
Segala cara Anggi lakukan demi mendapatkan hati Arief.
Kali ini ia meminta Chandra untuk menemaninya berbelanja pakaian bayi untuk Asyia.
"Ngi loh ngapain sih beli baju bayi segala? loh lagi hamidun? Katanya loh masih perawan? tapi malah berbelanja pakaian bayi. " tanya Chandra sambil menyetir sementara Anggi masih berbenah dengan make-upnya.
"Enak saja loh, gue mau lihat keponakannya pak Arief, alias cari muka Chan. Kali saja pak Arief tergugah melihat ketulusan gue." Anggi.
"Is ish Tulus dari mananya? Emang loh mau ngasuh tuh bayi kalau seandainya jadi istri pak Arief?" tanya Chandra seraya melirik ke arah Anggi.
"Ya enggak dong! Apa gunanya gue kawin sama presiden direktur tapi masih saja ngasuh bayi. Ya cari babysister lah untuk keponakannya. Anak gue saja belum tentu gua yang urus. " Anggi.
"Eh mulai lagi menghayalnya. Nih orang kalau nggak kesampaian bisa gila," ucsp Chandra sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Diam loh sewot aja, "dengus Anggi.
Mereka pun masuk ke dalam toko perlengkapan bayi.
Setelah memilih beberapa pakaian untuk bayi perempuan, mereka langsung menuju rumah Arief.
***
Santi berada di meja riasnya, sedang berdandan, rencananya hari ini mereka akan mengunjungi Asyia.
Selain mereka berdua, Barley juga mengajak tuan Marco dan Wati.
Barley membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri tengah berhias.
Hm
"Pantas saja tak ada yang menyambut kedatangan ku di depan pintu, ternyata istri ku tengah sibuk berdandan rupanya, " ucap Barley sambil melingkarkan lengan nya pada perut Santi kemudian mencium ceruk leher sang istri, seraya menyesap aroma yang selalu ia rindukan tersebut.
Santi tersenyum seraya meraba wajah suaminya.
"Aku ingin terlihat lebih cantik Sayang, agar sepadan dengan mu, " ucap nya seraya menyandarkan kepala pada dada bidang sang suami.
"Tapi aku lebih suka melihat mu tanpa make-up tebal. " Barley.
Santi membalikan tubuhnya, menatap sang suami.
"Ehm aku hanya ingin jadi yang terbaik untuk mu," ucapnya seraya menatap wajah Barley dengan tatapan berbinar.
Barley tertawa kecil.
"Kau adalah yang terbaik, dan tak akan pernah bisa berubah, " ucapnya sambil mengecup mesra bibir sang istri.
Beberapa saat mereka pun saling menautkan bibir mereka, bercumbu dengan mesra.
Santi menarik wajahnya, karna merasa sesak hampir kehilangan napasnya, akibat luumatan bibir Barley.
"Sayang, ayolah. Nanti terlalu malam. Setelah dari rumah bang Arief kita singgah kerumah orang tua ku."Santi.
"Iya Sayang, Aku bersiap dahulu. " Barley.
***
__ADS_1
Barley dan Santi keluar dari kamar dengan bergandengan mesra.
Dan yang tak kalah mesra adalah pasangan yang sedang di mabuk cinta lainya.
Tuan Marco dan Wati. Keduanya terlihat sedang bercanda dan mengobrol mesra.
Wajah Tuan Marco begitu bebinar, cinta tulus yang ia damba ternyata datang dari seorang wanita yang sederhana seperti Wati.
Bukan pengusaha atau selebriti.
Karena ia tak mau lagi terluka akibat cinta semu.
"Ayo Daddy kita berangkat ." Ajak Barley.
Dua pasangan beda generasi namun sama-sama terlihat mesra tersebut berjalan bergandengan tangan melewati koridor.
Rasa bahagia dan bangga yang di rasakan oleh Wati ketika berjalan melewati koridor, bersama seorang pengusaha kaya raya.
Begitu pun Tuan Marco, meski Wati tak secantik Andini atau pun istrinya di Milan, namun bersama Wati hatinya merasa tenang.
Kini bukan lagi Munir yang menemaninya kemana saja, tapi Wati.
Wanita yang akan di nikahinya sebentar lagi.
Tuan Marco berencana menikahi Wati minggu depan, mereka akan menikah di kampung Wati.
Semua rencana sudah di persiapkan oleh Barley tanpa merepotkan kan tuan Marco sendikit pun.
Karna kesibukannya tersebutlah Barley tak punya banyak waktu untuk Santi.
***
Suasana malam itu mendadak tegang dan mencengkam, karna wajah tuan Alex yang terlihat sangar.
Semua terlihat tak berselera menyantap makanan mereka, bayangan jadi gembel pun seketika memenuhi isi kepala mereka.
Setelah makan malam, rencananya tuan Alex akan berbicara pada sang putri tentang rencana menjodohkannya dengan pak Demian.
Ting, sendok dan garpu di letakan di atas piring.
Gleak... segelas air minum mendorong makanan yang terasa menyangkut di tenggorokannya.
"Cintya! Papi ingin bicara." Tuan Alex.
"Bicara saja Papi. " Cintya.
"Cintya, hanya ada satu cara agar perusahaan kita bisa bangkit kembali. Dan tentu saja kita bisa menyelamatkan kan perusahaan dan membayar hutang-hutang perusahaan."
tuan Alex sengaja membicara pada saat mereka telah selesai menikmati santapan makan malam.
"Apa itu Papi? "tanya Cintya sambil memainkan sendoknyanya di atas piring.
Tuan Alex menghempaskan napasnya dengan kasar.
"Kamu harus mau menikah dengan tuan Demian." Tuan Alex.
__ADS_1
Seketika Miranda memalingkan wajahnya ke arah tuan Alex.
"Papi! maksud Papi tuan Demian pengusaha real estate itu? " tanya Miranda syok.
"Iya Mami, "sahut tuan Alex dengan berat.
Cintya menatap wajah tuan Alex.
"Asal dia pengusaha kaya. Its okay. I am agree." Cintya.
Tuan Alex menelan ludahnya. Mendengar pernyataan dari putrinya tersebut.
Pasalnya Cintya tak mengetahui siapa tuan Demian.
Miranda mengusap dadanya.
"Papi apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nasib kita. Kenapa harus mengorbankan Cintya. Dia itu putri kita satu-satunya."Miranda.
Cintya terlihat santai, ia mengira tuan Demian adalah pengusaha tampan seperti Barley.
Tentu saja dia setuju.
"Tak apa Mami. Hanya untuk beberapa saat saja, paling juga beberapa tahun lagi. Tua bangka tersebut mati," cetus tuan Alex.
Uhuk uhuk uhuk, seketika Cintya tersedak setelah meminum air di gelasnya.
"Apa? Tua bangka? " tanya Cintya syok dengan mata yang melotot.
"Iya Cintya. tuan Demian memang kaya raya, tapi dia itu pria tua berumur enam puluh lima tahun dan memiliki banyak istri! " jelas Miranda.
Cintya makin tersentak kaget.
"Apa? Tidak Papi! aku tak mau menikahi pria tua. Aku ingin menikah dengan CEO tampan seperti Barley hiks hiks. "
Cintya syok dan langsung menangis histeris.
Hiks hiks hiks.
"Cintya! Tapi hanya itu cara satu-satunya untuk menyelamatkan nasib kita dan perusahaan Papi. Dan setelah perusahaan Papi bangkit lagi kita akan balas dendam terhadap Barley!" tuan Alex.
"Hiks hiks, kenapa aku yang jadi korban nya Papi. Aku merasa jijik jika harus menikah dan tidur seranjang bersama pria tua, yang bahkan lebih tua dari Papi hiks hiks. "Cintya
Cintya bangkit dan berlari sambil menangis menuju kamarnya.
"Papi! apa tak punya cara lain lagi? kasihan Cintya Papi," tawar Miranda.
"Justru Papi tak punya cara lain lagi Mami, bahkan Papi rela menundukkan wajah papi di hadapan tuan muda yang sombong itu untuk menghindari semua ini." Tuan Alex.
Kedua suami istri tersebut saling menatap, suasa terasa tegang kembali.
Sementara Cintya menangis terisak di kamarnya, pilihannya begitu sulit. Pilih jatuh miskin atau menikahi kakek-kakek tua yang memiliki banyak istri simpanan.
Bersambung, dukung author dengan like komentar dah hadiah dan votenya reader. Terima kasih banyak, semoga berkah Aamiin.
Baiklah
__ADS_1