
Sore harinya, Asyia dan Raffa bersiap untuk mememui Dinar dan adik mereka yang baru lahir.
Delia sedang membantu Asyia menyisir rambutnya.
Mereka pun sambil mengobrol.
"Kak kenapa sih kakak belum hamil juga. Sedangkan bibi sudah hamil dan melahirkan?" tanya Asyia dengan polos.
Dinar tersenyum." Itu karna bibi kamu sudah menikah, sedangkan kan Kakak belum menikah, " papar Dinar sambil mengepang rambut Asyia.
"Ehm. Ayah juga bilang gitu waktu aku minta adek. Katanya, kalau mau adek tunggu ayah nikah dulu," ucap Asyia.
Delia tersenyum seraya melirik Asyia pada pantulan cermin.
"Tapi Kak, sebenarnya aku juga pingin punya ibu seperti Raffa," tutur Asyia dengan bibir yang mengkerucut.
"Ehm Asyia apa kamu tahu di mana ibu kamu? " tanya Delia.
"Ngak tahu, aku pernah tanya sama Paman.Kata paman dia juga ngak tahu di mana ibu. Jadi aku ngak pernah nanya-nanya lagi.Karna aku merasa paman dan bibi itu ayah dan ibu bagi ku," ucap Asyia sedih.
Hm, Delia menyimak penuturan Asyia sambil tetap mengepang rambutnya.
"Selesai Asyia! " Delia
"Terima kasih Kak. Oh iya Kak, kakak ikut kami juga ya? melihat dede lahir."
"Hm. Kakak sih mau saja. Tapi takut ngak di bolehin sama Ayah kamu Asyia.
"Pasti di bolehkan kok Kak. Ayahkan orang yang baik. " Asyia.
"Hm baiklah kalau begitu. Kakak bersiap dulu ya," ucap Delia.
"Iya Kak. Asyia keluar dulu, menemui Rafa. "
Setelah mengurus Raffa dan Asyia, Delia juga bersiap untuk pergi. Baru kali ini ia keluar dari rumah tersebut untuk jalan-jalan keluar, meski setiap bulan atau beberapa bulan sekali Delia di perbolehkan untuk pulang dan menginap di rumah orang tuanya.
Delia menggunakan rok midi bewarna hitam dan kemeja biru, dengan menggunakan lipstik bewarna nute alis mata sedikit dipertegas, ia pun menggunakan eye liner dan bluss on tipis dan Rambut yang di bikin sedikit bergombang, hingga semakin membuatnya terlihat cantik.
Aldo yang baru saja keluar dari kamarnya, seketika pangling melihat Delia yang terlihat berbeda dari biasanya.
Ia pun menghampiri ketiga orang tersebut.
Semakin di dekati Delia semakin terlihat cantik, hingga Aldo terus menundukan wajahnya. Karna takut terpesona pada Delia.
Selain cantik dan baik, Delia juga begitu polos dan tak neko-neko. Apalagi ia dan Asyia terlihat saling menyayangi.
Sebenarnya pernah terlintas dalam benak Aldo untuk melamar Delia sebagai istri. Namun, ia sadar.Dirinya bukan laki-laki yang pantas untuk Delia.
"Ayah Kak Delia boleh ikut dengan kita kan? " tanya Asyia.
Aldo menyunggingkan senyumnya.
"Boleh dong. Apalagi jika kak Delia sudah cantik seperti itu, siapa juga yang bisa menolak jalan dengan gadis secantik kak Delia" goda Aldo sambil melirik kearah Delia.
Keduanya pun saling melempar senyum dengan wajah yang tertunduk merona.
Mh, Bisa saja, guman Delia.
Sementara Asyia dan Raffa juga ikut tersipu malu, melihat kedua orang yang mulai bucin tersebut.
__ADS_1
"Yuk, kita pergi sekarang." Aldo.
"Ayo!" Asyia dan Raffa begitu semangat.
Mereka pun pergi menuju rumah sakit.
Sesampainya Di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan diamana Dinar di rawat.
Delia memimpin dua anak tersebut, sementara Aldo berada di belakang mereka.
Sesampainya di kamar Dinar Asyia dan Raffa berlari kecil menghampiri Arief yang tengah menggendong bayinya.
"Ayah! paman! " seru mereka menghampiri Arief.
Melihat Asyia yang selamat, Arief Merasa lega.
Di letakannya bayi di samping Dinar. Ia pun menghampiri Asyia.
"Sayang. Paman begitu khawatir dengan kamu, " ucapnya sambil memeluk Asyia.
Ehm. Asyia tak mengerti dengan ucapan Arief, karna ia sendiri tak tahu jika dirinya hampir saja jadi korban penculikan.
Arief memeriksa Asyia kemudian ia memeluknya lagi.
Perasaannya semakin lega ketika mengetahui Asyia baik-baik saja.
"Paman Asyia mau lihat adik."
"Boleh sayang." Arief.
Arief menggendong bayinya kemudian duduk di atas kursi, supaya Asyia dan Raffa bisa melihat adik mereka.
"Iya Mbak. Lucu. " Raffa.
Arief dan Dinar terlihat begitu bahagia. Melihat keluarga kecil abangnya.Aldo semakin berkeinginan untuk sembuh.Agar suatu saat ia juga bisa merasakan memiliki keluarga yang bahagia seperti Arief dan Dinar.
***
Waktu terus berlalu,
Kini Aldo dan Arief berada di Jerman, untuk menjalankan operasi pada kakinya.
Selama dua minggu ini Arief menemani dan menjaga Aldo dalam menjalani Perawatan pasca operasi di Jerman.
Operasi tersebut sudah berlangsung dua minggu dan mereka bersiap untuk pulang ke tanah air dengan membawa berita bahagia.
Keluarga Arief sudah menunggu di bandara, untuk menjemput kedua kakak beradik tersebut.
Selain Dinar dan Asyia, Delia juga menunggu datangnya Aldo.
Pesawat dari bandara Frankurt jerman sudah landing. Beberapa saat lagi mereka akan bertemu orang-orang yang mereka tunggu.
Asyia tersenyum sumringah ketika melihat Ayah dan pamannya berada di antara para penumpang pesawat yang keluar.
Saat itu Aldo masih menggunakan tongkatnya dan kakinya masih di perban dan masih di gips.
Dengan senyum bahagia Asyia menyambut kedatangan Ayah dan pamannya. Begitupun dengan Dinar dan anak-anaknya yang juga merindukan sosok suami dan Ayah mereka yang hangat.
"Ayah Raffa kangen!" ucap Raffa sambil merentangkan tangannya meminta di gendong pada Arief.
__ADS_1
"Ehm, Ibu juga kangen." guman Dinar seraya tersenyum ke arah suaminya yang begitu ia rindukan.
Arief mencium Raffa, kemudian mendekat kearah Dinar.
"'Ayah juga kangen! Tapi Kangen-kangenannya nanti malam ya Bu," Bisik Arief sambil tersenyum mesra dan mengedipkan kedua matanya kepada Dinar
"Iya Yah. " Dinar..
Arief menggendong Raffa sambil memeluk Dinar dari belakang.
Asyia pun menghambur memeluk Aldo.
"Ayah Asyia kangen, "ucap Asyia.
"Ayah juga kangen sama Asyia, sama kak Delia juga,'"ucap Aldo seraya tersenyum melirik Delia.
Bukan main senangnya hati Delia saat itu. Jujur saja ia juga kangen dengan sosok Aldo yang terlihat romantis tersebut.
Wajah keduanya lagi-lagi merona.
Mendengar hal itu Arief dan Dinar saling melempar senyum.
"Kak Delia kangen ngak sama Bang Aldo? " tanya Arief menggoda Delia.
Ia bisa melihat jika Delia dan Aldo sama-sama saling menyukai.Namun, kedua orang tersebut sama-sama merasa tak percaya diri.
Arief dan Dinar saling memandang dan tersenyum.
Sementara Delia semakin menunduk wajahnya yang semakin memerah karna menahan malu.
Ia pun menggigit bibir bagian bawahnya.
Aldo menatap Delia lekat seolah tengah menanti jawaban darinya.
"Ayo Kak Delia jawab! kangen ngak sama aku?" desak Aldo sambil tersenyum.
Delia semakin tersipu. Namun, ia juga tak bisa menolak perasaannya. Jika dirinya menyukai Aldo.
"Kangen, "sahut Delia lirih dengan senyum di kulum dan wajah yang semakin tertunduk tersipu.
Bukan main senangnya hati Aldo, karna merasa cintanya berbalas juga.
'Hm, Kalau sudah saling kangen-kangenan, mending di resmiin saja bagaimana kak Delia?" tanya Arief yang mewakili adiknya.
Delia semakin nervous mendengar pertanyaan Arief.Namun karna ia gadis yang polos dan tak munafik, ia pun menggangguk dengan lirih.
"Asyik !"sahut Aldo yang tersenyum bahagia.
Delia semakin menundukan wajahnya dengan senyum simpul dan wajah yang semakin merona
"Asyia, Asyia setuju ngak kalau Kak Delia jadi ibu sambung Asyia? " tanya Arief lagi.
"Setuju dong! " sahut Asyia dengan segera.
"Yey! akhirnya aku juga bisa punya ibu dan adik-adik bayi juga! " seru Asyia dengan semangat dan bahagia.
Aldo dan Delia pun saling melempar senyum. Terbayang sudah kebahagian yang akan hadir di hidup mereka. Sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Bersambung. Kalau reader sendiri setuju ngak? ikut bahagia ngak? aku nulisnya senyum-senyum sendiri loh. Terima kasih atas dukungannya dan sarannya ya.
__ADS_1