
Setelah mengetahui eksekusi yang di lakukan Tomi gagal, Amora berniat melarikan diri.
Mobilnya melaju melesat menuju kediamannya.
Sesampainya di halaman rumahnya, Amora memakirkan kendaraanya secara sembarangan kemudian membuka pintu dengan kunci serep yang ia pegang.
Baru saja ia masuk beberapa langkah, suara teriakan Veronica kembali menahan langkahnya.
"Amora berhenti!"teriak Veronica sembari menghampirinya.
Amora tak mengindahkan Veronica, ia terus kembali berjalan cepat menuju kamarnya.
"Amora! apa yang kau lakukan hingga pulan dini hari seperti ini! ingat kau sedang hamil Amora!"pekik Veronica.
Veronica bejalan semakin cepat mengejar putrinya tersebut.
Tangannya menjangkau rambut Amora kemudian menariknya.
"Akh! Mami lepaskan?"Amora berusaha melepaskan cengraman Veronica.
"Aku bertanya pada mu Amora!" Veronica kembali menarik tangan Amora yang ingin menghindarinya.
"Mami, lepaskan!"Amora kembali berontak ia tak ingin memberitahu alasannya.
Amora kembali ke kamarnya, di ikuti oleh Veronica yang penasaran, ia pun membuntuti Amora.
Amora masuk ke kamarnya dan langsung menarik sebuah koper dari atas lemarinya, kemudian ia membawa beberapa pakaian dan beberapa barang yang di rasanya penting, dengan asal ia memasukan semua itu ke dalam koper.
Veronica memperhatikan tindakan Amora, ia pun masuk ke dalam kamar.
"Amora mau kemana kau?!"tanya Veronica.
"Mami aku sudah tidak punya waktu lagi, secepatnya aku harus meninggalkan kota ini," Amora pun menutup kopernya.
"Tapi kenapa Amora?!" Tiba-tiba saja kau ingin pergi, ada apa sebenarnya?"
tanya Veronica khawatir.
Amora membalikan tubuhnya menghadap Veronica.
"Karna aku telah menyuruh seseorang untuk menghabisi Aldo dan itu gagal."
"Aku harus pergi sebelum mereka melapor dan menemukan ku!"
"Apa?!" Veronica membelalakan matanya, karna syok beberapa saat ia pun terdiam.
Amora langsung menuju anak tangga menarik kopernya menuju lantai bawah.
Veronica tersadar dari lamunannya sejenak, ia pun buru-buru menghampiri Amora.
"Tunggu Amora! kau mau kemana?" tanya Veronica seraya berlari kecil mengejar Amora.
"Entalah Mami, kemana saja, yang penting aku harus pergi dari kota ini, sebentar lagi polisi pasti mencari ku!"
Amora kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu.
__ADS_1
"Amora tunggu! kenapa kau lakukan itu?" Veronica mengejar Amora, namun bukanya berhenti, Amora malah semakin mempercepat langkahnya menuju mobil.
Veronica mengejarnya kemudian menghampiri mobil Amora.
"Amora tunggu, kita selesaikan semua ini dengan tenang! kau jangan gegabah."
Veronica berusaha membujuk Amora, ia menghadang mobil Amora agar Amora tak pergi.
"Mami, lari dari sana! aku buru-buru Mami!"teriak Amora.
"Tidak Amora!, katakan sejujurnya pada Mami apa yang sebenarnya yang terjadi?!"
Dengan kesal Amora keluar dari mobil dan membanting pintunya.
"Mami, aku harus pergi, karna jika aku tak lari dari sini aku bisa di tangkap polisi dan di penjara dalam waktu yang lama, Aldo mengancam ku untuk membeberkan semua rahasia ku Mami!"seru Amora.
"Rahasia? memangnya apa yang kau lakukan?"tanya Veronica dengan bibir gemetar.
Amora menatap tajam kearah Veronica, "Karna aku telah melakukan pembunuhan berencana kepada Sania, kakak dari Santi, aku juga yang menyebabkan Barley mengalami kecelakaan! " papar Amora secara gamblang.
Bagai tersambar petir ribuan kali, seketika tubuh Veronica menjadi lemas dengan mulut menganga, ia tak percaya jika Amora bisa berbuat setega itu.
Melihat Veronica yang mematung karna syok, Amora menarik tubuh Veronica yang mematung agar sedikit menjauh dari mobil.
"Puas Mami? sekarang ijin kan aku pergi, aku tak ingin di penjara seumur hidupku!" serunya kemudian masuk kembali kedalam mobil dan membiarkan Veronica yang tetap mematung karna syok.
Veronica semakin dilema, apa kah ia harus membiarkan putrinya tersebut itu lari atau kembali menahannya untuk tak pergi.
Belum pun mendapat jawaban dari pilihannya, Veronica sudah mendengar suara auman mobil Amora yang melesat meninggalkan haraman rumah mereka.
Amora melaju menuju bandara, rencananya ia akan terbang dengan keberangkatan pagi ini.
pukul 06 pagi ia sampai di bandara international, Amora mencari informasi pesawat yang paling awal berangkat.
Ternyata pesawat yang paling awal berangkat saat itu pukul sembilan pagi.
"Sial, jika begini polisi keburu menangkap ku, apa yang harus ku lakukan?"
Amora mendorong kopernya, ia terpaksa memilih penerbangan tersebut karna tak punya pilihan lagi.
"Tapi bagaimana caranya aku menunggu agar tetap aman,"gumannya bermonolog.
"Aku harus menghindari keramaian, dan mencari tempat sembunnyi sebelum check-in."
Amora ke suatu sudut di tempat yang tersembunyi, dan menggungu di sana.
Beberapa lama ia habiskan dengan gelisah, keramaian sudah terlihat di mana-mana penumpang pesat sudah berbondong-bondong untuk chek-in, begitu pun dirinya, pukul delapan pagi dirinya harus chek-in.
Amora keluar dari tempat persembunyiaanya dengan menggunakan topi dan masker, membuat dirinya menjadi lebih percaya diri.
Namun baru beberapa langkah, tanganya tercekal oleh seseorang yang langsung membiusnya.
Karna tempat tersebut sepi tak ada yang menyadari penculikan Amora.
Amora di bawa oleh dua orang pria berpakaian serba hitam dari tempat tersebut, kemudian di bawa masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Mobil tersebut membawa Amora ke suatu tempat, setelah setengah jam Amora kembali sadar.
Matanya menerjab-nerjab melihat sekitar nya, dirinya di apit oleh dua orang pria berbadan kekar dengan wajah yang beringas.
"Siapa kalian?!"tanya Amora ketakutan.
Dirinya berusaha melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya.
"Lepaskan !"teriak Amora.
"Diam! jika kau terus berteriak, mulut mu akan segera ku bekab!"
"Apa mau kalian? aku tak punya urusan dengan kalian! lepaskan aku!"teriaknya.
Karna tak ingin mendengar suara Amora, salah seorang laki-laki tersebut membekap mulutnya.
"Kami tak punya urusan dengan Mu, tapi Bos kami punya urusan dengan mu dan urusan tersebut sangat penting."
Amora mencoba meronta melepaskan ikatan tangannya, namun terasa sia-sia yang ada tenaganya sudah habis.
Ia pun pasrah di bawa ke empat lelaki yang tak di kenalnya.
Setibanya di suatu tempat, Amora di turunkan dan dimasukan ke sebuah kamar di dalam rumah yang sepi yang berada di tempat yang sedikit tersembunyi.
Amora memberontak, ia mencoba untuk lari tapi tak bisa, karna kikinya juga di ikat.
Amora di angkat seperti gedebok pisang menuju kamar.
Sesampainya di kamar yang tertutup, mereka melepaskan ikatan tangan dan kaki Amora.
Dengan segera ia melepas bungkaman mulutnya.
"Lepaskan aku ! mau apa kalian?!" teriak Amora.
Tak banyak bicara, kedua laki-laki tersebut keluar dan mengunci kamar tersebut.
Melihat dirinya yang dikurung, Amora berteriak menggedor gedor pintu dan memainkan handel pintu.
"Buka pintu ini! buka pintu ini " tok tok tok teriak Amora seraya menggedor pintu.
Beberapa kali menggedor dan berteriak namun tak ada satu orang pun yang mendengarnya, kamar tersebut memang kedap suara, tak ada ventilasi atau pun jendela, hingga siapa pun yang terperangkap di tempat itu tak akan bisa keluar dari sana.
Setelah berjam-jam meronta Amora merasa usahanya tersebut sia-sia, malahan suara dan tubuhnya terasa lemas.
Amora sempoyongan menuju tempat tidur yang ada di kamar tersebut, ia merasa begitu lelah memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa kabur, ia pun bersandar pada headboard tempat tidur tersebut.
Setelah beberapa jam menunggu, tiba-tiba saja ia mendengar hadle pintu yang di tekan seseorang.
Amora mengamati siapa yang datang, namun bola matanya seketika membulat dengan sempurna karna melihat siapa yang datang menghampirinya
"Barley,"ucapnya lirih.
Bersambung, nih reader author punya pantun.
Kepulau Rote naik odong-odong.
__ADS_1
Bagi votenya dong.
Sambil nunggu author up, mampir di cerita author yg lainya yuk, di jamin bikin kamu baper, sedih, nangis.dan tertawa dengan judul: KENAPA HARUS MENIKAH DENGAN MU,cus author tunggu ya lope u all