Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Ternyata Amora


__ADS_3

Hari sebelumnya,.


Setelah mendapat telpon dari Andini,Veronica langsung menuju kamar Amora, tanpa permisi ia langsung membuka pintu kabar tersebut.


Alangkah kagetnya Veronica ketika melihat asap keluar mengepul dari bibir Amora .


"Astaga Amora!" apa yang kau lakukan?! kau sendiri tahu jika merokok bisa membahayakan janin yang kau kandung!"


Veronica berteriak seraya menghampiri Amora, kemudian merebut puntung rokok yang masih menempel di bibir Amora, dan langsung membuanganya ke lantai kemudian menginjaknya hingga bara apinya mati.


Bola mata Amora membesar melotot dengan sempurna, "Mami apa yang Mami lakukan? kenapa selalu saja mengganggu kesenangan ku!" teriak Amora.


"Kesenangan mu sudah bearakhir Amora! dan itu semua karna kebodohan mu itu!"cecar Veronica seraya mendengus kesal menunjuk wajah Amora.


"Mami, apa maksudnya kesenangan ku sudah bearkhir, bukan kan kita akan merencana kan pernikahan ku kembali setelah melahirkan anak sialan ini?!" suara Amora tak kalah tinggi.


Veronica nenghempaskan nafas kasarnya.


"Simpan saja mimpi mu itu, karna aku yakin Barley tak mungkin menerima kau, karna Santi telah mengandung anaknya, lihat lah betapa bodohnya kau Amora, bisa-bisanya kau hamil dari lelaki cacat itu, sekarang kau cuma punya dua pilihan mencari pria yang akan menikahi mu atau kau terima Aldo sebagai suami mu, karna aku tak mau menjadi bahan cemoohan, mereka mengenal kita sebagai keluarga terhormat Amora! dan apa yang akan di katakan oleh teman-teman Mami dari kalangan sosialita jika anak Veronica hamil tanpa suami!" cecar Veronica berapi-api tak sedikit pun ia memberi kesempatan Amora untuk mengintrupsi.


"Apa Mami, Santi hamil?" tanya Amora ragu.


"Iya ! apa harus ku ulangi penjelasan ku, sekarang tentukan pilihan mu karna perutmu akan semakin besar. aku juga malu jika membawa mu ke Paris, apa yang akan di katakan keluarga Papi mu terhadap dirimu?"Veronica


Mereka itu orang yang taat beragama, Papi mu pasti syok mendengar berita ini, keluh Veronica ia pun berlalu meninggalkan Amora yang mematung sendiri


Veronica semakin kesal, ia khawatir dengan anak yang di kandung Amora, biar bagaimana pun dirinya adalah seorang ibu, dan ia tak akan tega jika anak yang di kandung Amora terancam cacat atau mengalami kelainan karna prilaku buruk Amora.


Namun Amora tak perduli, baginya yang penting ia merasa senang dan ia akan menghancurkan siapa saja yang akan menghalanginya.


Amora menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Sial! bisa-bisanya Santi hamil, ini tak boleh terjadi, akan ku habisi Santi dan anak yang ada di rahimnya."Amora.


Bola mata Amora berpendar, ia begitu emosi, mendengar kehamilan Santi.


"Aku akan pikirkan suatu cara agar Santi secepatnya Mati."


"Tapi apa yang akan aku lakukan?"gumannya.


"Mengharapkan Aldo mencelakai Santi, malah ia sendiri yang ikut celaka, dasar tak berguna," Amora mendengus.


"Aduh meminta bantuan siapa ya?"guman Amora seraya menggigit bibir bagian bawahnya.


Amora meraih tas selempangnya, kemudian memasukan handphonenya kedalam tas.


Namun baru beberapa langkah ia sudah mendapat telpon kembali.


Amora menatap layar handphonenya, "Aldo? mau apa dia menelpon ku?"

__ADS_1


Dengan malas Amora mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Aldo ada apa?" tanyanya ketus.


"Amora aku hanya minta kau tak membuang janin itu Amora!" Aldo.


"Hah, memangnya kenapa? itu bukan urusan mu!"cecar Amora.


"Amora aku mencintai mu, dan telah melakukan apa saja yang kau ingin kan, aku bersedia bertanggung jawab Amora!"desak Aldo.


"Jangan mimpi Aldo! emangnya apa yang bisa kau lakukan, disuruh mencelakai Santi saja kau tak becus! malah ingin menikahi ku? kau pikir siapa diri mu!" cecar Amora dengan suara yang lebih tinggi.


Aldo meras sakit hati mendengar penuturan Amora , setelah pengorbanannya selama ini, Amora tetap memandang rendah dirinya.


"Baiklah, kau pikir aku tak bisa berbuat apa-apakan? setidaknya aku bisa melaporkan semua kejahatan yang kau rencanakan, ingat Amora kau adalah otaknya sedangkan aku hanya pelaku, hukuman mu akan lebih berat, jika aku tak bisa memiliki mu, maka lebih baik kita habiskan hidup kita di penjara, aku merasa lebih puas!"Ancam Aldo.


Amora membelalakan matanya, ia pun menutup telpon tersebut.


"Cuih. baru saja aku berencana menghabisi Santi, sekarang aku harus memikirkan cara bagaimana cara menghabisi Aldo."


Amora menatap nanar, kemudian ia pergi dari tempat itu dan menuju bar tempat ia biasa nongkrong.


Di sana Amora sudah janjian dengan seorang wanita bernama Vio.


Vio merupakan gadis seumuran dengannya, kecanduan akan obat-obatan terlarang membuat Vio rela melakukan apa saja, demi mendapatkan barang tersebut.


Vio menggunakan baju serba minimalis sedang menyesap asap rokok dan menghembuskannya.


"Vio, aku punya tugas untuk mu, " bisik Amora.


"Apa itu?"tanya Vio sumringah, karna baginya tugas yang di berikan Amora sama saja memenangkan jackpot.


Amora membisikan sesuatu pada Vio, kemudian keduanya tersenyum menyeringai.


"Kau suruh orang mencari di mana rumah sakit tempat Santi di rawat, kemudian lakukan eksekusinya pada esok hari,"imbuh Amora.


Vio tersenyum menyeringai menatap Amora, ia pun berlalu karna langsung mengerjakan tugas dari Amora.


Amora memesan minuman berkadar Alkohol tinggi, ia ingin melepaskan semua beban pikiranya, dengan minuman rokok, dan musik yang menggelegar membuatnya sedikit melupakan masalahnya.


Baru beberapa teguk ia minum, seseorang menghampirinya.


"Hai Amora, aku sarankan agar kau tak minum alkohol, karna kau sedang mengandung,"bisik Tomi ke telinga Amora.


"Cuih, apa peduli mu, aku tak ada urusan dengan mu," cetus Amora tak bersahabat.


Tomi duduk di samping Amora. " Apa kau lupa? aku yang mengantar mu pulang, saat kau mabuk berat kemarin," papar Tomi.


Ck, decak Amora lagi, ia menyesap asap rokok kemudian menghembuskannya ke udara seraya melirik kearah Tomi.

__ADS_1


Tomi memperhatikan gadis cantik yang ada di sampingnya tersebut, berkali-kali ia menelan ludah nya karna tak sengaja melihat dua buah pepaya yang menggumpal keluar dari tempat semestinya, di tambah lagi pakaian Amora yang begiti minim membuat jantung Tomi berdetak tak karuan.


Ingin sekali ia menculik dan memperkosa gadis tersebut.


Amora menghisap rokoknya tanpa sengaja ia melihat Tomi yang menatapnya dengan mesum.


Amora menyunggingkan senyum menyeringai, Sepertinya pria ini bisa ku manfaat kan.


Amora beranjak dari duduknya dan duduk di pangkuan Tomi.


Jantung Tomi seperti hendak meledak, ketika Amora mengesek-gesekan buah pepayanya pada dada bidang Tomi.


Amora memeluk Tomi, saat itu Tomi benar-benar kehilangan kewarasannya.


Segera saja ia mengangkat tubuh Amora kemudian membawanya kesuatu ruangan, tempat tersebut memang biasa di gunakan oleh tamu bar untuk melepaskan hasratnya.


Amora tersenyum senang perangkapnya berhasil.


Setelah berada di kamar tersebut, Tomi langsung merebahkan tubuh Amora di atas ranjang, karna tak ada perlawanan, Tomi semakin bergerelia, ia pun menarik kain penutup dua pepaya yang menggumpal tersebut, kemudian melahapnya secara rakus.


Amora tersenyum, ia biar kan saja Tomi menikmati pepaya manisnya tersebut.


Puas menghisap pepaya tersebut bergantian, Tomi menarik diri guna melepas semua penutup tubuhnya.


Seketika Tomi sudah dalam keadaan bugil, rasanya senjatanya sudah tak sabar untuk menancap pada goa gelap yang sempit tersebut.


Baru saja ingin memasukan senjatanya Amora menahan tubuh Tomi.


"Esh, tunggu dulu, tak ada yang gratis di dunia ini, kau harus membayar," guman Amora.


"Baiklah berapa yang kau pinta?"tanya Tomi seraya menelan ludahnya.


Amora tersenyum sinis, "Cuih, aku tak butuh uang mu, aku lebih butuh jasamu," ucap Amora, sambil melepas satu persatu pakaian yang menutupinya.


Tomi, benar-benar menggila, " Katakan saja, akan ku lakukan apa saja demi mendapatkan tubuhmu itu, "ucap Tomi.


Amora semakin senang, di tariknya tubuh Tomi agar berada di atas tubuhnya.


Tomi benar-benar menggeram, rasanya ia sudah tak sabar mengarap wanita yang ada di bawahnya.


Amora berbisik di telinga Tomi, "Habisi Aldo, maka aku akan melayani mu kapan saja kau mau," ucap Amora lirih.


Gleg, Aldo tergaman berkali-kali ia menelan saliva, rasa ragu mulai menyelimutinya, Amora tersenyum menyeringai ia pun membuka selan*kang pahanya di depan Tomi.


"Kesempatan ini hanya sekali, jika kau setuju silahkan kau terobos saja, "ucapnya seraya mengusap bagian intimnya yang membuat Tomi, semakin tak mampu menahan.


Tomi langsung menghujan kan senjatanya, membuat Amora mengerang nikmat,tanpa jedah, Tomi menghajar Amora selama berjam-jam hingga keduanya merasa lemas dan puas.


Tomi terbaring di samping tubuh Amora, "Ingat Tomi, aku tak ingin gagal, habisi saja Aldo, dan kita bisa mengulanginya kembali," ucap Amora seraya tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2