
Delia tertidur sambil dengan memeluk Aldo, keduanya terlelap setelah pertempuran ke duanya.
Waktu masih menunjukan pukul empat pagi, Delia tersadar dan membuka matanya, melihat dada bidang Aldo yang terdapat berkas tato buatanya iapun tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang masih lelap tertidur.
Delia berusaha melepaskan rangkulan lengan Aldo yang mengukung tubuh dengan hati-hati. .
Untung saja Asyia tak terbangun ketika keduanya tidur saling memeluk tanpa busana.
Karna merasakan adanya pergerakan, Aldo pun membuka matanya.
Melihat istrinya yang hendak turun dari ranjang ia pun kembali menarik tubuh Delia.
"Mau kemana Sayang? " tanya Aldo sambil menarik tangan Delia ke atas ranjang.
"Abang aku mau mandi, sebentar lagi azan subuh."
Aldo melirik jam dinding.
Ia pun kembali tersenyum menatap Delia.
"Masih sempat satu ronde Sayang," ucapnya.Ia kembali memposisikan tubuhnya di atas tubuh Delia.
Delia menghempas napas dengan kasar, ia hanya pasrah.
"Ayo dong Sayang, jangan lemas gitu," pinta Aldo dengan sedikit memelas.
Delia tersenyum sesaat, ia pun tak tega menolak suaminya. " Ayo siapa takut!" ucapnya sambil tersenyum kemudian memeluk tubuh Aldo.
Aldo langsung mendaratkan meriam saktinya pada medan pertempuran.
Pertempuran kembali di mulai, keduanya sama-sama menikmati pergulatan sengit di subuh hari tersebut.
Untung saja tempat tidur tersebut dapat meredam guncangan akibat gerakan Aldo yang berayun di atas tubuh istrinya dengan kasar.
Suara lengkuhan dan desaahan pun terdengar lirih silih berganti dari bibir keduanya, hal tersebut semakin menambah gairah keduanya dalam petualangan mereka berburu puncak kenikmatan.
Dua puluh menit berayun di atas tubuh Delia cukup untuk membakar metabolisme tubuh Aldo kembali, keringat pun mengalir deras seiring rasa nikmat yang ia rasakan.
Tubuh Delia bergetar dan mengelinjang seiring gerakan Aldo di atas tubuhnya.
Hentakan terakhir Aldo berpapasan dengan suara Azan subuh. Ia pun buru-baru menarik senjatanya.
"Ah, lega. Tepat waktu. " Aldo tersungkur di samping tubuh istrinya.
"On-time juga Abang he he," cetus Delia sambil tersenyum.
Delia merasakan rasa sakit pada sekujur tubuhnya setelah tiga ronde penyatuan mereka . Tapi tentu saja ia merasa bahagia.
Keduanya pun segera membersihkan diri di kamar mandi.
***
Setelah sholat subuhnya Delia kembali berbaring, tubuhnya masih terasa sakit.
"Kamu tidur saja Dek. Biar abang yang siapakan sarapan untuk kamu dan Asyia, " ucap Aldo sambil melipat sajadahnya.
Delia memang benar-benar merasa lelah setelah di kerjai suaminya sampai tiga ronde.
Begitu pun Asyia yang juga tertidur lelap hingga pagi,karna selama resepsi ia ikut duduk bersanding di pelaminan.
Delia berbaring di samping Asyia, di usapnya kepala Asyia yang masih lelap.
"Kamu pasti lelah Yah Nak. Tapi ibu senang sekali melihat kamu bahagia sekali saat berada di pelaminan. Kamu terlihat begitu bahagia."
Delia pun memejamkan mata sambil memeluk Asyia.
***
Aldo keluar dari kamarnya dengan wajah yang cerah dan berbinar.
Saat itu Arief juga baru keluar dari kamar sekedar untuk berolah raga.
Ia pun tersenyum melihat wajah Aldo yang tampak bersinar. Begitu pun Aldo yang langsung tersenyum melihat Arief.
__ADS_1
"Wah beda ya senyum pengantin baru." cetus Arief.
"Beda dong Bang. Habis belah duren," cetus Aldo sambil tersenyum ,ia pun langsung menuju dapur.
"Kamu mau kemana Do? " tanya Arief lagi yang melihat Aldo menuju dapur.
"Mau bikin nasi goreng Bang buat anak dan istri aku," sahut Aldo ia pun langsung menuju dapur kembali.
"Wah semangat banget kamu, Do. Mentang-mentang habis di beri durian montong," canda Arief
"He he, semangat dong. Habisnya enak dan halal lagi, "cetus Aldo.
Arief tersenyum sambil menepuk pundak Aldo
"Kalau gitu bikinin Abang sama Raffa juga Ya, "pinta Arief.
"Ok Bang. " Aldo mengacungkan jempolnya.
Sinar mentari perlahan masuk melalui celah-celah jendela.
Delia kembali tersadar, ia pun melirik jam di dinding.
"Hah sudah pukul enam lewat sepuluh? " ia pun bangkit dari tidurnya kemudian menyiapkan kebutuhan sekolah Asyia.
Meski hanya setengah jam terlelap namun cukup memulihkan tenaga Delia.
Setelah menyiapkan air hangat, Delia pun membangunkan Asyia yang masih tertidur pulas.
"Asiya bangun Nak," ucap Delia sambil menggoyangkan pelan tubuh Asyia.
Asyia mulai menerjab-nerjabkan mata melihat ke arah Delia.
"Bangun Sayang, kita sudah kesiangan, Ayo!"
Asyia pun bangkit.
"Ibu di mana ayah? " tanya Asyia sambil mengucek-ngucek matanya.
"Ngak tahu Nak, yah sudah kamu mandi dulu habis itu pakai baju sendiri, ibu siapkan sarapan untuk kamu. " Delia.
"Dari mana saja Bang? Kok ngak bangunin aku sih? Kesiangan deh. "
"Ngak apalah sekali-kali kesiangan. Abang sudah buatkan sarapan untuk kalian berdua. " Aldo.
Oh Ya sudah kalau begitu biar aku siapin Asyia saja.
***
Delia membantu Asyia mengenakan pakaiananya.
"Ayah hari ini, Ayah dan ibu ngantar Asyia sekolahkan? " tanya Asyia.
"Iya Nak. Nih Ayah baru mau ganti baju."
Aldo membuka kaosnya, dan hendak menggantinya dengan kemeja.
Tanpa sengaja Asyia melihat di leher dan di dada Aldo terdapat beberapa tanda kepemilikan yang berwarna merah ke biruan. .
"Ayah kenapa dada dan leher Ayah ada merah-merahnya? " tanya Asyia.
Aldo melirik ke arah dada dan lehernya. Ia pun tersenyum.
"Ehm ini...." Aldo sendiri binggung menjelaskannya.
"Ehm, pasti ayah alergi ya? seperti Asyia." cetusnya dengan polos
Aldo nyengir, " Ia Nak ini alergi," sahutnya.
Delia dan Aldo pun saling melempar senyum.
Setelah mereka semua siap, Ketiganya menuju meja makan di sana beberapa porsi nasi goreng sudah tersaji di atas meja.
"Wah ini Abang yang masak? " tanya Delia.
__ADS_1
"Iya, spesial untuk durian montong abang," ucapnya sambil mencolet hidung Delia.
Ehm kok durian montong sih!" dengus Delia.
"Ehm dibilang durian motong ngak mau, dari pada abang bilang nangka belanda," cetus Aldo.
"Nangka belanda buah apa Bang? "
"Itu buah sirsak.Kan mirip juga dengan duren. "Aldo.
Aldo pun menarik kursi untuk keduanya duduk.
"Wah Nasi goreng ayah pasti lezat," ucap Asyia menelan ludahnya.
"Iya dong, dengan cinta di setiap racikannya. " Aldo.
Arief dan Dinar juga menuju meja makan.
"Wah jadi pingin juga merasakan nasi goreng pengantin baru, "ucap Dinar sambil menggendong Nabila.
"Iya, Kak.Ini pertama kalinya aku masak nasi goreng di rumah ini. Semoga saja enak." Aldo.
"Coba rasain Bu, "ucap Arief sambil menyendok ke mulut Dinar.
"Ehm enak Kok, " ucap Dinar, setelah mencicipi nasi goreng tersebut.
Arief juga ikut mencicipi nasi goreng buatan Aldo tersebut.
"Ehm enak kok Do." Arief.
Arief pun membagi nasi goreng buatan Aldo dengan menyuapi istrinya secara bergantian.
Melihat Arief yang menyuapi istrinya, Aldo pun berinsitatif menyuapi Delia.
Kedua pasangan tersebut saling menyuapi. Dan menikmati sarapan pagi dengan perasaan bahagia.
Asyia merasa senang melihat kedua orang tuanya yang terlihat bahagia, sementara ia sendiri memakan nasi goreng tersebut.
Selesai makan mereka pun berbincang sesaat
"Oh Ya Do.Nanti setelah mengantar anak-anak.Kita lihat ruko yang akan di jadikan rumah makan kalian."
"Abang juga sudah pesan beberapa etalase, kursi dan meja dari plastik. Kalian berdua bisa mulai usaha dari awal, kalian atur saja menu apa yang akan kalian jual, biar abang bantu promosi, jika ada meeting atau acara apapun itu, Abang bisa catring di tempat kamu, lagi pula ruko tersebut berada tak jauh dari gedung perkantoran Hasta Raja Prawira group.In Shaa Allah usaha kalian bisa maju dengan cepat, karna prosfek kedepannya cukup Bagas. Rencananya tuan Barley juga akan mendirikan sebuah yayasan sekolah di sana. " Arief.
Aldo dan Delia tersenyum."Terima kasih Bang, abang sungguh berjasa dalam hidup aku. Mungkin aku tak bisa membalas kebaikan Abang dan Kakak.Biarlah Tuhan yang membalas semuanya, hiks," ucap Aldo haru.
"Sama-sama Do. Abang juga merasa tenang, karna sekarang melihat kamu dan Asyia bahagia. Kalian bisa mulai membanggun rumah tangga kalian. Abang ingin Asyia jadi dokter dan Abang yakin kamu bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita anak-anak kamu. " Arief.
Delia dan Aldo tersenyum.
"In shaa Allah Bang, aku akan berusaha lebih giat untuk mewujudkan cita-cita putra putri ku nanti. Aku juga sudah berjanji untuk membahagiakan istri ku. "
"Iya kan Sayang? " tanya Aldo kepada Delia sambil menggenggam tangan istrinya.
"Alhamdulilah.Abang turut bahagia Do. Orang tua kita disana pasti bangga melihat kamu yang berhasil kembali ke jalan yang benar, "tutur Arief.
"Iya Bang, mereka juga pasti bangga karna memiliki putra seperti Abang," tutur Aldo dengan senyumnya.
"Iya Yah aku juga bangga memiliki suami seperti kamu," ucap Dinar seraya menarik tangan suaminya dan menciumnya.
Arief tersenyum." Kamu juga ikut-ikutan Ya? sahut Arief seraya menarik tubuh Dinar kemudian mengecup keningnya.
Delia dan Aldo saling melempar senyum, Delia merasa bahagia karna berada di antara orang-orang yang hangat dan saling menyayangi. Dirinya juga ingin mendidik anak-anak mereka seperti Arief mendidik keluarganya.
Bersambung dulu ya guys. Ehm ada yang kangen sama Aa' beb ngak? Atau yang kangen sama keluarga Barley. episode selanjutnya mungkin ya. He he.
Ribuan Terima kasih atas saran dan support nya ya reader. Aku ngak akan semangat menulis seperti ini jika bukan karna dukungan saran dan komentar positive dari kalian. Semoga kesuksesan dan kebahagian menyertai kita semua Aamiin.
Sambil nunggu author up mampir di karya author yang juga bergendre komedi romantis.
Ada kisah haru, lucu dan menegangkan.dengan judul: Kenapa harus menikah dengan mu.
__ADS_1