
Raffa, Asyia dan Aldo tiba di rumah, Asyia terlihat bahagia sekali, tak sedikit pun ia malu atau pun minder dengan keadaan ayahnya.
"Assalamualikum, " ucap mereka semua di muka pintu.
"Waa'laikum salam, sapa Delia yang kebetulan sedang menunggu kedatangan Asyia.
Sejak Dinar hamil, tugas Delia juga mengurus Raffa termasuk makan dan minumnya.
Dinar tak boleh banyak bergerak dan melakukan aktifitas berat selama ke hamilannya, karna ia hampir saja mengalami keguguran. Jadi ia hanya bed rest di kamarnya saja, dan keluar sesekali jika ada hal yang penting.
"Ayo Raffa, Asyia. Kalian ganti baju setelah itu, kakak tunggu di meja makan Ya. " perintah Delia.
Keduanya pun menurut, setelah melepaskan pakaianya dan menggantinya dengan pakaian bermain. Raffa dan Asyia segera menuju meja makan.
Di sana Delia sudah menyiapkan makan siang untuk kedua anak tersebut.
Masing-masing mereka duduk di kursi.
Delia meletakan mangkok, dan piring untuk makan kedua anak itu. Aldo yang kebetulan menuju dapur sedang melihat Delia yang tengah menuang sup untuk Asyia dan juga Raffa.
Dengan santai Aldo juga duduk di meja makan mengambil mangkok.
"Kak, Raffa mau wortel saja sama ayamnya, kuahnya di banyakin."
"Iya !" sahut Delia sambil mengaut sup ke mangkok Raffa.
"Asyia mau semuanya kak! kata paman Asyia harus banyak makan sayur, biar sehat!" Asyia.
"Iya ini untuk Asyia, " sahut Delia sambil mengaut sup tersebut pada mangkok Asyia.
Setelah semua kebagian, Dinar mengaut sup untuk dirinya sendiri.
"Aku juga mau supnya kak! " seru Aldo yang tersenyum seraya menyodorkan mangkoknya pada Delia.
Delia tersenyum dan tersipu. ia pun menghampiri Aldo.
Delia menuang kuah sup dan sayuran ke mangkok Aldo.
"Kak, aku ngak suka terlalu banyak sayur. Senyum kakak aja di banyakin waktu menuang supnya," ucap Aldo sambil melirik ke arah Delia.
Bukan main senangnya hati Delia saat itu, saking groginya ia sampai menumpahkan sup di atas mangkok Aldo.
"Pelan-pelan Kak, " ucap Aldo sambil tersenyum menggoda Delia.
Delia semakin tersipu.
"Ih Ayah kenapa panggil Kak Delia Kakak? bukannya Ayah lebih tua dari kak Delia!"sahut Asyia bernada protes.
"Ngak apa. Bundanya Raffa juga ayah panggil kakak. Padahal lebih tua ayah kan? " sahut Aldo sambil menikmati sup buatan Delia.
Aldo menyerup sup tersebut," Ehm enak. Kak Delia pintar masak ya? " ucap Aldo sambil menikmati supnya kembali.
Delia hanya tersenyum.
Sebenarnya Aldo tak punya perasaan khusus terhadap Delia, karna ia juga sadar siapa dirinya.
__ADS_1
Mereka pun makan siang bersama dengan tenang. Asyia dan Raffa menghabisan makannanya di piring mereka masing-masing.
Satpam penjaga rumah tiba-tiba datang dan menghampri rumah tersebut dan menggedor pintu.
"Maaf mas Aldo, ada yang ingin bertemu dengan nona Asyia."
Aldo keluar dan melihat kedua orang tersebut.
Veronica dan Fedro tetap memaksa masuk mereka membuka pagar sendiri.
Asyia dan Raffa pun ikut melihat kearah pintu keluar.Mereka berdua berdiri di samping Arief yang siap pasang badan.
Melihat gadis kecil yang kira-kira seumuran dengan cucunya. Mereka pun menyakini jika Asyia adalah cucu mereka.
"Papi lihat itu! itu cucu kita. Dia cantik sekali seperti Amora, tunjuk Veronica ke arah Asyia.
Melihat keduanya menghampri mereka.Aldo menyuruh Asyia dan Raffa untuk masuk.
Satpam tersebut pun menoleh dan menghapiri kedua pasutri tersebut.
"Maaf Nyonya- Tuan. Anda belum boleh masuk! belum dapat ijin dari pemilik rumah."
Satpam menghandang dan mencegah mereka untuk masuk.
Tapi Veronica sengaja mendorong tubuh Satpam yang menghadang jalannya hingga satpam mundur ke belakang beberapa langkah.
"Aku mau bertemu cucu ku! aku lebih berhak atas anak itu!"
Satpam menarik tangan Veronica agar tak mendekati rumah tersebut.
Tanpa di duga,Fedro memukul satpam tersebut kemudian menghajarnya sampai babak belur.
Sementara Aldo berusaha membantu satpam yang sudah terdesak.
Tapi tubuh Fedro yang besar mendorong tubuh Aldo hingga Aldo kehangan keseimbangannya dan jatuh.
Fedro pun memukul Aldo. Satpam bangkit dan menarik tubuh Fedro agar berhenti memukul Aldo.
Kegaduhan terjadi di luar, Asyia dan Raffa pun ketakutan.
Mendengar ada keiributan di luar, semua penghuni rumah berlari menghampiri Aldo.
Asyia! Asyia! teriak Veronica.
Mendengar namanya di sebut, Asyia berlindung di belakan tubuh Delia.
"Kak, siapa orang itu? kenapa dia cari aku? "tanya Asyia ketakutan.
"Tenang Asyia, mereka tak akan berani menyakiti kamu," ucap Delia sambil memeluk Asyia.
Raffa pun menghampiri Asyia dan memeluknya, ia takut jika Asyia di bawa pergi.
"Kenapa anda mencari Asyia? " tanya Aldo yang mencoba berdiri sendiri, menghampiri Veronica.
"Tentu saja karna aku ingin menggambil Asyia dari tangan kalian! " Veronica.
__ADS_1
"Siapa anda yang berani datang mengambil putri ku? ! tak akan ku biarkan itu terjadi!" seru Aldo sambil berjalan menghampiri Veronica yang hendak masuk rumah mereka.
"Oh jadi kau yang bernama Aldo. Gara-gara kelakuan mu, putri ku sampai hamil di luar nikah! dasar lelaki berengsek! sekarang kau ingin merampas cucu ku?! " cecar Veronica.
Asyia semakin menangis.
Delia juga baru tahu saat itu ,jika Asyia ternyata bukan anak dari hasil pernikahan Aldo.
Dari kata-kata Veronica ia bisa menarik kesimpulan jika wanita tersebut adalah nenek dari Asyia.
'Sudah Yuk! Asyia dan Raffa, kita masuk ke kamar Bunda saja. Biar aman," Ajak Delia.
Delia pun membawa mereka masuk ke kamar Dinar. Karna kamar Dinar letaknya paling ujung.Hingga suara ribut-ribut tak as kan terdengar dari luar.
"Tok tok tok.. Nyonya! " seru Delia.
"Masuk saja, "seru Dinar.
Dinar tengah bersandar pada headboard tempat tidurnya.
Melihat Asyia dan Raffa menangis ia pun heran.
"Sayang, Mbak kenapa nangis? " tanya Dinar kemudian meletak kan handphonenya di atas nakas.
"Hiks hiks, ada yang ingin membawa mbak Asyia Bunda, hiks hiks hiks," tutur Raffa menangis menghampiri Dinar, ia pun menggenggam erat tangan Asyia agar tak jauh darinya.
Oh, Dinar merentangkan tangannya memeluk keduanya yang menangis.
"Hiks hiks hiks,Asyia takut Bi! " tangisnya seketika pecah.
"Ngak akan Sayang. Ngak akan ada yang bisa merebut kamu dari kami," ucap Dinar.
"Delia apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dinar yang masih tak mengerti.
"Itu Mbak! di luar ada yang mengaku sebagai neneknya Asyia. Katanya ia ingin melihat dan membawa Asyia. Sekarang sedang berhadapan dengan Mas Aldo dan pak Satpam. "
Dinar kaget, ia pun menarik nafas panjang.
"Ehm, Kamu kunci pintu kamar Delia.Kamu disini saja dulu. Sampai keadaan tenang,saya mau telpon suami saya dulu. "
"Iya Nya. "
Dinar meraih hand phonenya kemudian langsung menghubungi suaminya.
"Hallo Assalamualikum Bu," sapa Arief.
"Waa'laikum salam Yah.Yah ada wanita yang mengaku-ngaku sebagai neneknya Asyia Yah. Ayah pulang ya Yah! Ibu takut terjadi sesuatu. " Dinar.
"Iya Bu. Ayah akan laporkan kasus ini ke polisi. Mereka tidak bisa sembarangan masuk rumah orang tanpa ijin. Apalagi berniat membawa salah satu anggota keluarga kita. "
"Iya Yah. Ibu takut mereka nekad saja."
Ayah! tutup telponnya dulu. bawa mereka berkumpul di kamar kita. Ayah tahu orang seperti apa mereka! Assalamualikum," Arief menutup telponnya.
Bersambung dulu ya reader.Maaf author up dikit-dikit karna harus bagi tiga chapters sehari. terima kasih saran kritik dan masukannya.Author tunggu selalu. 😍
__ADS_1