
Setelah pertemuanya dengan Marco, Andini menghampiri Barley yang sedang berdiskusi bersama Arief.
Nyonya besar tersebut masuk tanpa mengucap permisi.
"Baiklah Arief jika memang tuan Marco berniat serius, ini bisa jadi keuntungan kita, usaha perhotelan dan perusahaan kontruksi ku bisa berjalan beriringan."Barley.
"Saya pikir juga begitu tuan, tak ada salahnya jika kita mencoba, lagi pula yang keluar uang itu tuan Marco, jika saja dia berniat jahat pastinya dia sendiri yang kehilangan uangnya dan dia yang akan rugi," papar Arief.
"Tapi aku tak suka dengan tatapan matanya pada ku Arief."
"Ha ha ha, apa Tuan pikir dia itu penyuka sesama jenis, hingga Tuan merasa tak nyaman di tatap olehnya." Arief sampai tertawa kecil mendengar ucapan Barley.
"Kau mentertawaiki Arief?!" Barley mendelik ke arah Arief.
Arief mengulum senyumnya, berusaha menahan tawanya.
"Tuan, sejak istri mu hamil, kenapa kau yang berubah jadi sensitif?" tanya Arief.
"Apa maksud mu?" tanya Barley memicingkan matanya.
"Maaf Tuan, bukannya tuan Marco menatap tuan karna merasa tuan mirip seperti putranya, mungkin saja dia rindu dengan putranya, lagi pula aku menang melihat kemiripan antara kau dan tuan Marco, " papar Arief.
Barley menatap sinis ke arah Arief yang seperti mengejeknya.
"Sudalah Tuan, tuan Marco hanya ingin menginvestasikan modal nya bukan untuk mengangkat mu sebagai anaknya." Arief pun mengulum senyumnya.
"Kau meledek ku Arief, jika saja aku punya asisten yang lain, maka sudah ku habisi kau," canda Barley dengan kalimat mengancam.
Andini mendengar semua pembicaraan mereka.
Gawat! tidak bisa di biarkan, Marco pasti akan mencari cara agar memberi tahu Barley jika dia adalah putranya. Tidak bisa di biarkan, sebelum terlambat sebaiknya aku cegah saja, aku tak ingin Barley lebih dekat dengan Marco.
Andini berjalan mendongkak kan kepalanya menghampiri kedua pria tampan tersebut.
"Apa, jadi Marco mau menginvestasikan modalnya pada proyek pembangunan hotel mu?"tanya Andini.
Barley dan Arief langsung menoleh ke arah asal suara.
"Iya Mommy, memannya kenapa?"tanya Barley.
"Barley kau jangan percaya padanya, kau baru mengenalnya, bagaimana jika dia_"
"Mommy! kenapa selalu ikut campur dengam urusan bisnis ku! aku dan Arief bisa mengatasinya, selama ini kami sering berhadapan dengan orang-orang licik,dan kami bisa mengatasinya, benarkan Rief?"
Arief tersenyum menyeringai, "Iya tuan kita harus terbiasa menghadapi orang licik, karna bisa saja orang licik tersebut adalah orang terdekat kita, " ucap Arief bermaksud menyindir Andini.
Andini melirik sinis ke arah Arief.
Lihat saja Arief, hari ini kau bisa bicara sombong Arief, kau lupa jika aku memang licik, bermain api dengan ku maka bersiaplah untuk terbakar.
__ADS_1
"Mommy, jika Mommy tak punya urusan keluarlah dari ruangan ku, karna ada hal penting yang akan ku bicarakan pada Arief, dan aku tak suka di ganggu." Barley.
Andini menyeringai. lagi-lagi Barley menjatuhkan harga dirinya di depan Arief, ia pun keluar dari ruangannya.
***
Di perusahaan Alex subarja.
Seseorang datang menemui tuan Alex dan melaporkan informasi penting tentang tuan Marco.
"Lapor tuan, tuan Marco sedang menemui tuan Barley, Tuan Marco bahkan ingin menjadi investors pada proyek pembangunan hotelnya." suruhan Alex.
Alex mendengus mendengar laporan dari mata-matanya.
"Apa? Marco malah menginvestasikan sahamnya pada Barley?!" tanya tuan Alex.
"Iya Tuan, menurut informasi seperti itu, hari ini tuan Marco telah mendatangi dan menemui tuan Barley, mereka pun sepakat untuk bekerja sama."
Plak.
Tuan Alex menggenggam tangannya dan memukul ke atas meja.
"Apa sebenarnya maksud Marco? kenapa dia malah berpihak pada musuh berbuyutan ku!"
Tuan Alex menggeram, ia pun kembali memukul meja nya.
"Kalau begitu akan ku habisi saja Barley, biarkan tuan Hasta kehilangan pewarisnya, perusahaannya bisa kacau jika tak ada Barley," tuan Alex mengguman dengan senyum menyeringai.
***
Selain ayahnya, kuasa hukumnya pun hadir untuk meminta keterangan langsung dari Amora.
Veronica membawa Fedro untuk menemui putri semata wayang mereka.
Melihat kedatangan ayahnya, Amora menjadi ketakutan.
"Apa seperti ini kelakuan mu Amora?! kau hamil di luar nikah dan sekarang terlibat kasus pembunuhan?! cecar Fedro.
Amora menundudukan kepalanya," Papi tolong aku Papi, keluarkan aku dari sini," ucap Amora.
Veronica menangis setiap kali ia melihat Amora yang terlihat menderita.
"Papi sudalah Papi kasihanilah Amora, sekarang kita pikirkan cara bagaimana agar Amora bisa kabur dari sini," ucap Veronica.
"Apa?" kau gila Mami! kalau kita tertangkap membawa Amora kabur, maka tak hanya Amora tapi kita juga bisa di penjara!"Fedro.
"Tapi Papi, meski pun kita menyewa pengacara terhebat di dunia sekalipun Amora tetap akan di penjara dalam waktu yang lama bukan? kasihan putri kita Papi hiks hiks, " Veronica menangis.
"Mami ini sangat beresiko, Perusahaan Papi bisa hancur dan Papi juga bisa masuk penjara!" tolak Fedro.
__ADS_1
"Hiks hiks, apa artinya kesukses Papi, kita hidup bersenang-senang tapi putri kita semata wajang harus menghabiskan separuh hidipnya di penjara hiks hiks hiks." Veronica.
"Ayo lah Papi, kita bawa kabur Amora sekarang juga," bisik Veronica.
Amora pun merengek setelah mendengarkan penuturan Veronica.
"Papi, tolong aku Papi, lebih baik aku mati dari pada aku di penjara seumur hidup Papi hiks hiks hiks," pinta Amora dengan memelas.
Fedro merasa kasihan melihat Amora yang hanya tinggal tulang di bungkus kulit.
Setelah mempertimbangkan secara singkat, Fedro pun akhirnya setuju.
"Tapi bagaimana caranya Mami?"tanya Fedro dengan sedikit berbisik.
"Begini Amora kau pura-pura saja sakit trus terjadi pendarahan, dengan demikian aku akan meminta mereka membawa mu ke rumah sakit, dan ketika di rumah salik itu, kita punya kesempatan untuk membawa kabur Amora."
Tapi Mami terlalu beresiko, guman Fedro.
"Ah Papi di dunia ini tak ada yang tak beresiko, " ucap Veronica.
"Lalu langkah selanjutnya?" tanya Fedro.
"Kau siapkan helikopter pribadi yang menunggu di helipad terdekad Papi, misalnya di lapangan kosong."
Sebuah, tangga darurat, atau tali bisa kita gunakan untuk kabur dari rumah sakit.
"Biar aku suruh seseorang untuk cek denah rumah sakit, kita akan lihat pintu keluar yang aman."
"Amora harus kabur sebelum pemeriksaan atau setelah pemeriksaan, gunakan apa saja untuk melumpuhkan petugas medis yang menghalangi jalan kita," papar Veronica.
"Terlalu beresiko Mami, kita juga bisa di penjara dalam waktu yang lama, jika tidak berhasil."
Fedro merasa ngeri memikirkan rencana dari Veronica.
"Mami jika sampai rencana ini gagal, maka kita semua akan masuk penjara!"
"Aduh Papi sudah ikuti saja rencana ku, aku yakin semua ini akan berhasil," Papar Veronica yakin.
"Dan Amora, Mami akan berika obat agar perutmu terjadi kontrakasi, gunakan pewarna makanan berwarna merah untuk meyakinkan mereka."
"Ehm baiklah, kapan pelaksanaannya?"tanya Fedro.
"Dalam beberapa hari ini." Veronica.
Amora tersenyum, Akhirnya ada kesempatan ku untuk bebas.
Bersambung
Lalu ba
__ADS_1
Kita pikirkan cara
Ayo