Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Mulai Manja


__ADS_3

Setelah menelpon Barley,Andini kembali menelpon Veronica.


Veronica sedang memikirkan cara untuk mengelabui keluarga Barley.


Tiba-tiba terdengar suara dering telpon, Veronica menatap layar handphonenya.


"Mau apa Andini menelpon ku?"guman Veronica.


"Hallo, An ada apa?"tanya Veronica sedikit gugup.


"Vero, kita percepat saja pernikahan Amora dan Barley, sebelum Barley mengubah keputusannya, karna kini Santi tengah mengandung anak Barley."Andini


Veronica membungkam beberapa saat.


Apa? Santi hamil? apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika Barley mengetahui Amora hamil, pasti dia tak akan sudi menikahinya, sementara jika menunda pernikahan sampai Amora melahirkan, itu sama saja membiarkan rasa cinta tubuh di antara mereka.


"Halo Veronica apa kau masih di sana?" tanya Andini.


"Ehm, ia Andini, tapi baru saja aku mendaat telpon dari suami ku, jika aku dan Amora harus pulang ke Paris, karna suami ku sedang sakit, bagaimana jika kita tunda hingga enam atau tujuh bulan kedepan hingga proyek suami ku selesai."Veronica


Veronica memberi alasan, namun dengan nada yang sedikit gugup.


*Sepertinya kepergian mereka mencurigakan, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Veronica.


Jika memang Amora hamil, aku tak akan sudi menerimanya sebagai menantu, akan ku pikirkan cara lainya agar Veronica tidak membocorkan siapa sebenarnya Barley*.


"Oke Vero, kau atur saja,"ucap Andini yang kemudian menutup telponnya.


"Akan ku cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Amora,"guman Andini.


***


Santi kembali terlelap, obat-obat tersebut membuatnya menjadi mudah untuk tertidur, apa lagi Barley tak mengijinkannya untuk melakukan aktivitas apapun hingga membuat tubuhnya semakin malas.


Barley tetap bekerja memeriksa file-file yang masuk, sembari menjaga Santi, rasa ngantuk membuatnya ingin meminum kopi.


Barley pun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Santi sendiri, baru beberapa langkah dari kejauhan ia melihat kedua mertuanya datang.


Anita dan Harjo berjalan semakin cepat menghampiri Barley.


"Dimana Santi Nak?"tanya Asti.


"Ada di kamar ibu, ibu masuk saja, Santi sedang tertidur saat ini," papar Barley.


"Iya, biarkan saja Santi berisirahat, kami akan menunggunya dengan tenang," ucap Asti.

__ADS_1


"Memang dokter menyarankan agar Santi tak banyak bergerak, terutama menggerakan otot perutnya, hampir saja ia keguguran."Barley.


"Ya Tuhan, semoga anak dan calon cucuku di lindungi," ucap Asti seraya menadahkan tangannya keatas.


Mereka masuk ke ruangan perawatan Santi dengan tenang.


Asti tersenyum melihat putrinya, rasanya ia tak sabar untuk memeluknya, namun ia menahan diri karna keadaan Santi tak memungkin kan.


"Bu saya ingin beli minum dulu, tolong jaga Santi," ucap Barley sedikit berbisik.


"Iya Nak," sahut Asti.


***


Setelah membeli minuman, Barley kembali untuk menuju kamar perawatan Santi dengan menggunakan lift.


Setelah menekan tombol panel pada dinding, tak berapa lama kemudian pintu lift terbuka.


"Arief,"sebut Barley lirih ketika keberadaan Arief tepat di hadapannya.


Arief terdiam beberapa saat ketika melihat, orang yang selama ini ingin ia temui kini ada di hadapannya.


"Tuan muda, kebetulan saya bertemu anda saya ingin_"Arief menghentikan kata-katanya, karna Barley mengintrupsi.


"Sudah lah aku tak perlu mendengar penjelasan mu."ucap Barley.


"Tapi tuan, ini bukan tentang saya, tapi tentang istri anda, saya ingin_" Arief.


Oh, sebegitu perhatiannya kau dengan istri ku? aku sudah memaafkan perbuatan kalian yang bermain di belakabg ku, karna Santi tengah menggandung, dan aku memaafkan mu karna aku hanya kasihan pada mu Arief, kau tulang punggung keluarga mu! dan orang tua mu juga sakit-sakitan jika tidak, mungkin aku akan menghabisi mu dan Santi dalam waktu yang bersamaan," ungkap Barley.


"Justru itu Tuan, saya ingin memperingatkan anda tentang bahaya yang mengincar istri anda," ucap Arief ingin memperingatkan Barley.


Barley semakin mendendus mendengar penuturan Arief


"Apa kau pikir aku tak bisa menjaga istri ku?! Kau urus saja urusan mu dan enyalah dari hadapan ku untuk selamanya," cecar Barley, Ia pun berlalu darinya.


Arief menelan salivanya, ia hanya ingin memperingatkan kepada Barley tentang Amora dan Andini yang bersengkongkol memfitnah dirinya dan Santi, tapi tak hanya itu, Arief juga sudah mengetahui jika Amora menginginkan Santi celaka, hingga memanfaatkan Aldo.


Aldo yang cinta buta kepada Amora bahkan rela melakukan apa saja untuk wanita tersebut.


Namun sekarang Aldo sadar, jika Amora hanya memanfaatkan nya, dan kini ia harus menanggung dosa besar, karna telah mencelakai orang lain hingga meninggal.


Aldo menceritakan semuanya kepada Arief, ia juga meminta kepada Arief agar tak melaporkan ke polisi.


Arief pun setuju, ia juga merasa kasihan terhadap saudaranya tersebut, hingga menutup mulut untuk tak bicara pada siapa pun tentang kecelakaan yang membuat Barley kehilangan Sania.

__ADS_1


Karna Arief percaya, suatu saat kasus tersebut akan terungkap dengan ia ungkapkan atau pun tak ia ungkapkan.


Setelah pertemuannya dengan Barley, Arief kembali mendorong kursi roda Aldo menuji pintu lift.


***


Ketika ia kembali ke kamarnya, Barley melihat Santi sudah terbangun dari tidurnya dan sedang di suapi oleh ibu mertuanya, sementara pak Harjo memotong buah untuk Santi.


Barley menghampiri ketiganya, "Bagaimana Bu?apa Santi memakan sopnya" tanya Barley.


"Iya Nak lihat saja, wajahnya sampai berkeringat," Asti.


Santi tersenyum, ia merasa segar kembali, karna saat ini ia makan dengan banyak, tak seperti berada di rumahnya, Santi lebih sering tak berselera untuk makan, karna di sana ia seperti nara pidana yang di kurung dalam kamar mewah.


Tak bertemu dan mendengar suara Andini membuat hati Santi sedikit tenang, apa lagi sejak berada di rumah Sakit, ia merasakan sikaf Barley yang banyak berubah dari sebelumnya.


Melihat keringat yang mengucur dari kening Santi akibat metabolisme tubuhmya, Barley meraih tissu dan menyapu lembut seluruh permukaan wajah Santi.


Santi kaget akan perlakuan Barley, matanya melirik ke arah Barley yang juga tengah melirik ke arahnya.


Ya ampun mimpi aku semalam, kenapa sikap tuan muda terhadap ku berubah, Ah semoga saja ini bukan sandiwaranya di hadapan kedua orang tua ku.


Asti tersenyum melihat sikaf lembut Barley kepada putrinya.


Setelah puas menemui Santi, Asti dan pak Harjo bermaksud untuk undur diri.


"Santi, ibu pulang dulu ya, besok pagi ibu datang ke mari lagi, ibu akan masak kesukaan mu lagi,"papar Bu Anita.


"Iya Bu," jawab Santi.


***


Penunjuk waktu merangkak naik secara perlahan, malam semakin larut Barley juga sudah selesai dengan pekerjaannya, ia pun menutup laptop.


Barley begitu merasa lelah, ia pun melakukan gerakan pereganggan pada otot-ototnya yang terasa kaku.


Setelah itu, ia langsung naik keatas tempat tidur Santi, sebelum berbaring ia mengusap lembut perut Santi seraya tersenyum.


Lekas besar anak ku, karna ayah mu ini sudah tak sabar menunggu mu lahir ke dunia.


Kemudian Barley mencium perut Santi, setelah itu ia pun berbaring di samping istrinya, tanpa di duga tiba-tiba saja, Santi memiringkan tubuhnya ke arah Barley, tanpa sadar ia memeluk dan memanggah Barley seperti memeluk bantal gulingnya, Barley tersenyum melihat ke arah Santi.


Kalau melihatnya manja seperti ini, aku jadi tak tega untuk memarahinya.


Barley mengusap lembut rambut Santi kemudian mendaratkan kecupan pada ubun-ubunnya dengan lekat, kemudian ia pun memirikan tubuhnya dan memeluk Santi, hingga terlelap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2