
Setelah sarapan Santi mengantar suami ke depan pintu.
"Sayang aku titip Daddy ya," ucap Barley ketika mereka berada di muka pintu.
"Iya Sayang, kau tenang saja paling-paling Daddy mu itu kita keroyok bertiga ha ha ha," Santi tertawa kecil.
"Ha ha, hati-hati kualat Sayang," ucap Barley.
"Sudah aku pergi dulu," ucapnya sambil mengecup kening Santi.
"Sayang! sebaiknya kau pulang tepat waktu sebelum terjadi sesuatu pada Daddy," ancam Santi dengan nada bercanda.
Barley mencubit hidung istrinya kemudian mencium perut buncit sang istri.
"Aku percaya sepenuhnya pada mu Sayang, jaga dirimu dan anak kita," ucapnya mengecup bibir Santi.
Santi tersenyum, "Hati-hati Sayang, aku mencintai mu," ucap Santi.
"Ehm me too." Barley pun pergi beranjak dari Santi.
***
Di kantor
Melihat Arief, Anggi segera memasang aksinya.
Anggi menghampiri Arief," Selamat pagi Pak Arief," dengan nada manja menggodanya.
"Selamat pagi," ucapnya seraya menuju ruanganya, tak sedikit pun ia menoleh kearah Anggi.
Anggi mengkerucutkan bibirnya karna merasa seperti di acukan oleh Arief.
Chandra dan Anggi pun menghampiri Arief.
"Ada jadwal apa hari ini anggi?" tanya Arief datar tak sedikit pun ia menoleh pada dada montok yang sengaja di busung-busungkannya ke arah Arief.
" Tak ada yang terlalu penting, hanya beberapa berkas saja yang harus Bapak periksa sebelum di tanda tangani oleh tuan muda. Dan ini copy paste laporan dari hasil penyelidikan dan investigasi pembangunan hotel dan wahana yang katanya katanya memakan korban seorang investor asing, yang di kirim oleh pak Darmawan," papar Anggi.
"Iya tuan Barley meminta kepada saya untuk mungusut kenapa sampai terjadi kecelakaan tersebut, apa murni kecelakaan atau ada tindakan dengan unsur kesengajaan," papar Arief.
"Dan kamu Chandara !bagaimana dengan laporan dari perusahaan tuan Hasta? laporan harus sudah di periksa sebelum tuan Barley kembali." Arief.
"Sudah pak semua masalah sudah di tangani oleh instasi masing-masing, jadi ketika tuan kembali beliau tinggal memeriksa nya saja," papar Candra.
Ketika sedang asik berdiskusi, seseorang datang menghampiri mereka.
Ehm, terdengar suara orang yang berdehem dari belakang mereka dan betapa kagetnya Anggi kala itu.
"Ehm, Tuan! anda kenapa ada di sini?"tanya Anggi gugup seraya menelan salivanya.
" Harusnya saya yang bertanya pada kamu? kamu mau kerja di kantor atau di pub malam?"tanya Barley yang tiba-tiba ada di hadapan mereka dengan tangan yang menyilang ke dada.
Anggi gelagapan ia berusaha mencari sesuatu untuk menutupi pakaian super ketatnya tersebimut.
__ADS_1
"Mampus lho,"cetus Chandra, ia dan Arief pun tertawa kecil
Barley menatap tajam kearah Anggi.
Membuat Anggi semakin salah tinggah.
"Ehm maaf tuan,"
"Aku pernah bilang apa padamu?"
Ngak boleh pakai-pakain terlalu norak di kantor! apa konsekuensinya?!"
"Maaf Tuan! ini yang terakhir," ujar Anggi menundukan kepalanya.
Hah kau seperti mau obral saja, pakai si pamerin segala, sindir Barley, melihat rok span mini dan kemeja yang begitu ketat membungkus pepaya Anggi.
Baiklah! aku maafkan Kau karna hari ini karna aku tak ingin bedebat, sebaiknya kau beri contoh yang baik untuk karyawan di sini," nasehat Barley.
Chandra tersenyum melihat Anggi yang tertunduk lesu padahal tadinya ia begitu semangat.
Barley menoleh kearah Arief.
"Arief hari ini kau ikut aku, kita keperusahan tuan Alex subarja, " perintah Barley.
Arief melongo ke arah Barley, padahal kerjaannya saja sudah banyak dan sekarang tuan muda itu memintanya untuk ikut dengannya.
"Baik Tuan," sahut Arief.
"Ayo sekarang kita pergi Rif," ajak Barley.
Anggi mengkerucutkan bibirnya ia jadi malu karna di omeli oleh Barley, apa lagi sampai di tertawai oleh Chandra dan Arief.
Anggi menatap kepergian dua pria tampan tersebut.
"Woi melamun saja! "seru Chandra menepuk pelan pundak Anggi.
"Apaan sih loh! karna tuan muda itu gue jadi bahan tertawaan loh dan pak Arief, dasar tuan muda remnya mulut bolong kali ya? dengusnya sambil berlalu dari meja kerja Arief.
Chandra tertawa melihat Anggi yang terlihat kesal.
Kedua pria tampan nan gagah tersebut masuk kedalam mobil mewah Barley, tentu saja Arief yang memegang kemudi stir.
"Rif tahu ngak kenapa aku bawa kamu menemui tuan Alex?"
"Tahu tuan, karna tuan selalu merepotkan saya," sahut Arief sambil melirik ke arah Barley.
Barley melirik sesaat ke arah Arief kemudian menyunggingkan senyum.
"Ha ha ha, ada benarnya juga sih," jawab Barley seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tapi bukan itu Rif, Daddy ku meminta ku untuk mengurusi perusahaannya untuk sementara waktu, saat ini ia memiliki beberapa saham di perusahaan besar dan salah satunya perusahan milik tuan Alex, kemaren malam tuan Alex datang meminta bantuan pada Daddy ku, ia ingin menjual sebagian saham di perusahaannya kepada Daddy, karna Daddy sedang masa pemulihan dan harus banyak beristirahat, jadi aku yang mengambil alih segala urusan bisnisnya," papar Arief.
"Lalu kenapa tuan membawa ku?"tanya Arief lagi.
__ADS_1
"Karna sekarang kita tak hanya mengurusi dua perusahaan saja Rif tapi juga juga bisnis Daddy, dan aku tak punya orang yang lebih bisa di percaya kecuali kamu, aku ingin kau ikut dengan ku, agar jika suatu saat aku tak sempat, kau bisa menggantikan ku," papar Barley santai.
Arief tersenyum kecut seraya melirik ke arah Barley.
"Tuan, jika terus bekerja seperti ini kapan aku punya waktu untuk mencari pasangan hidup dan menikah, kau selalu nenyita waktu ku," dengus Arief dengan maksud bercanda.
Barley sedikit kaget mendengar penuturan Arief.
"Menikah? ha ha ha, kenapa kau sekarang berfikir untuk menikah Rif, bukannya dari dulu aku sudah menyarankan mu untuk segera menikah, tapi justru kau yang tak mau, dan sekarang tiba-tiba kau terpikir akan hal itu? ada apa ini ?" tanya Barley bernada protes.
Ha ha, Ia pun tertawa kecil.
"Iya Tuan, sejak kehadiran Asyia aku merasa jika dia juga pasti butuh sosok seorang ibu, sedangkan aku takut jika babysitter yang merawat Asyia tidak betah, maklum saja gadis seperti Dinar biasanya gampang bosan dengan sesuatu hal, apalagi jika mengasuh seorang bayi seperti Asyia, yang sangat sensitiv, " papar Arief.
"Ha ha, Kau benar Rif lagi pula sampai kapan kau membujang, cinta itu bisa datang dan pergi, aku juga begitu sebelumnya, sangat sulit melupakan seseorang yang kita sayangi, tapi aku juga berusaha untuk membuka diri, toh nyatanya Tuhan selalu punya rencana indah di balik semua musibah, meski bukan dengan Sania, nyatanya aku juga merasa bahagia hidup bersama Santi," papar Barley.
"Bahagia sebenarnya bukan bagaimana kita meraihnya tapi bagaimana kita menikmati prosesnya," imbuhnya lagi.
"Iya Tuan, dan sebaiknya kau nikmati saja prosesnya, karna ku yakin setelah ini beban mu akan semakin berat, mengurusi tiga induk perusahan besar itu harus punya mental yang lebih tebal dari baja, apalagi kedua daddy mu itu begitu mengandalkan mu,"cetus Arief.
"Ha ha, dan Aku mengandalkan mu Rif," ujar Barley seraya menepuk pundak Arief.
"Sudah ku duga Tuan,"dengus Arief.
"Andai saja aku bisa meng copy paste dirimu, pasti sudah ku lakukan Rif, "ujar Barley sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu kenapa kau tak meng copy paste dirimu sendiri Tuan, biar tak selalu membawa ku ke semua masalah mu " sahut Arief santai.
"Ha ha kau benar Rif itu, ha ha, aku tak terpikir sebelumnya," sahut Barley dengan tertawa.
"Kalau begitu kau pilih saja putri-putri dari beberapa pengusaha, nanti biar aku bantu kau untuk berkenalan secara langsung," usul Barley.
Arief menyunggingkan senyum tipisnya, "Aku tak bermimpi menikahi tuan putri Tuan, karna aku hanya butuh seorang istri yang mengerti aku dan dapat menerima dan merawat Asyia, soal kecantikan itu bisa jadi nomor ke sekian, karna banyak sekali wanita cantik di dunia ini tapi bertolak belakang dengan hatinya."
Barley tersenyum mendengar penuturan Arief," Kau benar Rif benar kata bung Roma, hanya istri yang sholeha perhiasan terindah," cetus Barley dengan nada bercanda ia pun terrawa.
Ha ha ha
Arief tertawa kecil, "Tak sungka tuan Muda seperti mu penyuka lagu dangdut, sungguh Ter..lalu, ha ha ha," canda Arief.
Mereka pun tertawa, tanpa terasa mobil keduanya masuk kedalam kantor Alex Subarja.
"Baru kali ini aku masuk ke kawasan rival kita Rif, biasanya memasuki kandang musuh akan terdapat banyak jebakan." Barley.
"Hm, berhati-hatilah tuan Muda, semakin tinggi pohon semakin kuat angin yang menerpanya, guman Arief ketika melihat Alex yang berdiri dengan wanita cantik di sebelahnya.
Arief dan Barley bukan anak kemaren sore, yang tak mengerti apa-apa, keduanya adalah rekan bisnis yang sudah malah melintang di dunia perbisnisan, segala tipu muslihat dan kelicikan dapat di endus dengan mudah oleh Barley dan Arief.
Keduanya pun langsung menuju lobi menemui tuan Alex yang sepertinya sangat antusias menyambut ke datanganya.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Bersambung, dear reader, maaf ya author belum bisa up banyak-banyak, terima kasih atas dukungannya, semoga kesehatan dan keselamatan menyertai kita dan keluarga kita semuanya, salam sayang selalu 😘
__ADS_1