Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Mencoba Lagi


__ADS_3

Barley sampai dirumah dan langsung menuju dapur, membawa piring dan sendok menuju kamarnya.


Saat itu Santi berada di meja riasnya sedang menyisir rambut, Santi menatap wajahnya yang sedikit pucat," Kenapa wajah ku terlihat pucat ya?" gumannya


Santi menggunakan lipbalmnya dan make- up yang tipis sudah membuatnya terlihat segar kembali.


Tanpa permisi Barley membuka pintu kamarnya dan membuat Santi kaget.


Bruk, suara pintu yang di buka.


"Tuan apa kau tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, bikin kaget saja," dengusnya.


"Ini juga kamar ku, jadi aku bebas masuk kapan saja yang aku mau," sahutnya dengan nada juteksnya.


Setelah menyisir rambutnya, Santi berdiri menuju balkon, matanya menatap sinis ke arah Barley.


"Mau kemana ?"tanya Barley.


"Mau ke balkon cari angin," sahut Santi ketus.


"Aku bawa sate favorite mu, makanlah dulu," ucap Barley sedikit melunak.


Kenapa tuan muda membawakan ku sate, sepertinya dia tahu apa yang aku ingin kan, apa mungkin karna aku mengandung anaknya jadi secara langsung kami punya kontak batin.Batin Santi.


Santi menghampiri Barley dan meraih bungkusan tersebut, baru membukanya saja ia sudah ngiler dan bersemangat untuk makan.


Setelah menyajikan dua porsi sate kedalam dua piring, Santi menyodorkan salah satu piring ke arah Barley.


"Ini tuan, untuk mu," ucap Santi.


Mereka duduk di atas tempat tidur seraya menyantap sate tersebut.


Santi sangat antusias sekali, ia begitu menikmati makananya hingga tak sadar Barley tersenyum melihatnya.


Diam-diam Barley menabah beberapa tusuk sate miliknya kedalam piring Santi.


"Tuan kenapa di masukan kedalam piring saya ?"tanya Santi seraya mengunyah makannannya.


"Makan lah yang banyak, biar kau sehat, agar orang tua mu mengira aku tak menyiksa mu," ucap Barley.


Ehm, Santi hanya menyahut dengan gumanman.


Selesai makan Barley kembali ke meja kerjanya, karna tak punya asisten ia harus ekstra bekerja, mengingat beberapa perusahaan ayahnya juga di kelolah olehnya.


Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.


***


Di sebuah Bar.


Amora mabuk berat, satu botol minuman beralkohol kadar tinggi ia habis kan di depan bartender, hingga membuatnya terkulai di depan meja bartender.


Amora meracau-racau dengan wajah yang memerah dan nafas yang berbau alkohol yang menyengat.


Seorang pria menghampirinya karna merasa mengenal Amora.


"Amora, Amora kau baik baik saja kan?"tanya pria tersebut sembari mengguncang tubuh Amora.


"Aku sedang tak baik-baik saja, aku benci bayi ini, aku benci pada janin yang ku kandung," racaunya dalam keadaan mabuk.


"Gara-gara dia aku tak gagal menjadi istri Barley, hiks hiks, Amora terus,"saja meracau.


Amora memukul-mukul perutnya berharap bayi tersebut bisa di gugurkan.


"Sudahlah Amora kau tenangkan dirimu," ucap pria bernama Tomi tersebut, meski ia tak mengerti masalahnya, namun dari ucapan Amora jelas sekali ia sedang mengandung dan tak menginginkan bayi tersebut.


Tomi adalah teman Aldo dan Amora, mereka sering menghabiskan waktu di tempat tersebut, hingga ia mengenal Amora.

__ADS_1


"Tidak aku tidak akan tenang, selama bayi ini dalam kandungan ku, "ucap Amora lagi.


"Tapi Amora kenapa kau tidak minta pertanggung jawaban Aldo saja?" tanya Tomi.


"Aldo, cuih aku tak sudi, Aldo kini jadi pria cacat, dan aku tak mau menikah dengan pria cacat sepertinya," cecar Amora lagi.


Amora terkadang menangis terkadang tertawa, minuman keras tersebut benar-benar membuatnya kehilangan kesadaran.


Tomi memutuskan untuk mengantar Amora pulang, karna keadaannya tak memungkin kan untuk ia pulang sendiri.


Di dalam mobil Amora terus meracau-racau, menangis dan berteriak tanpa sebab.


Tomi mempercepat mobilnya, agar segera sampai di rumah Amora, ia takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


Sesampainya di depan rumah megah Amora, kedatangan mereka sudah di tunggu oleh Veronica.


Tomi keluar dari mobil, kemudian membuka pintu mobil pada sisi yang lain.


Ia menarik tangan Amora kemudian membopong tubuhnya.


Melihat putrinya dalam keadaan setengah sadar, Veronica membelalakan matanya.


"Amora! bisa-bisa kau pulang dalam keadaan mabuk," cecar Veronica.


Veronica menghampiri Amora dan membatu Tomi membopong tubuh Amora, mereka langsung membawa Amora menuju kamarnya.


Setelah sampai, dengan hati-hati Tomi meletakan Amora di atas tempat tidur.


"Siapa kamu? dan kenapa Amora bisa sampai seperti ini?"tanya Veronica curiga.


"Dengar dulu Nyonya, saya menemukan Amora sudah mabuk-mabukan di sebuah bar, karna tak ingin terjadi sesuatu, saya memutuskan untuk mengantarnya pulang," papar Tomi.


Hm, Veronica melihat ke jujuran di wajah Tomi.


"Baiklah kalau begitu tinggalkan nomor mu, jika terjadi sesuatu pada putri ku karena kamu, aku bisa menghubungi mu." Veronica.


Setelah kepergia Tomi dan mengantar Tomi hingga ke depan pintu, Veronica kembali lagi menemui Anora yang masih mengigau.


Amora masih meracau-racau, berkali kali ia mengucapkan kata yang sama, "Aku benci anak ini, aku benci!" cecarnya seraya memukul-mukul perutnya.


"Amora sadar Amora, jangan sakiti diri mu Amora, jika kau seperti itu sama saja kau membahayakan janin yang kau kandung dan dirimu sendiri," omel Veronica.


Veronica menahan tangan Amora agar berhenti memukul-mukul perutnya, namun Amora terus saja memberontak mencoba melepaskan cengraman Veronica.


Veronica tak kehabisan cara, agar Amora tak menyakiti dirinya sendiri, ia mengikat tangan Amora dengan menggunakan sabuk.


Setelah beberapa saat memberontak, akhirnya Amora tertidur dengan sendirinya,


Melihat perangai putrinya tersebut, Veronica semakin khawatir dengan Amora, dirinya masih binggung,bagaimana caranya agar Amora bisa menerima kandungannya, karna ia juga tak ingin terjadi sesuatu pada putri tunggalnya tersebut.


***


Malam beranjak naik, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam setelah selesai dengan tugasnya Barley kembali menuju kamarnya dan melihat Santi yang masih sibuk mengkutak-katik handphonenya.


Entah kenapa mereka sama-sama merasa canggung.


Santi lebih memilih merebahkan tubuhnya dari pada memulai percakapan dengan Barley.


Santi memiringkan tubuhnya seraya menarik selimut hingga menutupi lehernya, ia sengaja menghindar dari tatapan Barley yang selalu saja membuat jantungnya berdetak kencang.


Meski tak mengantuk Santi mencoba menutup matanya, berharap agar ia bisa terlelap.


Baru beberapa menit, ia memejamkan mata tiba-tiba saja ia merasa ada yang melingkari perutnya tubuhnya pun terasa hangat oleh sapuan lembut hembusan nafas Barley yang memeluknya


Santi terdiam mematung, tiba-tiba saja ia merasa kan geli karna dada bulu yang tumbuh di dada Barley menempel menyentuh punggungnya.


Santi bergidik geli, ia pun menggeser tubuhnya sedikit menjauh.

__ADS_1


"Kenapa?"tanya Barley.


"Ehm, Tuan bulu-bulu di dadamu membuat ku terasa geli," cetusnya.


" Lalu? apa aku harus mencukurnya?"tanya Barley.


Terserah kau saja, tapi jangan dekati jika kau belum mencukurnya, aku benar-benar merasa geli, sahutnya dengan bergidik.


Santi menelan salivanya, melihat bulu yang tumbuh lebah di dada Barley.


"Kau ini memang aneh, kebanyakan wanita, justru menyukainya, kau malah geli," dengus Barley.


Santi tak menjawab, ia hanya tertunduk, satu sisi pelukan hangat Barley membuatnya merasa nyaman, namun di sisi lainnya ia merasa geli saat rambut halus tersebut menyentuh permukaan kulitnya.


Barley bangkit dari tempat tidur menuju meja rias dan membuka laci, kemudian ia menuju kamar mandi dengan membawa beberapa peralatan cukur.


Barley berada di depan cermin yang ada di kamar mandinya," Huh kenapa aku harus menuruti kemauan Santi, dengusnya seraya mengoles krim pencukur ke bagian dada, dagu dan rahangnya. Barley membabat habis semua bulu yang tumbuh di permukaan dada dan beberapa bagian pada wajahnya dengan mesin cukur khusus.


Setengah jam kemudian ia kembali lagi menuju tempat tidur menghampiri Santi yang sedang berbaringi miring.


Barley kembali memeluk Santi erat, kemudian mendaratkan kecupan di ceruk lerehnya, Santi kembali mematung, saat hembusan nafas Barley kembali menyapu hangat permukan kulit lehernya.


"Aku sudah menuruti kemauanmu, sekarang sudah waktunya kau melayani ku," bisik Barley seraya mencium ceruk lejer Santi.


Santi merasakan getaran keseluruh tubuhnya, nafasnya turun naik, saat bibir Barely dengan lembut menyesap pada ceruk lehernya.


Barley membuat Santi kehabisan cara untuk menolaknya, ia mencoba menikmati setuhan-sentuhan lembut Barley.


Barley menarik tubuh Santi dengan lembut kemudian menindih dengan tubuhnya, bibirnya menjejal kearah bibir Santi, gerakan Barley begitu cepat dan aktraktif membuat jantung Santi hampir medelak karna menahan desiran dari gelora hasratnya.


Barley tak berhenti menyesap bibirnya, mengulumnya hingga membuat Santi kebahabisan nafas.


Tangan Barley menyusuri seluruh lekuk tubuh sang istri dari wajah hingga bagian dada sesekali ia menyesapnya lembut permukaan kulit tersebut, hingga meninggalkan tanda kemerahan.


Santi mencoba menikmati permainan Barley, selama ini ia tak pernah merasakan nikmat saat melakukan hubungan suami istri karna suaminya tak pernah berlaku lembut kepadanya, saat mereka melakukan penyatuan.


Tubuhnya mengelinjang merasakan hasrat untuk pertama kalinya pada seoeang pria, dengan gesit Barley melepas satu persatu pakaian di tubuh Santi, hingga membuat istrinya tersebut polos tanpa sehelai benang pun.


Tak ingin berlama lama, Barley memeluk Santi dan mendaratkan kecupan di keningnya sebagai permulaan penyatuan mereka.


Dengan pelan Barley memasukan senjatanya ke dalam goa sempit dan licin tersebut.


Baru saja menancapkan senjatanya pada permukaan goa, Santi sudah berteriak.


"Akw sakit tuan!" serunya. seraya menahan tubuh Barley.


Karna merasa itu hanya alasan Santi, Barley tak memperdulikannya, ia tetap menikmati, rasa nikmat yang ia rasakan ketika senjata tersebut terasa tercengkram erat hingga menghasilkan sensasi berdenyut-denyut.


"Akh, ehm," nikmat guman Barley dengan mata yang merem melek menguncang tubuh Santi.


Santi terus meringis, seraya menangis.


Tak puas bermain di daerah dangkal , Barley mencoba menghentak agar senjatanya masuk hingga ke dasar permukaan goa, namun lagi Santi berteriak karna merasakan Sakit pada bagian perutnya yang terasa keram.


"Akh, Tuan sakit tuan, perutku terasa keram! "seru Santi dengan berteriak kuat, keringat terus mengucur pada wajah yang memucat.


Barley melepaskan senjatanya meski gairahnya tengah memuncak saat itu.


"Kenapa lagi sih Santi?! kenapa setiap kita mencoba berhubungan kau selalu seperti ini, sakit lah, pinggsanlah, dasar istri tak berguna!" cecar Barley dengan kecewa, ia pun berdiri menuju kamar mandi guna menuntaskan hasratnya seorang diri.


Sementara Santi kembali meringis, perutnya kembali terasa ngilu.


Setelah menuntaskan hasratnya seorang diri, Barley kembali memakai pakaian lengkapnya, kemudian menuju bar kecil yang ada di rumahnya.


Barley meminum minuman alkohol kadar rendah untuk menenangkan pikirannya, ia merasa kesal, beberap bulan menikah dengan Santi, ia tak pernah mendapat pelayanan memuaskan.


Bersambung, tinggalkan jejaknya ya drngan like dan bintang lima, serta saran dan komentarnya vote juga boleh 😊

__ADS_1


__ADS_2