
Miranda semakin panik melihat Cintya yang tak sadarkan diri.
Petugas kesehatan mengangkat tubuh Cintya dan membawanya menuju brankar.
"Cintya kamu kenapa Nak hiks hiks?" Miranda menangis tergugu melihat Cintya yang tak sadarkan diri.
Sementara tuan Alex Setelah di periksa ia pun di bawa ke ruang perawatan intensif untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian Cintya pun tesadar sambil menerjab nerjabkan matanya.
"Cintya kamu kenapa Nak?" tanya Miranda ketika melihat Cintya yang tersadar dari pingsannya.
"Mami perut dan kepala ku terasa sakit," keluhnya.
belun sempat Miranda bertanya lebih lanjut seorang suster sudah menghampiri Cintya dan Miranda.
"Bu, minum vitaminnya dan perbayak istirahat dulu, untuk sementara sebaiknya anda bed rest," ucap suster tersebut seraya menyerahkan vitamin pada Cintya.
Miranda dan Cintya saling memandang.
"Memangnya anak saya kenapa?" tanya Miranda.
"Anak ibu sedang mengandung satu bulan," ucap suster tersebut sebut sambil memeriksa infus Cintya.
Hah!
Lagi lagi keduanya saling memandang, bulir bening menetes perlahan di pipi Cintya.
Setelah memeriksa keadaan Cintya, Suster tersebut keluar dari ruangangannya.
Cintya manatap dengan bola mata berpendar", Hik hiks hiks, cobaan apa lagi ini Mami! aku ngak mau mengandung anak kakek tua itu hiks hiks hiks," ucap Cintya sambil memukul mukul tempat tidurnya dengan pelan.
"Hiks, sabar Nak! mungkin dengan kamu hamil anak tuan Demian dia bisa membantu keuangan keluarga kita hiks hiks, " ucap Miranda sambil mengusap kenin putrinya.
"Hua, aku ngak mau punya anak dari tua bangka itu Mami! aku malu punya suami seperti dia, hua!" Cintya menangis sejadi jadinya.
Begitupun Miranda ia juga menangis tergugu.
Setelah memastikan keadaan Cintya baik-baik saja, Miranda menghampiri ruang ICU, tempat di rawatnya tuan Alex.
Ia pun masuk menemui suaminya, tuan Alex tersadar matanya terbuka tapi tubuhnya terlihat kaku.
"Papi, Papi sudah sadar? " tanya Miranda.
Tuan Alex mencoba berbicara tapi lidahnya terasa kaku.
A a e e, Ucapan tuan Alex tak satu pun bisa di mengerti.
Tuan Alex mencoba mengerakan tangan dan kakinya tapi tak juga mau bergerak.
Miranda syok melihat keadaan suaminya.
"Papi! paoj kenapa?" tanya Miranda , ia pun menangis.
A a e e, hanya itu yang bisa keluar dari mulut tuan Alex, berkali kali ia mencoba untuk bicara pada istrinya.namun, hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.
"Papi!! " jerit tangis Miranda ketika menyadari suami tersebut lumpuh.
__ADS_1
Miranda menekan tombol merah pada panel yang menempel di diding untuk memanggil suster.
"Papi! hiks hiks hiks ." Miranda menangis memeluk suaminya, begitu pun tuan Alex , yang ikut menangis namun anggota tubuhnya tak lagi bisa di gerakan.
"Papi! kenapa bisa jadi seperti ini hiks hiks, " tangis Miranda pecah kembali, tubuhnya pun berguncang hebat.
Beberapa saat kemudian sustee datang menghampiri tuan Alex dan Miranda.
"Ada apa Nyonya? " tanya suster tersebut karna melihat Miranda yang menangis memeluk suaminya.
"Suami saya suster sepertinya ia mengalami kelumpuhan, hiks hiks hiks," sahut Miranda sambil memeluk tuan Alex.
"Sebentar saya panggil dokter untuk memeriksa." suster itu berlalu meninggal kan tuan Alex dan Miranda yang sama-sana menangis.
Bebera saat kemudian dokter jaga dan suster pun mengahampiri tuan Alex.
Mereka langsung memeriksa keadaan tuan Alex.
Miranda menangis tergugu di samping Suaminya, kini mereka di timpa masalah yang bertubi-tubi.
"Sepertinya Pasien mengalami stroke," ucap dokter tersebut kepada Miranda.
"Stroke? apa suami saya bisa di sembuhkan dokter? " tanya Miranda penuh harap.
"Belum bisa di pastikan, besok akan di periksa lebih lanjut, semoga saja dengan terapy keadaan beliau bisa lebih baik," ucap dokter tersebut.
Hah, Miranda seakan tercekat hanya air liurnya yang telihat masuk ke tenggorakannya yang kering.
"Terapy?" ungkapnya lirih.
Saat ini ia memang tak punya simpanan uang, karna deposito nya juga sudah habis membayar angsuran bank yang mereka pinjam.
Tuan Alex menatap sang istri yang kebingunggan, ia pun menangis tanpa suara dengan tubuh yang terguncang.
***
Cintya terbangun dari tidurnya, ia pun menerjab-nerjabkan matanya kemudian mengedar pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.
"Hah! Cintya kaget ketika melihat sosok horor itu lagi, sosok tersebut menatapnya dengan tatapan berbinar dengan penuh cinta.
Cintya mengkerucutkan bibirnya.
'Siapa yang n.emberi tahu tua bangka ini jika aku ada di sini? 'batin Cintya.
'Hallo darling, honey, baby, sweaty!." tuan Demian tersenyum penuh cinta , ia pun membelai rambut Cintya.
'Cuih, semakin jijik aku melihatnya,' batin Cintya lagi.
"Sayang, terima kasih karna kini kau telah mengandung buah cinta kita, Aku jadi semakin mencintai mu sayang ku," ucap tuan Demian dengan mesra.
Cintya membuang wajahnya, ia pun menepis tangan tuan Demian.
"Sayang, kamu ngambek ya?" tanya tuan Demian yang merayu Cintya dengan Mencolek-colek dagu Cintya.
Cintya semakin risih, ia pun menutup tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, jangan ngambek gitu dong, katakan saja apa salah Aa' terhadap kamu sayangku," ucapnya sambil menarik selimut Cintya.
__ADS_1
'Ya jelas salah lah! kau masih bernapas sampai saat ini saja sudah salah di mataku! 'dengus Cintya dalam hatinya.
Suster datang untuk memeriksa tekanan darah Cintya.
"Maaf tuan, saya periksa putri anda dulu ya."suster.
"Dia istri saya suster!" sahut tuan Demian dengan bangga.
Hah! hampir saja suster tersebut terperanjat kaget.
Cintya bahkan lebih pantas menjadi cucunya si engkong.
Cintya semakin rapat menutup selimutnya karna malu.
"Mbak saya periksa tekanan darahnya." suster.
Cintya hanya mengulurkan tangannya.
Suster tersebut pun .emeriksa tekanan darah Cintya.
" 140/90.Aduh Mbak kok tiba-tiba tekanan darahnya jadi tinggi seperti ini! padahal tadi tekanan darah anda justru rendah,ini bahaya!" tutur suster tersebut.
'Gimana ngak darah tinggi, kalau si engkong ada disini. stroke juga bisa kalau tuh engkong ngak pulang juga,'batin Cintya seraya melirik tajam ke arah tuan Demian.
***
Miranda keluar dari kamar perawatan suaminya, ia harus menebus obat-obat dan membayar kamar perawatan suaminya sedangkan tabungannya hanya tersisa lima juta.
"Aku harus kemana meminjam uang untuk biaya perawatan suami ku?" tanya Miranda sambil berjalan longkai, matanya pun menatap dengan hampa.
"Oh, aku harus melihat keadaan Cintya," gumannya ia pun berjalan cepat menuju kamar Cintya.
Di lihatnya tuan Demian sedang menunggu Cintya, ia pun terpikir untuk meminta pertolongan tuan Demian, karna tak ada siapa pun yang bisa di harap.
Miranda masuk ke dalam kamar Cintya, ia pun membuka pintu tersebut.
"Eh, ibu mertua!" sapa tuan Demian ramah.
"Ehm, tuan bisa kah anda menolong saya , untuk membayar biaya perawatan dan menebus obat untuk suami saya? " tanya Miranda secara langsung.
"Tentu saja ibu mertua!mana resepnya biar aku yang menebus ? sekalian aku bayar ruang perawatan ayah mertua dan istriku," sahutnya dengan antusias.
Tuan Demian segera menebus resep obat tersebut secara langsung, ia pun meninggalkan kedua orang tersebut.
***
Cintya mengkerut kan dahinya., serta mengkerucutkan bibirnya.
"Mami kenapa sih, Mami minta bantuan sama si engkong?" dengus Cintya.
"
"Mami terpaksa! Papi kamu mengalani stoke hingga tubuhnya tak bisa bergerak, sekarang kita tak punya pilihan selain menumpang hidup dengan suami mu itu tuan Demian, Jadi bersikap baiklah dengannya,"papar Miranda.
"Apa? oh tidak, sampai kapan aku harus menjadi istri dari tua bangka tersebut! " tangis Cintya.
Mereka memang tak punya pilihan lain kecuali mengandalkan tuan Demian, sementara Cintya semakin stess mendengar penuturan ibunya.
__ADS_1
Bersambung ya reader, terima kasih atas dukungannya, semoga kita semua Selamat dan selamat, Aamiin.