
Dinar sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Arief, ia memang tak pandai memasak, hanya nasi goreng spesial dengan cinta di setiap racikannya.
Kali ini ia menatanya di piring datar dengan menggunakan cetakan berbentuk simbol cinta.
"Ehm, pak Arief ngerti ngak ya kalau aku kasih kode love-love seperti ini ?" ucapnya seraya menata garnish berupa potongan wortel dan nugget yang berbentuk cinta.
"Ngak apa deh, kalau pak Arief ngak suka sama aku, namanya juga usaha, hm."
Ia pun menyeduh teh hangat untuk Arief dan meletakannya di atas nampan.
Dinar adalah keponakan bik Sumi, ia baru saja lulus dari sekolahnya dan ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluaganya.
Maklum saja Dinar terlahir dari keluarga miskin, ia di tinggal sang ayah saat dia masih kecil, sementara ibunya harus rela menjadi TKW di luar negri demi menafkahi Dinar dan kedua adiknya.
Sejak lulus sekolah, ia menyuruh ibunya untuk tak lagi bekerja sebagai TKW, kebetulan beberapa minggu yang lalu, Arief meminta bik Sumi untuk mencari babysitter untuk Asyia.
Dengan semangat Dinar pun menyetujuinya.
Apalagi gaji yang di tawarkan oleh Arief terbilang menggiurkan.
Lima juta perbulan,dengan biaya makan minum di tanggung oleh Arief.
Arief orang yang sangat loyal, ia sengaja memberi gaji tinggi untuk baby sitter Asyia agar mereka semangat dan menjaga Asiya dengan baik.
Dinar juga sudah terbiasa bekerja dan mengurusi adik-adiknya.
Dengan gaji yang luman untuk seorang Dinar, kini ia menjadi tulang punggung keluarganya meski harus merelakan masa mudanya untuk bekerja demi masa depan adik-adiknya yang masih kecil-kecil.
Tentu saja di usia sepertinya saat ini, Dinar sudah bisa merasakan arti cinta, dan untuk pertama kalinya ia menyukai pria yang jauh dewasa darinya, mungkin karna sejak kecil ia sudah di tinggal oleh bapaknya, melihat Arief yang begitu menyayangi Asyia ia jadi terharu dan punya rasa berbeda terhadap Arief, tak hanya mengagumi tapi juga ingin memiliki.
***
Arief menghampiri Meja makan setelah meletakankan Asyia di dalam box bayi.
Arief duduk di meja makan menunggu bik sumi membuatkan sarapan.
Layaknya orang indonesia, Arief memang terbiasa sarapan makanan dengan kandungan karbo yang tinggi seperti lontong, nasi goreng, soto atau sejenisnya.
"Bik, mana sarapannya?!" seru Arief seraya meneriksa pesan chat yang ada di aplikasi pesannya.
Ternyata yang datang bukan bik Sumi, tetapi Dinar.
Dinar tersenyum seraya menyajikan nasi goreng dengan bentuk unik tersebut.
"Hah!"
Arief kaget ketika memperhatikan bentuk dari nasi goreng tersebut, kemudian ia melirik ke arah Dinar yang tersenyum ke arahnya.
Arief menyimpul senyumnya,"Terima kasih Dinar," ucap Arief.
"Sama-sama Pak,"ucapnya.
Dinar pun menuju kamar Asyia seraya sesekali menoleh ke arah Arief.
Arief menikmati nasi goreng tersebut dengan tersenyum, melihat dari potongan wortel dan Nugget yang berbentuk hati, ia bisa curiga jika Dinar punya perasaan khusus terhadapnya.
Bukannya tak mau membalas perasan tersebut, tapi Arief merasa Dinar terlalu belia untuk di jadikan istri.
Apalagi remaja seusia Dinar yang masih labil, ia hanya takut itu perasaan sesaat Dinar saja.
Setelah selesai sarapan Arief kembali memasuki kamar Asyia, di depan pintu kamar ia mendengar Dinar sedang menimang Asyia.
"Duh sayang keponakan bibi yang pinter ini, kamu mandi dulu ya sayang, cup cup,"timang Dinar kepada Asyia.
Uek uek, Asyia menangis ketika di mandikan.
"Cup cup cup Sayang, ngak usah nangis." ucap Dinar seraya membasahi tubuh Asyia, ia sangat berhati-hati, karna di dada Asyia ada bekas luka operasi.
Setelah memandikan Asyia ia pun membukus tubuh Asyia dengan handuk kecil.
"Ehm Sayang, kamu dingin ya Nak, setelah di tutup handuk langsung diam, duh nih bayi beber-bener ngak nyusahkan, cup-cup, jadi makin sayang sama kamu cup cup," ucap Dinar mencium pipi Asyia
__ADS_1
Arief mendengar penuturan dari Dinar, ia pun terharu melihat ada ketulusan di hati gadis polos seperti Dinar.
'Ehm, Apakah Dinar bersedia merawat dan menjaga Asyia jika aku menikahinya.' batin Arief.
' Astafirullah! Arief apa yang kau pikirkan dia gadis lugu , mana mengerti dengan rumah tangga.'batinnya lagi
Arief pun mengetuk pintu kamar yang terbuka, seketika Dinar menoleh ke arahnya.
Tok tok tok
"Dinar! saya pergi dulu Ya, tolong jaga Asyia baik-baik," ucap Arief.
Dinar tersenyum, "Ehm baik Pak."
"Ya sudah saya pergi, "ucap Arief.
Ehm, Dinar tersenyum, ia pun kembali mengurus Asyia.
***
Lenggak lenggok gaya Anggi ketika berjalan melawati koridor di kantor, membuat ia semakin jadi pusat perhatian orang yang melihatnya.
Hari ini Anggi tampil begitu percaya diri, dengan gulungan rambut dan lipstik merah membara, membuat siapa saja bisa salah fokus terhadapnya.
"Wah, mbak Anggi terlihat berbeda," ujar salah satu karyawati yang tersenyum simpul ke arahnya.
Anggi tersenyum.
'Oh Ya? ha ha bearti jimat ini ampuh dong Ya' batin Anggi penuh percaya diri.
Tok tok tok, suara sol sepatu Anggi, dari kejauhan langkah Anggi sudah terendus oleh Chandra, ia pun berjalan mendekati Anggi serta menyapanya.
"Wow, Amazing ,Awesome . is magic," sindir Chandra melihat penampilan Anggi yang tampak begitu berbeda.
Chandra pun mengulum senyumnya.
Bukannya semakin cantik, Anggi justru semakin pede, dengan baju merah yang begitu senada dengan bibirnya yang juga membara, serta lampu sent di kanan kiri membuat penampilannya semakin terlihat norak.
"Wah si Anggi makin pe-de tuh anak ya, mentang-mentang pakai jimat." dengus Chandra
"Ya ampun loh ternyata Ngi! ck ck ck, gue pikir loh bidadari kayangan yang turun ke bumi, ck ck ck, gile bener mantul bener loh, cuantik buanget," puji Chandra padahal dalam hatinya ia tertawa.
Hm, Anggi mengibaskan rambutnya yang menggantung.
"Apa gue bilang Chan, sejak gue pakai jimat itu, gue seperti mendapat ajimumpung, semua orang selalu terpesona dengan gue," ucapnya pe-de.
"Iya Kali ya," ucap Chandra seraya memutar bola mata malasnya.
Tak lama kemudian Arief pun tiba berjalan mendekati mereka, Anggi pun langsung memasang aksinya.
"Eh Chan,pak Arif tuh. Kita lihat bagaimana cara dia menghindari bujuk rayu gue ya, lo lihat reaksi pak Arief nanti," ujar Anggi masih dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
Chandar hanya memonyongkan bibirnya, dengan tatapan pesimis.
Arief semakin mendekat, bibir Anggi komat kamit membaca mantra, kemudian menghembuskannya.
Si Chandra hanya nyengir melihat kelakuan aneh Anggi.
"Selamat pagi, Pak." sapa Anggi dengan genit.
"Selamat Pagi, sahut Arief tanpa melihat ke arah Anggi.
Anggi melongo melihat Arief yang berlalu begitu saja darinya dan masih terlihat cuek.
Arief pun masuk ke ruangannya.
Chandra tersenyum sambil tepuk tangan, plok.. plok...plok..," Gile bener Ngi! muantep buanget hembusan pelet Luh, ha ha," sindir Chandra.
Anggi tersenyum kecut.
"Eh itu karna pak Arief ngak lihat Gue, kalau lihat pasti dia klepek-klepek tuh!" sangkal Anggi.
__ADS_1
"Ehm, mungkin kalau pak Arief ngak mempan, dia mah orangnya taat banget ibadahnya, loh coba sama tuan muda saja Ngi! siapa tahu berhasil, he he."
Chandra semakin mengompori.
"Ih gile luh, ia kalau dia kepet, kalau kagak mampus gue di gantungnya! Bisa pengangguran gue." Anggi.
"Ya, katanya jimat loh sakti, kenapa sekarang justru loh yang ragu?" tanya Chandra menantang,ia pun melirik ke arah Anggi yang terlihat bingung.
Sebenarnya Anggi itu gadis yang polos namun terlalu berambisi, jadi otaknya ngak balance.
***
Setelah kedatangan Arief mereka di kejutkan dengan seorang wanita cantik yang bergaya ala wanita karir dengan tubuh semampai dan pakaian brandednya.
Wanita itu tak kalah pe-de dengan Anggi hanya saja mereka beda kelas.
Dengan liukan tubuhnya yang gemulai, seperti melangkah di atas catwalk, wanita tersebut melangkah anggun mendekati Anggi dan Chandra.
"Wah Ngi, lihat tuh saingan loh! kayaknya kalung jimat loh ngak mempan dengan harga satu juta, mesti minta sama mbah misan kalung seharga sepuluh juta nih, biar sepadan sama saingan loh, he he " sinir Chandra dengan tawa terkekeh.
Anggi menatap perempuan tersebut dengan tatapan tak suka.
Cintya menghampiri mereka.
"Ehm bisa bertemu dengan tuan Barley?" tanya Cintya anggun.
"Maaf ada perlu apa ya?"tanya Chandra.
"Hm urusan bisnis," ucap Cintya dengan tatapan merendahkan kedua orang yang ada di hadapannya.
"Maaf Nona, tuan Muda bukan orang yang mudah untuk di temui, jadi segala urusannya, harus melalui asistennya terlebih dahulu,"ucap Anggi tegas.
Cintya menatap sinis ke arah Anggi," Saya rasa jika saya yang ingin menemui tuan muda, pasti dia akan langsung menerima kehadiran saya, katakan saja di mana ruangannya?!" tanya Cintya dengan sedikit memaksa.
"Di sini bukan kantor tuan Barley, saya asistennya, jadi sebelum anda menemui beliau, anda harus melalui saya terlebih dahulu," ucap Chandra.
Cintya menatap sinis ke arah keduanya.
"Baiklah bilang saja pada tuan Barley, jika Cintya putri tuan Alex Subarja ingin menemuinya," ucap Cintya ketus.
"Baik, saya hubungi tuan sekarang." Chandra.
Chandra langsung menghubungi Barley.
"Hallo Tuan! putri Alex Subarja, nona Cintya ingin bertemu dengan anda." Chandra.
"Suru dia menemui ku di ruangan ku." Barley.
"Baik Tuan."
Chandra menutup telponya.
"Ayo Nona saya antar ke ruangan tuan muda," ajak Chandra, ia pun berlalu.
Cintya pun mengikuti kemana Chandra membawanya.
Keduanya pun berlalu meninggalkan Anggi.
Anggi tersenyum menatap ke arah kedua orang yang berlalu darinya tersebut.
"Hm, waktunya gencatan senja, kini tinggal gue dan pak Arief, kita lihat saja apa kah iman pak Arief akan goyah kali ini ? he he."
Anggi pun masuk ke ruangan Arief membawa beberapa berkas seraya tepar pesona.
***
Bersambung, terima kasih ya reader atas dukungannya, nantikan episode selanjutnya, agar tak ketinggalan tekan ikon ♡ untuk favorite, nanti setiap up terbaru akan ada notifikasinya.
Semoga kita sehat dan bahagia selalu.
Sambil nunggu up selanjutnya mampir di novel author yang lainya yuk, di sini kalian bisa tertawa, menangis, merasakan romantis, kisah haru dan seru yang bisa jd inspirasi.judulnya : Kenapa Harus Menikah Dengan Mu, klik profil author ya.
__ADS_1
Berikut covernya.