
Barley kembali ke kamar Andini. Dengan membawa seorang perawat baginya.
Ia pun membuka pintu kamar dan kaget melihat Andini yang terpuruk di satu sisi tempat dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Mommy! Apa yang terjadi?" tanya Barley yang langsung menghampiri dan mengangkat tubuh Andini.
"Barley, hiks hiks.Mommy tak mau di rawat oleh orang lain. Mommy hanya mau kau yang merawat mommy, hiks hiks."
Andini memeluk Barley.
"Mommy bukanya aku ngak mau merawat mommy, tapi aku sendiri sibuk.Lagi pula aku ini anak laki-laki. Aku juga punya tanggung jawab kepada keluarga ku. Aku juga tak bisa melakukan hal-hal yang lainya seperti memandikan mommy. Karna itu aku pilihkan perawat terbaik untuk mommy."
Barley keluar dari kamar tersebut ,beberapa saat kemudian kembali dengan membawa peratan P3K.
Andini menangis mendengar ucapan dari Barley.
"Mommy, mulai saat ini. mommy di rawat oleh Erni. Tak perlu khawatir aku akan selalu memantau Mommy, "ucap Barley seraya membersihkan luka yang ada pada bagian tubuh Andini.
Andini mengkerucut bibirnya.
"Sekarang aku harus kembali ke kantor. Katakan saja pada Erna jika mommy butuh sesuatu. "Ia pu keluar dari ruangan tersebut.
"Erna aku titipkan mommy ku, jaga dia dengan baik. Makan minum dan obatnya. "
"Baik Tuan. "
Erna menatap kepergian Barley kemudian ia berjalan menutup pintu dan menguncinya, kemudian ia mengahampiri Andini. "Nyonya waktunya makan siang setelah itu anda harus minum obat. aku ambil makanan untuk Nyonya. "
Andini membuang mukanya.
Beberapa saat kemudian Erna kembali dan mengunci pintu kamar tersebut, dengan membawa nampan berisi makanan.
Ia pun mendekat ke arah Andini.
"Makan dulu Nyonya."
Erni menyendok makanan kemudian menyuapi Andini.
Andini menutup mulutnya, tapi Erna terus menyodorkan makanan tersebut.
Andini tetap kekeh." Aku ingin putra ku yang menyuapi ku! " bentak Andini.
__ADS_1
Erna menjadi berang, ia tahu bagaima menghadapi nyonya besar yang keras kepala. Erni tak mau kalah, ia tak akan membiarkan Andini menyusahkannya.
"Ayo makan Nyonya! " teriak Erni lebih nyaring.
Andini membelalakan matanya.
"Kau! berani melawan ku? !" tanya Andini dengan nada tak kalah tinggi.
"Ehm, memangnya kau siapa?! Apa kau mau mengadu pada tuan Barley?! Aku bisa membolak balikan kenyataan nyonya!Jadi menurut saja pada ku. Wanita tua seperti mu ini hanya bisa menyusahkan saja!" cecar Erni sambil menyendok nasi ke mulut Andini.
Andini bersikeras menutup mulutnya.
Tapi Erni mencengkaram rahang Andini dengan kuat hinga Andini membuka paksa mulutnya. Dan memasukan nasi tersebut dengan paksa.
"Makanlah Nyonya. Sebaiknya kau tak banyak drama dengan ku, "ucap Erni masih menyodorkan nasi tersebut dengan Paksa.
Andini pun terpaksa menelan apa yang di suapkan oleh Erni.
Andini menitikan air matanya, ia merasa sedih. Bahkan seorang perawat saja berani mengancamnya.
Sore harinya Andini di bawa keluar dari kamarnya oleh Erni atas permintaan Barley agar Andini tak merasa bosan. Saat itu Andhra dan Alesha sedang bermain-main bersama di ruang tengah.
Mereka begitu ceria, tertawa dan bercanda bersama. Namun, ketika melihat kedatangan Andini, seketika keduanya terdiam, Alesha mendekat dan bersembunyi di belakang Andhra.
"Dia itu mommy-nya daddy, jadi kita panggil dia Oma."
"Oma? tapi kita sudah punya tiga Oma, bisik Alesha. "
Entalah.
Andini semakin mendekat, Alesha semakin takut. Ia pun memeluk Andhra.
"Kak esha takut, kenapa wajahnya seperti nenek sihir di film yang pernah esha tonton. Pasti dia jahat kan? " tanya Alesha.
Putri cantik itu menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Andhra, ingin sekali ia berteriak melihat nenek-nenek yang rambutnya memutih dengan luka memar pada beberapa bagian wajah tersebut.
Andini tersenyum melihat cucu kesangannya.
"Andhra sapa Andini," ia pun meminta Erna untuk berhenti.
Andhra terdiam dan mematung, ia sebernarnya juga tak menyukai Andini. Tapi mommy-nya memintanya untuk menghormati Oma-nya tersebut.
__ADS_1
"Iya Oma."
Andini semakin mendekat ke arah Andhra, melihat Andhra ia seperti melihat sosok Barley ketika Barley masih kecil.
"Andhra sini peluk Oma. " Andini menitikan air matanya.
Andhra mendekat, sementara Alesha semakin bersembunyi di balik tubuh sang Kakak.
"Kak jangan dekat-dekat dia itu jahat," bisik Alesha memeluk dan menahan tubuh Andhra.
Andra melangkah semakin dekat.
Alesha pun melepas pelukanya terhadap Andhra.
Andhra berada di depan Andini.
Andini meraba wajah tampan cucunya, ia pun menangis." Andhra peluk Oma sayang. " pinta Andini.
Meski takut Andhra pun memeluk Andini.
Seketika Andini menangis dalam pelukan tangan kecil Andhra.
Beberapa saat kemudian mereka mengurai pelukannya.
Melihat sosok Andhra,Andini teringat jika dirinya dulu kehilangan banyak waktu dalam mengurus Barley karna terlalu sibuk bekerja.
Andini membelai dan mencium-cium wajah Andhra.
Setelah puas mengungkapkan rasa sayangnya.
Ia pun melihat pada sosok cantik gadis kecil yang terlihat ketakutan.
Alesha sini sayang, peluk Oma Nak.
Alesha semakin ketakutan.
"Ngak mau! " seru sambil berlari menuju anak tangga.
"Mommy! Alesha takut ada nenek sihir! "
Andini menangis melihat Alesha yang ketakutan dan menganggapnya nenek sihir.
__ADS_1
Bersambung dulu guys. Insya Allah author up lagi. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Assalamualikum.