
"Barley,"ucap Amora lirih,
seketika tubuhnya gemetar melihat bara kemarahan di wajah Barley.
Barley menghampiri Amora dan menarik tanganya kemudian mendorong nya pada dinding.
Amora terpojok di dinding, tubuhnya gemetaran menatap wajah pria bertubuh kekar dan berwajah tampan tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada istri ku, Amora?!" teriak Barley dengan otot mata yang seperti hendak keluar.
Matanya berpendar menatap Amora dengan beringas.
Rahang Barley mengeras dengan urat-urat leher yang terlihat jelas di kulit putihnya yang bersih tersebut.
Amora menelan ludahnya, karna tangan Barley mencengram lehernya membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Sebetulnya Barley sudah curiga, karna itu ia mengutus orang-orangnya untuk melacak keberadaan Amora, karna yang di racun Santi, Barley curiga jika ini ada hubungannya dengan asmara, dan setahunya hanya Amora yang begitu menginginkannya.
Ak-ak- Amora tak bisa bersuara karna tercekik oleh Barley.
Barley begitu emosi hingga ingin membunuh gadis tersebut dengan tanganya, namun ketika melihat wajah Amora yang membiru akibat terkecik olehnya, ia pun melepaskan cengramannya.
Ha ha uhuk uhuk, Amora terbatuk batuk karna hampir saja kehabisan nafasnya.
"Kau! kau menuduh ku Barley, uhuk uhuk." sangkal Amora.
Uhuk uhuk Amora seperti kehilangan separuh nyawanya.
Tubuh Amora membungkuk ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal akibat bekas cengraman Barley.
"Apa kata mu?!"menuduh mu?" Aku punya bukti Amora! Aku kenal dengan gadis yang kau suruh mengantar bubur beracun untuk istri ku itu, dia adalah Viora, sayang sekali saat itu aku tak memperhatikannya karna seorang suster sedang memeriksa istri ku, andai saja aku tahu ada racun di buburnya, maka detik itu juga akan kusumpal mulut Viora dengan bubur beracun tersebut!" seru Barley.
Amora menatap mata Barley dengan berpendar, ia kehabisan kata-kata untuk membantah tuduhan tersebut.
Barley masih emosi, di tariknya Amora kembali dan di sandarkannya tubuh Amora ke dinding.
"Kata kan kenapa kau berusaha meracuni Santi! apa salahnya pada mu !"teriak Barley kembali seraya mencengram rahang Amora.
"Aku-ak aku, tak melakukannya Barley, kau salah, Aku memang mencintai mu tapi aku tak sekejam itu, mana berani aku melakukannya." kilah Amora kembali.
"Cuih, masih tak mengaku?, sebaiknya kau mengaku pada ku? kenapa kau ingin meracuni Santi?!"
"Sungguh Barley aku tak melakukannya." Amora masih menyangkal, tapi Barley tak putus asa.
Barley masih menahan tubuh Amora di dinding, kemudian ia mengeluarkan pisau Carter.
"Kalau kau tak mau mengaku, maka wajah cantik mu ini akan ku sayat-sayat hingga tak ada yang mengenali mu lagi, " ancam Barley seraya menunjukan piasu carter tersebut.
Beberapa saat Amora terdiam, matanya berpendar dengan otak yang bekerja keras mencari cara agar terlepas dari cengkraman pria di hadapannya.
Pantulah dari pisau tersebut tergambar di manik matanya, begitu menakutkan.
Amora tetap bungkan diam seribu bahasa.
__ADS_1
Melihat Amora yang tak mau bicara tersebut, Barley menempelkan pisau carter tersebut pada pipi Amora, pisau tersebut terasa dingin berkilauan dan tajam.
Amora menutup matanya untuk menghindari kengerian tersebut.
"Ayo Amora, kalau kau tak mengaku, maka ucapkan selamat tinggal pada wajah cantik mu,!" ancam Barley.
Barley memiringkan carter tersebut, hingga bagian lancipnya sedikit menyentuh Amora hingga membuatnya wajahnya sedikit tergores.
Amora menahan nafas nya merasakan sesak seketika.
"Tidak Barley, jangan lakukan itu Barley," pintanya dengan bibir gemetar, Amora mengucurkan keringat dingin, tatapan mata Barley terhadapnya tak kalah tajam dari pisau yang ia genggamnya.
"Kau tahu kan Amora, Aku tak suka bermain-main, jadi_"
"Iya Barley aku mengaku, aku yang meracuni Santi, karna aku cemburu, karna aku mencintai mu Barley!"ucap Amora menginstrupsi dengan bibir gemetar dan membiru.
Barley mendengus kesal, melihat Amora dengan tatapan semakin nanar, "Apa kata mu cinta? Aku tak percaya wanita seperti mu bisa merasakan cinta."
Amora menelan ludahnya berkali-kali melihat Barley yang coba menahan emosi terhadapnya.
Barley mencengram tangan Amora kemudian menyeretnya.
"Lepaskan Barley! kau mau bawa aku kemana?!"Amora berteriak dan meronta.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat!"Barley menarik tangan Amora hingga ia terseret.
"Tidak Barley ! Tidak Barley !jangan bawa aku kepenjara!" teriaknya sambil meronta.
Barley memaksa Amora masuk ke dalam mobil dan yang di jaga oleh dua pria berbadan kekar, kemudian ia duduk di kursi sebelah sopir.
Barley merekam percakapan mereka di handphonenya, dengan sedikit mengedit yakni membuang suaranya, jadi yang terdengar hanya suara pengakuan dari Amora.
Amora terus memberontak, tapi ia tak berdaya untuk melawan pria tersebut.
Sesampainya di kantor polisi Amora langsung di bawa sebagai tersangka.
"Selamat siang pak! Ada apa ini?"tanya polisi tersubut ketika melihat Amora yang memberontak saat di tarik keluar dari mobil.
"Saya ingin menyerahkan otak dari percobaan pembunuhan istri saya, ia hampir saja kabur ke luar negri," ucap Barley.
"Apakah dia yang bernama Amora?"tanya polisi tersebut.
"Iya Pak, saya juga punya bukti pengakuan darinnya langsung." Barley menyerahkan rekaman suara pengakuan Amora.
"Baiklah, sambil menunggu pemeriksaan tersangka kami tahan, " ucap polisi tersebut.
Kedua pria itu menyerahkan Amora, tanpa perlawanan Amora di masukan dalam sebuah sel, bersama Viora.
"Amora kau?" Viora.
"Semua ini karna kebodohan mu! rasakan saja kau di penjara! aku akan minta orang tua ku untuk membayar jaminan agar aku bebas, sementara kau!, biar saja kau membusuk di penjara!" cecar Amora.
Viora emosi mendengar kata-kata yang di ucapkan Amora.
__ADS_1
"Kau! berani sekali kau! jika aku di penjara, kau juga harus di penjara!"
Viora melabrak Amora kemudian menarik rambutnya, mereka pun berduel di balik jeruji besi tersebut, hingga membuat kegaduhan.
Mendengar suara ribut-ribut, polisi datang menghampiri ke duanya.
"Berhenti!" teriak satu polisi.
Keduanya diam, dan berhenti seraya menatap polisi tersebut.
"Awas kalian ulangi lagi, jika kalian ribut terus maka kalian akan di tahan di ruang yang gelap!" ancam polisi tersebut, ia pun beranjak dari tempat itu meninggalkan dua wanita tersebut.
Setelah polisi tersebut berlalu darinya, Amora menatap sinis ke arah Viora.
Ia merogoh tasnya untuk mencari keberadaan handphonenya.
Setelah mendapatkan handphone tersebut, Amora menelpon Veronica.
" Hallo Amora, kau di mana?" tanya Veronica khawatir.
"Hallo, Mami sekarang aku ada di penjara."
"Apa?" Veronica syok.
"Iya Mami, cepat datang ke sini, bantu aku untuk keluar dari tempat terkutuk ini," rengek Amora.
"Apa?"seketika sambungan telponya terputus karna Veronica pingsan di tempat.
***
Andini masuk ke dalam kantor suaminya untuk mengajak suaminya tersebut makan siang, Andini salah satu direktur di perusahaan tersebut, jadi setiap harinya mereka akan makan siang bersama.
Tuan Hasta memperhatikan Andini yang berjalan menghampirinya.
"Mommy, sudah dua hari Santi di rawat, apa kau tak ingin menjenguknya?"tanya tuan Hasta.
"Cuih, aku tak sudi, " sahut Andini ketus.
Tuan Hasta menarik nafas panjang.
"Mommy, anak yang di kandung Santi itu, bukannya darah daging mu? kenapa kau malah bersikaf seperti itu, jika kau tak menghargai Santi, setidaknya kau hargai Barley putra mu itu." dengus tuan Hasta.
"Biarkan saja, sekali tidak suka ya tidak suka !, lihat saja jika anak itu sudah lahir, akan ku bujuk Barley untuk menceraikan Santi, Wanita miskin sepertinya enak saja ingin menjadi permaisuri dari putra ku," ucapnya dengan ketus.
Tuan Hasta mendekat kearah Andini, ia pun menepuk pundak sang istri.
"Mommy ketika kita berada di atas, jangan lupa jika kita pernah berada di bawah, ingatlah semua ini hanya titipan, bukannya dulu kau juga miskin? tak punya tempat tinggal , bahkan kau pernah menjadi pembantu di rumah ku?"ucap tuan Hasta dengan lembut namun terasa menyayat hati Andini.
Tuan Hasta berlalu meninggalkan istrinya yang arogan tersebut.
Sementara Andini menatap punggung tuan Hasta yang perlahan menjauhinya, sejenak dirinya terbungkam. seperti mendapat tamparan keras dari ucapan suaminya tersebut.
Bersambung, jangan lupa dukungannya😊
__ADS_1