
Waktu terus berlalu,setelah sepuluh tahun mendekam di balik jeruji besi.
Kini Andini menanti detik-detik kebebasannya.
Seorang petugas sipir datang membuka gembok dari tralis besi yang mengekang kebebasannya selama ini.
'Hm, akhirnya setelah sepuluh tahun aku bebas juga' batinya dengan senyum yang menyeringai.
Wajahnya kini lebih berseri karna sedang berbahagia.
Andini keluar dari sel dengan perasaan bangga.
"Nyonya selamat anda sekarang bisa menghirup udara bebas. Namun bukan bearti anda bebas sepenuhnya.Anda di wajibkan lapor setiap minggunya, dan jaga sikap anda agar tak lagi masuk ke dalam bui ini lagi," pesan petugas silir.
Andini melirik sinis ke arah petugas sipir.
Andini tak menjawab. Sepuluh tahun di penjara tak membuat keangkuhannya memudar hingga ia menjadi sombong kembali.
Dengan mendongkak kepala ia berjalan melewati koridor.
Sementara itu Barley membawa istri dan kedua anak mereka sedang berada di kantor lembaga pemasyarakatan guna menandatangani berkas-berkas.
Andini masih melangkah dengan angkuh.
Dari kejauhan ia sudah melihat Barley, seketika wajahnya menjadi cerah. Namun, ketika ia melihat seorang wanita cantik dan anggun yang sedang menggendong gadis kecil ber usia tiga tahun, tatapanya kembali sinis.
"Hm, nyonya Barley ternyata masih wanita yang sama. Apa putra sudah kehilangan selera terhadap wanita. Betah sekali ia menjadikan si miskin itu istrinya, " dengus Andini.
Andini kembali melangkah semakin mendekat ke arah Barley.
Barley tersenyum bahagia ketika melihat Andini kini berada di hadapannya.
"Mommy."
"Oh Barley putra ku, sudah lama mommy tak merasakan pelukan mu."
Ia pun langsung menghambur memeluk wanita tua yang telah melahirkannya.
"Selamat datang kembali Mommy," ucap Barley seraya merenggangkan pelukannya.
Santi hanya tersenyum melihat tatapan Andini yang masih dingin terhadapnya.
Andhra berdiri di belakang Santi entah kenapa ia tak menyukai seseorang yang di panggil Daddy-nya dengan sebutan mommy tersebut.
Tak begitu bagi Andini, melihat Andhra yang semakin tampan ia pun tersenyum sambil menghampiri Andhra.
"Hay cucu Oma sayang, " sapa Andini ramah.
Namun, Andhra terus menghindar tak mau di sentuh oleh omanya tersebut.
Andhra kini berusia sembilan tahun, semakin besar wajah dan karakternya semakin mirip dengan Barley.
"Andhra beri salam pada Oma!"perintah Barley.
Andhra menurut saja, ia pun menyalami dan mencium punggung tangan Andini, kemudian kembali bersembunyi di balik tubuh Santi.
Santi tak menyapa mertuanya tersebut karna ia juga tahu Andini tak akan menyukainya. Hanya mengukir seulas senyum.
Andini melirik ke arah ketiga orang tersebut.
"Kenapa Daddy tak ikut menjemput Mommy Barley? apa dia terlalu sibuk dengan istri barunya? " tanya Andini dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Daddy sedang sakit mommy, saat ini ia bersama istrinya. Sudah kita pulang saja. "
Barley merangkul Santi, ia pun meraih Alesha dari gendongan Santi.
Mereka pun berjalan melewati koridor.
Andini menatap sinis ke arah sepasang suami istri yang tampak semakin mesra itu.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, seketika suasana menjadi kaku.Tak ada obrolan yang penting yang terjadi di mobil.
Begitu pun Andhra yang terlihat tak nyaman duduk di samping Andini.
Mungkin karna sedari kecil ia tak mengenal Andini, lagi pula Andhra merasa seseorang yang keluar dari penjara itu adalah orang yang jahat.
Keadaan semakin sunyi hanya terdengar rengekan Alesha yang merasa ngantuk dan ingin mencari bantal guling kesangannya.
Alesha berkali-kali menguap dengan mata yang memerah menahan kantuk ia tak bisa tidur jika tak memeluk bantal gulingnya.
Melihat sang putri terlihat gelisah dan rewel, Barley merentangkan tangannya ke kepala Alesha.
"Sabar Ya sayang sebentar lagi kita sampai." Barley.
Alesha mengucek ngucek matanya, sesekali ia menangis.
"Mau bobo mommy, hiks hiks hiks. " Alesha terus merengek
"Sayang bobonya mommy peluk saja ya? "
Santi mencoba membujuk, namun Alesha semakin jadi menangis.
Andini mencibirkan bibirnya, entah kenapa ia benci mendengar suara tangis bayi.
Setelah membujuk dengan berbagai cara akhirnya Alesha pun tertidur sendiri.
Entalah Barley juga tak tahu mau bicara apa pada Andini, ia sendiri merasa canggung untuk ngobrol dengan ibu kandungannya.
Barley masih menyimpan kekesalannya terhadap Andini. Itu semua karna Andini telah berkhianat pada kedua daddy-nya.
Namun, sebesar apa pun kesalahan Andini, Andini adalah ibunya. Wanita yang paling berjasa di hidupnya.
Beberapa saat di perjalanan mereka pun tiba di rumah.
Mibil Barley berhenti tak jauh dari teras rumah mereka.
Mereka semua mulai keluar dari mobil, termasuk Andini sendiri.
Andini mengedar pandangannya kesegala arah. Keadaan rumah masih sama ketika sepuluh tahun yang lalu di tinggalkan.
Dengan langkah yang mantap Andini masuk ke dalam rumah yang dulu menjadi ke kuasaannya.
Kedatangan mereka di sambut oleh deretan asisten rumah tangga.
"Selamat siang Tuan. Selamat siang Nyonya," ucap para pelayan.
Andini melihat deretan para asisten rumah tangga dan tak satu pun di antara mereka ada yang ia kenal.
"Selamat siang semuanya! Beliau adalah ibu saya! saya harap kalian memperlakukan beliau seperti kalian memperlakukan saya. " Barley.
"Siap Tuan."
Andini menatap satu persatu para asisten rumah tangga yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Okey kalau gitu silahkan kembali ke tugas masing-masing. " Barley.
"Siap Tuan!"
Mereka semua pun kembali dengan tugasnya masing-masing.
Andini berkeliling-keliling melihat keadaan rumah, sementara Santi dan Andhra kembali ke kamar.
"Mommy, jadi Oma itu sekarang tinggal bersama kita? " tanya Andhra dengan mendengus.
"Hm, iya Sayang. Kenapa sih sepertinya Kak Andhra ngak senang gitu? "
"Hm, aku ngak suka sama Oma, tatapan matanya seperti orang jahat. "
Santi meletakan Alesha di atas tempat tidurnya.
"Ngak boleh gitu. Biar bagaimana pun Oma itu keluarga kita. Oma juga ngak punya keluarga lain seperti kita.Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan kehadiran Oma. Kamu juga harus menghormati Oma dan menyayanginya, mengerti? " Santi.
"Mengerti Mommy, "jawab Andhra terpaksa.
"Pintar, itu baru anak Mommy." Santi.
***
Andhini menuju kamar yang dulu ia tempati bersama tuan Hasta. Namun kamar tersebut terkunci.
Ia pun meminta kunci kamar, kepada salah satu asisten.
"Pelayan! pelayan! "teriaknya sambil berjalan menuju ruang tengah.
Salah satu dari mereka menghampri Andini.
"Ada apa Nyonya? "
"Mana kunci kamar saya?" tanya Andini.
"Maksud Nyonya kunci kamar tuan Hasta dan Nyonya Hana? "
"Apa?! " Jadi Hanna tidur di kamar ku? " tanya Andini dengan mata yang membelalak.
"Iya Nya! Kunci kamarnya juga sudah di ganti dengan menggunakan sensor sidik jari. Hanya tuan Hasta dan Nyonya Hanna yang bisa memasuki kamar tersebut!"
Mendengar itu seketika darah Andini mendidih.
"Apa! berani sekali mereka melakukan itu pada ku?!"
"Maaf Nya, jika Nyonya mau ada beberapa kamar kosong lainya," ucap asisten tersebut menawarkan.
"Apa kata mu?! kau berani mengatur ku?! kau tak tahu siapa aku?! "
"Aku pemilik dari rumah ini! Tau! " Teriak Andini.
"Maaf Nya. tapi bukannya rumah ini sudah di atas namakan nyonya Santi dan tuan muda Andhra?!"
Bagai tersambar petir di siang bolong mendengar hal itu, mendadak dada Andini terasa sakit di sebelah kiri. Seketika ia pun tumbang seraya memengang dadanya.
"Nyonya!" teriak Asisten rumah tangga tersebut.
Bersambung.
Hay guys maaf ya author langkau waktunya, semoga masih setia ya. Tanpa kalian apalah author.
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan like, saran dan kritiknya, vote juga hadiah, moga jadi berkah untuk kita semua. Aamiin.