
Setelah mendapatkan telpon dari Naya yang mengabarkan keadaan Naya,Cintya langsung terbang dari bandara internasional yang berada di kota Amsterdam menuju tanah air.
Sudah hampir sehari Naya di rawat, keadaan fisiknya perlahan membaik. Namun tidak phosikologinya.
Dalam tidurnya Naya sering mengingau dan menangis menyebut-nyebut nama Raffa.
Karena tak tega melihat saudaranya, malam itu juga Nayla menelpon Raffa.
Raffa tengah menikmati makan malam bersama keluarganya, kebetulan suasana keluarganya tengah hangat, sambil makan mereka ngobrol dan bercerita.
Yang banyak mendominasi obrolan mereka adalah Nabila, yang sedang mendiskusikan rencana kuliahnya.
Pada kesempatan ini jugalah Raffa bermaksud meminta pendapat tentang hubungannya bersama Alesha.
"Ayah Raffa juga ada yang ingin di diskusikan bersama ayah dan bunda. "
"Bicara saja Raffa, ayah dan bunda siap untuk mendengar. "
Raffa tersenyum.
"Sebenarnya Raffa dan Alesha sudah jadian," ucap Raffa lirih.
Arief dan Dinar hanya tersenyum, begitupun Nabila.
"Bunda sudah tahu kok, " sahut Dinar.
"Ayah juga," Cetus Arief seraya melirik ke arah Nabila.
Raffa melotot kan matanya ke arah Nabila,
"Ih dasar rese', udah di bilang jangan di beri tahu sama siapa-siapa dulu kan ngak suprise lagi," dengus Raffa ke Nabila.
"Ehm, Habisnya kak Raffa ngak kasi uang tutup mulut. Pelit gaji udah gede, Nabila minta smartphone keluaran terbaru ngak dikasih. Uh,"
"Ih bukannya kak Raffa pelit, kak Raffa kan mau nabung untuk modal kawin, kamu pikir untuk melamar tuan putri seperti Alesha cukup apa dengan satu gram emas,"dengus Raffa.
"Lagian baru saja di beliin smartphone baru sama ayah beberapa bulan yang lalu. " imbuhnya.
"Kak Raffa benar Nabila, Kakak kamu sudah cukup umur untuk menikah, jadi jangan ganggu dia dulu. Harusnya bantu Kakak dong untuk ngumpul uang. " Dinar.
Nabila mengerucutkan bibirnya.
"Kamu berani Raffa meminta Alesha untuk jadi istri kamu pada tuan dan nyonya Barley. Apalagi Alesha belum tamat sekolah?" Arief.
"He he, sebenarnya sih segan Yah, tapi namanya juga sudah cinta, bagaimana pun harus di perjuangankan," tutur Raffa dengan yakin.
Dinar dan Nabila tersenyum meledek Raffa.
"Iya Raffa, tapi jika tuan dan nyonya menolak, kamu ngak usah marah ataupun dendam Yah, demi hubungan baik keluarga kita, apalagi mbak mu sudah jadi menantu mereka. " Arief.
"Ngaklah Yah, tapi Raffa akan terus berjuang untuk meyakinkan keluarga Alesha jika Raffa memang serius dan pantas untuk putri mereka. "
Arief tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.
"Kapan rencana mau melamar Alesha? " tanya Arief.
"Setelah Alesha lulus Yah. "
"Lalu kamu sudah menyelesaikan masalah kamu dan Naya? " Arief.
__ADS_1
Raffa tertunduk.
"Sudah Yah. Tapi Lagi-lagi Naya berbuatlah nekat, tadi siang ia menyayat pergelangan tangannya lagi, hingga di bawa kerumah sakit. "
"Wuih ngak benar tuh si Naya. Bunda ngak setuju jika Naya sama kamu Raffa! Bisa-bisa kamu ikutan stress menghadapi wanita seperti dia. "
"Bunda mau ketemu sama Maminya si Naya itu, memintanya agar Naya berhenti mengganggu hidup kamu lagi! Biar dia sendirilah mengobati anaknya seperti itu. Bunda ngak mau masa depan kamu hancur gara-gara si Naya itu. " Dinar begitu geram mendengar kelakuan Naya. Kejadian ini sudah beberapa kali terulang, tapi orang tuanya Naya sendiri tak ambil pusing dan meminta pada Raffa untuk tetap menemani Naya.
"Bunda benar Raffa, kamu harus tegas, biar ayah yang akan bicara pada orang tua Naya. " Raffa.
Baru selesai bicara tentang Naya, Raffa sudah mendapatkan telpon dari Naya.
"Hallo, "Raffa sedikit menjauh dari keluarganya.
"Raffa tolongin aku Raffa, Naya mengingau ngingau menyebut nama kamu terus Raffa, aku ngak tega melihat penderitaan Naya Raffa. Tolonglah Raffa, setidaknya tunggu sampai Mami aku sampai di sini. Aku kasihan melihat Naya, hiks hiks hiks. "
"Tapi Nay! "
"Tolonglah Raffa, sampai Mami tiba saja, kasihan Naya Raffa. " pinta Nayla memelas
Raffa membatu, ia binggung untuk bersikap.
Sementara Nayla terus menangis meminta Raffa untuk datang. Memang saat itu terdengar suara Naya yang memanggil-manggil namanya.
"Raffa," Arief menepuk pundak Raffa, lamunannya pun buyar.
"Ada apa Raffa? " tanya Arief.
"Nayla meminta Raffa untuk menemaninya menjaga Naya Yah, keadaan Naya semakin parah. Raffa binggung Yah. Raffa takut terjadi sesuatu pada Naya karena Raffa. "
"Ayo, Ayah temani kamu, "ucap Arief seraya menepuk pundak Raffa.
Setelah memberitahu istrinya, Arief pun pergi guna menemani Raffa. Ia tahu posisi Raffa saat ini begitu sulit. Jadi untuk menghindari hal yang di inginkan Arief bersedia mendampingi putranya tersebut.
Setelah menemuuh perjalanan beberapa puluh menit. mereka pun tiba di rumah sakit.
Raffa menelpon Nayla untuk mengetahui di ruangan mana Naya di rawat.
Arief dan Raffa pun masuk kedalam kamar perawatan Naya.
Naya saat itu berbaring dengan tangan terikat.
"Nayla, kenapa Naya di ikat? "tanya Raffa.
"Dia ngak berhenti untuk menyakiti dirinya sendiri Raffa, bahkan setelah di beri obat penenang Naya memang tidur, tapi dalam tidurnya ia tetap meracau. "
Raffa menghempas napas beratnya.
"Trus, apa kata petugas yang merawatnya?
"
Besok Naya akan di rujuk di rumah sakit jiwa, hiks. Kondisi phosikologinya semakin parah saja, butuh penangan khusus. Hiks hiks, aku ngak mau sampai kenapa-napa Raffa. Aku ngak mau Naya jadi gila. " Nayla.
"Aku juga tak tahu harus bagaimana, Harusnya sudah sejak dulu Naya di obati biar ngak semakin parah. Aku hanya bisa membantu menenangkannya beberapa saat saja, tapi tidak untuk selamanya. "Raffa
"Kamu sudah bicara pada ibumu? "
"Sudah, Mami sedang dalam perjalanan. " Nayla.
__ADS_1
"Ya sudah jangan ganggu Naya dulu , biarkan saja dia beristirahat. "
"Iya, kamu istirahat saja, biar aku yang jaga. "
***
Waktu menunjukkan pukul delapan Pagi.
Naya kembali sadar dan meronta-ronta melepaskan ikatan tangannya.
"Raffa Raffa! "Ia memanggil Raffa.
Raffa berusaha tak memperdulikan agar Naya berhenti mencari perhatian.
Merasa tak di gubris, Naya semakin jadi, ia pung mengancam-ngancam Raffa, keadaan semakin gaduh, hingga beberapa petugas medis datang menghampiri kamar Naya.
"Aku ingin mati! Aku ingin Mati! Raffa aku ingin mati saja! biar kamu menyesal karena telah mengabaikan ku! " Seru Naya.
"Nay ,sadar Nay, jangan turuti setan yang ada di diri kamu Nay! " Raffa.
Arief dan beberapa perawat pria berusaha menenangkan Naya yang terus mengancam, ada pula yang menyuntikkan obat tidur pada Naya, untuk menghindari hal yang tak di inginkan.
Tiba-tiba Cynthia datang memasuki kamar tersebut, ia melihat sendiri keadaan Naya yang begitu memprihatinkan.
"Hah! Ada apa ini Nayla? " tanya Cintya syok.
"Naya di ikat seperti ini karena ia selalu berusaha menyaki dirinya sendiri Mami hiks hiks. "
Sepanjang malam Nayla menangis, karena mengkhawatirkan Naya.
Meskipun Naya dan Nayla sering bertengkar, tapi sebagai saudara kembar Nayla juga mengkhawatirkan keadaanmu Naya.Apalagi Naya seperti orang kesurupan.
"Tapi kenapa sampai bisa seperti ini sih? " tanya Cintya. Ia pun menghampiri Naya.
Cintya sedih melihat pergelangan tangan Naya,ada juga beberapa bekas luka lama yang masih terlihat jelas.
Cintya memandang ke arah Raffa," Ini pasti karena kamu ya Raffa, Naya jadi seperti ini?!
Hiks hiks hiks.
"Tante ,harusnya Tante lebih tahu keadaan anak tante, kenapa Naya seperti ini,"sahut Raffa.
"Mami... mami.. Aku mau mati saja Mi.. , aku ngak mau hidup seperti ini....! "Naya melemah, tenaganya pun sudah habis, obat penenang mulai bereaksi.
Cintya memeluk Naya yang mulai memejamkan matanya.
"Naya ma'afkan mami Naya, mami meninggalkan kalian di saat kalian masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan, " tangis Cintya.
Arief menghampiri Cintya.
"Saya ikut prihatin nyonya atas apa yang terjadi pada Naya, tapi saya juga tak ingin putra saya menjadi korban karena selalu menuruti Naya. Saya kembalikan pengobatan Naya kepada anda, saya yakin dengan kesabaran dan perhatian dari anda, Naya bisa sembuh. " Arief.
Cintya tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis meratapi Naya.
"Raffa, ayo kita pulang Nak, tugas kita sudah selesai, Naya kembali pada keluarga nya "
Arief dan Raffa pun meninggalkan ruangan tersebut
Bersambung dulu gens, hari ini author up dua episode, sebenarnya sudah ngak sabar nulis episode selanjutnya, tapi jari author keburu keriting. He he..
__ADS_1