
Andhra memeluk tubuh Asyia yang roboh di sampingnya.
"Asyia! Kamu kenapa?!" tanyanya panik ketika melihat wajah Asyia yang tampak membiru.
Asyia sudah tak sadarkan diri saat itu.
Andhra mengangkat tubuh Asyia dan meletakannya di tempat yang aman.
Semua terlihat panik saat itu, begitupun Andhra.
Salah seorang panitia menelpon ambulan. Asyia berbaring di pangkuan bu Riska sementara Andhra berlari menuju bis untuk mencari tabung oksigen portable milik Asyia.
Beberapa saat kemudian Andhra kembali dan membawa tabung oksigen tersebut dan memasangkannya.
"Asyia bangun Asyia! " Seru Andhra seraya mengusap tangan telapak Asyia.
"Asyia sadar Nak!" Seru bu Riska yang juga panik.
Asyia masih tak sadar.Namun, setelah di pakaian oksigen diafragmanya terlihat jelas turun naik.
"Asyia bangun Asyia, sadarlah."Andhra semakin panik, begitupun bu Riska.
Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu petugas kesehatan yang akan datang bersama mobil ambulan.
Detik demi detik terasa berat di lalui dengan ketengangan.
Andhra dan bu Riska sebisa mungkin membuat Asyia tersadar. Mulai dari memanggil Asyia, hingga menepuk pelan pipinya.
"Asyia, sadar Asyia, kita pergi bersama pulang juga harus bersama Asyia. Bangun Asyia!"ucap Andhra yang terlihat begitu khawatir.
Andhra benar-benar panik.
Sambil menunggu ambulan. Andhra mencoba menghubungi daddynya.
Panggilan tersambung.
"Hallo Andhra ada apa?" tanya Barley.
"Daddy! Aku masih di Bangkok Thailand. Tadi kami berwisata tapi tiba-tiba saja Asyia pingsan, dan aku ngak tahu harus bagaimana," tutur Andhra dengan panik.
"Pingsan? Tapi kenapa?" tanya Barley yang juga ikut khawatir.
"Sepertinya Asyia kelelahan Daddy."
"Bawa kerumah sakit, untuk pertolongan pertama. Jika tidak darurat, jangan lakukan tindakan yang lainnya. Karna rekam medis Asyia ada di sini."
"Baik Daddy." Andhra.
***
Mendengar berita tentang Asyia, Baley langsung menghubngi pilot dari jet pribadinya. Beruntung jet pribadi mereka standby dan sedang tak di sewa.
Panggilan langsung tersambung.
"Hallo Tuan ada apa?"tanya sang pilot.
"Siapkan pesawat ! Konfirmasi dengan pihak bandara,Secepatnya kita akan terbang menuju Bangkok Thailand." Barley.
"Baik Tuan. Setelah semua beres saya akan hubungi Tuan." Pilot.
"Lakukan sesegera mungkn. Ini darurat."
__ADS_1
Setelah menghubungi Pilotnya. Baley langsung menelpon Arief.
"Hallo Tuan," sapa Arief ketika menyambut telpon dari Barley.
"Rif, Asyia pingsan ketika berwisata di bangkok. Sebentar lagi aku akan menyusul mereka dengan pesat pribadi ku. Siapkan rekam medis Asyia. Obat-obatannya siapa tahu di butuhkan di sana, " tutur Barley tanpa jeda.
"Hah. Ba-baik Tuan. Saya ikut menjemput mereka."Arief.
Arief ikut panik ia pun tak tahu harus berkata apa.
Setelah menerima telpon dari Barley, Arief segera menghubungi Aldo.
Mereka semua panik. Tapi karna pesawat tersebut kapasitasnya terbatas. Jadi mereka mempercayakan semuanya pada Arief yang akan mewakili mereka dalam penanganan Asyia.
Selain penumpang. Barley juga mempersiapkan brankar khusus untuk Asyia selama mereka dalam perjalanan pulang, di tambah dengan dua orang tenaga medis yang biasa menangani Asyia.
Mereka semua bersiap untuk terbang ke Bangkok menyusul Asyia.
***
Setelah menunggu beberapa belas menit, ambulan pun tiba.
Asyia langsung di bawa menggunakan ambulan menuju rumah sakit terdekat. Didalam ambulan tersebut pertolongan pertama pun segera di lakukan. Asyia langsung di pasang infus dan selang oksigen.
Pengecekan tekanan darah dan sebagainya sudah di lakukan di dalam ambulan
Selain seorang petugas medis, Asyia juga didampingi oleh Andhra dan bu Riska.
Suasana tegang masih terasa di dalam.ruangan tersebut. Wajah Asyia semakin pucat dengan bibir yang sedikit membiru.
"Tekanan darahnya rendah,begitupun denyut nadinya," ucap petugas ke pada petugas lainnya dengan bahasa mereka.
"Asyia," panggil Andhra lirih.
Tanggannya semakin menggenggam erat tangan Asyia. Andhra terlihat begitu sedih.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah sakit.
Tim medis langsung memeriksa keadaan Asyia di lihat dari tanda-tanda yang terdapat pada pasien, mereka pun bisa menyimpulkan jika Asyia mengalami kelainan jantung bawaan.
Langsung saja Asyia di bawa ke ruang pemeriksaan sinar x.
Andhra dan bu Risca menunggu dengan gelisah.
Setelah di rotgen dan hasilnya langsung di bawa ke dokter spesialis jantung di rumah sakit tersebut.
Dokter yang menangani Asyia memanggil bu Riska sebagai wakil dari keluarganya.
Bu Riska sendiri binggung apa yang harus di lakukan untuk saat itu. Karna ia juga syok dan panik.
Andhra dan bu Riska pun menghadap dokter spesialis tersebut mereka berdialog dalam bahasa inggris.
"Selamat siang dokter," Bu Riska mulai menyapa.
"Selamat siang." dokter.
"Bagaimana dengan keadaan murid saya dokter?"
Dokter mengkerutkan keningnya.
"Menurut hasil pemeriksaan, sepertinya sangat kecil kemungkinan pasien akan bertahan. Kami juga belum bisa memastikan apa penyebab pasien bisa bertahan hidup sampai saat ini.Pada kasus umumnya, pasien seperti itu tak akan bertahan sampai saat ini."
__ADS_1
"Jadi menurut dokter, tindakan apa yang harus di lakukan agar pasien selamat?"
"Kami menyarankan agar segera melakukan tindakan transplantasi jantung. Karna sepertinya jantung pasien sudah tak bisa bekerja secara optimal, yakni memompa darah ke seluruh tubuh. Satu-satunya tindakan medis ialah dengan cara melakukan transplantasi." Dokter.
"Iya kami sudah mendaftar untuk itu dokter. Tapi menurut pihak terkait kami harus menunggu donor yang sesuai." Andhra.
"Itu benar. Dan hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasien."
Andhra tergaman.Ia tak tahu lagi harus bicara apa keadaan Asyia semakin parah, jika tak di tangani Asyia bisa meninggal kapan saja.
Kami sedang usaha semaksimal mungkin agar pasien bisa bertahan lebih lama."
Andhra tergaman. Kata-kata dokter tersebut membuatnya semkin syok. 'Separah itukah keadaan Asyia,' batin Andhra.
"Iya dokter. lakukan saja tindakan yang terbaik, sambil menunggu keluarganya." Andhra.
***
Setelah menemui dokter, Andhra langsung menemui Asyia yang terbaring tak sadarkan diri.
Bulir bening menetes di pipi Andhra ketika melihat keadaan Asyia yang semakin parah.
Sekujur tubuh terpasang beberapa alat medis.
"Asyia!" panggil Andhra lirih. Wajahnya tepat berada di wajah Asyia.
Asyia tak merespon apa pun, matanya semakin merapat seolah telah pasrah.
"Asyia ,hiks hiks bangun Asyia hiks hiks. Kau tak boleh menyerah begitu saja Asyia hiks hiks." Tubuh Andhra berguncang menahan rasa sedihnya.Ia pun memeluk Asyia.
"Asyia hiks. Aku tahu kau pasti mendengar ku kan? Ini aku Asyia."Andhra. Ia pun menegakkan tubuhnya melihat reaksi dari Asyia.
Andhra menarik tanggan Asyia kemudian menggenggam telapak tangan Asyia dengan kedua telapak tangannya.
"Asyia bangunlah. Aku tahu kau pasti kuat hiks hiks hiks." Bulir-bulir bening Andhra menetes jatuh di tubuh Asyia.
Berkali-kali ia memanggil Asyia. Namun Asyia tetap tak bereaksi.
Andhra mengusap kepala Asyia dengan sesekali menghapus air matanya.
"Hiks hiks, Asyia apa kau masih ingat dengan kisah cinta yang pernah ku ceritakan pada mu?" bisik Andhra.
"Seperti halnya sepasang suami tersebut aku ingin kita seperti itu, Ingatlah janji sang suami kepada istrinya Asyia.Selama jantungnya berdetak, jantung sang istri akan terus berdetak hiks"
Andhra menarik tangan Asyia pelan dan meletakan telapak tangan Asyia pada dadanya.
"Dengarlah Asyia, jantung ku masih berdetak, dan selama jantung ku berdetak jantung mu juga tak akan berhenti berdetak hiks."
"Percayalah Asyia, jantung ini akan menjaga detak jantung mu, hiks hiks," ucap Andhra seraya mencium kening Asyia.Saat itu dada Andhra tepat berada di dada Asyia. Hingga debaran Andhra terasa di dada Asyia.
Deg
Deg
Deg.
Bersambung reader.
Semoga tetap semangat nunggu author up ya. Maaf cuma bisa up satu episode perhari.
Salam sayang selalu dari author. Mohon maaf lahir batin. Assalammualaikum wr.wb.
__ADS_1