Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Yang Tua Yang Bercinta


__ADS_3

Langit malam di penuhi taburan bintang-bintang angkasa.


Sepasang insan yang tak lagi muda duduk berduan di sebuah kursi santai singgle di temani dua minuman hangat.


"Wati kamu sudah lama menjanda?"tanya tuan Marco mencoba memberani kan diri.


"Ehm sudah sepuluh tahun Tuan," jawab Wati jengah, seraya tersipu-sipu.


'Wah rapat lagi tuh, pasti rasanya seperti perawan,'batin tuan Marco karna pikirannya mulai traveling.


Ia pun menyunggingkan senyum nakalnya.


"Janda kembang dong ya? kembang sepatu, ha ha " cetus tuan Marco lagi bermonolog.


"Ih Tuan biasa ngerayunya, mana ada janda kembang. Janda aja Tuan, yang jelas bukan janda bolong." sahut Wati malu-malu.


"Ha ha ha, kalau janda udah pasti bolong ha ha ha, "sahut tuan Marco dengan tawa renyahnya.


"Ih Tuan bisa saja," ucap Wati dengan tersenyum malu seraya menundukkan wajahnya yang merona.


"Ha ha, jangan panggil tuan dong, "cetus tuan Marco.


"Ehm habisnya harus panggil apa?" masih dengan malu-malu.


"Panggil Sayang saja, seperti Santi dan Barley, Ha ha ha," sahutnya dengan tawa renyah, pertanda hati tuan Marco sedang berbunga-bunga saat itu.


"Ehm malu Tuan," sahut Wati jengah dengan senyum simpulnya.


"Ngak usah malu, biar bulan depan kita langsungg ke penghulu ha ha ha,"tawa bahagia tuan Marco terdengar hingga kedalam ruangan.


Alangkah senang nya hati Wati, meski dengan nada bercanda, tapi tuan Marco terlihat begitu serius.


Sementara Santi dan Barley hendak menuju balkon, karna mereka saat ini tinggal di apartment jadi hanya ada satu balkon di rumah tersebut.


Ketika hendak keluar, keduanya pun menahan langkah, ketika dari kejauhan melihat Wati yang terlihat tersipu karna di rayu oleh tuan.


"Sayang, lihat tuh Daddy sama Wati sedang berduaan, kita ngak usah ganggu dulu deh, lagi asik kayaknya." Santi menahan langkahnya.


"Ehm, pasti Daddy lagi merayu tuh, lihat saja si Wati tersipu-sipu di buatnya," dengus Barley.


"Sudah biarin saja, Daddy dan mbak Wati lagi puber ke dua, hm kita duduk di ruang tamu saja yuk," usul Santi.


Mereka pun duduk bersantai di ruang tamu.


Santi duduk dengan memangku kepala Baley yang sedang mengelus dan mencium perut buncit sang istri.


"Sayang, nanti rencananya saat tujuh bulanan aku mau bikin acara selamatan yang meriah untuk calon putra ku, bagaimana menurut mu?" Barley


"Ehm, menutut ku, lebih baik kita bikin selamatan sederhana, trus sedekahin saja nasi kotak ke panti asuhan, aku takut jika banyak orang yang hadir di acara, akan semakin mengundang banyak bahaya, aku takut ada yang tak senang dengan mu lalu mencelakai calon putra kita," terang Santi karna ia merasa trauma, dengan beberapa kejadian yang nyaris saja membunuhnya.


Barley berfikir sejenak.


"Ehm kamu benar juga, apa lagi anak kita yang akan lahir nanti adalah putra mahkota, calon pewaris kerajaan bisnis dua kakek dan Daddynya." Barley.


Gleg


Santi menelan ludahnya mendengar beban yang akan di tanggung oleh putranya nanti.


"Sayang, putra kita belum lahir tapi kau bicarakan beban berat yang akan di tanggungnya, aku jadi kasihan padanya," ucap Santi seraya mengelus kepala Barley.

__ADS_1


"Ya putra kita harus jadi lelaki yang hebat, karna ia akan jadi penerus perusahaan kakek-kakeknya, aku akan didik dia di dunia bisnis sejak dia masih belia," ucap Barley.


Santi hanya tersenyum, menjadi pewaris dua kerajaan bisnis bukanlah hal yang mudah, tentu saja setiap saat sang putra mahkota berada dalam bahaya, mengingat semakin sukses seseorang, semakin bayak pula orang yang iri.


Santi terdiam, berdoa dalam hatinya


'Ya Tuhan lindungilah keluarga ku dan orang-orang yang aku sayangi.'


Santi mengusap kepala Barley dengan tatapan hampa, perasaan resah menghantuinya saat ini karna mengkhawatirkan yang belum terjadi, akan kah ini firasat atau hanya sisa rasa trauma di hatinya.


***


Si Inem sedang mengulek sambal sambil mengeretu di dapur, "Duh ya si Wati mentang-mentang aja di jodohin sama tuan marco oleh tuan muda, eh sekarang sudah ngak mau nyentuh dapur lagi, malah lebih milih ngobrol dengan tuan Marco, kenapa sih bukan aku saja yang di jodohin, uh sebel, sebel " omelnya sambil mengulek sambal.


"Kenapa sih mbak Inem ngomel-ngomel?" tanya Santi yang kebetulan menuju dapur.


Inem pun jadi salah tingkah, "Ngak kok Nyonya," sahutnya malu.


"Ngak usah ngomel mbak Inem, semoga suatu saat mbak dapat jodoh yang baik juga,"ucap Santi seraya menuang air hangat untuk susunya.


Sebenarnya tugas membuat susu hamil itu sudah jadi tugas Wati sebagai asisten pribadinya, namun Santi juga tak mau mengganggu Wati dan kebahagian ayah mertuanya.


"Iya Nya, moga saja ada lagi bule yang ngaku jadi daddynya tuan muda trus jodohin dengan saya ya!" cetus Inem.


Bruk..


Uhuk uhuk Santi yang tengah minum susu pun tersedak mendengar ucapan Inem.


"Aduh mbak Inem, emangnya suami saya kucing yang punya bapak banyak," cetus Santi ia pun tersenyum.


"Kali aja Nya," sahut Inem seraya tertawa kecil.


"Mbak Inem ada-ada saja tersedak loh saya. Santi.


***


"Papi, kenapa sih muka Papi dari tadi mengkerut saja?" tanya Miranda pada suaminya.


"Papi kesal dengan Barley Mami! bukanya membantu justru dia ingin menguasai saham kita sebesar 60 persen, jika seperti itu sama saja kita menyerahkan perusahaan kita kepadanya!" dengus tuan Alex.


Cintya tersenyum, "Papi tenang saja, sepertinya tuan muda sagat muda di rayu, lagi pula sepertinya ia menyukai ku, " ucap Cintya dengan percaya diri.


"Lihat saja nanti dia pasti bertekuk lutur Papi," ujar Cintya dengan yakin.


"Harus itu, pokoknya gunakan apa saja, yang penting perusahaan kita selamat, lagi pula kamu beruntung bisa mendapatkan Barley, jika benar Marco mewariskan hartanya ke Barley, kamu bayangkan saja. Barley akan jadi pengusaha bertaraf internasional dengan lisensi produknya hampir di seluruh dunia. Barley jadi bisa merajai bisnis seasia bahkan dunia, ck ck perusahaan kita tak ada apa-apanya," dengus tuan Alex.


'Ehm semakin menarik saja, aku jadi tambah semangat mengejar cinta tuan muda yang tampan tersebut'batin Cintya.


***


Anggi dan Chandra tiba di sebuah desa di pinggir kota.


Mereka pun menepikan mobilnya pada salah satu bahu jalan.


Mereka pun turun dari mobil seraya mengedar pandangan.


"Lo mau ajak gue kemana sih Ngi?" tanya Chandra.


"Diem loh, gue mau ke dukun, seperti pepatah mengatakan 'cinta di tolak dukun bertindak,' he he cetus Anggi sambil menyilangkan lengan di dadanya.

__ADS_1


"Hah. serius loh? ngak takut dosa loh Ngi?"tanya Chandra.


"Lagian itu bukan kata pepatah tuh, itu omongan orang putus asa, "sahut Chandra lagi.


"Sudah loh berisik banget sih Chan, tinggal ikut aja kenapa sih?"dengus Anggi.


"Ayo kita kerumah mbah Misan."Anggi menarik tangan Chandara.


"Op op, ogah gue, ngak mau ah dosa. Loh Ngi ke dukun aja udah sirik tuh," cetus Chandra.


Anggi melirik dengan sinis ke arah Chandra.


"Eh yang sirik itu eloh! Sirik sama gue kan?"tanya Anggi nyolot dengan mata yang melotot.


"Yah di ingatkan juga! gue ngak mau, Dosa besar tau!"Chandra.


"Udah dosa luh biar gue yang tanggung, bawa aja bill dosa loh, biar gue yang bayar," sahut Anggi santai.


"Hah, loh kira makan di restoran ada billnya, jangan songong loh dosa sendiri saja ngak tertanggung malah belaga mau manggung dosa gue loh," dengus Chandra.


"Udah loh temani saja, ntar kalau dukunya cabul gimana, sia-sia dong keperawan gue yang udah gue jaga selama ini,"cetus Anggi.


"Hah Masa Allah, lo masih perawan Ngi, tapi kayak perempuan ngak laku aja pakai pelet segala."Chandra.


"Udah banyak bacot kayak bekicot aja loh," dengus Anggi lagi.


"Gue cuma mau minta jimat pemikat dari tuh dukun," tunjuk Anggi.


"Aduh, untuk apa?" Chandra.


"Untuk lebih menarik lah," cetus Anggi.


"Eh Ngi. loh itu sebenarnya udah cantik dan menarik, akhlak loh aja benarin dikit pasti loh jadi perempuan nyaris sempurna."


"Diam aja loh, gue mau wujud kan impian gue buat nikah sama tuan muda, atau paling ngak menikah dengan presiden direktur lah seperti pak Arief kayak di novel-novel yang gue baca." Anggi.


"Terobsesi sekali loh Ngi, ketinggian ngayal ntar jatuh meninggol loh, sayang tuh perawan, mending loh ama gue aja, yang bisa iklas nerima loh apa adanya he he" Chandra.


"Ehm modus aja loh, udah lo temani gue, kalau gue jadi istri si bos loh tenang saja hidup loh juga akan enak," sahut Anggi.


Chandra mengkerucutkan bibirnya.


Mereka pun masuk kedalam sebuah rumah kayu dengan nuansa mistis.


Setelah memberi tahu maksud dan tujuannya. Anggi di beri kalung hitam, dan harus membayar mahar sebesar satu juta oleh dukun tersebut


Anggi tersenyum mendapatkan kalung tersebut.


Mereka pun keluar, Anggi menenteng kalung tersebut dengan bahagia.


"Gila loh Ngi! kalung kayak begitu saja satu juta.Mau aja loh di bego-in." Chandra.


"Ehm. kita lihat aja ya reaksinya, kalau berhasil, uang satu juta ngak ada apa-apanya Chan." Anggi.


Bersambung reader, episode selanjutnya in shaa Allah lebih seru, pastikan novel ini di favoritin ya tekan ikon ♡, di beri rate 🌟🌟🌟🌟🌟, like dan saran dan komentarnya.


Terima kasih atas dukungan kalian semua saran dan komentarnya author baca dan tampung kok, hanya saja belum ada waktu untuk membalasnya satu persatu, terima kasih banyak telah mendukung author, semoga kita semua sehat dan sukses selalu Aamiin.


Author punya rekomendasi novel untuk mu sambil nunggu author up judulnya dendam dan hasrat sang mafia, karya pinkanmilar.

__ADS_1




__ADS_2