Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Tak bisa lolos lagi 2


__ADS_3

Andini gelisah melihat ketiga orang menghampirinya.


"Bagaimana keadaan mu Mommy ?" tanya tuan Hasta.


"Ehm ehm, baik Daddy, tapi kaki ku sakit," ucap nya sambil meringis.


Andini harus bersandiwara agar ia bisa lepas dari pengawasan mereka.


"Ehm Daddy, Mommy ingin di pindahkan dari rumah sakit ini, ke rumah sakit yang berkelas internasional saja, di sini tuh ngak nyaman," tuturnya dengan wajah yang memelas.


"Mommy kamu itu ngak lama di rawat di sini paling besok atau lusa sudah pulang,"


"Tapi Daddy_" Andini.


"Sudalah Mommy, sekarang ceritakan kenapa Mommy bisa berada di jalan luar kota? mau kemana Mommy?" tanya Barley mengintrupsi.


"Ehm Ehm, Mommy ada urusan Barley," jawabnya gugup.


"Urusan apa di luar kota, biasanya Mommy selalu minta supir yang mengantar?"tanya Barley yang curiga.


Andini hanya diam, ia tak bisa lagi mengelak, apalagi tatapan tuan Hasta yang menatapnya penuh kecurigaan.


***


Di kantor polisi, petugas sedang menyelidiki laporan tuan Marco tentang penggelapan dana yang dilakukan Andini pada perusahaannya dua puluh tujuh tahun yang lalu, kini Marco kembali melaporkan percobaan pembunuhan yang terjadi padanya tadi siang.


Polisi pun meminta keterangan tersangka serta melakukan penyelidikan.


***


Amora menunggu kedatangan Veronica yang memberinya obat peransang agar Amora bisa mengalami kontraksi di perutnya.


Melihat Amora yang menderita di penjara membuat Veronica gelap mata, meski obat tersebut bisa membahayakan janinnya namun ia tetap tak perduli yang terpenting baginya, Amora bisa melarikan diri dari penjara.


Melihat kedatangan Veronica, Amora merasa senang, ia yang tadinya duduk terkulai seolah kembali bergairah.


"Mami bagaimana?"tanya Amora bicara sedikit berbisik pada Veronica.


"Rencana sudah matang Amora, kau minum obat ini pada pagi hari, setengah jam sebelum jam besuk mu, setelah bereaksi Mami akan meminta petugas untuk membawamu kerumah sakit, mereka pasti membawa mu di rumah sakit Bhayangkara kan? setelah kau dirawat kita kabur melalui tangga darurat yang di sediakan di sana, karna jarang di gunakan oleh umum, sementara Papi sudah menunggu di dalam mobil."


"Kita akan meninggalkan tempat ini dengan menggunakan helikopter pribadi Papi, tak jauh dari sini ada tanah lapang tempat mendarat helikopter,"papar Veronica.


"Iya Mami," jawab Amora bersemangat.


Keduanya pun tersenyum menyeringai.


***


Hari sudah malam


Barley dan tuan Hasta bermaksud menjaga Andini.


Santi dan Barley duduk di sofa, karna lelah Santi merebahkan kepalanya pada pangkuan Barley.


"Kau lelah ya?"tanya Barley sambil membelai rambut Santi.


Ehm


Santi menjawab dengan berguman.

__ADS_1


"Aku antar kau pulang, agar kau bisa beristirahat," tawar Barley.


Santi mengeliat memeluk paha Barley.


"Aku ngak bisa tidur kalau ngak ada kamu," ucapnya seraya mengelayut manja


Barley tersenyum tipis seraya mencubit hidung Santi.


"Tidurlah, wanita hamil harus banyak istirat,"ucap Barley seraya mengusap lembut rambut Santi.


Santi pun perlahan menutup matanya tertidur di sofa di atas pangkuan Barley.


Barley menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa ia pun merasa sangat lelah, akhirnya ia tertidur dan terlelap sambari memangku kepala istrinya.


Andini tertidur pulas namun seketika keadaan ruangan tersebut sepi ia terbangun, ia pun binggung bagaimana cara melarikan diri dari tempat tersebut.


Kakinya bengkak dengan infus yang terpasang, lagi pula ia tak punya kendaraan untuk kabur, kunci mobil Barley tentu ada di saku celananya.


Sial !sampai kapan aku harus seperti ini,jika polisi tahu mereka pasti meringkus ku, suami dan putra ku pasti tak akan percaya pada ku karna aku telah kabur membawa uang perusahaan.


Andini merasa lelah namun matanya tak mau terpejam hingga subuh dini hari.


***


Santi masih terlelap ,kepalanya masih berbantal pangkuan sang suami, namun tiba-tiba saja Barley tersadar karna ia merasa mual dan berasa hendak muntah.


Santi yang tersadar segera bangkit dan membiarkan suaminya berlari menuju toilet.


Uek, uek, Barley muntah di dalam toielet,karna merasa khawatir ia pun menghampiri suaminya.


"Sayang kau kenapa?"tanya Santi seraya mengusap punggu Barley.


Barley merasa lemas sudah dua hari ini ia selalu seperti itu, setiap kali makan ia selalu muntah.


"Ayo sayang, mungkin kau lelah istirahatlah," ucap Santi seraya merebahkan kepala Barley di pangkuaannya.


Kali ini giliran dirinya yang memangku Barley.


Barley melingkarkan lenganya memeluk pinggang Santi, sesekali ia mencium dan mengecup perut istrinya dengan mesra.


Santi tersenyum seraya mengusap rambut Barley.


"Sayang jangan-jangan kau sedang ngidam?"tanya Santi curiga.


"Ehm, kok bisa begitu?"


"Ya bisalah, banyak kok suaminya yang ngidam di saat istrinya mengandung."


Barley terlentang menatap wajah cantik istrinya, tanganya terulur menjangkau pipi Santi.


"Jika memang seperti itu, aku justru merasa bahagia, bearti kita sebagai orang tua bisa berbagi tugas."Barley


"Kau yang mengandung dan aku yang merasakan ngidam," ucap Barley seraya tersenyum mengelus pipi mulus Santi.


"Hm, anak kita cerdas bearti, ia tak mau menyiksa ku," ucap Santi tersenyum.


"Iya, lebih baik begitu, biar aku saja yang merasakannya, asal kau dan bayi kita sehat dan selamat," ucap Barley seraya menarik tangan Santi dan mencium punggung tangannya.


Santi tersenyum, "Aku beruntung memiliki suami seperti mu," ucap Santi sambil membalas mengecup punggung tangan Barley.

__ADS_1


Keduanya saling melempar senyum, "Benar kah?"tanya Barley.


"Iya," jawab Santi bersungguh-sungguh.


Barley beridiri dan duduk di samping Santi, "Kalau begitu biar aku peluk sini," ucap Barley seraya merangkul Santi dalam dekapannya.


Keduanya tersenyum bahagia, berbeda dengan Andini yang cemburu melihat kemesraan putranya dengan sang istri.


Andini melirik kearah mereka dengan sinis.


Barley sudah termakan bujuk rayu gadis itu rupanya.


Kegalau dan kegelisahan semakin membuat Andini tak bisa beristirahat dengan tenang.


Ia masih memikirkan cara untuk lari dari rumah sakit tersebut.


***


Matahari bersinar cerah pagi ini,


Barley dan Santi baru saja kembali untuk membeli sarapan dan membawa makanan untuk tuan Hasta.


"Daddy sarapan dulu,"ucap Barley seraya menyodorkan rice box.


Tuan Hasta menerima box tersebut.


"Daddy, setelah mengantar Santi pulang aku akan ke kantor, nanti siang aku kembali lagi, "ucap Barley.


"Iya, terserah kau saja, Daddy bisa menjaga Mommy sendiri."


Barley menghampiri Andini, belum sempat ia bicara pada Andini sebuah panggilan masuk terdengar di handphonenya.


Barley sedikit menjauh untuk mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Tuan," sapa seseorang di panggilan telponnya Barley.


"Hallo, ada apa?"tanya Barley langsung karna yang menenponnya saat itu adalah salah satu manager keuangan.


"Hallo Tuan, baru saja saya mendapat konfirmasi langsung ada penarikan uang perusahaan yang cukup besar, saya ingin mengkonfirmasinya terlebih dahulu kepada anda."


"Penarikan uang?"Barley.


"Iya Tuan, saya memeriksa keuangan kita dan menemukan ada penarikan dana yang cukup besar."


"Berapa nilainya?" tanya Barley.


"Seratus miliar tuan."


"Seratus miliar?!" Barley kaget.


"Gila! cari orangnya sampai ketemu! tapi bagaimana bisa?" Barley.


"Menurut informasi dari petugas bank, orang tersebut mencairkan ceknya pada kemaren siang, 125 juta di tarik tunai dan di sisanya ia pindahkan ke rekening pribadinya."


"Kalau begitu siapa yang melakukannya?!"tanya Barley geram.


"Maaf Tuan sebelumnya, tapi yang melakukannya adalah Nyonya Andini."


"Apa?! Mommy ?!" Barley mendelik.

__ADS_1


Bersambung, dukung terus author ya guys karna ada kejutan di episode-episode selanjutnya.


__ADS_2