
Setelah seminggu pasca pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Winda, keadaan Dinar semakin menurun, Dinar terlihat pucat dan lemah, karna sudah beberapa hari ia tak makan.
Selain itu ia juga mengalami muntah-muntah layaknya orang ngidam.
Karna keadaan Dinar yang tak memungkinkan, Arieflah yang mengambil alih tugas-tugas Dinar sampai Dinar sembuh.
Terkadang terlintas di pikiran Arief untuk mencari Babysitter untuk Asyia, jika keadaan Dinar masih tak memungkinkan.
Dinar terbaring dengan tubuh yang semakin kurus.
Baru saja dokter Winda melepas infusannya, karna sudah hampir seminggu Dinar menggunakan infus dan dirawat sendiri oleh Arief.
Arief membatu menggantikan tugas istrinya untuk mengasuh Asyia, mulai dari terbangun malam untuk membuat susu dan menganti popok, hingga memandikan dan memberinya susu formula.
Tak hanya itu ia juga harus menjaga Dinar yang sedang terbaring lemah tak berdaya.
Meski repot, tapi Arief telihat menikmati perannya sebagai suami siaga.
Arief lah yang bertugas membereskan segala kebutuhan Asyia.Mulai dari memandikan dan memberinya susu dari ia terbangun hingga Asyia tertidur kembali, Untung saja bayi itu tak pernah rewel dan jarang sekali menangis .
Setelah mengurusi Asyia , Arief Kemudian membantu Dinar untuk bangkit serta menopang tubuh istrinya menuju kamar mandi, karna kondisi Dinar yang menurun akibat ngidam yang ia rasakan, berjalan pun Dinar merasa seperti mengambang, hingga setiap hendak ke kamar mandi, tubuhnya harus di topang agar tak jatuh.
Setelah mempersiapkan air hangat untuk sang istri, Arief memandikan Dinar.
Dinar merasa sungkan ketika Arief melepasakan semua penutup tubuhnya.
"Mas, jangan di buka semuanya.Aku malu, "ucap Dinar jengah.
Arief tersenyum, "Kenapa? apa kau takut aku perkosa?" tanya Arief dengan nada bercanda, ia pun mencolek hidung Dinar.
Dinar tersenyum," Ngak lah Mas, aku rela kok diapain saja sama kamu," sahut Dinar lirih.
"Trus kenapa malu? "tanya Arief lagi sambil menyiram air hangat tersebut ke tubuh Dinar.
Dinar tersenyum jengah.
"Kalau di kamar mandi malu, tapi di atas ranjang, ngak malu lagi," jawab Dinar modus.
"Ehm, bisa saja.Apa bedanya?"
"Ngak ada bedanya, cuma di atas ranjang langsung praktek. Di sini kan ngak bisa!"sahut Dinar kembali.
"Ehm jadi mau di praktekin nih?" tanya Arief sambil mencoletkan busa sabun ke hidung Dinar.
Ehm, Dinar tersenyum tersipu.
__ADS_1
Sebenarnya Dinar merasa rindu untuk melakukan penyatuan dengan suaminya.
Karna sudah semingu ini Arief tak pernah menyentuhnya.
"Nanti ya. Setelah keadaan kamu membaik, sebenarnya aku juga ingin, tapi kesehatan kamu dan calon bayi kita jauh lebih penting dari pada semua itu," ucap Arief sambil mencium kening Dinar.
"Iya Mas," jawab Dinar sambil menatap bangga pada suaminya.
"Ayo aku bantu mandikan kamu,ucap Arief"
Hm.
Arief pun membantu Dinar mandi dengan menggosok tubuh istrinya dengan busa sabun kemudian menyiramnya dengan air hangat.
Bola mata Dinar memerah karna merasa haru, semakin hari ia semakin jatuh cinta pada suami tersebut.
Setelah membantu Dinar mandi Arief membantu mengenakan handuk melilitkannya pada tubuh sang istri
Dinar tersenyum.
"Mas aku mau mau dong di gendong ala bridal style," pinta Dinar dengan manja.
Arief tersenyum, ia pun mengangkat tubuh istrinya menggendongnya ala brydal style.
"Lama-lama kamu kayak Asyia ya, di mandiin trus di gendong kayak gini, "ucap Arief sambil menatap istrinya dengan mesra.
"Bukanya seminggu ini aku sudah memanjakan kamu." Arief.
"Iya Mas, aku merasa beruntung sekali bisa memiliki kamu Mas, kamu baik sekali, "ucap Dinar sambil menatap suaminya dengan tatapan berembun.
Arief langsung mendaratkan kecupan pada kening istrinya seraya meletakan tubuh Dinar dengan Hati-hati.
"Aku yang beruntung memiliki mu,aku pikir kau kau sama seperti gadis lain yang seumuran dengan mu. Yang masih mau bermain-main, tapi ternyata aku salah, Meski masih muda kau bisa bertanggung jawab dengan tugas mu sebagai istri dan ibu untuk Asyia." Arief.
"Hm, itu karna aku mencintai mu Mas," ucap Dinar dengan bola mata berpendar dan berembun.
"Aku juga mencintaimu, "ucap Arief sambil mencium kening dan perut Dinar.
Setelah membantu Dinar mengenakan pakaiananya.
Arief pun menyuapi Dinar makan, karna terlalu sering muntah tubuh Dinar terasa lemas, hingga ia hanya bisa berbaring.
Arief terpaksa bekerja dari rumahnya sambil mengurusi Dinar dan Asyia.
Meski repot.Namun tak sedikit pun ia mengeluh justru ia bersyukur karna sebentar lagi buah buah hatinya bersama Dinar akan lahir ke dunia.
__ADS_1
***
Barley sedang menggendong putranya,menimangnya dan menciumnya, sementara Santi sedang menikmati sarapannya.
"Sayang, jangan tidur terus, ayo bangun main sama Daddy, sebentar lagi kalau kakek-kakek itu datang, mereka pasti berebut lagi untuk menggendong kamu, Daddy jadi tak punya kesempatan, untuk main sama kamu,"gerutu Barley.
Sejak semalam kedua Daddynya itu selalu berebut untuk menggendong putranya tersebut, hingga Barley tak punya kesempatan.
Barley terpaksa mengusir mereka yang tak mau pulang ke rumah masing-masing.
Bahkan putranya tersebut selalu menangis karna terus di ganggu para opa-nya.
"Ayolah sayang buka mata kamu," rengek Barley yang belum pernah melihat anaknya tersebut membuka mata, karna selalu tertidur.
Santi tersenyum mendengar suaminya bicara.
"Sayang bayi yang baru lahir memang jarang sekali membuka matanya." sahut Santi.
"Hm, begitu kah? "
"Iya sayang." Santi.
Setelah sarapan santi berniat ingin menyusui putranya.
"Sayang bawa sini putra kita! aku ingin menyusuinya," pinta Santi.
Barley pun mendekati istrinya kemudian menyerahkan putranya tersebut kepada sang istri.
Santi membuka kancing piyamanya, mencoba meneteki putranya tersebut meski air susunya belum keluar hanya menetes.
"Memangnya ada airnya Sayang?" tanya Barley. Ia pun duduk di belakang Santi memeluk istrinya sambil memperhatikan putra mereka yang menyusu.
"Belum ada Sayang. Tapi dengan menyusun seperti ini akan meransang lancarnya asi. Aku ingin beri yang terbaik untuk putra ku." ucap Santi sambil tersenyum menatap sang putra yang begitu tampan.
Barley memeluk istrinya," Terima kasih sayang, kau sudah berjuang selama ini, dari mulai mengandung hingga melahirkan. Aku juga akan berusaha jadi suami dan Ayah yang baik untuk kau dan putra kita," ucapnya kemudian mencium pipi istrinya.
"Ehm, aku juga bahagia bisa memiliki putra yang tampan sama seperti mu." Santi.
"Sayang kita beri nama apa putra kita ini? " tanya Santi yang baru terpikir olehnya.
"Ehm, aku sudah punya nama untuk putra kita, tapi aku juga ingin Kakek kaleknya ikut andil dalam pemberian nama putra kita." Barley.
"Ehm, kau benar sayang, bisa tersinggung mereka jika tak ada nama mereka pada nama belakang putra kita, tapi aku binggung bagaimana menyatukan dua nama keluarga. Apalagi nama Daddy hasta dua karakter, Harus berapa karakter nama putra kita. " Barley.
"panjang sayang, sepanjang jalan kenangan, "sahut Santi dengan bercanda.
__ADS_1
Bersambung. Hm, mungkin ada dari reader yang ingin menyumbang nama untuk putra Santi dan Barley?