
Keluarga Hasta Radja Prawira tiba di rumah Veronika, kedatangan mereka hanya di sambut oleh Veronica.
"Selamat malam Nyonya Veronica," ucap tuan Hasta seraya menjabat tangan Veronica.
"Selamat malam juga tuan Hasta," sambut Veronika.
"Malam Vero," ucap Andini.
" Selamat malam juga Nyonya Hasta Radja Prawira."Veronica.
" Kenapa kau menyambut kami hanya seorang diri? Lalu di mana suami dan calon menantuku Amora?"tanya Andini.
"Oh, suami belum bisa pulang, habisnya lamarannya mendadak sih, sedangkan Amora, dia ada kok di kamarnya, sedang berhias untuk menyambut kedatangan calon suaminya," jawab Veronica dengan sedikit gugup.
"Oh begitu, ngak di dandan juga, calon menantuku sudah cantik kok,"sanjung Andini namun melirik ke arah Santi.
"Iya dong, papinya saja orang Perancis, jadi wajarlah jika wajahnya cantik, serasi sekali dengan putra mu." Veronica.
"Iya kan Barley?"Veronica kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Santi yang tertunduk.
"Lalu siapa gadis ini?"tanya Veronica seraya menatap Santi.
"Dia istriku Nyonya, dan jika Amora ingin menikah dengan ku, dia harus bersedia menjadi yang ke dua,"sahut Barley.
Veronica menatap sinis kearah Santi hingga membuat gadis tersebut insecure.
"Mari silahkan masuk," ucap Veronica mempersilahkan mereka semua.
Veronica mengait lengan Andini.
"Kau bilang mereka akan berpisah,tapi sepertinya mereka terlihat mesra?"tanya Veronica ketika melihat Santi dan Barley bergandengan memasuki rumahnya.
"Huh, mereka sedang mengurus surat cerai di pengadilan, aku sudah berusaha memisahkan mereka, namun lagi-lagi Barley membawanya kembali," dengus Andini.
Mereka bicara secara berbisik-bisik.
"Aku tak mau tahu Andini, Amora harus jadi satu-satunya istri Barley, jika tidak, rencana kita tidak akan berhasil dan kau tahukan apa akibatnya?"Veronica kembali mengancam.
"Kau tenang saja," bisik Andini.
Ketiga orang tersebut sudah duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu menunggu Andini dan Veronica yang memperlambat langkah mereka, seperti merundingkan sesuatu.
Melihat tamunya sudah duduk di tempat masing-masing Veronica menghampiri mereka.
"Silahkan duduk Tuan, maaf saya dan Nyonya Andini sudah lama tak bertemu jadi kami sedikit ngobrol" Veronica memberi alasan
"Langsung saja Nyonya, kedatangan kami kemari untuk melamar Amora, yang akan menjadi istri kedua bagi Barley,"papar tuan Harja.
Sebetulnya tuan Harja tak merestui perjodohan antara Barley dan Amora, namun karna desakan Andini ia terpaksa mengikutinya.
Apa di jadikan istri kedua? cih aku tak sudi jika Amora jadi yang kedua dia harus jadi satu-satunya istri Barley.
Veronica menyunggingkan senyum palsu.
"Kalau memang kedua keluarga setuju , langsung saja kami akan mengikat Amora sebagai calon istri Barley," ucap Tuan Hasta tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Baiklah sebentar saya panggil Amora," Veronica meninggalkan mereka sejenak untuk menjemput Amora.
Veronica masuk ke kamar Amora, saat itu ia melihat Amora yang terlihat kacau, Amora kembali berbaring di tempat tidurnya karna tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
"Amora kenapa kau belum siap juga?"tanya Veronica.
"Aduh Mami kepala ku terasa pusing, biar saja rambutku tergerai seperti ini,"ungkap Amora.
"Ya sudah, calon suamimu sudah menunggu," ucap Veronica seraya menarik tangan Amora.
Dengan berat Amora bangkit dari tempat ternyamannya.
"Sebelum menemui calon suami mu, sini biar Mami merapikan riasanmu,"
Veronica merapikan riasan dan menyisir rambut Amora.
Meski di rias, wajah Amora masih terlihat pucat.
Mereka turun menuju ruang tamu menemui keluarga Barley.
Melihat kehadiran Amora, Santi kembali merangkul lengan Barley.
Barley tersenyum melihat Santi yang terlihat cemburu.
Santi membuang wajahnya tak ingin melihat gadis yang akan menjadi rivalnya tersebut.
Amora dan Veronica duduk bersebelahan.
"Bagaimana Amora, apa kau mau menerima pinanggan kami?"tanya tuan Hasta langsung.
"Kalau begitu Barley, kita mulai saja pertunangan kalian, ayo sematkan cincinnya pada jari manis Amora," titah tuan Hasta.
Barley hendak beranjak namun, ia merasa ada tangan yang menarik tangannya.
Barley melihat kearah Santi dengan tangan yang menggenggam erat tanganya.
Santi seperti tak rela melepaskan Barley yang akan mengenakan cincin pada jari manis Amora.
Meski wajahnya menoleh kearah lain, namun secara tak sadar, tangannya menahan Barley agar tak beranjak.
Barley terdiam sebentar, senyum tipis terbit di bibirnya, saat itu Santi benar-benar menunjukan kecemburuannya.
"Santi lepaskan tangan ku," ucap Barley.
Perhatian mereka tertuju pada Santi dan Barley.
Bukannya melepaskan genggamannya, Santi semakin erat menggenggam tangan Barley dengan wajah yang menoleh kearah lain dengan diagframa yang turun naik, sekeras mungkin ia berusaha menahan air matanya agar tak tumpah.
Melihat Santi yang tak mau melepaskan tangan Barley Andini merasa berang.
"Santi lepaskan tangan Barley!" Andini membentak.
Membuat semua perhatian terarah kembali kearah Santi.
Santi tersentak kaget, wajahnya menoleh kearah Andini, setelah di bentak Santi segera melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
Wajah Santi kembali tertunduk lesu.
"Barley ayo sematkan cincin tersebut ke cincin Barley, titah Andini.
Santi terus saja tertunduk seraya meremas gaun yang ia kenakan, kemudian ia sedikit mendongkak kan kepala berusaha menahan air matanya agar tak menetes.
Dengan berat Barley melangkah mendekati Amora dan duduk di sampingnya, tanpa berkata-kata ia langsung menyematkan cincin di jari manis Amora.
Amora begitu senang, senyum seketika terbit di bibirnya.
"Amora dengan demikian, kau telah resmi bertunangan dengan Barley, dan tak lama lagi, kau dan Barley akan menikah,"papar Andini seolah sengaja ingin menyakiti hati Santi.
Santi membuang wajahnya kembali, ingin sekali ia keluar dari rumah itu dan menangis sejadi-jadi, entah apa yang membuatnya begitu terluka saat itu.
Senyum bahagia tak hanya datang Dari Amora saja tapi juga dari Andini dan Veronica.
Setelah menyematkan cincin di jari manis Amora, Barley kebali duduk di samping Santi.
Mereka kemudian berbincang membicarakan tanggal pernikahan putra-putri mereka.
Tiba-tiba saja Amora merasa perutnya kembali bergejolak, ia langsung berdiri dan menghambur berlari menuju kamar mandi.
Sesampainya di wastafel yang ada di kamar mandi, ia kembali memuntahkan isi perutnya dan seketika kepalanya terasa pusing.
Pandangan mata mereka mengrkori kemana Amora pergi, Veronica ikut berlari ke kamar mandi karna merasa khawatir terhadap putrinya.
Setelah memuntahkan kembali isi perutnya, Amora kembali merasa pusing.
Seketika pandangan matanya menjadi gelap Amora pingsan seketika.
"Amora, Amora! sadar Amora." Veronica menjadi panik.
"Tolong!" teriak Veronica dari dalam kamar mandi.
Mendengar suara minta tolong dari arah kamar mandi, Berley berjalan cepat menghampirinya.
"Amora?!"seru Barley karna melihat Amora yang sudah tak sadarkan diri.
"Tolong Barley, bawa Amora ke kamarnya," pinta Veronica.
Barley mengangkat tubuh Amora dan membawanya keluar dari kamar mandi dan langsung menuju lantai atas kamar Amora.
Melihat Amora yang pingsan, Andini menghampiri mereka dan ikut mengantar Amora menuju kamarnya.
"Ada apa dengan Amora, Vero?" tanya Andini.
"Entahlah, beberapa hari ini, Amora memang kurang sehat," jawab Veronica.
Andini merasa curiga dengan keadaan Amora.
Sesampainya di kamar, Barley segera meletakan tubuh Amora di atas tempat tidurnya.
Setelah memastikan Amora baik-baik saja mereka memutuskan untuk pulang.
Bersambung, jangan lupa tekan like, kasi saran dan kritiknya mumpung hari senin bagu votenya dong
__ADS_1