Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Melahirkan


__ADS_3

Setelah menanda tangani surat persetujuan operasi, suster pun kembali ke ruang prenatal untuk mempersiapkan operasi pada Amora.


Setelah persiap selesai, Amora di bawa menggunakan brankar menuju kamar operasi, Arief selalu mengikuti kemana saja suster tersebut membawa Amora, seperti yang di lakukan oleh kedua polisi yang bertugas yang mengawasi Amora hingga menuju kamar operasi.


Operasi sedang berlangsung,


Arief mondar-mandir di depan ruang operasi, sebentar duduk sebentar berdiri, pikirannya bercabang, ada rasa khawatir, senang, dan gelisah bercampur bauh dalam hatinya.


Terdengar suara Azan, ia pun menuju mushola untuk menunaikan sholat dzuhur.


Selesai sholat, Arief menadahkan tanganya.


"Ya Allah selamatkan lah keduanya, moga dengan keadaan genting ini, Amora bisa sadar dan insyaf atas dosa-dosanya." ucap Arief sambil menadahkan tangannya.


Setelah melipat sajah, Arief kemnali menuju kamar operasi.


Detik-detik menegangakan masih terasa, lampu merah masih menyala di depan pintu kamar opersi.


Setelah menyelesaikan sholat Zhuhurnya Arief merasa lebih tenang, ia pun kembali ke ruang operasi.


"Ya tuhan semoga Amora mau merelakan anak tersebut untuk aku ambil hak asuhnya," guman Arief.


Arief menarik nafas panjang ketika melihat lampu ruang operasi telah padam.


Deg jantungnya berdetak kencang.


"Kenapa tak terdengar suara tangis bayi, apakah?"


Deg,


Arief menyangka bayi Amora tak selamat karna tak terdengar suara tangis bayi, sementara sebelum Amora di operasi seorang wanita yang melahirkan di ruangan tersebut suara bayinya terdengar nyaring.


Arief senakin gelisah, namun seorang suster keluar dan membawa bayi di dalam sebuah tabung inkubator.


"Ehm suster, apa itu anaknya Nyonya Amora?"tanya Arief.


"Iya Pak, anda saudaranya?"


"Ehm iya."


"Kenapa suara bayinya tak terdengar Suster?"


"Ehm, keadaan bayinya memang sangat lemah pak, tapi Alhamdullilah selamat."


Papar suster tersebut kemudian menuju ruang perawatan bayi yang baru lahir.


Arief pun mengikuti kemana suster tersebut membawanya bayi mungil itu.


Mereka pun sampai pada ruang perawatan bayi baru lahir.


Suster tersebut memasang beberapa alat dan jarum pada tubuh munggil sang bayi.


Arief sempat membaca keterangan dari bayi tersebut.


Bayi Nyonya Amora,

__ADS_1


Jenis kelamin :perempuan.


Berat badan :2500 gram.


"Ehm, anak Aldo perempuan," ucap Arief tersenyum.


Arief heran ketika, melihat terlalu banyak alat yang terpasang pada tubuh mungil sang bayi.


Bayi itu seperti menangis namun tak mengeluarkan suara.


Tik titik air mata Arief mulai menetes luruh dan menggantung di dagunya.


Ia merasa iba melihat malakai kecil tersebut seperti tersiksa dengan alat-alat medis di tubuhnya.


Arief menghapus tetes air matanya mendekati para suster.


"Suster apa yang terjadi pada keponakan saya?" tanya Arief seraya menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering.


"Maaf Tuan, kami belum memastikan, tapi keadaan bayi ini sangat lemah bahkan detak jantungnya pun tidak normal."


"Kemungkinan bayi ini mengalami kebocoran jantung."


"Astafirullah hal Azim," ucap Arief dengan tetesan air mata yang terus mengalir.


"Kebocoran jantung Suster?"tanya Arief.


"Iya pak, untuk sementara bayi ini akan di rawat secara intensiff di ruang ICCU sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter anak dan dokter spesialis jantung."


Arief tergaman beberapa saat di tatapnya malaikat kecil yang tak berdaya tersebut, sesekali bayi tersebut meringis menahan sakit, namun tak bersuara karna kondisinya terlalu kemah.


"Baik pak, mungkin besok hasilnya akan keluar, jika memang harus di operasi, maka bayi ini harus terus di observasi di ruangan khusus sampai berat badannya mencukupi untuk di lakukan tindakan lanjutan."


"Iya Suster, nomer saya sudah terdaftar di bagian kasir, komfirmasi secepatnya kepada saya jika memang membutuhkan tindakan lanjutan, lakukan apa saja agar bayi tersebut bisa selamat." Arief.


"Baik pak," ucap suster tersebut.


Petugas medis telah pun selesai memasang berbagai alat kesehatan di tubuh bayi Amora.


Arief pun menghampiri bayi tersebut dan melihatnya melalui tabung kaca.


Arief meraba kaca, seolah ingin menyentuh tubuh munggil sang bayi.


Ya Allah berikan kesempatan hidup baginya, sungguh bayi yang malang.


Arief terlena melihat bayi munggil itu, air matanya pun menetes ketika melihat bayi itu tersadar dan menangis tanpa suara.


Arief memberanikan diri untuk membuka tabung kaca, ia pun membuka dan menyentuh kulit tipis dari bayi tersebut.


Senyum terukir di wajah Arief, Sayang," ucap Arief tulus kembali air matanya menetes.


"Kamu harus kuat, paman akan lakukan segala cara agar kamu sehat dan tumbuh dengan normal."Arief


Hiks.


Arief tak kuasa menahan kesedihanya, ia pun kembali menutup tabung kaca tersebut.

__ADS_1


Beberapa suster di ruangan tersebut kagum melihat kasih sayang Arief terhadap bayi itu.


Seorang suster pun menghampiri Arief.


"Demi kenyamanan ruangan ini sebaiknya Bapak menunggu di luar, "ucap suster tersebut kepada Arief.


"Baiklah," ucap Arief, ia pun keluar dari ruangan tersebut dan kembali keruang operasi.


Kebetulan saat itu, Amora telah selesai menjalani observasi pasca operasi.


Suster membawanya keruangan perawatan ViP karna Arief yang menanggung semua biayanya.


Beberapa jam kemudian Amora pun sadar.


Matanya menerjab-nerjab melihat pemandangan ke sekeliling ruangan tersebut.


"Kau sudah sadar?"tanya Arief.


"Ehm, aku di mana?"tanya Amora saat itu dalam keadaan setengah sadar.


"Kau di rumah sakit, setelah menjalani operasi Cesar."


Cesar? operasi?ehm."


Amora meraba perutnya yang tak lagi buncit, namun tubuhnya terasa sakit semua.


Ehm, akhirnya aku terbebas dari penderitaan ini.


Senyum terlukir di sudut bibirnya, namun kembali tertarik karna mengingat vonis hukuman yang ia terima dari pengadilan.


Amora kembali menangis terisak.


Hiks hiks hiks.


"Amora, apa kau tak ingin tahu keaadan anak mu?" pancing Arief.


"Ehm, aku tak peduli dengan anak haram itu! karna dia aku harus menderita!" cecar Amora.


"Astafirullah Amora! anak itu tak bersalah! bagaimana pun juga dia itu darah daging mu!" seru Arief dengan sedikit emosi.


"Aku tak peduli, jika kau mau mengurusnya, urus saja dia!"Amora .


"Astafirullah Amora, tahu kah kau jika anak mu itu menderita jantung bocor?"tanya Arief dengan emosi.


"Hm, biar saja, bahkan aku tak menginginkannya," ucap Amora.


Arief meneteskan air matanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Amora.


"Kau memang manusia yang tak punya hati Amora, jika kau tak menginginkan anak itu, maka biar aku yang mangambil hak asuh anak mu, kau tanda tangani saja berkasnya," ucap Arief dengan air mata yang menetes.


Arief keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Amora sendiri.


Amora menatap punggung Arief yang menghilang di balik pintu.


"Hua hua hidup ku hancur sudah, dua puluh tahun ku, akan ku habiskan di dalam penjara," tangis Amora.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2