Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Pergi Untuk Selamanya


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian, Asyia sudah berencana ingin menemui ibunya.


Asyia sudah siap menunggu kedatangan Andhra yang akan menjemputnya.


Beberapa menit menunggu, Andhra pun tiba dengan mobil mewahnya bersama seorang supir pribadi.


Santi dan Barley tak pernah membiarkan Andhra untuk pergi sendiri ,apalagi jika ia pergi bersama seorang gadis meski sebenarnya Andhra bisa bawa mobil sendiri.


Jantung Asyia berdetak kencangkan, rindu sudah begitu menggebu, dan sudah tak lagi bisa ia tahan.


Beberapa kali ia celingak celinguk di depan pintu, akhirnya yang di tunggu tiba juga.


Asyia pun berlari kecil menghampiri Andhra yang baru saja turun dari mobil.


"Duh yang sudah bisa berlari," sindir Andhra.


"He he, aku memang sudah lama ingin berlari Ndra. "


"Iya-Iya, asal ngak lari dari kenyataan sajalah," canda Andhra.


"Kalau lari dari kenyataan itu namanya pengecut. "


"Kalau lari dari aku? "


"Kalau lari dari kamu itu rugi Ndra he he, " sanjung Asyia.


"Ayo Ndra cepat aku ngak sabar untuk bertemu ibu. " timpalnya lagi.


"Ayo saja. Ngak pamit dulu sama ayah dan ibu kamu? "


"Mereka ngak ada, jaga di rumah makan yang lainya. "


Asyia pun masuk kedalam mobil, begitupun Andhra.


"Bagaimana Syia, keadaan kamu. Masih berasa sakit ngak? "


"Masih sih Ndra, sakitnya di bekas sayatan operasi saja, selebihnya ngak ada masalah. "


"Syukurlah kalau begitu. "Andhra.


"Eh iya Ndra, aku mau bawa oleh-oleh untuk ibuku, Kira-kira apa yang cocok ya? "


"Ehm, biasanya apa yang cocok? "tanya Andhra balik.


"Aku nanya kamu Ndra, kira-kira apa yang biasa di berikan oleh anak, sebagai ungkapan sayang ke orang tuanya? "


"Ehm, kalau aku sih, ngak pernah kasih mommy ku apa-apa. Paling peluk cium saja. "


"Itu karena mommy kamu sudah punya segalanya Ndra. " Asyia.


"Ehm, kasih bunga sajalah. Daddy ku biasanya hampir setiap hari kirim bunga ke mommy sebagai ungkapan rasa cintanya. "


"Oh iya. Kalau gitu kita singgah ke toko bunga ya Ndra. "


Ehm

__ADS_1


"Pak singgah ke toko bunga ya! " titah Andhra pada sopir pribadinya.


"Baik Tuan Muda. "


Asyia senyum-senyum sendiri, di benaknya rasanya sudah tak sabar untuk bertemu Sang ibunda.


Mereka pun singgah di toko bunga.


Asyia memilik rangkaian bunga lily Casablanca putih dengan campuran lilac merah dan garnis baby breath.


"Jangan lupa kartu ungkapannya Asyia. " Andhra mengingat Asyia.


"Oh iya, hampir saja lupa."


Asyia meminta sebuah kartu kemudian menulis kartu tersebut dengan ucap' ILOVE YOU MOM'


Setelah dari toko bunga mereka kembali ke mobil.


Dengan hati-hati Asyia memangku buket bunga tersebut.


Asyia sesekali tersenyum melihat bunga itu karena membayangkan betapa bahagianya Sang ibunda menerima bunga dan ungkapan cintanya.


Beberapa menit berlalu, mereka pun tiba di kontrakan tiga pintu.


Andhra keluar dari mobil terlebih dahulu untuk membantu membawa buket tersebut agar tak rusak, setelah itu barulah Asyia turun dari mobil.


Karena jalan menuju kontrakan tak terlalu lebar, Andhra memikirkan mobilnya di ujung jalan aspal.


Asyia memeluk rangkaian bunga tersebut.


"Iya, memang seperti itu, kita akan deg-degan jika ingin bertemu dengan seseorang yang begitu kita rindukan. "


Ehm, Asyia hanya tersenyum mendengar penjelasan Andhra.


Mereka pun tiba di kontrakan tiga pintu. Namun keadaan masih terlihat sepi. Mereka pun berhenti ketika melihat Plang' rumah ini di kontrakan.'


"Sepertinya ibu sudah pindah Ndra, tuh di depan rumahnya di tulis di kontrakan," tutur Asyia dengan nada kecewa.


"Iya, kita tanya sama tetangga di sekitar sini saja, mungkin mereka tahu ibumu pindah di mana. "


Ehm.


Asyia dan Andhra menghampiri rumah tetangga Amora.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya seseorang membukakan pintu untuk mereka.


Kreak... pintu di buka, seorang wanita kaget melihat kedatangan Asyia.


Wajar saja, karena dari wajah Asyia yang mirip Amora tersebut mereka bisa menduka siapa gadis cantik yang ada di hadapannya kini.


Asyia melempar senyum ramah kearah wanita yang menatapnya dengan aneh.


"Selamat siang Mbak? " sapa Asyia.


Wanita itu tak mampu menjawab ia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Mbak saya mau tanya. Ibu yang tinggal di rumah sebelah pindah kemana ya? " tanya Asyia.


Wanita tersebut semakin syok, ia tak tahu harus berkata apa-apa. Bola mata wanita tersebut berpendar menatap Asyia dengan tatapan berembun.


"Kamu siapnya Mbak Felicia? "tanya wanita tersebut.


"Saya putrinya," Jawab Asyia masih dengan tersenyum.


Wanita itu menelan ludahnya. Ia pun tak tahu harus memulai dari mana untuk memberi tahu Asyia.


Asyia masih tersenyum menatapnya untuk Menanti jawaban wanita tersebut.


Ehm, wanita itu semakin tampak gelisah.


"Mbak ibu sebelah pindah di mana? " Asyia mengulangi pertanyaannya.


Wanita tersebut pun menitikan air mata, sambil mengusap pundak Asyia.


"Kamu yang sabar ya. Ibu mu sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. "


Seketika tangan Asyia gemetar, ia pun melepaskan genggaman buket bunganya.


Andhra pun ikut syok, bola matanya membulat sempurna.


Asyia menarik napas panjang, seketika dadanya terasa sakit, tubuhnya hampir roboh karena kakinya yang sudah gemetar tak mampu lagi menahan beban tubuhnya.


"Hikss hiks hiks. Ibu! " tangis Asyia setengah sadar.


Andhra menahan tubuh Asyia agar tak langsung tergeletak di atas lantai.


Wanita tersebut pun menangis tergugu. Karena beberapa hari sebelum meninggal, Amora sempat mencurahkan isi hatinya jika ia begitu rindu kepada putrinya.


Asyia menanangis sejadi-jadinya. Tubuhnya masih bersandar lemah pada dada bidang Andhra.


"Ibu! ibu hiks hiks hiks, kenapa ibu pergi secepat ini? ;Asyia belum sempat bilang pada ibu bahwa Asyia sayang ibu hiks hikss, "tangisnya pilu menyayat hati.


Hiks hiks hiks. Asyia terus menangis sambil terisak.


Tak hanya Asyia, Andhra dan wanita tersebut ikut menangis.


"Ibu! hikss hiks hiks. Asyia kangen ibu! Asyia ingin bertemu, kenapa tak menunggu Asyia pulang Bu! " hiks hiks hiks.


Andhra mengusap kepala Asyia.


" Asyia sabar Asyia, jangan meratapi kepergian ibu mu. Kasihan dia, mungkin ibu mu sudah tenang di alamnya," bujuk Andhra.


"Ibu! ibu hiks hiks hiks."


Asyia terus memanggil-manggil Ibundanya. Jiwa dan raganya begitu terguncang, padahal ia sudah begitu rindu ingin memeluk Amora.


"Ibu! Ibu! ibu!" panggil Asyia lirih dengan tubuh terguncang menahan tangis, tak kuat menerima kenyataa,n Asyia pun pingsan tak sadarkan diri.


"Asyia! " seru Andhra.


Bersambung dulu guys. Author ngak kuat nulis kelanjutannya, besok lagi ya hiks.

__ADS_1


Assalamu'alaikum wr.wb.


__ADS_2