
Selesai acara selamatan ulang tahun Asyia, Delia memberi makan Asyia nasi yang di masak untuk acara tersebut.
Karna usianya genap setahun, Asyia Sebenarnya sudah bisa memakan nasi dan danging ikan ataupun daging Ayam yang lembut.
Dengan hati-hati Delia menyuapinya.
Asyia memang terihat lelah saat itu, rencananya setelah makan ia akan memandikan Asyia kemudian menidurkannya.
Delia menyuap secuil nasi pada mulut munggil Asyia.
Dengan mata yang ssudah sayu Asyia membuka mulutnya.
"Asyia ngantuk ya Nak? setelah mamam dan mandi, nanti kakak tidurkan Yah? " tanya Delia yang melihat Asyia yang terlihat lemah.
Karna baru beberapa suap, Delia pun bermaksud memberinya suapan yang terakhir.
Asyia membuka mulutnya dan mulai mengunyah.
Ehek..ehek, tiba-tib Asyia tersedak.
Delia langsung menepuk pundak Asyia dengan lembut.
Bukan hanya Tersedak, wajah Asiya pun terihat membiru.
Uhuk uhuk uhuk.
Asyia memuntahkan semua yang di makanya. Tubuhnya pun terlihat membiru, dengan napas yang seperti tersengal-sengal.
"Asyia ! Asyia!"seru Delia karna khawatir.
Asyia terlihat sulit bernafas saat itu.Karna takut terjadi sesuatu, Delia pun berteriak memanggil Dinar dan Arief yang berada di luar rumah mereka yang sedang mengantar beberapa tamu pulang.
"Tuan! Nyonya! " teriak Delia dengan panik ia pun menggendong Asyia yang terlihat lemas tersebut.
Dinar berlari kecil menggendong Asyia menghampiri Arief dan Dinar.
Mendengar teriakan Tersebut Arief dan Dinar berlari kecil menghampiri Asyia.
Keduanya bertemu di ruang tamu.
"Ada apa? " tanya Arief panik.
Seketika Arief syok melihat keadaan Asyia yang terlihat lemas tersebut.
"Asyia kamu kenapa Nak? " tanya Arief begitu Khawatir. ia pun langsung menyambar tubuh Asyia dari tangan Delia.
"Ya Allah." Arief mengusap punggung Asyia.
Dinar pun melirik sinis ke arah Delia.
"Asyia kenapa Delia?! " tanya Arief dengan nada yang begitu khawatir.
Delia juga ketakutan, ia juga takut terjadi sesuatu pada Asyia.
__ADS_1
"Ngak tahu tuan, waktu saya kasi makan Asyia memang sudah terlihat lemah. " sahut Delia dengan sedikit ketakutan.
Dinar menyentuh dan mengusap pundak Asyia.
"Mas, apa terjadi masalah pada jantung Asyia? " tanya Dinar yang curiga.
Arief meminta sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil.
"Pak Maman! siapkan mobil!"
"Delia kamu bereskan pakaian Asyia, nanti ada sopir yang menjemput kamu. Siapa tahu kamu di butuhkan di sana.
"Sayang! Ayo kita pergi ke rumah sakit," ajak Arief ia pun tergesa-gesa.
Dinar ikut kerumah sakit dengan menggendong Raffa.
Arief memeluk tubuh Asyia, "Kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa hangat ya?" tanya Arief yang memeluk dan meraba kening Asyia.
"Iya Mas, kenapa tiba-tiba Asyia lemas seperti itu, padahal ia tadinya baik-baik saja," tutur Dinar dengan perasaan Khawatir.
Mereka pun masuk ke dalam mobilnya yang sudah di persiapkan oleh sopir pribadinya.
Keduanya masuk ke mobil dengan segera.
"Pak, rumah sakit jantung ya! "
Arief juga curiga terjadi masalah pada kateter yang di pasang pada jantung Asyia.
Asyia semakin lemas matanya merem melek dengan suhu tubuh yang semakin tinggi.
"Ya Allah tolong selamat Asyia, " ucapnya lirih dengan penuh harap.
Arief pun meneteskan air matanya.
Sebelumnya dokter memvonis jika usia Asyia tidak akan lama, tapi ia selalu yakin jika Asyia di beri anugrah panjang umur.
Kini seolah vonis dokter tersebut kembali terngiang ngiang di telinga Arief akibat rasa khawatirnya.
Seketika tubuh Arief bergetar, rasanya ia tak akan sanggup membayangkan sesuatu akan terjadi pada keponakannya tersebut.
"Asyia!" Arief memanggil Asyia dengan suara yang parau dan lirih, Air mata pun semakin deras mengalir.
Asyia semakin terkulai dengan mata yang semakin sayu.
"Asyia sayang, sabar ya Nak. Kamu harus kuat, kasihanilah paman mu ini Nak, " ucap Arief sambil menangis tergugu memeluk dan mencium-cium Asyia.
Nafas Asyia terasa terhembus sesekali di lehernya karna ia mendekap Asyia saat itu.
Dinar ikut menangis.
"Asyia, Sayang jangan tidur Nak, sebentar lagi kita sampai sayang. Kamu kuat kan, hika hiks hiks", ucap Dinar sambil mengusap kepala Asyia.
Arief terus memeluknya dengan tubuh yang terguncang menahan tangis.
__ADS_1
Asyia masih membuka matanya yang terasa begitu berat, sejak kecil ia sudah terbiasa menahan sakit dari jarum suntik ataupun rasa sakit yang timbul akibat luka operasi.
Asyia yang malang, bayi itu tetap tenang berada di dekapan Arief, tangan kecilnya berusaha meraba wajah tampan pamanya sang sedang menangisi keadaannya.
Asyia mengangkat kepalanya kemudian menempelkan wajahnya pada pipi sebelah kiri Arief, sementara tanganya menyentuh pipi Arief di sisi lainya.
"Sayang, kamu harus kuat ya," ucap Arief lagi sambil mencium pipi Asyia.
Eh , sahut Asyia lirih.
Mobil pun melaju menuju sebuah rumah sakit khusus penyakit jantung.
Di rumah sakit tersebut lah biasanya Asyia melakukan check up.
Asyia langsung di larikan ke ruang UGD, untuk mendapati penanganan lebih lanjut.
Setelah pemeriksaan, Asyia harus di rawat intensif karna ia mengalalami infeksi saluran pernapasan.
Penyakit jantung bawaan memang rentan terjadi infeksi.
Asyia di bawa ruang khusus. Karna hanya satu orang yang boleh menjaganya.Arief memutuskan untuk menjaga Asyia.
Asyia kini terbaring lemah, matanya tertutup dengan infus dan selang oksigen pada hidungnya.
"Asyia, " ucap Arief ketika Asyia selesai di tangani.
Arief mendekat kearah Asyia yang terlihat lemah.
Ia pun mencium kening Asiya pelan dan lekat.Agar Asiya menyadari kehadiran dirinya saat itu.
Terlihat gerakan pada otot -otot mata Asyia, ia menyadari kehadiran Arief.Namun, karna keadaanya yang begitu lemah Asyia pun tak mampu untuk membuka matanya.
Arief mendekat membisikan sesuatu di telinga Asiya.
"Sayang kamu pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Saat itu kamu masih begitu kecil hiks. Tapi kamu bisa melewatinya. Dan sekarang paman yakin kamu bisa menlewati ini semua Nak,"ucap Arief dengan bulir bening menetes di pipinya.
Arief meraih tangan mungil Asyia kemudian menciumnya dengan lekat.
"Kamu jangan pergi jauh dari paman mu ini Nak, Paman begitu menyayangi mu.Hiks hiks."
"Kamu harus kuat, "ucap sambil mengusap kepala Asyia.
Arief kembali menangis dengan tubuh yang terguncang. Keponakannya yang malang kini terbaring tak berdaya dengan sejumlah alat bantu medis yang terpasang pada tubuh mungil Asyia.
Di tatapnya kembali wajah lucu bayi tersebut," Sayang cepat sembuh yah. Kamu harus ikut paman pulang. Paman janji setelah kamu sembuh dan sehat. Paman akan mengantar kamu menemui ayah mu. Kamu mau kan Sayang? " tanya Arief sedih.
Selama ini Asyia selalu terlihat bahagia jika bertemu Aldo.Namun dengan alasan kesehatan Asyia tak boleh sering-sering menemui ayahnya. Karna kondisi Asyia yang rentan.
Arief menarik cairan yang meleleh di hidungnya.
"Paman Yakin, setelah ujian ini. Kau akan jadi anak yang kuat. "ucap Arief sambil mencium kening Asiya.
Asyia pun menggerak-gerakan tangannya.
__ADS_1
Bersambung.