Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kejutan Manis


__ADS_3

Semurat langit berwarna jingga melukis keindah diatas cakrawala,sekelompok burung-burung berterbangan riang menjelajah langit yang damai dan tenang.


Sedamai hati seorang istri yang tengah di landa rindu menunggu kehadiran sang suami , saat melantunkan tembang cinta dengan suara merdunya.


Santi duduk di meja rias setelah melakukan ritual mandi sorenya, ia berdandan untuk menyambut kedatangan tuan muda, suaminya sendiri.


Matanya menatap ke arah luar jendela, hari sudah semakin senja, matahari secara perlahan menggeser meninggalkan singgahsananya menuju tempat peraduan, waktu pun menunjukan pukul setengah enam sore.


Menurut kepercayaannya, wanita yang sedang hamil harus bersembunyi di tempat yang tertutup, karna waktu magrib merupakan tempat pergantian waktu di mana portal alam ghaib dan alam manusia akan terbuka, karna itu anak-anak kecil dilarang untuk keluar rumah saat magrib tiba, begitupun dengan wanita yang sedang hamil, setidaknya itulah petuah yang baru saja ia terima setelah menerima telpon dari sang ibunda setengah jam yang lalu.


Santi menutup pintu jendela kamarnya, kini hanya lampu-lampu neon yang tergantung di langit langit menjadi penerang kamarnya.


Azan magrib berkumandang di aplikasi handphonenya, Santi pun menuju kamar mandi, di sana ada tempat khusus untuk berwudhu sebelum masuk kedalam kamar mandi, ia melanjutkan sholat magrib kemudian membaca kitap suci Al-Quran sambil menunggu waktu isya.


Waktu terus berganti, menit menit berlalu, hingga jam dinding menunjukan waktu pukul tujuh lewat lima belas menit, saat itu Santi juga telah selesai dengan sholat isyanya.


ia kembali merasa bosan, karna hingga jam segini, sang suami yang di tunggunya tak kunjung datang.


Setelah merapikan perlengkapan sholatnya, Santi menuju meja rias kembali, entah kenapa ia selalu ingin tampil cantik di depan suaminya.


Ia mengenakan bedak tabur dan lipstik berwarna soft pink agar terlihat cantik dan natural, setelah itu ia kembali menuju tempat tidur kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Kreak... pintu terbuka, namun tiba-tiba ruangan menjadi gelap seketika, terdengar suara sakelar lampu yang di tekan kemudian pintu kembali tertutup.


Santi panik, ia pun bangkit dari tempat tidurnya, karna mendengar suara derap langkah seseorang yang perlahan mendekatinya.


"Siapa itu?"tanya Santi ketakutan.


Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa suasana terasa mencekam, ia begitu ketakutan karna merasa ada yang akan menyakitinya lagi.


"Siapa itu?"tanya Santi lagi, dengan bibir gemetar, keringat dingin pun mengucur di seleruh wajahnya.


Santi menarik selimut, ketika sosok misterius tersebut berada tepat di hadapannya kini.


Ia Coba meraba tanganya ke arah nakas untuk meraba lampu tidur agar bisa melihat siapa yang berjalan perlahan mendekatinya.


Ha ha ha, nafas Santi memburu, klik lampu kamar hidup, suasana kamar menjadi redup, meski begitu Santi dapat melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini.


"Tuan!" seru Santi.


Barley tersenyum di keremangan kamar, kemudian ia membuka sesuatu dari bungkusan yang di tentengnya.


Seketika kamar menjadi sedikit terang, karna sepasang benda glow in the dark menyala terang dalam genggamannya.


Santi menghembuskan nafas leganya.


"Tuan kau mengngagetkan ku saja, " dengus Santi.


Barley menghampiri Santi setelah memasang benda menyala pada kedua sisi tempat tidurnya.


"Kenapa kau kaget?" tanya Barley.


"Tentu saja Tuan, sekarang hidupkan lampunya!" perintah Santi.


"Biarkan saja wajah mu akan terlihat semakin cantik jika cahayanya remang-remang," canda Barley.


"Apa?!Maksud mu jika kamar ini terang benderang wajah ku terlihat jelek?!" tanya Santi tersinggung.


Barley hanya mengulas senyum simpul membuat Santi penasaran.


"Jadi kau sengaja mematikan lampu agar tak melihat wajah jeluk ku? begitu maksud mu?" tanya Santi kesal, ia pun menyilangkan kedua lengannya ke dada kemudian membuang wajah ke kearah berlawanan dari arah Barley.

__ADS_1


"Kau yang tanya sendiri, kau yang jawab sendiri, aku tidak bilang kalau wajah itu jelek, hanya saja kurang cantik jika berada di tempat terang," canda Barley, ia pun tertawa kecil.


"Ehm Tuan, itu sama saja, hanya bahasanya saja yang di perhalus," dengus Santi.


Ia mengepal tanggannya kemudian memukul-mukul dada bidang Barley.


"Kalau aku tahu kepulangan mu hanya akan membuat ku kesal, aku tak akan menunggu kepulangan mu hm," Santi kembali membuang wajahnya tanpa sengaja ia keceplosan.


"Apa ? jadi kau menunggu ku?"sambar Barley seraya menyenggol tubuh Santi.


Santi menutup mulutnya, merutuki ke ceplosannya, ia pun tersenyum seraya menundukan wajahnya.


"Pantas saja kau terlihat cantik malam ini," goda Barley lagi.


Santi menunduk membuang wajahnya berusaha menutupi senyum malu-malunya.


"Apa kau tak ingin tahu kenapa aku pulang terlambat?"pancing Barley.


Santi menggelengkan kepala berusaha bersikaf acu.


"Kau yakin?"tanya Barley lagi sambil mengulum senyumnya.


Barley menatap ke arah Santi yang masih malu-malu, "Kau cantik sekali malam ini," ucap Barley sedikit berbisik, ia pun mencium pipi Santi yang sudah merona karna sanjungannya.


"Benarkah Tuan?"tanya Santi yang menoleh kearah Barley.


"Tentu saja, mungkin karna cahaya kamar ini remang-remang sehingga hanya kecantikan mu yang memancar," cetus Barley kembali menggoda Santi.


"Ah Tuan setelah kau sanjung, kau hempaskan aku, ih kesel, kesal, kesal," ucap Santi kembali memukul-mukul dada bidang Barley.


Ha ha ha, Barley tertawa kecil, ia pun menarik tangan Santi agar jatuh dalam pelukak-kan nya.


Santi yang merasa kesal, kembali melulak ia pun membalas pelukan hangat tersebut.


"Aku datang terlambat karna aku punya kejutan untuk mu," ucap Barley seraya melepaskan pelukannya.


"Kejutan apa Tuan?" tanya Santi.


" Shut berhentilah memanggil ku Tuan, aku bukan tuan mu," ucap Barley.


"Terus aku harus panggil kau apa?" tanya Santi.


" Menurutmu apa?" Barley.


" Kalau aku panggil kau abang, bagaimana?" tanya Santi.


Barely menggelengkan kepalanya, "Aku bukan abang mu?" tolaknya.


"Apa dong? bagaimana kalau aku panggil kau Mas?"cetus Santi asal.


" Hm aku bukan logam mulia, lagi pula mana cocok panggilan Mas Barley, biasanya itu mas Joko, Mas Bejo, mas Cipto, itu baru cocok" Barley menaikan satu alisnya.


"Lalu apa?"tanya Santi malu-malu.


"Bagaimana jika kau panggil aku sayang ku, atau suami ku," saran Barley.


"Suami ku, Sayang ku, ah kenapa lidah ku terasa kaku ya mengucapkan kata-kata itu," cetus Santi.


"Itu karna kau belum terbiasa saja, jika kau panggil aku tuan terus, mereka akan mengira aku menikahi pembantu ku, "sahut Barley.


Santi setuju, "Ok lah kau begitu," sahut Santi.

__ADS_1


" Kalau gitu kau siap dengan kejutannya?" tanya Barley.


" Siap Sayang ku," ucap Santi lirih karna masih malu.


" Apa? aku tak mendengarnya, sekali lagi lebih kencang!" titah Barley.


Santi mendekat kearah daun telinga Barley, "Siap Sayang ku!" serunya di daun telinga Barley, ia pun tetawa.


Barley mengusap daun telinganya, suara Santi masih berdengung di gendang telinganya.


" Aku ingin kau bersuara lebih kencang, bukan berteriak di telinga ku," dengusnya seraya mengusap daun telinga


"Maaf sayang ku," ucap Santi jengah.


"Nah Tuh bisa," ucap Barley, mereka pun tersenyum.


"Kalau begitu mana kejutannya?" Santi.


Barley merogoh saku celananya, kemudian menelpon seseorang.


" Laksana kan sekarang," ucap Barley di telpon.


Tak berapa lama beberapa pelayan membawa puluhan lilin aroma terapi, mereka meletakan lilin tersebut di atas lantai, kemudian menatanya hingga berbentuk hati yang besar.


Seorang lagi membawa meja kecil lengkap dengan taplak meja dan sekuntum bunga mawar yang di letakan di dalam vas kristal kecil.


Santi begitu syok, matanya membulat dengan mulut yang mengganga.


"Ayo!" ajak Barley, ia pun menuntun Santi agar masuk kedalam deretan lilin aroma terapi yang berbentuk love tersebut.


Keduanya duduk berhadapan di sebuah meja yang panjang sekitar satu meter dengan lebar setengah meter tersebut.


" Apa ini Tuan? eh maksud ku apa ini sayang? " tanya Santi masih tak mengerti.


" Tunggu saja masih belum selesai" Barley.


Ruangan tersebut menjadi terang karna cahaya lilin di tambah dengan benda berbentuk love yang menyala dalam gelap tersebut semakin menambah romantisnya suasana.


Santi tersenyum menggagumi kebolehan suaminya dalam bersikaf romantis.


Beberapa pelayan membawa hidangan makan mereka, Santi tertawa kecil melihat hidangan tersebut.


Barley pun memutar musik clasik melalui handphonenya yang tersambung dengan perangkat Bluetooth spekernya.


Suasana yang tercipta seperti mereka sedang menikmati makan malam romantis di restoran mewah bergaya eropa.


Diatas meja tersedia, dua piring nasi goreng dengan taburan suir ayam dan telor ceplok, ada juga udang asam manis dan cah kangkung asap.


"Jangan melihat makanannya, ini semua aku yang memasak untukmu, karna aku tahu seleramu, selera nusantara," ucap Barley.


"Jadi semua ini Tuan yang memasak?" tanya Santi.


"Iya, sejak sore aku menyiapkan ini semua, aku sengaja tak langsung menuju kamar, aku sibuk di dapur untuk menyiapkan semua hidangan ini untuk mu," ucap Barley.


"Jadi makan lah,"imbuhnya seraya menyodorkan sesendok nasi ke mulut Santi.


Bukan mainya senangnya hati Santi, ia begitu bahagia mendapat kejutan manis dari sang suami.


Santi melahap makanan tersebut, meski hanya makanan sederhana namun semua terasa istimewa, ketika seseorang yang istimewa yang memasaknya sendiri.


Bersambung guys terus dukung author ya love u All

__ADS_1


__ADS_2