Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Rindu


__ADS_3

Satu jam pasca operasi kini Asyia berada di box bayi yang di dorong oleh suster, keadaannya terlihat cukup baik, hanya saja tubuh mungilnya terbalut kain perban, membuat siapa pun miris melihatnya


Asyia masih terlelap dengan tenang, bibirnya yang mungil dengan pipi kemerahan membuat siapa pun ingin menciumnya.


Arief berdiri sambil tersenyum menunggu suster tersebut menghapirinya.


"Asyia sayang, "ucap Arief lirih ia pun tersenyum bahagia.


"Bagaimana keadaanya Suster?"tanya Arief dengan bola mata yang berembun.


"Alhamdullilah Pak, keadaanya cukup stabil, kami takjub dengan keponakan anda, sepertinya Tuhan mengganugrahkan padanya kekuatan, bahkan masa kritisnya terjadi dalam waktu yang singkat," papar suster tersebut.


Arief menarik napas lega, ia pun mengikuti kemana suster tersebut membawa Asyia.


Asyia kembali ke ruangan ICCU, untuk di rawat secara intensif kembali.


Ketika mereka hendak masuk ke ruangan tersebut, Arief menahannya.


"Tunggu Suster!" seru Arief.


suster tersebut berhenti.


"Ada apa Pak?"tanya-nya.


"Bolehkah saya mencium keponakan saya?" tanya Arief.


"Ehm sebaiknya jangan, pasien harus tetap steril," jawab suster tersebut.


"Ehm baiklah jika begitu saya ambil gambarnya saja," ucap Arief sambil merogoh sakunya untuk meraih smartphone-nya.


Beberapa gambar Asyia pun tertangkap di kamera Arief, setelah di rasa cukup, ia pun mempersilakan suster tersebut membawa Asyia.


Arief tersenyum melihat beberapa foto yang di tangkap oleh smartphone-nya.


"Aku kirimkan ke Aldo gambar putrinya," guman Arief.


***


Aldo membuka pesan yang di kirim oleh Arief, Seketika air matanya menetes melihat foto Asyia.


" Hiks hiks, aku ingin sekali melihat dan menciumnya,"ucap Aldo seraya menghapus air matanya yang meleleh hingga ke dagu.


Aldo menyentuh layar handphonenya kemudian mencium foto Asyia, bulir bening kembali menetes di pipinya begitu ingin nya ia untuk memeluk dan mencium putrinya tersebut.


***


Di rumah sakit yang berbeda.


Arief dan Munir menunggu di pintu ruang operasi, setelah melewati keteggangan yang begitu lama, akhirnya seorang petugas keluar dari ruang operasi.


Dengan tergesa-gesa keduanya menghampiri perawat tersebut.


"Bagaimana keadaan pasien suster?"tanya Barley.


Suster tersebut diam beberapa saat.


"Bagaimana keadaan tuan saya suster?"tanya Munir mengulang pertanyaan Barley.

__ADS_1


Deg


Barley dan Munir menanti penjelasan dari suster tersebut seolah tak sabar.


keduanya pun menatap ke arah Suster tersebut.


"Operasinya berhasil, hanya saja pasien dalam keadaan kritis pasca operasi, karna terjadi pendarahan dan untuk sementara pasien harus di rawat di ruang intensip" ucap Suster tersebut.


Deg.


Jantung Barley berdetak semakin kencang, seketika tubuhnya terasa semakin gemetar.


Suster membuka dua pintu kamar operasi, tak lama kemudian petugas lainya mendorong tempat tidur tuan Marco.


Barley dan Munir mengikuti suster tersebut membawa Tuan Marco.


Karna kondisinya yang kritis pasca operasi, tuan Marco di bawa menuju ruang ICU.


Barley merasa begitu khawatir, di pandangnya lagi lelaki paruh baya tersebut dengan tatapan berembun.


Ya Tuhan selamatkan dia.


Mereka pun melewati koridor, menuju ruang ICU.


Setibanya di ruang tersebut, suster menahan mereka untuk masuk.


"Karna pasien masih dalam penanggan, jadi anda tidak boleh masuk terlebih dahulu," ucap Suster tersebut.


Barley dan Munir hanya bisa pasrah menunggu di luar ruangan.


Bulir bening perlahan menetes di pipinya, ia begitu mengkhawatirkan tuan Marco.


Barley mendengus beberapa kali, ia mencondonkan tubuhnya beberapa derajat dan tertunduk.


Munir menghanpiri Barley.


"Tuan, hari mendekati sore, apa anda tidak ingin makan?"tanya Munir.


"Aku tak lapar," sahut Barley.


"Makanlah dulu Tuan, saya khawatir anda jatuh sakit, apalagi baru saja anda telah mendonor darah anda."Munir.


"Makan saja pak Munir, mana mungkin aku bisa makan dengan tenang sementara daddy ku_." Barley menghentika kata-katanya.


Apa yang ku ucapkan barusan?.daddy ? aku bilang daddy ku.


Sejenak Barley terdiam, ia pun melihat kearah Munir yang tak kalah kaget mendengar Barley menucapkan pengakuan tersebut.


"Ehm, maksud ku, bagaimana aku bisa makan enak sementara tuan Marco berada dalam keadaan kritis, " ucap Barley meralat ucapannya.


"Ya sudah terserah anda saja," ucap Munir.


Perutnya memang terasa sangat lapar, namun ia sama sekali tak berselera untuk makan.


Selain mengkhawatirkan Marco, Barley juga mengkhawatirkan sang istri, karna biasanya Santi bisa menangis hanya karna ia pulang terlambat, apalagi jika ia tak berada di rumah selama beberapa hari kedepan.


Pikiran Barley terlalu kalut, hingga perutnya yang keroncongan tak ia hiraukan

__ADS_1


Agar tak membuat istrinya khawatir hampir se-jam sekali ia menelpon Santi, untuk menanyakan dan memberi kabar jika keadaanya tak baik-baik saja saat itu.


***


Waktu menjelang magrib, Santi menutup jendela dan gordennya, begitu pun pintu yang menuju kearah balkon kamarnya.


Tiba-tiba saja ia teringat dengan suaminya, biasanya Barley yang menutup semua jendela dan gorden kamar mereka, kemudian sebelum mandi Barley selalu menyempatkan diri untuk memijat lembut kakinya.


Santi mendaratkan bokongnya di tempat tidur, belum satu hari tak bertemu suaminya, ia sudah merasa begitu rindu.


"Sayang aku kangen, " ucap Santi yang mengusap tempat tidurnya dengan pelan, bulir bening pun menetes di pipinya.


Biasanya dirinya akan selalu bermanja-manja dengan sang suami ketika Barley pulang dari bekerja.


Santi berusaha tak terlalu sering menghubungi Barley, ia tahu saat ini suaminya sedang menjaga tuan Marco, bagaimana pun juga tuan Marco rela berkorban demi suaminya.


Azan magrib berbunyi, Santi menuju kamar mandi untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.


Biasanya ia dan Barley sholat berjamaah, setelah sholat mereka makan malam bersama.


Hari-hari yang menyenangkan baginya, setelah sholat isya Santi melipat sajadahnya, dan mengantungkan mukenanya.


Santi pun meraih kemeja Barley yang di kenakan suaminya semalam.


Ia menghitup aroma kemeja suaminya, masih terasa segar dan harum untuk mengobati rasa rindunya.


Begitu rindunya Santi terhadap sosok suaminya, ia membawa kemeja Barley dan memeluknya, kemudian Santi merebahkan tubuhnya sambil memeluk dan mencium kemeja tersebut, seolah-olah Barley ada di dekatnya dan sedang memeluknya dengan erat


"Sayang aku kangen," ucapnya berkali-kali dengan lirih, sambil menitikan air matanya


Santi kembali menghirup aroma yang keluar dari kemeja tersebut dan mencimnya berkali-kali lagi.


Ia semakin tak tahan memendam kerinduannya terhadap sang suami.


"Sayang aku kangen, hiks hiks hiks, aku ngak kuat pisah sama kamu seperti ini, hiks hiks hiks, ia pun kembali memeluk dan mencium kemeja tersebut seraya menangis menahan rasa rindunya hingga ia lelah sendiri, Santi pun tertidur sambil menangis.


***


Wati melihat makanan yang tetap utuh di meja makan.


Ia pun menekati meja makan tersebut, sejak menikah lagi, tuan Hasta jarang berada di rumah ini, jadi mereka hanya melayani Nyonya mudanya tersebut.


"Ehm, Nyonya belum makan, aku bawakan saja makanan ke kamarnya," guman Wati.


Wati meraih nampan kemudian meletakan makan malam Santi dan membawanya ke ke kamar.


Wati tiba di kamar dan melihat sang Nyonya yang baik hati tersebut sedang tertidur sambil memeluk kemeja Barley.


Karna ini sudah malam dan Santi belum makan malam, ia pun berinisiatif membangunkan Santi.


Wati menyentuh lengan Santi untuk membangunkannya.


"Nyonya, Nyonya," tapi Santi tak juga sadar.


Ia pun meraba pipi Santi, "Astaga! Nyonya sedang demam!"Wati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2