kalau begitu, biar saya yang tanda tangan," ucap Arief.


"Jika memang seperti itu ayo anda ikut saya, sekalian anda harus membayar DP dari biaya operasi." Suster


"Baik suster, lakukan saja yang terbaik, masalah administrasi biar saya yang mengurusnya, yang terpenting anak dan ibunya selamat."ucap Arief


Sesampainya di depan kasir, Arief menandatangani prosedur operasi dan membiayainya.


"Bismillah," semoga keponakan ku selamat, guman Arief.


Iya pun menandatangani surat persetujuan operasi tersebut.


Besambung

__ADS_1


__ADS_2