
Setelah mendengar keterangan dari pak Iwan, Santi dan Barley memutuskan untuk pulang.
Keduanya terlihat begitu sedih, melihat Santi dan Barley, Arief berinisiatif untuk menghampiri keduanya.
"Tuan! Bisa bicara sebentar," ucap Arief ketika Barley hendak pergi dari tempat itu.
Barley menoleh ke arah Arief, meski Arief tak terlibat, ingin sekali Barley menumpahkan kekesalannya terhadap Aldo langsung kepada Arief.
"Ada Apa?"tanya Barley dengan emosi.
"Maaf Tuan, sebagai abang dari Aldo, saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas apa yang menimpa anda, sungguh saya tidak mengetahui semua yang terjadi antara Aldo dan Amora," ucap Arief sambil menakup tangannya.
"Apa katamu?! apa dengan meminta maaf bisa mengembalikan semua keadaan?" tanya Barley sambil menarik kerah kemeja Arief.
"Saya tahu Tuan, tapi setidaknya karna Aldo juga semua kasus ini terungkap, masalah hukum biar pengadilan yang akan memberinya sangsi dan hukuman," ucap Arief, seraya melepaskan cengraman Barley.
Barley menatap Arief dengan nanar.
Arief mendekat kearah Santi yang tengah menangis " Santi maafkan Aldo ya, sungguh abang tak pernah tahu semua itu, Aldo mengakuinya dan menyesali perbuatannya ketika ia melihat kamu menangis saat kamu menolongnya, padahal saat itu ia berniat mencelakai kamu," ucap Arief dengan nada yang merendah.
Santi mengganguk, berat baginya menerima semua yang terjadi, apalagi memaafkan Aldo, namun apalah daya, ia merasa jika dirinya hanya manusia biasa, sedangkan Tuhan yang maha sempurna saja mau mengampunkan umatnyanya yang bertobat dan kembali ke jalan yang lurus.
Melihat Arief yang terlihat akrab dengan Santi, Barley merasa cemburu, ia pun merangkul Santi dalam pelukannya, di mana saat itu Santi masih bersedih.
"Aku juga akan minta maaf pada keluarga mu Santi," ucap Arief lagi.
"Iya Bang, sebaiknya begitu,"sahut Santi.
"Terima ka_"Arief.
"Sudah jika kau berkepentingan lagi, kami mau pergi, ingat Arief adik mu akan mendapat ganjaran atas apa yang di lakukannya," ucap Barley mengintrupsi, ia pun menarik Santi menjauh dari Arief.
Entah kenapa ia tak suka jika Arief bicara pada istrinya.
***
Veronica hendak masuk ke kantor polisi guna membawa pakaian ganti untuk Amora, meski kini Amora belum bisa di kunjungi.
Melihat Barley yang mendekat, Veronica berusaha menghindar, ia pun mencari tempat bersembunyi untuk menghindari Barley.
Barley berjalan cepat menuju mobil, di ikuti oleh Santi, raut wajah kesedihan tergambar jelas di wajahnya.
Barley membawa Santi menuju suatu tempat, selama perjalanan mereka habiskan hanya dengan diam.
Setelah memperhatikan jalan yang mereka lalui Santi bisa menebak, kemana arah tujuan mereka.
Tibalah mereka di pemakaman umum, tempat di mana Sania di makamkan.
Barley keluar dari mobilnya, di ikuti oleh Santi, keduanya berjalan menuju pusara dimana Sania di makamkan.
Keduanya melewati beberapa blok nisan hingga sampailah di suatu titik.
Barley berjongkok, seraya menabur kembang yang ia beli di kios di depan pemakaman.
"Sayang, hari ini aku telah mengetahui siapa yang telah mencelakai kamu, hingga membuat kita terpisah selamanya, jujur saja sampai saat ini aku ngak bisa terima kenyataan, aku ngak iklas kehilangan kamu, aku mencintai mu selamanya,"ucap Barley seraya menitikan air matanya.
Santi membelalakan matanya mendengar penuturan Barley.
Jika tuan muda tak bisa melupakan perasaannya pada Kakakku, lalu dianggapnya apa aku ini?
__ADS_1
Bulir bening menetes di pipi Santi, selama
ini Barley memang tak pernah menyatakan cinta terhadapnya.
"Kalau saja waktu itu aku lebih berhati-hati, semua ini tak akan mungkin pernah terjadi dan kita tak pernah terpisah seperti saat ini,"ucap Barley sedih.
Santi mendengar semua kata-kata itu entah mengapa hatinya terasa sakit.
*Apa benar cintanya hanya untuk kakak ku?Apa aku terlalu jauh berharap jika aku menginginkan cintanya hanya untuk ku.
Sadarlah tuan! kau hanya bicara pada batu nisan yang tak bernyawa,namun semua itu hanya menyakiti ku*.
Setelah puas menumpahkan segala keluh kesahnya, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Masih dengan tetesan air mata yang ia sendiri tak tahu karna apa ia menangis, Santi membacakan doa untuk Kakaknya tercinta.
Setelah itu mereka beranjak dari tempat tersebut.
Keduanya sama-sama diam, sama-sama bungkam.
Sepanjang perjalanan di mobil keduanya tak sedikit pun bicara.
Barley membawa Santi menuju suatu tempat, kali ini ia tak tahu kemana suaminya akan membawanya.
Mobil Barley berhenti di suatu area di mana berdiri sebuah gedung indah dua lantai, yang berdinding kaca dan kristal.
Barley membuka pintu mobilnya yang di ikuti oleh Santi.
Santi berdiri terpaku dan takjub melihat keindahan dari gedung yang ada di hadapannya.
Barley mendekat kearahnya dan berdiri tetap di samping Santi.
Santi melirik ke arah Barley, "Oh begitu tuan, aku rasa ini masih kurang bukti untuk menunjukan betapa kau mencintainya," ucap Santi ketus.
Barley melirik ke arah Santi.
"Apa maksud mu?"tanya Barley
Santi berdiri tegak menghadap Barley seraya menyilangkan tangannya.
"Kalau kau begitu mencintai Kakak ku, dan tak pernah bisa mengiklaskan kepergiannya, kenapa kau tak gali kuburannya, kemudian kau masuk kedalam liang lahatnya, dengan demikian meski cinta kalian tak mungkin untuk bersatu di dunia ini, setidaknya jasad kalian bisa bersama, dan aku rasa aku tak perlu repot menghadapi orang seperti mu, setidaknya aku bisa aku mendapatkan pria yang lebih pantas memiliki hati ku," cecar Santi.
"Apa maksud mu?!" tanya Barley.
"Oh kau lupa kita punya perjanjian Tuan, jika kau tak bisa melupakan perasaan mu dan menghargai hubungan kita, maka kau harus reka melepas ku, karna aku tak ingin buang-buang waktu untuk menghabiskan hidup ku bersamamu, hidup cuma sekali Tuan, ku rasa ada pria yang akan mencintai ku dan menerima ku apa adanya! " imbuh nya lagi, Santi pun berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil.
"Santi tunggu!" Barley menarik tangan Santi untuk menahan langkahnya.
"Lepaskan!" ucap Santi.
"Jika kau tak bisa mengantar ku untuk pulang ke rumah orang tua ku, aku bisa naik taxi," ucap Santi seraya melepas cengraman tangan Barley.
"Santi maafkan aku, aku tak bermaksud untuk menyakiti mu, aku hanya_" kata-kata Barley terputus dan langsung di potong oleh Santi.
"Sudalah Tuan, hentikan permainan mu, aku sudah tak percaya, ku yakin kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari diriku," ucap Santi menepis tangan Barley.
"Santi! tunggu sebentar, dengarkan dulu penjelasan ku, aku mohon Santi," ucap Barley.
Tapi Santi tak perduli, ia tetap berjalan menjauh dari mobil Barley.
__ADS_1
"Santi!" Barley menyentak tangan Santi.
"Lepaskan Tuan! jika kau tak melepaskan ku, maka aku akan menyakiti diri ku sendiri !" teriak Santi.
Barley pun melepaskannya, " Tenang Santi, tenanglah, maaf aku,aku tak sengaja,"ucap Barley memohon maaf.
"Aku memaafkan mu Tuan, tapi aku tak bisa terima semua ini, sudalah lah Tuan, kau tenang saja aku akan menjaga anak ini baik-baik, dia akan tetap jadi anak mu dan anak ku, meski kita berpisah,"ucap Santi sambil menitikan air matanya.
"Tidak, aku janji ini yang terakhir, aku berjanji tak akan menyebut-nyebut namanya," ucap Barley sungguh-sungguh ia pun memeluk Santi.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan Tuan? maaf aku harus pergi," ucap Santi melepaskan pelukan Barley.
"Tunggu Santi, kau mau kemana?"tanya Barley.
"Aku mau pulang ke rumah orang tua ku tuan, kau tak bisa melarangku lagi karna kita sudah pernah berjanji dan pria sejati tak akan mengingkari janjinya," ucap Santi tegas.
"Iya, aku antar kau pulang, tapi ku mohon jangan berpikir macam-macam, karna apa pun yang terjadi aku tak akan pernah menceraikan mu," ucap Barley.
"Terserah padamu saja, yang penting aku tak ingin melihat mu lagi," ucap Santi ketus.
Barley membawa Santi masuk mobil, sejak dalam mobil, ia terus merayu Santi agar mengurungkan niatnya.
"Sayang, kau jangan marah seperti itu lagi," bujuk Barley sambil mencolet dagu Santi, tapi Santi tak peduli.
Barley mengelus perut Santi, ia pun meraih tangan Santi kemudian menciumnya.
Tapi lagi-lagi Santi memalingkan wajahnya.
Santi memang memiliki watak keras kepala, di tambah dengan keadaannya yang tengah mengandung, maka sifat sensitifnya semakin bertambah.
Sepanjang perjalanan Barley terus membujuk Santi, tapi ia tetap kukuh dengan pendiriaanya.
Akhirnya mau tak mau Barley mengalah padahal ia adalah orang yang tak pernah mau mengalah.
Mereka pun sampai di depan rumah orang tua Santi, dan melihat mobil Arief terparkir di halaman rumahnya.
Barley menunjukan sifat ke tidak sukaanya atas kehadiran Arief.
Mereka pun masuk kedalam setelah memberi sallam dan melihat kedua orang tuanya menangis dan saling memeluk.
Sementara Arief berada dalam keadaan yang berlutut.
Santi dan Barley menghampiri mereka, melihat kedatangan Santi, Asti dan Harjo langsung memeluk putrinya.
Arief ikut bersedih dan menangis, begitu pun Barley yang duduk di sofa berhadapan dengan orang tua Santi.
"Maaf Bu, saya tidak bisa menghindari semua ini, saya tahu Aldo bersalah dan kini ia sedang di proses, tapi sebagai saudaranya, saya berkewajiban meminta maaf, saya tahu semua tak bisa membalikan keadaan seperti semula," ucap Arief.
Asti melepas pelukkannya, "Ia Nak Arief meski sedih, tapi kami iklas, ajal,jodoh rezky semua ada ketentuannya, semoga saja almarhum tenang di alamnya, kami juga sudah lega karna pelaku sudah di proses." Asti.
"Terima kasih Bu atas pengertiannya, semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua yang telah terjadi," ucap Arief.
"Iya Nak Arief," ucap Asti, ia coba untuk berlapang dada.
Barley menyimak dengan seksama.
*Jika orang tuanya saja bisa mengiklaskan Sania, kenapa aku tidak? perbuatan ku hanya menyakiti Santi dan diri ku sendiri, begitupun Sania yang tak akan tenang di alamnya jika aku terus menyesali kepergiannya.
Bersambung, guys maaf author belum bisa up yang banyak, semoga masih setia menunggu*.
__ADS_1