
Raffa tiba di rumah kediaman Naya. Setelah mengucapkan salam ia pun menuju lantai dua kamar Naya, seperti yang di perintahkan oleh Nayla.
Nayla sudah menangis meratapi kebodohan Naya.
"Raffa tolong Naya Raffa," ketika pintu kamar terbuka, Naya sudah tak sadarkan diri.
Raffa menghampiri Nayla yang menangis memeluk Naya dengan pergelangan tangan yang mengeluarkan darah.
"Naya sadar Nay. "
Nayla masih menangis. Sementara Raffa mencari kain kemudian membebat pergelangan tangan Naya untuk memberhentikan darahnya.
"Kita bawa dia kerumah sakit! "
Raffa mengangkat tubuh Naya mnawanya ke dalam mobil.
Keduanya pun menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil Nayla terus menangis dan memanggil nama Naya.
"Nay, Naya itu kenapa sih? kenapa bisa dia melakukan hal bodoh seperti ini? " tanya Raffa.
"Hiks aku ngak tahu, tapi sejak Mami menikah lagi, dan tinggal bersama suaminya di luar negri. Naya sepertinya kecewa, ia mudah frustasi dan suka menyakiti dirinya sendiri. " Nayla.
"Tapi ngak bisa seperti itu juga Nay.Self injury harus di tangani phisikog, Jika di biarkan terus seperti itu, tak hanya Naya, orang lain pun bisa jadi korban. Ini sudah kesekian kalinya Naya melakukan hal bodoh seperti ini! Dan aku ngak bisa terus-terusan mengikuti kemauannya. Aku juga berhak menentukan hidupku sendiri. " Raffa.
"Hiks aku tahu Raffa, Tapi tolonglah mengerti Naya, dia hanya mencintai mu. "
"Tapi aku juga tak sanggup menghadapi orang sepertinya, Nayla. Aku juga ingin bahagia. Jika hubungan kami di paksakan pun tetap saja kami tak akan bahagia. Sebaiknya kau bicarakan pada orang tuamu. Selain phisikiater dukungan orang terdekat akan membatu Naya menjadi kuat. "
Nayla hanya bisa terdiam sembari menangis.
"Naya bangun Nay, hiks. "
Mereka pun tiba di rumah sakit. Kebetulan saat itu Asyia tengah dinas di ruang UGD.
Petugas medis langsung membawa bed hospital untuk Naya.
__ADS_1
Naya pun di bawa ke ruang UGD. Disana Asyia tengah melakukan pertolongan pertamanya terhadap Naya.
Raffa yang baru memikirkan mobilnya langsung menuju ruang UGD.
Perawatan membersihkan luka Naya, ada luka yang cukup dalam hingga perlu di jahit dan Asyia sendiri yang melakukannya.
Raffa kaget ketika melihat Asyia. "Mbak Asyia tugas di sini rupanya. "
Asyia meletakan gunting dan jarum jahit di tempat semestinya. Tandanya ia sudah selesai melakukan tugasnya.
"Bagaimana keadaannya Mbak? " tanya Raffa.
"Ehm, Kamu kenal dengan pasien? "tanya Asyia.
"Panjang ceritanya Mbak. "
Raffa mengikuti Asyia. "Lukanya cukup dalam hingga harus di jahit, sepertinya ini bukan yang pertama kali ia lakukan,karena ada beberapa bekas luka sebelum ini. "
"Iya Mbak. Seingat ku sudah tiga kali ia melakukan percobaan bunuh diri. Dan semua itu karena aku ingin mengakhiri hubungan dengannya. "Raffa.
"Aku sendiri binggung Mbak, bagaimana cara menghadapinya. "
"Yah.., Padahal aku mau curhat dengan mbak Asyia. " keluhannya.
"Nanti saja curhatnya. Bisa lewat telpon, sekarang mbak harus pulang, suami mbak sudah menunggu di rumah. " Asyia.
"I-ya deh. Buruan pulang! nanti kak Andhra nangis di tinggal terlalu lama oleh mbak Asyia. "
"Ih kamu bisa saja bercanda. Nanti mbak laporin sama suami Mbak biar hubungan kamu ngak di restui sama keluarga Alesha." ancaman Asyia dengan maksud bercanda.
"Eh jangan Mbak! Ya sudah salam saja buat kak Andhra, bilang salam manis dari calon adik ipar. "
Ehm,
"Iya nanti insha Allah mbak sampaikan. Dah mbak pulang dulu, sudah kangen sama suami tercinta. "
"Hm iya, namanya juga pengantin baru. "
__ADS_1
Raffa masih bisa bercanda.
Namun, ketika Asyia berlalu darinya, ia terlihat sedih. Rasanya juga tak tega pada Naya, tapi ia dan Alesha sudah berkomitmen dan dirinya tak ingin mengecewakan Alesha.
Beberapa saat kemudian Raffa kembali menemui Naya. Saat itu Naya sudah sadar.
Melihat Raffa, Naya kembali mencari perhatian, ia pun menangis sedih seolah-olah telah menjadi korban, dan berharap Raffa merasa iba kembali padanya.
Raffa menatap hampa kearah Naya, ia pun menyilangkan lengannya ke dada.
"Raffa, jangan tinggalkan aku hiks hiks. " pinta Naya memelas.
Raffa membuang mukanya sebentar, ia semakin merasa muak.
"Nay, sudah cukup kau menyusahkan Nayla. Lihatlah Nayla menangis melihat mu seperti itu! Perbuatan bodoh mu itu tak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi juga orang yang ada di sekitar mu. Dengar Nay, aku tak bertanggung jawab sama sekali atas apa yang kau lakukan! Sekali lagi, apapun yang terjadi hubungan kita putus sampai disini, Maaf aku harus pergi. "
Raffa berlalu dari Naya.
"Raffa hiks hiks." Naya masih menangis-nangis memberotak meminta Raffa kembali. Tapi Raffa tetap tak perduli.
***
Di dalam ruang UGD Naya terus memberontak mencoba menyakiti dirinya kembali.
"Raffa! Raffa! " teriak sambil menjambak-jambak rambutnya.
Keadaan pun sangat kacau, Karena Naya yang terus memberontak.
Beberapa petugas medis datang menghampiri Naya. Sementara Nayla terus menangis meminta Naya menghentikan aksinya.
"Nay, sudah Naya! hiks hiks hiks. "
Untuk menghindari hal yang tak di inginkan. Naya pun di suntik obat penenang.
Secara perlahan Naya melemah. Kemudian ia tertidur kembali.
Nayla langsung menghubungi Cynthia yang berada di Belanda.
__ADS_1
Bersambung dulu ya reader. Cerita Andhra dan Asyia besok ya 🙏😘😅
Assalamu'alaikum wr wb.