Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kembalinya Tuan Demian


__ADS_3

Lastri dan beberapa orang asisten rumah tangganya membantu membopong Cintya


Mereka pun langsung membawa Cintya untuk masuk kedalam mobil.


Di dalam mobil Cintya merasakan sakit pada perutnya yang mulai kontraksi.


"Akh, sakit!" teriak Cintya berkali-kali.


"Aduh Mbak sabar ya, atur napas dulu. Jangan melahirkan di dalam mobil, " ucap Lastri sambil mengipas ngipas Cintya.


Ia menyangka Cintya kepanasan, padahal saat itu Cintya sedang mengeluarkan keringat dingin karna menahan rasa sakitnya.


"Akh! sakit!" teriak Cintya lagi, suasana pun terasa mencengkam.


"Pak, lebih cepat lagi! " seru Lastri.


"Aduh sakit sekali, hu hu hu."Cintya meringis sambil mengatur napasnya.


."Aa Beb! hiks hiks hiks, dimana kamu?! kenapa kamu ngak muncul juga, padahal sebentar lagi aku melahirkan anak mu, hiks hiks," tangis Cintya di tengah-tengah menahan rasa sakitnya.


Lastri sebenarnya tahu di mana suaminya.


Karna merasa iba, istri sirih tuan Demian tersebut menelpon tuan Demian dan memberi tahu keadaan Cintya.


"Hiks, hiks, aduh sakit sekali, keluh Cintya."


Keadaan Cintya pun semakin lemah, darah terus mengalir pada bagian bawah tubuhnya.


Cintya pun pingsang di dalam mobil.


Lastri panik melihat Cintya yang tiba -tiba pingsan.


"Aduh bagaimana ini? " tanya Lasti, ia takut jika terjadi sesuatu pada Cintya. Tentu saja ia akan di tuntut.


Untung mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit, jadi Cintya segera di tangani oleh petugas kesehatan.


Karna keadaanya darurat, ia pun harus menjalani operasi.


Lagi pula Cintya hamil anak kembar.


Setelah bebetapa saat menjalani pemeriksaan


Cintya langsung si bawa ruang operasi dan menjalani operasi cesar.


Lastri menunggu di depan kamar operasi dengan perasaan gelisah.


Di ujung lorong ia melihat


seorang lelaki tua berjalan dengan menggunakan tongkat dengan di kawal oleh beberapa orang bodyguar.


Tuan Demian pun menghampirinya.


"Lastri di mana Cintya?" tanya tuan Demian.


Lastri mengkerucutkan bibirnya.


"Akang teh tega pisan sama sama Teteh, tega mengkhianati cinta Teteh. hiks hiks," ucap Lastri sambil memukul dada kering tuan Demian.

__ADS_1


Tuan Demian sempoyongan hampir saja tubuhnya terlentang di atas lantai,karna dorongan Lastri.


Beruntung ada bodyguar yang membantu menolong tuan Demian, hinga lelaki kurus yang tinggal tulang tersebut tak sampai ambruk ke lantai.


"Aduh Teh, Akang baru saja menjalani terapy akibat sakit pada tulang belakang Akang, sekarang malah di dorong. Ntar kalau engselnya lepas bagaimana?" ucap tuan Demian dengan tubuh yang gemetar mengusap pinggangnya.


"Abisanya Akang bohong. Katanya ngak mau nikah lagi. Eh ternyata kini malah punya istri mana hamil lagi. Pantesan Akang sudah jarang goyang sama Teteh. "


Lastri pun merajuk.


Tuan Demian sendiri coba untuk membujuk istrinya tersebut.


"Maaf teh, Akang khilaf, "ucapnya seraya mencolet hidung Lastri.


"Hiks hiks,cukup Akang!Aku tak sanggup lagi hidup dengan Akang." Lastri pun menepis tangan tuan Demian, kemudian berlalu darinya.


"Teteh jangan tinggalkan Akang Teh !" seru Tuan Demian ketika melihat kepergian Lastri.


Tapi Lastri tak peduli ia pun tetap berlalu dari pria tua tersebut.


Tuan Demian hanya bisa menatap sedih kepergian istrinya, karna saat ini ia sudah tak berdaya. Tubuhnya terasa semakin renta, bahkan berjalan pun sudah terbungkuk-bungkuk dan harus mengunakan tongkat.


***


Miranda terlihat dari ujung lorong dengan mendorong kursi roda suaminya,mendengar berita tentang Cintya ia pun merasa khawatir.


"Bagaimana keadaan Cintya menantu? " tanya Miranda.


"Sedang menjalani operasi cesar, semoga saja ia dan bayi selamat, "ucap tuan Demian sambil mendaratkan bokongnya pada kursi tunggu.


Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka dan suster membawa dua bayi kembar.


"Suami nyonya Cintya!" seru suster tersebut.


Dengan pelan tuan Demian melangkah masih menggunakan tongkatnya.


Kini tuan Demian berada di hadapan suster tersebut.


Suster pun tersenyum ke arah tuan Demian.


"Selamat Pak, cucunya kembar sepasang," tutur suster tersebut.


Tuan Demian cuma bisa nyengir, ia sendiri malu untuk mengakui jika bayi tersebut adalah anaknya.


"Karna kondisinya masih lemah, kami bawa keruang perawatan bayi ya?"


"Ehm suster tapi bagaimana dengan keadaan ibunya? " tanya tuan Demian lagi.


"Oh, ibunya selamat, meski sempat terjadi pendarahan sebelum proses persalinan."


"Alhamdulilah," ucap Miranda mengucap syukur atas berita bahagia tersebut.


***


Setelah siuman keadaan Cintya berangsur membaik, ia pun di pindahkan ke ruang perawatan.


Beberapa jam setelahnya Cintya tersadar, ia menerjab-nerjabkan matanya melihat sekeliling dan bola matanya berhenti mengedar, pada suatu objek kasat mata. Yakni seorang lelaki tua yang sedang berdiri menggunakan tongkat.

__ADS_1


"Aa' Aa' hiks hiks Aa kemana saja? aku kangen hiks hiks ," tangis Cintya.


Awalnya perasaan cinta tersebut muncul karna hormon kehamilannya,namun seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu tumbuh dengan tulus di hatinya.


"Aa' jangan tinggalkan Eneng lagi ya A' hiks hiks. Eneng kangen! "Cintya.


Tuan Demian pun terharu mendengar penuturan Cintya yang menangis karna merindukannya


"Hiks hiks hiks, ia Neng. Aa janji ngak akan meninggalkan Eneng lagi hiks hiks." Keduanya pun menangis haru degan saling memeluk.


Ehm,Cinta memang susah di tebak, datang secara diam-diam pergi pun tanpa bilang-bilang


****


Ssudah beberapa hari pasca operasi, Dinar akhirnya di perbolehkan untuk pulang membawa bayinya.


Di rumah ia sudah di sambut dengan kedatangan ibu dan adik-adiknya.


Dengan perasaan bahagia, ia turun dari mobil menggendong bayi tersebut.


Saat itu Asyia dan pengasuhnya juga ikut menyambut Kedatangannya.


Asyia menangis melihat Dinar yang datang menggendong bayinya.


Ia pun menyodorkan kan tangan mungilnya meminta Dinar menggendongnya


"Oh, Asyia kangen Ya, cayang," ucap Dinar sambil mencium pipi Asyia.


Karna belum bisa menggendong Asyia, Arief pun meraihnya dari tangan Delia.


Tanpa sengaja tanganya menyentuh tangan Arief, secara reflek ia pun melihat ke arah pria tampan yang ada di hadapannya.


Seketika aliran darahnya mengalir deras hingga jantung berdetak kencang.


Delia langsung menundukan wajahnya ia sendiri tak mampu memungkiri pesona majikannya tersebut.


Dinar melihat gelagat yang tak biasa dari Delia yang wajahnya tertunduk merona.


Ia pun menatap sinis ke arah Delia.


Sementara itu Ningsih langsung menyambut putranya tersebut dan membawanya.


Ia begitu bahagia bisa melihat dan menggendong cucunya.


Dinar yang cemburu, langsung menggandeng mesra suaminya dan meminta untuk membawa Asyia ke dalam kamar mereka.


Delia kembali ke dalam kamarnya, ia tak tahu perasaan apa yang tumbuh di hatinya saat ini.


Kenapa pesona sang majikan tak juga luntur dari ingatanya, padahal baru pertama kalinya ia menatap wajah Arief.


'Ya Tuhan, semoga ini hanya perasaan mengagumi tanpa berharap ingin memiliki,' batin Delia.


Tiba-tiba saja wajah tampan dengan tatapan teduh tersebut kembali melintas di benak Delia.


"Ya Tuhan. Aku tak boleh jatuh cinta padanya. Dia sudah memiliki anak dan istri," guman Delia.


Bersambung guys, mohon dukungannya dong vote, like saran dan hadiah-hadiahnya. masih penasaran dong cerita selanjutnya. dukung terus author ya. terima kasih love u All

__ADS_1


__ADS_2