Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Tak bisa lolos lagi


__ADS_3

Andini menuju bank, untuk mencairkan ceknya, setelah satu jam, ia pun memesan tiket keberangkatan ke luar negri melalui situs website.


Setelah mendapatkan uang tunai tersebut, ia kembali memasukan ke rekening pribadinya.


Dua jam waktu yang ia habiskan di bank.


Setelah selesai ia pun kembali ke mobil untuk pergi langsung menuju bandara.


*** .


Setelah melakukan pengejaran, orang suruhan Marco mendapatkan rekan dari pria yang melakukan percobaan pembunuhan Marco.


Pelaku pun di ringkus dan di jebloskan dalam penjara, mereka pun menggali informasi tetang siapa otak dari pelaku.


***


Tuan Marco bersandar pada sofa empuk dan mewahnya.


"Tuan kenapa tidak tuan saja yang membalas perbuatan wanita tua tersebut?"tanya asisten tuan Marco.


"Ha ha ha. aku tak ingin mengotori tangan ku, lagi pula aku tak ingin putra ku membenci ku," ucap Marco seraya menghisap cerutu.


"Kenapa tuan begitu yakin jika Barley itu putra Tuan?"


"Hei Munir, pepatah lama mengatakan darah itu lebih kental dari pada air, jadi meski di tutupi tetap saja akan ketahuan, kau lihat wajah Barley kebanyakan ia mengikuti rasku,"tuan Marco.


"Ehm, apa yang tuan lakukan jika seandainya tuan Barley itu putra tuan?"


"Tentu saja dia akan jadi pewaris ku, kebetulan sekali aku tak punya putra, hanya seorang putri dan itu pun sudah meninggal," ucap Marco sedih.


"Kau tahu Munir, ketika aku melihatnya, air mata ku hampir menetes, melihatnya aku seperti berkaca pada diriku ketika muda."


"Ah putra ku, aku ingin sekali memelukmu, dan mengatakan jika kau adalah darah daging ku,"ucap Marco seraya mendongkak kan kepala.


"Lalu bagaimana jika dia menolak Tuan?"


"Ah tak ada anak yang menolak ke hadiran ayahnya, lagi pula bukan aku yang meninggalkannya tapi ibunya yang memisahkan kami,"papar Marco.


Marco menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, ia begitu bahagia ketika melihat Barley, sudah lama ia mendambakan seorang putra, sebagai pewarisnya.


***


Andini melajukan mobilnya menuju luar kota, ia tergesa-gesa karna dalam waktu setengah jam lagi ia harus check-in di bandara.


Mobil melaju menembus jalan raya bebas hambatan, suasana tampak lengang hingga Andini berani menambah kecepatan mobilnya, namun tiba-tiba saja ada kendaran mini bis yang menyalip sebuah container.


Andini panik, ia berusaha menghindari mini bis yang hampir menabraknya tersebut, hingga Andini tak mampu mengendalikan laju mobilnya dan harus membanting stir dan melanggar pembatas jalan.


Bruk...prank mobil nya berhenti dengan kaca bagian depan yang pecah serta penyok pada bagian bampar depannya.


"Akh!" Andini menyeringai, ia merasakan sakit pada kakinya yang terjepit.


Andini masih sadar, hanya kakinya saja yang terjepit dengan luka pada bagian wajahnya.


"Tolong! tolong! teriaknya seraya berusaha melepaskan tubuhnya yang terjepit.

__ADS_1


Awalnya Andini merasa baik baik saja, namun karna ia menarik paksa kakinya, akhirnya kaki bergesekan dengan palat mobil yang tajam.


Betisnya robek sepanjang sepuluh centi hingga membuatnya terluka dan mengeluarkan darah.


Sementara minibis yang menyalip menabrak kendaraan lainya.


Tabrakan beruntun pun terjadi, beberapa saat kemudian seseorang menolong Andini yang hampir pingsan karna kehabisan darah, Andini di evakuasi sekitar satu jam dan di larikan di rumah sakit terdekat.


Andini langsung di bawa langsung ke ruangan UGD, kakinya terkilir dan ada beberapa luka robek akibat tersayat plat tipis yang tajam.


Andini tersadar ketika petugas kesehatan menjahit luka robek pada kakinya, matanya menerjab nerjab.


Dimana aku?


Andini mengedar pandanganya dan melihat beberapa petugas sedang melakukan tindakan bedah kecil untuk menjahit betisnya yang robek.


"Akh!" Andini meringis menahan rasa pedih pada bagian wajah dan kakinya.


Gawat jika seperti ini mana bisa aku kabur melarikan diri , sebentar lagi polisi akan datang dan membawa ku, aku harus bagaimana?aku tak ingin di penjara.


Pihak rumah sakit menghubungi Barley atas kecelakaan yang menimpa Andini.


Barley mengkerutkan dahinya menatap layar hand phone karna ada sebuah panggilan dengan nomor Instansi.


"Hallo," sapa Barley.


"Selamat siang Pak, dengan keluarga nyonya Andini Radja Prawira."


"Ada apa? saya putranya."


"Saya hanya ingin menginformasikan jika nyonya Andini Hasta Radja prawira berada dalam penangan di rumah sakit karna mengalami kecelakaan," papar petugas tersebut.


"Ibu anda mengalami luka ringan di wajah dan luka robet pada bagian betis,"papar petugas tersebut pada Barley.


"Di rumah sakit mana?"tanya Barley lagi.


"Di rumah sakit Bhayangkara Pak," papar suster tersebut.


"Terima kasih Suster," ucap Barley seraya menutup telponnya.


Barley kembali menatap layar handphonenya ia pun menghubungi tuan Hasta seraya berjalan cepat menuju parkiran mobilnya.


Sambungan telpon tersambung.


"Hallo,"sapa tuan Hasta.


"Daddy! Mommy mengalami kecelakaan," ucap Barley.


Tuan Hasta syok


"Apa? kecelakaan? Dimana?"tanya tuan Hasta bertubi-tubi.


"Sekarang ia sedang berada di rumah sakit Bhayangkara Daddy."


"Baiklah Daddy segera kesana,"

__ADS_1


Ketika itu Santi tengah mengobrol bersama Wati di dapur, mendengar kata kecelakaan Santi pun buru-buru menghampiri Daddy, Santi merasa takut jika Barley yang kecelakaan.


"Daddy, siapa yang kecelakaan?"tanya Santi saat itu dia begitu menkhawatirkan suaminya.


" Mommy, sekarang Daddy mau jenguk kerumah sakit melihat keadaannya."


" Saya ikut Daddy !" seru Santi yang melihat tuan Hasta meninggalkannya.


"Kalau mau ikut cepat sedikit Santi!" seru tuan Hasta.


Dengan tangan kosong Santi mengikuti tuan Hasta,ia tak sempat kembali ke kamarnya.


Tuan Hasta begitu khawatir terhadap istrinya, seperti apa pun istrinya itu tetap ada rasa cinta dan sayangnya pada Andini.


Sopir pribadi tuan Hasta menyiapkan mobil untuk mereka.


Santi pun masuk ke dalam mobil.


Beberapa menit dalam perjalanan mereka pun sampai di rumah sakit, saat itu Barley juga baru tiba.


Barley senang melihat kedatangan istrinya, meski baru sebentar, tapi ia sudah begitu rindu pada istrinya tersebut.


"Barely dimana ruang perawatan Mommy?" tanya tuan Hasta ketika melihat Barley.


"Aku juga belum tahu Daddy kita tanya bagian informasi."


Sementara Santi, ia menghampiri Barley dan merangkul tangan suaminya serta mengandengnya dengan mesra.


Barley tersenyum sesaat ia pun merentangkan tangannya guna merangkul Santi, kemudian sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Santi.


"Kau sudah makan siang?"tanya Barley.


"Sudah, kau sendiri?" Santi.


"Entah kenapa perutku ku selalu mual akhir-akhir ini, padahal sebelumnya aku tidal pernah begini, " ucap Barley.


"Mungkin kau terlalu lelah sayang, jadi asam lambungmu naik, " ucap Santi pada Barley.


"Mungkin juga."


Setelah menanyakan pada bagian infomasi mereka pun menemui Andini yang telah selesai di lakukan penangganan.


Andini di bawa di ruang kelas satu, di rumah sakit tersebut.


Ia hanya bisa berbaring pasrah, namun otaknya masih bekerja merencanakan untuk kabur.


Oh jangan sampai keluarga ku tahu, jika aku berada di sini, mereka pasti akan menjaga ku hingga aku tak bisa kabur melarikan diri, padahal aku sudah membawa lari uang perusahaan.


Bagaimana ini?


Andini masih merasakan sakit, namun tak di hiraukannya, ia malah memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa kabur.


***


Tuan Hasta, Barley dan Santi masuk ke dalam ruangan Andini di rawat, ketika melihat ke tiga orang tersebut Andini merasa syok.

__ADS_1


*Ya ampun bagaimana aku bisa lari jika mereka semua ada di sini.


Bersambung*


__ADS_2