
Aldo berada di kamarnya sedang membersihkan diri.
Hari ini pertama kalinya ia akan menjemput Asyia.
Ia juga pertama kalinya ia berjalan-jalan keluar dari lingkungan rumah.
Aldo melirik wajahnya di cermin, merada penampilannya sudah sempurna baru lah ia keluar dari kamar.
Untuk menuju pintu keluar, Aldo memang harus melewati kamar Delia dan Asyia.
Aldo berjalan denhan tongkatnyanya, sementara Delia juga sedang buru-buru keluar dari kamarnya, karna ia sedang merebut danging untuk sop Asyia.
Buk.. keduanya pun tanpa sengaja bertabrakan
Keadaan yang tak terduga sebelumnya, membuat Aldo kehilanhan keseimbangan ketika tanpa sengaja di tabrak oleh Delia.
"Akh! "seru Aldo secara reflex, ketika bokongnya mendarat dengan mulus di atas lantai.
Delia pun kaget melihat Aldo yang terjatuh karna tertabrak olehnya.
Ehm, maaf tuan! saya tak sengaja, ucap Delia sambil menyodorkan tongkat yang Aldo kenakan.
"Akh !" seru Aldo merasa sakit, karna bokongnya terhempas di atas ubin .
"Maaf Tuan saya ngak sengaja ! ini tongkatnya, "ucap Delia sambil menunjukan tongkat.
Tapi Aldo sepertinya belum bisa berdiri sendiri. Kakinya masih bersolinjor di atas lantai.
"Iya tak apa. Bisa bantu saya berdiri, "ucap Aldo sambil mengulurkan tangannya ke arah Delia.
"Ehm, Ia. " Delia pun menarik tangan Aldo untuk membantunua berdiri.
Akhirnya dengan bantuan Delia dan tongkatnya, Aldo bisa berdiri.
"Terima kasih ya, "ucap Aldo sambil tersenyum malu.
"Sama-sama Tuan, "sahut Delia tak kalah malu-malu
Dinar baru keluar dari kamarnya karna mendengar suara asing.
Ia pun tersenyum melihat keduanya yang tampak malu-malu tersebut.
"Ehm, sepertinya Delia cocok menjadi istri Aldo. Keduanya sepertinya sama tertarik," guman Dinar.
***
Aldo menunggu di gerbang sekolah Asyia.
Dari kejauhan tampaklah gadis kecil sedang berpegangan tangan dengan seorang pria kecil di sampingnya.
Seketika senyum tersungging di wajah tampan-nya. Setelah motong rambut dan membersihkan jambangnya ,Aldo terlihat semakin tampan dan bersih.
Menyadari kehadiran Ayahnya Asyia pun. berteriak.
"Ayah! "
Aldo tersenyum ke arah Asyia, ia pun melambaikan tangannya.
__ADS_1
Asyia juga melambaikan tangannya kearah Aldo.
"Raffa ,Ayo cepat kita sudah di jemput, oleh ayahku "ucap Asyia ia pun mempercepat langkahnya guna menghampiri Aldo.
Begitupun dengan Raffa, yang ikut berjalan cepat.
"Ayah ,ayo kita pulang, aku ngak sabar untuk sampai di rumah,"ucap Asyia ketika berada di hadapan Aldo.
"Ayo. "
"Ayo Nak! "ucap Aldo yang berjalan beriringan dengan Asyia dan Raffa.
Teman-teman Asyia yang berjalan di sekitar Asyia ,mentertawakan Asiya.
"Asyia, itu ayah kamu? " tanya seorang gadis kecil teman sekelas Asyia.
"Iya. Dia Ayah ku! "ucap Asyia dengan bangga.
"Ha haha. Ayah ayahmu itu cacat ya? pantas saja kau juga aneh. Tak boleh ikut pelajaran olah raga, tak boleh kena sinar matahari terlalu lama. kau dan ayahmu sama saja ha ha ha." ledek gadis itu.
Tak hanya seorang, tapi teman-teman sekelas Asyia semua ikut mentertawakan nya.
Aldo berhenti melihat Asyia yang di ejek oleh teman-teman nya.Ia pun merasa sedih melihat Asyia yang di bully karna dirinya.
Tapi Asyia tak hirau, ia tetap bangga berjalan sambil menggenggam tangan Aldo.
Asiya pun tersentum membalas mereka yang menertawai dirinya.
"Asyia kamu tak malu di bully oleh teman-teman kamu? " tanya Aldo sambil mereka. berjalan.
"Ngak kok! biar saja. Kita di bilang aneh Yah, Yang penting Asyia senang punya ayah, seperti teman-teman Asyia yang lainya Yah. "Asyia
***
Veronica dan Fedro sudah berada di gedung perkantoran Hasta Raja Prawira.
Setahu mereka Arief hanya seorang Asisten dari Barley.
ia pun bertanya pada satpam gedung di mana kantor Barley berada.
"Cari siapa Nyonya dan Tuan?" tanya satpam pada Veronica dan Fedro.
"Saya mau cari Arief, "ucap Veronica.
"Oh pak Arief sedang ada di ruangannya tapi sebelum bertemu, Anda harus bikin janji dengan pak Arief, " tutur satpam, tersebut pada keduanya.
"Cuih, baru jadi asisten Barley saja sudah sombong, mau sok ngebos dasar tak tahu diri. "Veronica.
"Maaf Nyonya pak Arief memang bos di "sini. Tuan muda sudah menganggkat jabatannya sebagai presiden direktur. " papar satpam tersebut.
Mendengar penuturan dari petugas satpam tersebut, keduanya merasa sedikit ciut nyali.
Jika Arief seorang president direktur, maka Arief pasti memiliki banyak uang untuk membuatnya membuat menang hak asuh atas cucunya tersebut.
"Bagaimana Papi. Kita temui Arief di ruangannya? "tanya Veronica.
"Tanyakan saja Mami, kita ngak boleh menyerah begitu saja," ucap Fedro tak gentar
__ADS_1
"Benar Daddy, Ayo kita temui Arief dulu. "
"Ayo. " Fedro.
Keduanya pun langsung menemui Arief di ruangannya. Setelah ijin pada sekertarisnya Arief.
Arief begitu kaget dengan kedatangan dua orang tersebut.
"Permisi tuan Arief! "seru Veronica.
"Silahkan Nyonya dan Tuan," ucap Arief sambil menunjuk dua buah kursi di hadapannya.
Arief menatap lekat kedua orang tersebut dengan melihat gelagat mereka saja, Arief sudah tahu apa yang mereka inginkan.
"Ada apa gerangan, Tuan dan Nyonya datang kemari? " tanya Arief tanpa basa basi.
Keduanya menyunggingkan senyum sinis mereka.
"Kami ingin mengetahui keadaan cucu kami, Anak dari Amora. " Veronica.
"Keadaan cucu anda baik-baik saja," sahut Arief.
Keduanya pun saling melempar senyum mendengar keadaan cucu mereka baik-baik saja.
"Begini tuan Arief! kami bermaksud untuk mengambil Alih hak asuh cucu kami, "ucap Veronica.
"Tidak bisa! " ucap Arief tegas.
Keduanya pun saling memandang.
"Kenapa seperti itu? kami bisa ganti rugi semua biaya yang anda keluarkan untuk merawat cucu kami! katakan saja, berapa uang yang sudah anda habiskan untuk perawatan dan biaya hidup cucu kami tersebut? " tanya Veronica dengan angkuh.
Arief tersenyum smirk.
"Saya tahu anda memiliki banyak uang. Dan bisa membayar semua biaya yang telah saya keluarkan untuk merawat keponakan saya. Tapi anda tak bisa membayar dan menilai kasih sayang yang sudah kami berikan kepada keponakan saya. Jadi jika anda tak punya kepentingan lagi silahkan keluar! Sampai kapan pun saya akan pertahankan Asyia. Dan tak akan pernah rela bila Asyia di asuh oleh kalian!" ucap Arief.
Keduanya pun semakin sinis menatap Arief.
"Oh begitu? jika begitu tunggu saja Pak Arief. Kami akan gunakan jalur hukum untuk merebut Asyia!" seru Veronica.
"Silahkan!" ucap Arief tegas. ia pun berdiri mengikuti kedua orang yang berdiri tersebut.
"Lihat saja! kau tak akan menang melawan kami! " ucap Veronica dengan yakin.
Keduanya pun keluar dari ruangan tersebut.
Arief menghempaskan bokongnya.Baru saja ia melihat Asyia dan Aldo bahagia karna berkumpul bersama.Kini, Veronica hadir untuk merebut Asyia dari mereka.
"Tak bisa di biarkan. Aku harus hubungi penggacara tuan muda untuk menangani kasus ini. " Arief.
Ia pun menelpon pengacara Barley, yakni Hilman Paris.
Veronica dan Fedro mendengus kesal.
"Eh dia pikir siapa dirinya. Lihat saja cucu ku pasti akan jadi milik kita," ucap Veronica sambil mengepal tangannya.
Bersambung dulu guys maaf jika ada typo.Keypad ku kadang sering eror hi hi.(alasan 😄) mohon dukungannya ya, dengan like, komentar saran , hadiah dan vote. terima kasih.
__ADS_1
.