Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Karma


__ADS_3

Asisten rumah tangga yang melihat Andini tumbang, segera menghampirinya.


"Tolong! " teriaknya. Namun ia tak berani menyentuh Andini.


Semua yang mendengar teriakan tersebut menghampiri Andini.


"Nyonya besar kenapa? " tanya mereka panik.


"Aku ngak tahu, sepertinya ia terkena serangan jantung."


"Sudah, cepat panggil Nyonya Santi! "


Salah satu dari mereka pun berlari menuju kamar Santi.


Tok tok tok.


"Nyonya Santi! Nyonya Santi!" teriak salah satu asisten rumah tangga.


Santi membuka pintu," Shut putri saya tidur. Ada apa?"tanya Santi sambil menutup pintu.


"Anu-Nya. Nyonya besar tergeletak tak sadarkan Diri, "ucap nya dengan panik.


"Hah? tapi kenapa?" tanya Santi yang juga ikut panik.


Andhra keluar dari kamar karna mendengar suara ribut-ribut.


"Ada apa Mommy?"


"Andhra dan kak Ema jaga adik Ya, Mommy mau bawa Oma ke rumah sakit dulu."


Santi langsung turun menggunakan liftnya. Sementara para asisten dan pak Satpam sedang menunggu perintah, mereka enggan menyentuh tubuh Andini.


"Siapkan mobil Pak, bawa mertua saya kerumah sakit! " perintah Santi.


Mereka pun membopong tubuh Andini menuju mobil sementara Santi menunggu di mobil untuk memangku Andini.


Mereka semua panik karna kejadian tersebut terjadi secara tiba-tiba.


Di dalam mobil Santi segera menghubungi suaminya.


Andini pun di angkat ke dalam mobil dengan segera, mereka membawanya menuju rumah sakit.


***


Barley baru saja kembali ke kantornya setelah mengantar Andini pulang ke rumah, ketika hendak masuk ke ruangan ia mendapat telpon dari Santi yang mengabarkan Andini terkena serangan jantung.


Tak menunggu lagi, Barley langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.


Sementara Santi berada di dalam mobil yang mengantar Andini.


"Pak percepat sedikit Pak, "ucap Santi yang melihat wajah Andini memucat.


"Iya Nya! "


Sang sopir menambah kecepatan mereka karna khawatir Andini tak tertolong.


Andini mulai meracau, matanya terbuka sedikit kemudian terpejam kembali.

__ADS_1


"Mommy! mommy! sadar Mommy." Santi menepuk-nepuk pelan pipi Andini, agar membuatnya tetap tersadar.


Namun usaha Santi sia-sia, Andini semakin tak sadarkan diri.


Untung saja rumah sakit tak begitu jauh, hanya sepuluh menit mwreka oun tiba di rumah sakit internasional.


Andini langasung mendapat penanganan medis.


Barley yang baru saja tiba di rumah sakit langsung menghampiri istrinya.


Saat itu ia melihat Santi yang terlihat gelisah.


"Sayang bagaimana dengan keadaaan mommy? " tanya Barley.


"Sedang mendapat penanganan Sayang. " Santi.


Keduanya pun duduk di kursi tunggu.


Santi menggenggam erat tangan Barley yang terlihat gelisah dan khawatir.


"Baru saja Mommy keluar dari penjara, sekarang kita malah mendapat musibah," keluh Barley.


"Sabar ya Sayang, semoga mommy bisa melewati masa kritisnya," ucap Santi seraya mencium telapak tangan suaminya.


"Semoga saja!"


Barley membalas genggaman tangan Santi, ia merasa beruntung memiliki istri yang tak memiliki dendam terhadap ibunya. Meski Andini selalu berlaku kasar dan merendahkannya.


Mereka pun saling menguatkan.


Beberapa saat pemeriksaan suster langsung membawa Andini ke ruang ICU.


"Apa yang terjadi pada ibu saya suster? "tanya Barley yang terlihat khawatir.


"Pasien menderita tekanan darah tinggi hingga mengalami serangan jantung."


"Untung saja, cepat di bawa ke rumah sakit, hingga sedikit bisa mengurangi resiko yang fatal. "


"Untuk sementara pasien di bawa ke ruang ICU agar bisa di rawat secara intensif."


Suster pun membawa Andini dalam keadaan tidak sadar menuju ruang ICU.


Barley melangkah dengan lemah, di ikuti Santi yang menggandeng tangan-nya.


"Semoga saja tak terjadi sesuatu pada mommy, "guman-nya.


"Semoga saja Sayang. "


"Sayang kau tak telpon Daddy mu, untuk mengabari keadaan mommy?"


"Biar saja Sayang. Aku tak ingin Daddy ikut-ikutan sakit karna mendengar berita ini. "


***


Dua hari pasca kejadian, Andini pun mulai membuka matanya karna baru saja sadar dari koma.


"Alhamdulilah Mommy sudah sadar? " Barley.

__ADS_1


Andini menerjab-nerjabkan mata, melihat kearah sekeliling.


"Ehm Barley, mommy di mana? " tanya Andini lirih.


"Di rumah sakit mommy, "ucap Barley seraya mendekat ke arah Andini.


Andini coba menggerak-gerakan kakinya tapi tak bisa bergerak.


"Barley! kenapa? kenapa? kaki mommy tak bisa di gerakan? " tanya Andini ia pun gelisah dan panik.


" Hah yang benar saja mommy! sebentar aku panggil suster. "


Barley keluar, sementara Andini terus mencoba mengerak-gerakan kakinya yang terasa kaku.


Berkali-kali mencoba tapi tetap saja kakinya terasa kaku dan sulit untuk di gerakan.


"Tidak! Hiks hiks hiks, kenapa-kenapa kaki ku tak bisa di gerakan." Teriak Andini ia pun menangis seraya mencoba kembali menggerak-gerakan kakinya.


"Tidak! aku tak mau lumpuh! hiks hiks hiks." Andini pun menangis sejadi-jadinya.


Ia menjambak rambutnya menghempas kan tubuhnya kembali.


"Akh! tidak aku tak mau lumpuh! " teriaknya sambil menyentak infusnya.


Andini semakin meronta-ronta, ia berusaha menggerakan kakinya sekuat tenaga.Namun apa daya, karna gerakanya terlalu berlebihan ia pun akhirnya jatuh terhempas di lantai


"Akh!" tangis Andini ketika merasakan sakit pada bokongnya.


Barley datang bersamaan dengan suster, mereka kaget ketika melihat Andini yang terpuruk di atas lantai seraya menangis


"Mommy! "Teriak Barley menghampiri Andini, ia pun mengangkat tubuh Andini dan meletakannya di atas tempat tidur.


Andini mulai kehilangan kesadarannya ia pun kembali pingsan.


Dokter kembali memeriksa keadaan Andini. Ia pun mengetuk lutut Andini dengan sebuah alat untuk mengetahui reaksinya terhadap ransangan.


Begitu pun tekanan darahnya.


"Bagaimana keadaannya Dok? "tanya Barley.


"Ehm, sepertinya pasien mengalami kelumpuhan permanen, mungki itu efek dari hipertensi yang pasien derita."


"Tekanan darahnya kembali naik!" sambung suster tersebut setelah selesai melakukan pemeriksaan.


"Apa? Maksud dokter, mommy saya akan lumpuh seumur hidupnya?! "


" Harusnya pasien tetep tenang, ini adalah serangan jantung kedua pasien semoga saja tak ada kerusakan lagi pada pembuluh darah hingga tak ada kerusakan syaraf secara permanen, "ucap dokter tersebut.


Barley menatap sedih ke arah Andini yang tak lagi sadarkan diri. Bulir bening menetes di pipinya.


"Mommy aku tak tahu ini karma atau teguran dari Tuhan. Semoga kau sadar akan kesalahan mu, sudah berapa orang yang kau celakai hanya untuk memenuhi ambisi mu, Harusnya aku biarkan saja penjara lima belas tahun menjerat mu, mungkin sepuluh tahun penjara tidak sebanding dengan perbuatan mu. Kau telah mengkhianati orang-orang yang mencintai mu dengan tulus. Semoga dengan ini kau bisa sadar dan jadi lebih baik lagi, hiks." Barley mencium kening Andini, sejujurnya ia merasa iba melihat Andini terbaring tak berdaya.


***


Setelah beberapa hari di rawat kini. Andini di perbolehkan untuk pulang.


Barley membawa Andini menuju kediaman mereka. Andini yang biasanya selalu menengadahkan kepalanya karna sombong kini wajahnya hanya bisa tertunduk lesu.

__ADS_1


Ia harus menerima kenyatan jika seumur hidupnya harus ia habiskan di atas kursi roda.


Bersambung dulu ya reader. mohon untuk selalu dukung author dengan like, saran komentar dan hadiahnya.


__ADS_2