Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Tak Di Duga


__ADS_3

Amora tersadar dari tidurnya dengan kepala yang terasa sakit.


"Akh, kepala ku sakit sekali," ucap nya sambil memijit keningnya.


Kebetulan saat itu Veronica datang menghampiri kamarnya.


"Amora, kau sudah bangun?"tanya Veronica.


"Kepala ku sakit Mami," keluhnya seraya mengatur nafas yang mulai terasa sesak.


"Itu salah mu sendiri Amora! kamu tahu sendiri, mengkomsumsi minuman beralkohol saat hamil bisa-bisa membahayakan pertumbuhan janin kamu! bisa-bisa anak yang kamu kandung itu cacat!" cecar Veronica.


"Biarkan saja Mami, ayahnya saja cacat, aku ngak mau merawat anak ini!"cecar Amora.


Veronica membelalakan matanya menatap ke arah Amora.


"Apa kata mu?"tanya Veronica.


"Iya Mami aku tak mau menikah dengan Aldo, Aldo mengalami patah tulang pada bagian kaki dan tangannya, apa seperti itu pria yang akan menjadi suami ku?!"


Veronica menelan ludahnya, sementara Amora mendengus kesal.


"Lalu apa rencana mu?"tanya Veronica.


"Mami bagaimana pun caranya aku ingin tetap menikah dengan Barley titik!"Amora memberi penekanan di akhir kalimat.


Amora tetap dengan keputusannya.


Veronica berpikir lebih keras," Kalau begitu kita tunda pernikahan mu dengan alasan Papi mu menyuruhmu membantu mengurusi usahanya, kita tunda sampai kau melahirkan, tapi kau harus tetap berpura-pura tak terjadi sesuatu pada mu di hadapan keluarga Barley," usul Veronica dengan senyum menyeringai.


Amora menatap Veronica, senyum licik terbit di bibirnya.


***


Barley keluar dari ruangan di mana Santi di rawat, untuk menenangkan pikirannya.


Sementara Santi ia lebih memilih untuk kembali istirahat.


Barley keluar dari rumah sakit tersebut menuju sebuah kantin yang ada di rumah sakit.


Barley duduk di sebuah sudut kursi, kemudian menyalakan rokoknya, kepulan kepusan dari asap keluar dari mulut dan hidungnya.


*Apa benar yang dikatakan Santi, selama ini aku selalu memanggap dirinya seperti Sania, aku tak bisa melupakan Sania yang seperti hadir dalam dirinya,


Santi kini mengandung anak ku, bagaimana agar aku tak terus-terusan mengingat Sania hingga tak melukai perasaannya*.Batin Barley.


Setelah menghisap beberapa puntung rokok, Barley kembali menuju ruang perawatan Santi, ia membawakan bubur ayam untuknya.


Melihat kedatangan Barley, Santi yang tengah melamun tersebut membuang wajahnya.


"Aku bawa bubur untuk mu, kau harus makan dengan porsi yang lebih banyak, dan jangan terlalu banyak bergerak, minimal tiga hari sampai cedera otot mu sembuh," papar Barley seraya membuka bungkusan bubur yang di bawanya.

__ADS_1


"Ayo makan lah," ucapnya menyodorkan bubur tersebut kedalam mulut Santi.


"Biar saja aku makan sendiri,"tolaknya.


"Sudah lah aku sudah berniat baik kepada mu, setelah makan, aku akan membersihkan tubuh mu," ucap Barley dengan nada datarnya.


"Membersihkan tubuh ku?" tidak! aku bisa mandi sendiri." Santi memprotes.


"Memangnya kenapa? apa kau masih malu? dengar Santi, kau itu istriku, seluruh tubuh mu itu adalah milik ku, jangan kan melihatnya, aku berhak melakukan apa saja lebih dari itu," dengus Barley.


Santi menatap kesal kearah Barley.


"Anggap saja kali ini giliranku untuk merawat mu, karna saat aku sakit dan tak bisa bergerak kau yang merawat ku," sahut Barley tersenyum menyeringai.


"Hah?"


Santi langsung menoleh kearah Barley.


"Jadi maksud mu kau ingin balas dendam karna aku pernah mempermainkan mu?"tanya Santi dengan nada yang melemah.


Barley tersenyum menyeringai, sementara Santi merasa sedikit takut.


Dengan sabar Barley menyuapi Santi hingga bubur di dalam mangkok tersebut habis.


Setelah meletakan mangkok buburnya, Barley meraih handphonenya menghubungi seseorang.


"Hallo Chandra, unsur semua metting dan kirimkan saja semia informasi penting atau apa pun itu yang harus ku periksa lemat e-mail ku saja."Barley.


Setelah menelpon Chandra, Barley kembali menelpon Andini.


"Hallo Barley, kenapa kau tak ada di kantormu?!"tanya Andini tanpa menyapa terlebih dahulu.


"Mommy, aku punya berita baik untuk mu," ucap Barley dengan bahagia.


"Katakan saja Barley, mommy tak suka bertele-teke," sahut Andini dengan ketus.


"Sebentar lagi mommy akan punya cucu, karna saat ini Santi sedang mengandung," papar Barley bahagia.


"Apa? mengandung? eh Barley, apa kau yakin anak yang di kandung Santi itu anak mu, bisa jadi itu anak Arief, kau jangan percaya begitu saja, Santi itu tak sepolos kelihatannya, bisa saja dia bersengkokol dengan Arief dan sengaja menjebak mu!" cecar Andini.


Barley menjadi berang mendengar kata-kata hinaan dari mulut Andini.


"Mommy aku tahu siapa istri ku, jadi jangan pernah menghinanya apalagi menyakitinya karna aku tak akan tinggal diam," dengus Barley kesal, ia pun menutup sambungan telponnya.


"Dasar, sekarang Barley sudah mulai melawan ku dan malah membela perempuan sialan itu, " dengusya seraya meletakan handphone di atas mejanya.


Sebetulnya Andini juga yakin jika anak yang di kandung Santi adalah cucunya, namun karna perjanjiannya dengan Veronica, membuatnya harus berpikir lebih keras, Bagaimana pun caranya Barley harus bisa melepaskan Santi.


"Tapi aku sendiri belum mengetahui keadaan terakhir Amora, apa dia hanya benar-benar masuk angin, atau ada sesuatu yang terjadi padanya, "guman Andini.


Barley kembali ke ruangan Santi.

__ADS_1


Kemudian ia membawa kursi menuju kamar mandi dan meninggalkannya di sana.


"Ayo Santi kita mandi!" ucap Barley seraya mengangkat tubuh Santi.


"Tidak mau Tuan!" tolak Santi, jujur saja ia malu meski sudah beberapa kali Barley melihat dan menikmati tubuhnya.


"Sudalah, lingkarkan tangan mu pada leherku, karna aku juga harus mendorong standar infus ini, "ucap Barley seraya mengangkat tubuh Santi.


Tanpa di beri kesempatan untuk menolak Barley mengangkat tubuh Santi, "Ayo peluk aku agar kau tak jatuh, karna satu tangan akan ku gunakan untuk mendorong standar infus." Barley.


Santi melingkarkan tanganya pada keher Barley saat itu tanpa sadar netra mereka saling beradu, keduanya terdiam untuk beberapa detik. mencoba menetralisir sedikit rasa yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Beberapa detik kemudian, mereka pun saling membuang pandang, dengan perasaan yang gugup.


Barley menggendong Santi menuju kamar mantu.


Setibanya di kamar mandi, Barley meletakan Santi di atas kursi kemudian membuka pakaian luarnya.


"Tuan, sudah! aku bisa mandi sendiri, tinggalkan saja aku," ucap Santi dengan tubuh yang setengah polos.


Barley tak memperdulikan Santi, ia tetap melepas pakaian luar dari istrinya.


Barley membuka pengait bra, dan seketika tampak lah dua gumpalan montok yang membuat mata matanya melotot, hingga membuat Barley menelan ludahnya menahan hasrat.


Barley tergaman beberapa saat matanya tak beranjak melihat pemandangan yang tersebut.


Melihat suaminya yang terlihat terbakar hasrat, Santi langsung menarik pakaian menutupi tubuhnya sebelum ini.


"Tuan, biar saja aku mandi sendiri, aku tak ingin celaka karena mu,"cetus Santi seraya menutupi tubuhnya dengan seadanya.


Barley tersadar," Aku bisa mengontrolnya untuk saat ini, dan akan melampiaskannya setelah kau sembuh," ucap Barley sedikit berbisik.


Santi tersenyum, sejujurnya ia juga ingin menjadi istri yang baik, andai saja Barley mencintainya dan tidak mengganggap dirinya sebagai bayang-bayang kakaknya.


Tak bisakah kau mencintai ku, seperti kau mencintai kakak ku Tuan.Batin Santi.


Barley melanjutkan tugasnya, ia pun menyiram Santi dengan air hangat, kemudian mengosok tubuh Santi dengan spon lembut keseluruh tubuhnya.


Saat ingin menyapu spon kebagian perut, Barley menghentikan gerakannya, ia pun mengusap lembut bagian perut Santi, kemudian menciumnya.


Santi kaget karna gerakan Barley yang tiba-tiba memberikan kecupan penuh kasih sayang pada bagian perutnya.


Santi menoleh kearah bawah dan melihat rambut lebat Barley yang indah, ingin sekali ia mengusap kepala Barley.


Entah rasa apa yang tumbuh di hati Santi, terkadang ia benci dengan suaminya tersebut, namun terkadang ia juga menginginkan kemestraan darinya.


Santi hanya mematung, ia tak berani berharap terlalu jauh.


Barley menarik wajahnya dan menatap wajah Santi.


"Aku ingin kau menjaganya baik-baik Santi," ucap Barley seraya mengelus lembut perutnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2