Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Memilih Pisah


__ADS_3

Santi menyapu air matanya, menyesali diri, kenapa harus terjebak dengan pernikahan bodoh ini.


"Aku harus meminta tuan muda untuk menceraikan ku, aku tak ingin terjebak pernikahan bersamanya, hiks hiks hiks," suara tangis Santi pecah, ia sendiri tak mengerti kenapa ia bisa merasa sesakit itu.


***


Setelah puas bernostalgia dengan sejuta kenangan mendiang Sania, Barley kembali ke ruang tamu, dan melihat secangkir minuman hangat.


Barley kembali mendarat kan bokongnya di atas Sofa sembari merentangkan kedua lenganya pada sandaran sofa.


Beberapa detik berlalu, ia habiskan untuk menguasi kembali emosinya yang bergejolak, sungguh cinta membuatnya hampir gila.


***


Di dapur Asti sibuk menyiapkan makan malam mereka, ketika menyadari Santi tak lagi kembali setelah mengantar minuman suaminya, Asti keluar menemui Barley yang sedang menyerup minumannya.


"Nak, di mana Santi?"tanya Asti pada Barley.


"Ehm, bukannya dia tadi bersama ibu?" Barley balik bertanya.


"Iya tadi Santi mengantar minuman untuk mu setelah itu ia tak kembali ke dapur," papar Asti.


Barley menaikan satu Alisnya.


"Coba ibu lihat di kamarnya," Asti menuju tangga menuju kamar Santi.


Sesampainya di depan pintu kamar Santi, Asti mendengar suara tangis.


"Santi! Santi!"teriak Asti.


Menyadari Asti yang memanggilnya, Santi segera menghapus air matanya.


"Sebentar Bu, Santi sedang berganti pakaian! seru Santi dari dalam kamanya,


" Tapi kamu tak apa-apakan Nak?"tanya Asti.


"Iya Bu Santi baik-baik saja!"Santi.


Asti kembali turun, saat melewati ruang tamu ia kembali bertemu Barley.


"Bagaimana Bu? apa Santi ada di kamarnya," tanya Barley.


"Iya, dia ada di kamarnya, katanya sedang mengganti pakaiannya."Asti.


Beberapa menit kemudian, Santi turun dari lantai atas dengan pakaian yang berbeda, rambutnya terlihat basah dengan mata yang sedikit memerah.


Tanpa melihat kearah Barley apalagi menyapanya Santi kembali menuju dapur.


Sementara Barley menatap heran kearah Santi.


Makan malam pun tersaji di atas meja, mereka pun berkumpul di meja makan.


Asti dan Harjo duduk bersebelahan, begitupun Barley dan Santi.


"Santi , malam ini kalian menginap saja di rumah ini," ajak Asti.

__ADS_1


Hm, Barley berguman seraya melirik kearah Santi.


"Iya Bu, Santi akan menginap di sini," Sahutnya dengan datar.


Barley terlihat kesal, karna Santi langsung menyetujui permintaan ibundanya tanpa ijin terlebih dahulu padanya.


Setelah selesai makan makam dan merapikan meja makan, Santi langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, meninggalkan Barley yang sedang mengobrol bersama pak Harjo.


Barley menatap Santi yang sepertinya mengacukannya,dan pak Harjo menyadari hal itu.


"Maafkan Santi ya Nak, dia memang begitu keras kepala, suka ngambek dan manja," tutur Harjo yang merasa tak enak hati.


Setelah berbincang dengan ayah mertuanya, Barley menuju kamar Santi.


Barley mencoba membuka pintu kamar Santi yang terkunci.


Tok..tok..tok..,


Santi beranjak dari tempat tidur, kemudian membuka pintu kamarnya.


"Tuan kau masih di sini?"tanya Santi.


"Memangnya kenapa jika aku masih di sini?"tanya Barley.


Santi menutup kembali pintu kamarnya, kemudian kembali berbaring di atas tempat tidurnya.


Begitupun Barley yang langsung mendaratkan bokongnya di atas kasur empuk.


Santi memiringkan tubuhnya membelakangi Barley.


"Semua kemauan mu sudah ku turuti, bahkan tanpa ijin ku kau berani menyetujui permintaan ibumu untuk menginap di sini," dengus Barley.


Santi langsung mengalihkan pandanganya kearah Barley dengan membalikan tubuhnya.


"Tuan, bisakah kau berbaik hati pada ku?" tanya Santi seraya menatap lekat netra bening suaminya.


"Katakan saja apa mau mu?!" Barley.


Santi bangkit dari baringnya duduk di samping Barley.


"Tuan, bolehkah aku jujur pada mu? tentang perasaan ku?"tanya Santi seraya menelan salivanya.


"Katakan lah?"ucap Barley.


"Aku tak sanggup menjalani pernikahan ini lagi, Tuan, aku ingin segera meng akhirinya" ucap Santi dengan bibir gemetarnya.


Barley menelan salivanya, menatap netra Santi yang berembun.


"Tapi kenapa? aku sudah mencoba menjadi seperti yang kau mau?" ucap Barley lirih.


"Iya Tuan, aku tahu kau tak mencintaiku, kau hanya mencintai kakak ku, pernikahan yang tak di dasari atas cinta, tak akan membuat kita bahagia, kau bisa mencari wanita yang lebih baik dari ku, kau punya segalanya, untuk apa kita saling menyiksa diri dengan bersandiwara, pura-pura bahagis," tutur Santi seraya menatap lekat pada Barley.


"Apa itu bisa membuatmu bahagia?" tanya Barley kesal.


"Iya aku rasa begitu," jawab Santi.

__ADS_1


Barley membuang wajahnya, kearah lain setelah beberapa saat diam ia kembali membuka suaranya.


"Kau benar, untuk apa aku membuang-buang waktu ku dengan mu, sementara aku bisa menikah dengan wanita yang lebih baik dari mu," papar Barley ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian menarik selimut.


Santi menangis semalaman pilihan yang begitu sulit baginya, di saat cinta mulai tumbuh di hatinya, ia harus melupakan Barley, karna tak ingin terjebak pernikahan yang tak berlandaskan cinta dengannya.


"Sebelum cinta ini tumbuh semakin besar, aku harus segera menguburnya dalam-dalam," guman Santi seraya menyapu air matanya.


"Aku dan Barley seperti bumi dan langit, terlalu banyak perbedaan dan pertentangan di antara kami, apalagi keluarganya tak menyukaiku sama sekali." Santi.


Barley mencoba memejamkan matanya meski hatinya begitu dongkol, beberapa lama akhirnya ia pun terlelap juga.


Santi terus terjaga meski merasa lelah, namun tak juga ia mampu memejamkan matanya.


Santi bangkit kemudian melirik kearah pria tampan di sampingnya, dengan tangan gemetar ia menjangkau kepala Barley kemudian mengusap rambutnya dengan lembut.


Perlahan air mata tersebut kembali menetes di pipinya, Santi baru menyadari betapa beratnya ia melepaskan Barley.


setelah itu ia turun dari ranjang dan kembali menangis.


"Maaf Kak, aku tak sanggup menjalani pernikahan ini lebih lama lagi," guman Santi.


Santi merasa lelah menangis hingga ia tertidur sendiri di lantai.


***


Matahari pagi membias melalui kaca jendela, dan membuat Barley tersadar kemudian menerjab-nerjabkan matanya.


Barley mengedar pandangan ke sekelilingnya dan tak mendapati Santi tidur di sampingnya.


Setelah kesadarannya penuh, Barley bangkit dari baringnya dan langsung menuju kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, ia kembali ke kamar dan tak menemukan Santi kembali.


Barley mendekat kearah jendela untuk membuka jendela kamar tersebut, saat itu ia baru menyadari jika Santi tidur di bawah tempat tidur.


"Hah, ternyata dia tidur di bawah, apa sebegitu bencinya ia terhadapku hingga ia tak lagi sudi tidur seranjang dengan ku?" dengus Barley.


Barley menyibak gorden seketika sinar matahari langsung masuk melalui kaca jendela, kamar tersebut kembali terang dan menyilaukan, membuat Santi tersadar.


Santi menerjab-nerjabkan matanya, ia baru menyadari jika ia tidur di lantai semalaman.


Santi bangkit dan berdiri, kemudian ia langsung menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajahnya.


Sementara Barley mengenakan pakaiannya kembali.


Santi keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat dan menemukan Barley sedang menatapnya lekat.


Barley yang terlihat kesal menghampiri ke arah Santi.


"Aku pulang, kau bisa tinggal di sini untuk selamanya, setelah ini akan ku urus surai cerai kita, " ucap Barley dengan menatap tajam kearah Santi, kemudian ia berlalu darinya.


Mendengar ucapan Barley, Santi merasa syok, hingga tak mampu berkata apa-apanya, netranya terus mengekor kearah punggung Barley yang mulai menghilang di balik pintu.


Bersambung, mumpung hari senin boleh dong bagi vote untuk Author, like dan komen juga ya.

__ADS_1


__ADS_2