Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Persalinan


__ADS_3

Waktu terus berlalu,


Kandungan Asyia kini memasuki 36 minggu masa kehamilannya.


Asyia pun sudah beristirahat dari semua kegiatannya sebagai dokter.


Keluarga Barley juga tengah sibuk mempersiapkan rencana akad nikah dan resepsi Alesha dan Raffa yang akan berlangsung tak kurang dari dua minggu lagi


Sebagai istri yang baik, Asyia memanfaatkan waktunya untuk melayani sang suami. Apalagi ia sangat jarang berada di rumah selama dua puluh empat jam dalam sehari seperti saat ini.


Asyia menyimpan kebutuhan Andhra sebelum sang suami berangkat bekerja.


Setelah menyiapkan pakaian Andhra ia pun menuju dapur untuk membuat sendiri minuman hangat untuk dirinya dan sang suami.


Baru saja Asyia mengaduk susu hamil untuknya, tiba-tiba ia merasa perutnya terasa sedikit mulas.Namun, dalam beberapa saat kemudian sakitnya pun tak terasa kembali.


Asyia pun meneguk susu tersebut, kemudian kembali menyiapkan roti bakar untuk Andhra.


"Akh! " ringgis Asyia, tiba-tiba ia merasakan sakit kembali, "Kenapa perut ku sakit seperti ini ya. Rasanya ingin BAB. "


Asyia hendak menuju toilet yang ada di lantai bawah tapi urung karena


beberapa saat kemudian sakit itu kembali hilang. Asyia duduk sebentar untuk menghilangkan rasa kram akibat berdiri terlalu lama.


'Aduh apa ini sudah waktunya untuk ku melahirkan ya. ' batinnya. Ia pun mengusap perutnya sembari membayangkan persalinannya yang akan terjadi sebentar lagi.


Seorang Asisten yang sedang menghampiri dapur melihat Asyia yang tengah melamun.


"Nyonya kenapa melamun? " tanya Asisten tersebut yang langsung membuyarkan lamunan Asyia.


"Ngak Bik. Saya mau kembali ke kamar saja. " Asyia.


Asyia hendak berdiri tapi tiba-tiba saja ia merasakan kembali sakit.


"Akh! " ringgisnya.


"Nyonya anda kenapa? " tanya sang Asisten dengan nada cemas.


"Bantu saya berdiri Bik, perut saya mengalami kontraksi. "


"Baik nyonya ayo kita ke ruang tengah saja,"


Asyia berjalan di pimpin oleh Asisten rumah tangganya, karena merasa perutnya yang semakin berat, apalagi pada bagian perut bawahnya.


Santi dan Barley saat itu baru saja selesai berolahraga pagi. Mereka sedikit cemas ketika melihat wajah Asyia yang memucat.


"Asyia kamu kenapa Nak. " Santi membantu Asyia untuk bersandar.


"Asyia mengalami kontraksi Mommy. "


"Ya sudah kita kerumah sakit ya. Andhra dimana?"


"Sedang mandi mommy. "


"Kalau gitu kamu atur napas dulu ya." Santi


"Daddy tolong suruh sopir menyiapkan mobil. Kita bawa Asyia sekarang. "


Barley langsung bergerak meminta sang sopir menyiapkan mobil.

__ADS_1


Kebetulan saat itu Andhra baru saja turun menyusul Asyia, biasanya Asyia yang membantunya mengenakan pakaiannya ketika hendak ke kantor.Tapi ketika istrinya tak ada di kamar ia pun turun untuk mencarinya.


Andhra kaget ketika melihat wajah Asyia yang memucat serta terlihat meringis.


"Sayang kamu kenapa? " tanya Andhra . Ia pun duduk menghampiri Istrinya.


"Asyia mengalami kontraksi Nak. Sebaiknya kamu persiapkan baju ganti dan baju bayi untuk persiapan persinan. " Santi.


Deg...


"Hah melahirkan! " Andhra terdiam beberapa saat melihat Asyia yang masih meringis. Ia sendiri bingung harus bahagia atau sedih melihat Asyia yang terlihat kesakitan.


"Andhra ayo cepat buruan! " titah Santi.


"I-iya Mommy. "


Andhra mengusap perut Asyia terlebih dahulu sembari berdoa demi kelancaran persalinan sang istri.Barulah setelah itu ia menuju kamar untuk mempersiapkan persalinan sang istri


***


Mobil Barley meluncur menuju rumah sakit, saat di perjalanan Asyia bersandar pada dada Andhra. Ia sudah mulai merasakan sakit yang luar biasa.


Akh! ringis Asyia sambil menggigit bibir bagian bawah nya, tangannya pun meremas telapak tangan Andhra.


Air mata dan keringat menetes secara bersamaan.


Asyia menggenggam tangan suaminya erat setiap kali ia menahan rasa sakit.


Sementara Andhra tak banyak bicara, karena ia sendiri merasa khawatir.


"Sabar ya Sayang," bisik Andhra seraya mencium pipi Asyia lekat.Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Andhra.


"Asyia kamu atur napas saja ya. Memang seperti itu Nak rasanya saa melahirkan." Santi memberi instruksi. Meski Asyia seorang dokter.Namun ia tak berpengalaman sama sekali dalam hal persalinan.


Keadaan terasa begitu menegangkan, suasana hening, hanya terdengar sesekali suara lirih Asyia yang meringis kesakitan.


Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit.


Barley memarkirkan mobilnya tepat di depan loby UGD.


Seorang petugas langsung membawa brankar mendekat ke arah mobil Barley.


Asyia pun di bantu untuk berbaring di atas brankar.


Asyia semakin meringis, rasanya perutnya seperti diremas-remas , air mata dan bercampur keringat terus membasahi wajah Asyia saat itu.


Meski begitu, Asyia tak berteriak-teriak.


Andhra merasa iba pada sang istri yang terlihat menderita. Tapi ia hanya bisa berdoa, karena memang proses melahirkan seorang anak itu seperti berjuang antara hidup dan mati.


Setelah berbaring Asyia dibawa ke ruang persalinan untuk di periksa.


Sepanjang perjalanan Andhra selalu menggenggam tangan istrinya. Sesekali ia mengusap kepala sang istri.


Mereka pun tiba di ruang persalinan.


Sakit yang Asyia rasakan semakin jadi dan semakin sering.


Dokter datang menghampiri dan melakukan VT.

__ADS_1


"Masih pembukaan 4 Bu, mungkin sekitar 2- 4 jam lagi. "


"Hah?! selama itu?! " guman Andhra.


Asyia mengatur napasnya, rasanya ia tak akan sanggup menahan rasa sakit itu selama berjam-jam lagi.


Untung saja sang suami yang selalu setia mendampinginya.


Andhra mengusap kening Asyia sesekali ketika Asyia merasakan sakit.


"Sabar ya sayang, insha Allah ada pahala yang berlipat ganda menanti kamu, setiap rasa sakit yang kau rasakan ada akan jadi pahala di sisimu, "ucap Andhra seraya mengusap rambut-rambut basah di kening Asyia.


Kata-kata Andhra semakin membuat Asyia semangat, apalagi Andhra yang tak pernah beranjak sedikitpun dari sisinya. Justru Andhra menghibur Asyia dengan menceritakan kembali kisah cinta mereka. Meski merasa sakit.Namun, kebersamaan Andhra bersama sang istri membuat waktu tak terasa berlalu.


Kadang kala Asyia tersenyum di antara rintihan rasa sakitnya karena mendengar cerita Andhra. Andhra pun terus bercerita hingga berjam-jam.


Waktu berlalu dengan cepat.


Kini Asyia merasakan semakin sakit. Perutnya terasa seperti di remas-remas.


"Akh! " Asyia kembali menggemenahan erat tangan Asyia, tubuh Asyia sampai gemetar menahan sakit.


Dokter datang menghampiri, ketika ia hendak melakukan VT air ketuban pun pecah.


"Alhamdulillah. Persalinan akan segera di mulai ya Bu. Ikuti instruksi saya ya bu," ucap dokter tersebut.


Hm.


Asyia memposisikan dirinya sebagai mana yang di instruksi kan Oleh dokter.


Tangannya menggenggam erat tangan Andhra.


"Atur napasnya, Ambil napas panjang dan keluarkan bersamaan dengan menolong ya Bu! "


Asyia pun menarik napas panjang dan mendorong dengan kuat sampai wajahnya memerah.


Hua hua hua.


"Ayo bu sekali lagi, kali ini dorong lebih kuat!"


Asyia menarik napas lagi dan mendorong lebih kuat lagi.


"Sekali lagi! " dokter.


Kali ia menarik napas panjang dan mendorong lebih kuat, sampai wajahnya memerah dan keringat keluar sebesar biji jagung.


Hek!!!


"Sedikit lagi sayang! " Andhra.


Hua Hua


Hek!!!!


Oek Oek..


***


Santi dan Delia berpelukan, akhirnya pewaris mereka telah lahir kedunia.

__ADS_1


He he maaf author gantungkan lagi. btw nanti author up lagi ya biar penasaran ngak Lama-lama hehe.


Assalamu'alaikum wr. wb.


__ADS_2