Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Hasilnya


__ADS_3

Anggi dan Chandra menghampiri kamar hotel yang di tunjuk oleh Barley.


Mereka pun berjalan di koridor untuk menuju kamar tersebut.


"Chan, ada apa sih sebenarnya? kenapa kita di suruh untuk mengurusi wanita yang ada di dalam kamar ini?" tanya Anggi.


"Ah sudahlah loh jangan banyak tanya. Gue jelasin juga percuma, otak loh kan udah konselet." Chandra.


"Biar konselet juga gue masih waras Chand,"dengus Anggi.


"Ah gue yakin bentar lagi loh juga bakalan gila." cetus Chandra.


"Gila kenapa?"tanya Anggi.


"Gila karna ilmu magis itu Ngi. Mending loh benerin akhlak lo Ngi, buang jauh-jauh segala ke sirikan loh. percaya pada Tuhan. jodoh, maut dan rezeki, sudah ada yang ngatur," nasehat Chandra.


"Ih, loh diam saja ya! gue masih penasaran tau!" Anggi.


"Ya terserah loh saja lah. Yuk kita periksa, ada apa di kamar ini?" Chandra.


Chandra pun membuka pintu kamar tersebut.


Dengan Santai mereka masuk dan langsung kaget ketika melihat penampakan Cintya yang tergeletak setengah telanjang di atas lantai dengan posisi menantang.


"Astafirullah,"ucap Chandra sambil menutup matanya.


"Ngi! mending loh cepat tutupin tubuh perempuan itu dari pada gue khilaf!"perintah Chandra.


"Eh Iya!"


Anggi yang melihat pun ikut di buat kaget dengan penampakan Cintya seperti itu.


"Ya ampun, bikin apes aja liat yang beginian, "dengus Anggi.


"Nih perempuan di apain ya sama tuan muda? ck ck ck, giliran dengan gue ngak mau, padahal gue udah siap lahir batin jadi istri ke dua tuan muda."dengus Anggi seraya menyelimuti tubuh Cintya.


"Sudah Ngi?!"tanya Chandra.


"Sudah gue tutupin tubuhnya! sekarang kita apain nih anak orang Chan?"tanya Anggi.


"Angkat dan letakan di atas tempat tidur, trus kita pasang kamera tersembunyi," papar Candra.


"Es emangnya tuan mau ngapain sih Chan dengan perempuan ini?"tanya nya sambil membantu Chandra mengangkat tubuh Cintya dan menaikannya di atas ranjang.


"Mana gue tahu. Gue cuma jalanin perintah saja Kok."


Cintya terlelap tak sadarkan diri di atas tempat tidur.


Setelah itu mereka pun memasang kamera pengawas yang langsung terhubung dengan gadget Chandra seperti yang di perintahkan Barley.


Setelah keduanya selesai, mereka pun mengunci pintu serta menunggu instruksi selanjutnya.


***


Barley sampai di apartmentnya, waktu menunjukan pukul sembilan malam saat itu.


Untuk membujuk istrinya, ia pun menyempatkan diri untuk membeli buket bunga untuk sang istri.


Pintu apartment di buka langsung oleh Santi yang memang sudah menunggu kedatangan sang suami.


Santi kaget ketika membuka pintu, buket bungan indah ada di hadapanya dengan senyuman manis sang suami yang menyapanya mesra.


"Selamat malam Sayang," ucap Barley.


"Sayang, kau bawa buket ini untuk ku?"tanya Santi seraya meraih buket tersebut.


"Memangnya siapa lagi wanita yang istimewa bagi ku?" Barley.


"Ehm kau pasti telah melakukan kesalahan dan merasa bersalah, kemudian kau bermaksud membujuk ku dengan ini kan?" tanya Santi dengan tatapan curiganya.


Barley tersenyum," Sebuah kesalahan kecil. Biar aku jelaskan pada mu agar tak salah paham."Barley.


Santi mengkerucutkan bibirnya, merasa di bohongi oleh suaminya.

__ADS_1


Barley menuntun Santi menuju ruang tamu kemudian duduk di atas sofa.


Ia pun menceritakan apa-apa saja yang terjadi padanya dan Cintya.


Mendengar semua itu darah Santi mendidih seketika.


"Jadi kau menciumnya ?!"tanya Santi emosi.


"Maaf Sayang, aku harus melakukan itu, aku tak bermaksud mengkhianati mu!" ucap Barley.


Santi menatap tajam ke arah Barley seraya mengkerucutkan bibirnya.


"Maaf Sayang, aku janji ini yang terakhir," ucapnya seraya mencium punggung tangan Santi.


"Tapi kau telah menyentuh wanita lain dan aku merasa cemburu hiks, hiks hiks." Santi menangis keceawa.


Barley menjadi serba-salah.


"Sayang beribu-ribu maaf aku ucapkan, aku janji ini yang terakhir. Kau tahukan aku orang yang selalu menepati janji. Lagi pula aku sudah jujur dan tak membohongi mu, apa kau masih tak mau memaafkan ku Sayang," ucapnya dengan nada memelas dengan tatapan mata berembun menatap Santi.


Santi menatap wajah sang suami yang mengiba, ia pun tak tega. Lagi pula ia memang tak bisa marah dan jauh dari suaminya.


" Hiks hiks, Sayang kali ini aku memaafkan mu, tapi kau harus menepati janji mu dan tak mengulaginya lagi." Santi.


"Iya Sayang. Percayalah aku akan selalu setia pada mu sampai kapan pun," ucap Barley sambil memeluk istrinya.


"Hiks hiks, Sayang jangan lakukan lagi, bagaimana jika kau benar-brnar terjebak hiks hiks. aku tak ingin kehilangan mu," ucap Santi seraya menangis dalam pelukan Barley.


"Aku janji Sayang ini yang terakhir, aku juga takut kehilangan mu", ucapnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


Santi menangis dalam pelukan Barley, ia begitu takut jika suaminya terjebak dalam permainannya sendiri.


***


Matahari bersinar cerah pagi ini, hingga pancarannya masuk melalui celah-celah jendela, dan membuat mata Cintya merasakan silau.


Cintya merasakan pusing pada bagian kepalanya, ia pun mencoba membuka matanya yang terasa berat.


Cintya menerjab-nerjabkam matanya melihat ke arah samping, ternyata seorang pria yang tertutupi selimut berada di sampingnya.


Yes, akhirnya aku bisa menjerat tuan muda tersebut, mumpung dia tengah tidur sebaiknya aku ambil gambarnya," gumannya.


'Hm dengan demikian dia tak akan bisa mengelak lagi,'batin Cintya seraya tersenyum menyeringai.


Cintya turun dari atas ranjang dan membiarkan dirinya dengan keadaan setegah bugil tersebut.


Ia pun mencari tasnya untuk mendapatkan handphonenya.


Kamera yang di pasang Chandra masih mengawasi pergerakan Cintya dengan setia.


Cintya mendapati smartphonenya dan langsung menghampiri pria yang terbungkus selimut tersebut.


Dengan hati-hati Cintya naik ke atas tempat tidur, agar tak membangunkan pria tersebut.


Dengan perlahan pula ia membuka selimut tebal yang menutupi tubuh tuan muda itu.


Sreak ...selimut tersingkap serta merta mata Cintya melotot melihat siapa yang telah tidur dengannya.


"Akh!"teriak Cintya merasa kaget.


Pria tersebut pun terkaget dan langsung terbangun.


Cintya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos.


"Siapa kamu?!"tanya Cintya dengan suara tinggi.


Ia begitu emosi.


"Ehm, Nona anda yang memaksa saya untuk melayani anda semalam, "ucap Munir dengan santai.


Cintya kaget bukan kepalang.


"Apa?! bagaimana bisa?!"tanya Cintya gugup, bola matanya pun berpendar.

__ADS_1


"Iya Nona, saya hanya petugas hotel yang tak sengaja lewat, entah sadar atau tidak anda keluar dan memaksa saya untuk melayani anda sampai puas, sampai beronde-ronde," tutur Munir mengikuti skenarionya.


Panik, syok, dan tak percaya Cintya pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak kau bohong! semalam aku bersama teman kencan ku, mana mungkin aku melakukanya bersama mu?!" Hik hiks Hiks Cintya semakin emosi, ia pun menangis.


"Tenang Nona, saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Nona." Munir.


"Cuih! aku tak sudi! pria tua jelek seperti mu mau bertanggung jawab?! sekarang kau keluar! keluar! keluar dari sini!"teriak Cintya ia pun menangis.


Dengan santai Munir memakai kemeja dan celana panjangnya kembali, kemudian ia keluar dengan samtai dari kamar tersebut meninggalkan Cintya yang menangis tergugu.


Cintya menjambak rambutnya merasakan frustasi, ia merasa jijik karna yang menyentuhnya itu seorang pelayan hotel yang tua.


Hiks hiks hik, rencana ku gagal apa yang harus aku katakan pada Papi."


"Bagaimana? bagaimana pula jika aku sampai hamil dari pria tersebut, hiks hiks hiks."


"Akh!" Cintya berteriak serta menjambak-jambak rambutnya.


Ia pun berdiri dan menghempas semua barang-barang yang ada di kamar tersebut.


Akh !! Cintya berlutut frustasi menyesali kebodohannya.


Sementara Chandra yang melihat kejadian tersebut dari gadget nya tertawa terpingkal pingkal, ia segera mengirim video tersebut kepada Barley.


***


Malam sebelumnya, Barley meminta Munir menemuinya, di Apartment.


Barley berkata jujur pada istrinya, karna ia tak mau terjadi kesalah pahaman antara mereka.


"Ada apa tuan muda?"tanya Munir ketika berhadapan dengan Santi dan Barley.


" Munir seseorang berusaha mencoba untuk menjebak ku dia adalah putri dari tuan Alex Subarja. Aku ingin kau melalukan sesuatu. "


"Apa itu Tuan?"tanya Munir.


"Pada pagi hari, kau pergi ke kamar hotel,kemudian kau berbaring di samping Cintya sampai ia sadar, ketika ia bangun kau harus bersandiwara dan mengatakan kau bahwa telah tidur bersamanya." Barley.


"Hah?" Munir mendelik, Kaget dengan penuturan Barley.


"Tapi Tuan bagaimana jika sampai ketahuan istri saya?"tanya Munir.


"Tenang saja Munir, ini hanya pura-pura, lagi pula kau tak melakukan sesuatu pun terhadapnya."


"Chandra dan Anggi juga akan menunggu mu di sana." Barley.


Santi yang mendengar semua rencana Barley menyatakan ketidak setujuannya.


" Sayang kenapa kau harus melakukan semua ini terhadapnya perempuan itu ?" tanya Santi.


Barley menatap Santi mengajaknya bicara.


"Mereka itu orang-orang licik. bagaimana jika mereka dendam terhadapmu dan menyakiti mu?"tutur Santi dengan khawatir.


"Sayang hidup ini penuh resiko, lagi pula aku punya dendam terhadap tuan Alex, aku masih ingat saat itu ketika Daddy mengalami masalah di perusahaannya dan meminta tuan Alex untuk membantunya, bukannya malah membantu Daddy, Alex malah membuat Daddy malu."


"Kau bayangkan saja , ia meminta Daddy ku menyerahkan perusahaan nya kepada dirinya, dan Daddy harus tunduk di bawah kekuasaannya saat itu. Dia mempermalukan Daddy dan merendahkan Daddy di depan umum, saat itu aku melihat wajah sedih pada Daddy ku. namun, aku tak bisa berbuat apa-apa karna saat itu usia ku masih sangat belia."


"Melihat Daddy yang di permalukan, sejak itu aku bertekad akan membuat perusahaan Daddy berjaya kembali suatu saat nanti. Dan menurutku apa yang kulakukan sudah sepadan dengan apa yang telah ia lakukan."


"Kini aku yang akan bikin Alex jatuh dan merendah di hadapan Daddy ku!" ucap Barley dengan tatapan mata tajam penuh dendam.


Santi merebahkan tubuhnya pada bidang suaminya.


"Sayang, aku takut sekali mendengar penuturan mu, apa tak bisa kita hidup normal-normal, tanpa berbalas dendam?"tanya Santi seraya menggigit ujung kukunya.


Barley mengelus kepala sang istri dengan lembut.


"Seperti itulah hidup yang kujalani saat ini Sayang. Tapi aku berjanji pada mu. Aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa rumah tangga kita, kau dan calon putra kita akan Aman." Barley.


Bersambung dulu ya reader, maaf jika ada sedikit typo. terima kasih atas dukunganya, maaf jika author hanya bisa up sedikit berhubunga kesehatan saya yang belum pulih. in shaa Allah senin saya crazy up mohon doa dan dukungannya.

__ADS_1


Semoga kita semua selalu sehat dan sukses Aamiin.


__ADS_2