Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Protes


__ADS_3

Asyia tiba-tiba merasakan sakit pada bagian dadanya karna syok mendengar penuturan dari Aldo.


Sektika ia berlutut menahan sakit pada bagian dadanya kemudian ambruk di tempatnya beridiri.


Delia dan Aldo segera berlari menghampiri asal suara tersebut.


"Asyia!"


"Asyia! Sadar Nak." Aldo dan Delia panik


Wajah Asyia tampak membiru kala itu.


"Yah bawa Asyia kerumah sakit yah!" seru Delia panik.


"Iya Bu! Asyia bangun Nak maafkan ayah mu ini Nak," tutur Aldo setengah menangis.


Mereka pun membawa Asyia menuju rumah sakit, sebelumnya Asyia telah di beri pertolongan pertama dengan memakaikannya tabung oksigen fortabel, untuk mrnghindari gagal napas akibat serangan jantugnya.


Delia menahan tubuh Asyia sementara Aldo fokus menyetir.


Mereka membawa Asyia menuju rumah sakit khusus penyakit jantung langganan Asyia.


"Asyia sadar Nak, hiks." Delia membelai rambut Asyia seraya memanggil-manggil namanya.


Sesampainya di rumah sakit Asyia masih taksadarkan diri, setelah di tangani di ruang UGD ia pun di bawa keruang perawatan intensif.

__ADS_1


***


Pagi hari di sekolahnya yang terlihat sepi Andhra menuju ruang Ava tempat ia dan kedua rekannya akan di beri bimbingan secara eklusif sebagai persiapan untuk mengikuti lomba.


Andhra duduk di meja yang paling ujung.


Ada tiga meja yang di siapakan untuk tiga orang peserta pelatihan. Sementara kursi yang lajnnya di susun pada pinggir ruangan. Antara Meja yang satu dan meja yang lain berjarak antara satu meter hingga satu setengah meter. Semua agar ketiga peserta tersebut tetap fokus dan tak ngobol ketika sang guru menjelaskan materi pelajaran.


petunjuk waktu udah menunjukan pukul delapan pagi.


Guru yang membimbing mereka pun mulai memasuki ruangan.


Andhra melirik salah satu bangku kosong yang harusnya di duduki oleh Asyia.


'Kenapa Asyia belum datang?' batin Andhra.


Guru yang membimbing mereka pun memasuki ruangan.


"Selamat pagi, Assalammualaikum warahmatullah wabarakatu."


"Waalaikum salam," ucap keduanya serempak.


"Ehm, baiklah sebelum memasuki materi pembelajaran kali ini bapak ingin menginformasikan jika Asyia sedang di rawat di rumah sakit. Karna itu kami dari pihak sekolah memutuskan kalian berdualah yang akan berangkat ke Bangkok Thailand untuk mewakili sekolah kita."


"Yess!"Nessa begitu senang. Selain karna bea siswa yang di janjikan dan prestasi yang akan ia raih, dengan mengikuti lomba,Ia dan Andhra bisa semakin dekat.

__ADS_1


"Saya tak setuju Pak!" Andra langsunh berdiri menyatakan protesnya.


"Ehm, kenapa?"tanya guru tersebut.


"Apa karna Asyia sakit sehari dua hari ini, pihak sekolah langsng mengambil keputusan untuk masa depan seseorang? Sepuluh tahun saya dan Asyia berada di kelas yang sama. Dari Tk-SD-SMP. Setiap bulannya ada saja Asyia ijin karna sakit yang di deritanya.Meski pun begitu ia selalu mendapat juara karna kecerdasan dan usahanya. Jika Asyia sakit hari ini mungkin besok atau lusa ia akan sembuh, dan kompetensi ini bisa berlangsung kembali.Dan saya yakin Asyia adalah salah satu dari peserta yang pantas berangkat ke Bangkok untuk mewakili sekolah kita." Andhra.


Nessa dan guru tersebut tercengang mendengar penuturan Andhra.


Hampir semua murid di sekolah itu tahu bagaimana persaingan Andhra dan Asyia, meski Asyia selalu kalah. Namun, di setiap semesternya nilai Asyia selalu meningkat yang menyebabkan Andhra harus belajar lebih giat lagi untuk mempertahankan nilainya dan gelar juaranya.


"Tapi semua sudah di putuskan Nak."


"Apa itu tak termasuk deskriminasi pak? Seseorang yang punya kemampuan tapi tak bisa meraih cita-citanya hanya karna sesuatu yang berada di luar kuasanya. Padahal ia telah beusaha sungguh-sungguh untuk pencapaian tersebut. Tak kah kita sedikit menghargi perjuangannya, harusnya apa yang di lakukan Asyia bisa jadi contoh bagi siswa yang lainya, bagaimana perjuangan Asyia melawan penyakitnya selama ini. Namun, ia masih mampu berprestasi, bahkan mengalahkan orang yang memiliki kesehatan jasmani dan rohani seperti saya." Kata-kata Andhra terdengar berapi-api dan spontanitas.


Guru tersebut tersentak mendengar kata-kata dari Andhra.


Selama ini Andhra memang tak banyak bicara.Andhra memang pintar secara Intelektual. Namun, tak semua anak yang memiliki kecerdasan Intelektual juga memiliki kecerdasan Emosi dan spritual.Dan Andhra memiliki itu semua, Andhra mampu mengenali dirinya dan kemampuanya, dan menydaari kekurangan dan kelebihan dirinya begitupun orang lain, ia juga memiliki empati dan berani menyuarkan kebenaran berdasarkan analisa dan fakta dari apa yang ia pikirkan.


"Ehm, baiklah nanti saya bicarakan lagi dengan kepala sekolah." Guru.


Nessa tersenyum kecup, itu bearti peluangalnya semakin kecil untuk menang dari kompetensi itu.


Mereka pun kembali memulai poses belajar mengajar.


Bersambung.

__ADS_1


Huh masih ada sambungannya reader author up sekali lagi deh. Biar kejutannya semakin terasa 😍😘.


Ada yang ingin kisah romantis? Hm coba deh cek episode berikutnya.


__ADS_2