Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Dimanakah Kamu Berada


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Namun kesehatan tuan Alex tak menampakan hasilnya


Tuan Alex tak berdaya dengan sakit yang di deritanya.


Sebelum berangkat ke Milan, tuan Marco menyempatkan diri untuk melihat ke adaan tuan Alex, bagaimana pun ia merasa tuan Alex ada andil dalam mempertemukan ia dan Barley.


Tuan Marco dan Wati menunggu di ruang tamu untuk melihat keadaan tuan Alex.


Dengan kursi roda tuan Alex di dorong menuju ruang tamu untuk menemui tuan Marco.


Tubuh tuan Alex bergetar ia pun menangis melihat tuan Marco yang tersenyum menyapanya.


A ak ak, hanya itu yang bisa keluar dari mulut pria yang sedikit miring akibat stokenya.


Tak tersirat dendam di hati tuan Marco saat itu, justru ia merasa iba dengan keadaan tuan Demian.


Miranda menghampiri tuan Marco dengan mendorong kursi roda.


"Apa kabar tuan Alex?" sapa tuan Marco sambil mengelus lembut tangan tuan Alex.


Ak e a, tuan Alex berbicara meski tak jelas.


Sepertinya ia mencoba meminta maaf atas perbuatanya yang pernah ia lakukan, karna netranya tersebut memerah dengan bulir bening menetes di pipinya.


"Iya,Iya. Tenang saja tuan Alex, aku sudah memaafkan mu, kedatangan ku kemari bukan untuk menuntut balas, tapi aku ingin pamit pulang ke Milan. Terima kasih telah mengundang ku kemari," ucap tuan Marco.


Ak akh ae, masih berbicara yang tak jelas. Namun dari raut wajahnya tergambar penyesalan yang dalam, dengan bola mata yang semakin memerah dan air mata yang semakin deras mengalir.


"Sudah! Sudah tuan Alex, anda yang sabar, setiap manusia di beri cobaan yang berbeda dalam hidupnya. Itu bukti cinta dan kasih sayang Tuhan pada umatnya, agar kita sadar sebelum pintu hidayah di tutup. " tuan Marco.


Ua ak ah, tuan Alex berusaha berbicara semampunya. Menyatakan menyesal dengan apa yang telah di lakukannya, ke sombongannya luntur seketika, obsesi dan ambisinya hanya berujung mencelakinya. Sifat tamak dan serakah justru membuatnya jatuh miskin dan semakin terhina, kini dirinya hanya tubuh lapuk yang tak berdaya dan hanya bisa menyusahkan orang lain.


Tuan Alex menangis dengan tubuh yang terguncang menahan sesal yang tak mampu ia ungkapkan.


Melihat sang sahabat yang terlihat menderita dalam rasa sesalnya, tuan Marco pun menjadi iba.


Di hampirinya tubuh tuan Alex yang berguncang kemudian di peluknya sang sahabat lama.


"Sudahlah tuan Alex, setidaknya kau sudah menyadarinya dan menyesali semua perbuatanmu sebelum Tuhan terlebih dahulu mencabut nyamamu, "ucapnya sambil mengusap bahu tuan Alex.


Tuan Alex sedikit tenang mereka pun mengurai pelukannya.


"Sebagai kenang-kenangan aku hibahkan cek senilai dua ratus juta untuk kau berobat tuan Alex, "ujar tuan Marco seraya merogoh saku celananya kemudian menyodorkannya kepada Miranda.


Miranda menerima uluran cek tersebut.


"Terima kasih tuan," ucapnya sambil menyapu sisa air matanya.


Setelah berbasah basi tuan Marco dan Wati pun pergi dari tempat tersebut.


***


Tuan Demian memasukan pakaiannya ke dalam koper, sebentar lagi ia akan pergi menuju lokasi proyeknya yang berada di luar kota.


Sementara Cintya menatap sinis pria jangkung tersebut dengan tatapan jijik.


'Semoga si engkong mampus deh di perjalanan,' batin Cintya.


Cintya kewalahan melayani hasrat tuan Demian, hampir setiap hari Cintya harus merelakan tubuhnya untuk di nikmati tuan Demian, karna itu dia berharap tuan Demian mati dalam perjalanannya.


Krek, klik, bunyi resleting koper terdengar, berati tuan Demian telah siap untuk berangkat.


"My Darling, Aa' pergi dulu ya, sini dong peluk Aa' biar nanti kamu ngak kangen sama Aa'," ucap tuan Demian sambil merentangkan tanganya mencoba memeluk Cintya.


Cintya mengkerutkan bibirnya sambil menatap sinis.

__ADS_1


"Ngak usah pakai peluk-peluk segala Ngkong! lagi pula mana mungkin aku kangen dengan Engkokong! Engkong ngak usah balik ke sini lagi saja! setelah aku selesai melahirkan aku minta cerai sama Engkong,!" cecar Cintya sambil meludah.


Cuih


Glek


Hati tuan Demian terasa sakit mendengar semua penuturan Cintya.


"Hah, Sayang ku! Apa kurangnya Aa sama kamu.Semua sudah Aa berikan. Kamu minta mobil mewah Aa' belikan, rumah juga Aa' belikan. Sayang minta aset Aa,' Aa beri. Tapi kenapa Sayang sepertinya tak menyukai Aa, hiks." Tuan Demian merasa Sedih ia pun mendorong kopernya.


"Iya pergi saja sana! ngak usah balik-balik lagi!" ucap Cintya sambil menujuk arah pintu.


Lelaki tua tersebut semakin sedih, ia pun mendorong kopernya berlalu dari Cintya.


"Iya Sayang aku ngak akan kembali kemari menemui mu, aku hanya kembali untuk melihat keadaan ayah dan ibu mertua. " Tuan Demian.


Perangai Cintya lebih kejam dari ibu tiri.


***


Dua minggu kemudian.


Cintya membolak balikan tubuhnya ada sebuah resah yang mengganggu di hatinya, perasaan rindu yang coba ia ingkari.


Sudah dua minggu ini tuan Demian tak mengunjunginya, ada setitik cemburu yang tumbuh di hatinya.


Tuan Demian sedang mengurusi proyeknya yang berada di luar kota, selain mengurusi proyeknya di sana ia juga mengunjungi istri-istrinya,maklum saja seperti proyeknya yang menyebar di berbagai daerah, begitu pula ia menyebar istrinya.


Di usia senjanya beliau tetap hidup sehat meski tubuhnya terkesan kurus kering tapi ia tak ada riwayat menderita penyakit berat.


Mungkin saja tuan Demian orang yang lebih suka menghindari strees, pikirannya pun jernih tanpa kelicikan meski pun ia termasuk type orang yang suka di sanjung.


Cintya membalik tubuhnya, meski sudah larut malam.Namun ia tak juga mau terlelap.


Cintya meraba perutnya yang masih datar.


"Aku rasanya benci banget sama si engkong, tapi kenapa sekarang jadi rindu sama si engkong ya? " dengus Cintya.


Dengan sedikit memaksa akhirnya ia pun bisa terlelap.


***


Ke esokan harinya, Tuan Demian datang berkunjung karna ia sudah selesai menangani proyek luar kotanya.


"Cintya berada di balkon kamarnya ia melihat mobil mewah tuan Demian memasuki ruamahnya.


"Ah engkong datang, "ucapnya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


"Samperin ah, "ucap Cintya dengan senyum sumringah.


Cintya berlari kecil menghampiri tuan Demian.


***


Tuan Demian menghampiri tuan Alex yang sedang berjemur di bawah sinar matahari di temani Miranda.


"Selamat pagi Ibu dan Bapak mertua," ucap tuan Demian.


"Selamat pagi menantu," jawab Miranda.


"Ini saya bawa oleh-oleh untuk ibu dan bapak mertua," ucap tuan Demian sambil menyodorkan goodie bag.


"Oh terima kasih menantu, "ucap Miranda.


"Sama-sama ibu mertua, kalau begitu saya permisi dulu," ucap tuan Demian.

__ADS_1


"Eh kenapa cepat sekali menantu?" tanya Miranda heran.


"Ah tidak apa-apa, nanti saya berkunjung lagi." tuan Demian.


"Ehm, pasti Cintya yang berucap kasar sama tuan Demian." Miranda.


Tuan Demian langsung menuju mobilnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya.


"Aa'!" seru Cintya dengan manja.


Tuan Demian menoleh, ia syok melihat Cintya yang memanggilnya sambil mengedip-ngedipkan matanya, tebar pesona pada si engkong.


Tuan Demian menunggu Cintya menghampiri.


"Aa' kenapa langsung pulang sih? ngak kangen apa dengan aku? " tanya Cintya.


Ting ting ting, mata Cintya berkedip-kedip.


Ehm, tuan Demian mengucek-ngucek matanya, seperti melihat keajaiban di hadapannya.


"Ayo dong Aa, jangan pulang dulu," bujuk Cintya sambil menarik tangan tuan Demian.


Ia pun menggandeng tangan tuan Demian menuntunnya menuju kamar mereka.


Tuan Demian masih tak percaya melihat Cintya yang berlaku manis terhadapnya.


Mereka pun sampai di dalam kamar.


Cintya terus menuntun tuan Demian sampai ke tempat tidur.


"Aa ngak kangen ya sama aku? " tanya Cintya dengan tatapan mata berbinar, mungkin karna bawaan bayinya. ia pun menatap tuan Demian berbinar.


Kemudian ia membuka satu persatu kancing kemeja suaminya.


Tuan Demian langsung kegirangan, jika biasanya Cintya melayaninya seperti terpaksa, kali ini dengan suka rela, bahkan ia yang meminta.


"He he, Sayang bisa kangen juga sama kuda jantan Aa', "ucap tuan Demian sambil nyengir.


'Ehm, ia Aa, aku mau main sambil guling-guling ya Aa, pakai jurus kodok mati karna melompat di got , " ucap Cintya sambil bercanda.


"Asiap baby! mau jurus kodok mati kejedot dinding atau kodong mati keselek jengkol Aa' siap, "ucapnya penuh semangat.


Mereka pun melakukan pertarungan dengan imbang, tubuh Cintya terpental pental akibat guncangan engkong, kepalanya beberapa kali kejedot headboard tempat tidur karna hentakan-hentakan si engkong. Namun, kedua nya sama puas.


Tuan Demian tersungkur kelelahan setelah menembakan pelurunya.


Ia pun mengatur napasnya berbaring samping Cintya.


Cintya mengusap kulit kering dan keriput pada tubuh suaminya .


"Ehm Aa' memang tok cer, "gumanya sambil tersenyum.


"Tua-tua keladi, makin tua makin jadi, " ucap Cintya sambil menyunggingkan senyum kepuasan.


"Tentu saja baby, bagaimana jika satu ronde lagi? "tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Ehm siap siapa takut !"serunya sambil menarik tubuh tuan Demian.


Bersambung, maaf ya reader, jika kurang berkenan dengan bab ini,ini hanya hiburan dan selingan, sebelum masuk bab yang ada kofliknya kembali.berikan saran dan komentarnya, agar author bisa memperbaiki kesalahan author, Terima kasih


Autor punya rekomendasi novel bagus nih, cus mampir



__ADS_1


__ADS_2