Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Tertangkapnya Tomi


__ADS_3

Jika aku tak bisa membawa mu ke suatu tempat yang ku ingin kan, maka tempat tersebut akan ku bawa kehadapan mu. Barley.


Waktu terus berlalu setelah makan malam romanti tersebut, Barley membawa Santi keluar dari kamarnya untuk menikmati pemandangan indah di sekitarnya, melihat langit malam dengan taburan bintang.


Barley duduk di sebuah bangku yang ada di balkon kamar mereka sementara Santi duduk di pangkuanannya.


Tangan Barley melingkar sempurna di perut ramping sang istri, sementara Santi mengelayut manja duduk bersandar pada tubuh kekar sang suami.


Rasanya memang aneh, mungkin rasa itu batu saja bertunas di hatinya, namun demi kenyaman Santi dan anak yang ada di dalam rahim sang istri, ia mencoba untuk menerima dan belajar mencintai Santi.


Tak banyak kata yang terucap dari keduanya, mungkin karna mereka masih-merasakan canggung satu sama lain,mungkin juga rasa itu belum tumbuh dengan sempurna, mengingat mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama.


"Santi, dua hari lagi kau harus ikut aku untuk menghadiri penghargaan yang di adakan oleh Himpunan pengusaha Indonesia, Daddy meminta ku untuk mewakilinya dalam acara peanugrahan tersebut," ucap Barley di sela-sela obrolan mereka.


"Ehm, Kau yakin ingin membawa ku?"tanya Santi.


"Kenapa?"tanya Barley.


"Aku merasa kurang percaya diri, apalagi harus bertemu orang banyak sukses dan hebat seperti kau dan Daddy, " ucap Santi.


"Ya sudah jika tak mau, aku bawa wanita lain saja,"cetus Barley menguji Santi.


Mendengar ucapan Suaminya, Santi buru-buru menyahut.


"Ah jangan Tuan! i-iya aku bersedia."


"Tuan lagi!" dengus Barley.


"Hm maaf, Iya aku bersedia sayang ku "ucap Santi sambil mencolet hidung mancung suaminya.


"Nah, lain kali biasakan dirimu, aku tak ingin di depan orang kau memanggilku Tuan,"Barley.


"Asiap, sayang ku,"ucap Santi.


"Nah begitu," ucapnya sambil mengecup bibir sang istri.


Santi tersenyum, ia begitu bahagia atas perlakuan Barley terhadapnya.


"Ok, Nyonya Barley berhubung malam semakin larut kau harus tidur, karna wanita hamil tak boleh terkena angin malam terlalu lama, sekarang kita masuk saja." ucap Barley seraya menggangkat tubuh Santi ala bridal style.


Santi tersenyum sembari melingkarkan lenganya pada Barley.


Barley memang pandai mamanjakan wanita, karna itu tak ada yang mampu menolak pesona pria tampan yang romantis tersebut.


Barley meletakan tubuh Santi di atas tempat tidur dengan hati-hati, kemudian ia pun berbaring di samping istrinya memeluk Santi.


Barley memberi satu kecupan di kening dan di bibir Santi, " Selamat malam Nyonyaku, ucap Barley."


"Selamat malam juga Tuanku," balas Santi.


Tanpa sungkan lagi Santi memeluk sang suami, hingga matanya terpejam dengan sendiri, sementara Barley terus mengusap pundak Santi dengan tangannya.


Barley merupakan pria yang berwatak keras, kasar, kejam, dan dingin, tapi tidak seperti itu jika berhadapan dengan seseorang yang ia sayangi.


Tak butuh waktu lama, Santi pun terlelap dalam pelukannya.


Barley menerawang pikirannya melayang, " Sayang ku harap kau bisa tenang dan bahagia di sana, karna aku akan menjaga adikmu dengan baik, berbahagialah kau di sana," ucap Barley lirih sambil memejamkan matanya.


***


Tomi sedang bersiap untuk pergi, biasanya malam seperti ini, ia habiskan bersenang-senang di club, tak hanya sekedar menikmati minuman di club malam, tapi disana ia juga berbinisnis, menjual narkoba, karna itu hampir setiap malam ia menghabiskan waktunya untuk bertransaksi narkoba di tempat tersebut.

__ADS_1


Baru saja ia selesai menyisir rambut, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras, karna curiga, Tomi mengintip di balik pintu.


"Polisi, "ucapnya lirih.


Tomi mengendap-mengdap, ia mencoba untuk kabur dengan melewati pintu belakang, namun ternyata kosaan-nya tersebut sudah di kepung petugas ke polisian.


"Angkat tangan!"teriak salah seorang petugas, tanpa bisa mengelak lagi, ia pun mengangkat tangannya keatas.


Seorang polisi pun, mengunci tangan Tomi kebelakang kemudian memborgolnya.


"Saudara Tomi, anda di tetapkan sebagai tersangka, atas percobaan pembunuhan saudara Aldo, dan dengan sengaja melakukan tindakan sabotase pada mobil milik tuan Barley hingga menyebabkan kecelakaan dan menimbulkan korban jiwa." polisi.


Tomi hanya pasrah, ia tak mengira, jika Arief dan Aldo akan melaporkannya ke polisi.


Tomi di bekuk dan langsung di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.


Setelah beberapa jam di periksa Tomi resmi di tetapkan sebagai tersangka, begitupun Aldo dan Amora sebagai otak dari pelaku.


***


Pagi hari sekali Veronica bersiap mengantar makanan untuk putri tercintanya, namun tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari kantor polisi.


"Hallo," sapa Veronica.


"Hallo, selamat pagi Nyonya, kami dari pihak kepolisian menyampaikan kepada anda bahwa putri anda terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan dengan korban jiwa bernama saudara Sania Ayunda, dengan demikian, anda di minta untuk datang ke kantor polisi sekarang untuk di mintai keterangan," ucap polisi tersebut di dalam sambungan telpon.


Bagai tersambar petir di pagi hari Veronica menerima kabar buruk tersebut, ia pun bergegas menuju kantor polisi.


***


Veronica berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan, di sana Amora sedang menjalani pemeriksaan, bersama kedua tersangka lainya yakni Aldo dan Tomi, polisi mencocokan keterangan dari tersangka dari tiga tepat terpisah, kini ketiganya resmi menjadi tersangka


Veronica duduk, seraya menyimak pengakuan dari Amora, dari keterangan dan bukti polisi sudah dapat mengambil kesimpulan motip dari pelaku dan tersangka utama yakni Amora.


"Jadi bagaimana perkembangan kasus yang membelit putri saya, Pak?"tanya Veronica dengan tubuh yang gemetar.


"Saudari Amora, terancam pasal berlapis, dengan kasus percobaan pembunuhan empat orang sekaligus, yakni Saudara Barley, Alm Sania, saudara Aldo dan saudari Santi dengan dengan ancaman hukuman penjara maksimal seumur hidup atau dua puluh tahun penjara dan sekurang-kurangnya lima belas tahun penjara,"ucap polisi tersebut.


Amora dan Veronica begitu syok, tiba-tiba saja pandanga Veronica menjadi gelap, Bruk, tubuhnya pun terkulai di atas lantai.


"Mami!"teriak Amora menangis histeris.


***


Santi sedang melakukan tugasnya, yakni membantu Barley mengenakan pakaian kerjanya, satu persatu kancing kemeja impor sang suami ia tutupi.


"Bagaimana keadaan mu? sudah merasa baikan?" tanya Barley.


"Sudah, perut ku sudah tak terasa sakit sama sekali," jawab Santi seraya menyimpul dasi suaminya.


"Kalau begitu nanti malam, aku sudah bisa minta jatahku kan?"tanya Barley seraya menyatukan kening mereka kemudian mencium di tepi bibir Santi.


Santi tersenyum simpul seraya menggangguk malu.


"Tapi kau jangan pulang terlambat, apalagi sampai pulang larut malam," ucapnya seraya mengenakan jas pada tubuh kekar suaminya.


"Tenang saja, aku tak akan mengecewakan mu, "ucapnya.


Kalau begitu sekarang kita turun untuk sarapan, Ayo Nyonya, "Ajak Barley seraya menyiku lenganya.


Santi pun menggandenga mesra tangan Barley, kemudian menuju lift untuk turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Andini menyunggingkan senyum sinisnya ketika melihat pasangan tersebut semakin mesra berjalan menghampiri mereka.


"Selamat pagi Mommy,"ucap Barley seraya mencium pipi Andini.


"Selamat pagi Daddy," ucap Barley dengan mencium pipi tuan Hasta.


"Selamat pagi, Barley, Santi," ucap tuan Hasta.


"Bagaimana Santi, kamu sudah merasa baikan?"tanya tuan Hasta.


"Sudah Daddy,"ucap Santi dengan senyum manisnya.


Barley menarik beberapa roti dan memolesnya dengan selai, kemudian ia meletakannya pada piring Santi.


"Sayang, kau harus sarapan yang banyak," ucap Barley.


"Wati!"teriak Barley.


Wati yang berada di dapur tak jauh dari meja makan pun menghampiri mereka.


"Ada apa Tuan muda?"tanya Wati penuh hormat.


"Bikin segelas susu ibu hamil yang aku beli kemaren untuk Nyonya Santi,"ucap Barley.


"Baik Tuan muda," ucap Wati, ia pun undur diri.


Cih ada nyonya baru rupanya di rumah ini


Andini menatap tajam kearah Santi, dan tanpa sengaja Santi pun melihat kearahnya hingga membuat Santi insecure.


Melihat Andini yang menatap tajam kearah istrinya, Barley membalas dengan menatap tajam ke arah Andini.


"Mommy!" tegur Barley,Andini pun mengalihkan pandangannya.


Setelah sarapan mereka pun bersiap untuk berangkat bersama.


Santi juga ikut beranjak dari kursinya untuk mengantar kepergiaan suami.


Tiba-tiba hand phone Barley berbunyi, Barley menatap layar handphone melihat siapa yang sedang melakukan panggilan terhadapnya.


"Kompol Iwan," guman Barley.


"Hallo, selamat pagi pak Iwan."Barley.


"Selamat pagi, pak Barley."


"Ada apa pak Iwan?" tanya Barley.


"Saya ingin memberi informasi penting, bahwasahnya pelaku perusakkan rem mobil anda hingga membuat anda kecelakaan dan mengakibatan calon istri anda meninggal sudah di tahan." ucap pak Iwan.


Mendengar berita tersebut seketika dada Barley bergemuruh, bola matanya seperti menyalakan bara api kemarahan, rahangnya mengeras, dengan wajah yang seketika menjadi merah padam, Santi melihat perubahan drastis pada suaminya tersebut menjadi heran.


"Siapa pelakunya Pak Iwan?" tanya Barley dengan tubuh yang gemetar menahan amarah.


Bersambung dulu ya readers, terus berikan dukungan ke author, dengan like, komen, vote hadiah yang banyak he he, suka rela saja😊😊.


Btw guys sambil nunggu author up mampi juga di novel keren berikut ini dengan judul: Jangan salahkan Takdir



__ADS_1


__ADS_2