
Petugas polisi datang menghampiri sel tahanan karna mendengar suara berisik, sesampainya di sana mereka melihat Andini yang di keroyok oleh Amora dan Veronica.
"Berhenti!" teriak petugas, tapi tak di gubris oleh ketiganya.
"Akh,!" Andini meronta-ronta meminta di lepaskan, kakinya juga terasa sakit akibat di tendang oleh Veronica.
"Rasakan kau nyonya Andini yang terhormat, sekarang tak ada siapa pun yang bisa membantu mu," ucap Veronica sambil menjambak rambut Andini.
"Sialan kalian, beraninya main keroyokan, awas nanti kalian akan ku adukan pada putra ku, Akh!" Andini berusaha meronta sambil berteriak.
"Berhenti!"seru polisi tersebut sambil mengetuk-ngetuk jeruji besi.
Prangk prangk bunyi jeruji besi yang di pukul, namun ketiganya pun masih tak berhenti.
Amora dan Veronica tak hirau mereka tetap mencakar dan menjambak rambut Andini.
"Hiks hiks lepaskan!"teriak Andini lagi.
Petugas pun langsung membuka jeruji besi dan masuk ke dalam sel tahanan, untuk melerai keduanya.
Amora dan Veronica di tarik kedua petugas, namun mereka masih menarik ujung rambut Andini.
"Rasakan kau! nyonya Andini yang terhormat, beraninya kau mencela putri ku!"teriak Veronica sambil meronta berusaha melepaskan cengraman polisi.
Hiks hiks, Andini meringis kesakitan.
Rambut Andini menjadi acak acakan, betisnya yang baru di jahit tersebut kembali mengeluarkan darah.
"Berhenti! Nyonya, kenapa kalian membuat keributan di sini?! "seru petugas.
"Dia yang menghina putri saya! wanita sepertinya memang patut di hajar!"teriak Veronica.
" Kalian memang bang*sat!.lihatlah apa yang kalian lakukan terhadap ku akan kubalas hik hiks hiks," cecar Andini sambil meringis kesakitan.
"Sudah Berhenti! jika kalian masih ribut dan bertengkar, jatah makan kalian akan di kurangi dan kalian berdua akan di masukan ke dalam sel isolasi karna kebrutalan kalian!" ucap petugas tersebut.
Amora dan Veronica berhenti bicara, mereka pun terpaku melihat kaki Andini yang mengeluarkan darah segar.
Hiks hiks, hiks Andini merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama luka bagian wajah dan kakinya.
"Akh pak tolong pak kaki saya berdarah lagi," ucap Andini sambil meringis.
Polisi pun memeriksa kaki Andini dan ternyata lukanya kembali menganga.
"Panggil dokter atau perawat saja, sepertinya luka robeknya kembali menganga, " ujar petugas tersebut kepada rekannya.
"Baik pak!" seorang dari mereka pun keluar dan kembali mengunci sel, sementara petugas yang lainya membantu Andini merebahkan tubuhnya di atas lantai yang beralas dengan tikar usang dari plastik.
__ADS_1
"Pak tolong beri tahu keadaan saya pada keluarga saya, "rengek Andini.
"Iya Nyonya, tapi sebelum itu anda harus di periksa petugas kami," jawab polisi tersebut.
Andini menatap tajam ke arah kedua orang yang tengah tersenyum bahagia melihat penderitaannya.
"Hukum mereka pak, mereka telah melukai ku! hiks hiks, "kecam Andini.
"Tentu, kami akan laporkan kasus ini sebagai kasus penganiayayaan dan sepertinya mereka akan di ganjar dengan pasal berlapis," papar polisi tersebut seraya meletakan tubuh Andini.
Kali ini Andini giliran Andini yang merasa senang.
Amora dan Veronica saling menatap beberaa saat mereka pun mengrpal tangan karna geram.
Tunggu saja kau Andini, aku ingin lihat jika kau tak mempuanyai kekuasaan lagi apa kau masih bisa sombong!
Veronica tersenyum menyeringai, puas melihat penderitaan Andini.
Petugas medis pun di panggil untuk kembali membalut luka pada betis Andini.
Hiks hiks sekali-sekali Andini meringis karna merasakan kesakitan yang luar biasa.
Petugas tersebut masuk ke dalam sel guna memeriksa luka di betis Andini,
Sementara Amora dan Veronica tersenyum puas melihat Andini yang kesakitan.
"Ehm, sebaiknya anda berhati-hati jangan sampai mengalami luka dan berdarah, bisa-bisa kaki anda bisa di amputasi, ucap petugas tersebut seraya membalut dan memberi perban pada luka Andini.
"Tidak dokter saya tak ingin di amputasi," ucapnya dengan bibir yang gemetar karna ketakutan.
"Kalau begitu jagalah luka jahitan ini agar tak terjadi infeksi," ucap dokter tersebut.
Hiks hiks, mereka berdualah yang membuat saya seperti ini, ucapnya seraya menunjuk ke arah Veronica dan Amora .
Veronica dan Amora menyilangkan tangannya di dada," cuih mengadu lah pada siapa saja Andini!" seru Veronica.
Andini menatap keduanya dengan ketakutan, ia takut jika Amora dan Veronica akan kembali menyakitinya.
Setelah membalut kaki Andini petugas tersebut ke luar dari sel tahanan dan kembali meninggalkan mereka bertiga.
Andini terbaring, beralaskan tikar berbahan plastik seadaanya.
Baru beberapa saat saja tubuhnya terasa ngilu, karna ia tak terbiasa tidur dengan beralaskan ubin dingin.
Veronica dan Amora mendekati Andini, mereka tersenyum menyeringai.
"Mau apa kau?!"tanya Andini ketakutan.
__ADS_1
"Tolong!"seru Andini.
"Wah Nyonya, kenapa kau takut melihat kami? bukannya kita ini sudah lama berteman, ha ha ha, sungguh kau teman yang setia Andini, ketika aku masuk penjara pun, kau juga ikut masuk penjara ha ha ha, tapi kenapa kau bisa ada di sini ?" tanya Veronica mengejek.
Andini merasa kesal sekali, ia hampir menyesal karna pernah bersekongkol dengan Veronica.
Diam kau Veronica! jika putra ku tahu jika kau yang melukai ku, dia pasti akan membunuh mu! " cecar Andini.
"Ha ha ha, ku rasa putra mu tak sepeduli itu pada mu, apalagi jima ia tahu kebusukan mu yang lain, ha ha ha" Veronica tertawa menggelak, sementara Andini ketakutan melihat kedua orang tersebut.
***
Di dalam mobil,
Barley terlihat murung, sebenarnya ia sedih melihat Andini yang harus menghabiskan hari-harinya di dalam penjara, bagaimana pun jahatnya sang ibunda, tetap saja masih ada belas kasihan di hati Barley terhadap Andini.
Santi menatap keraah suaminya, yang terlihat gelisah.
"Sayang kau kenapa? masih terpikir akan Mommy ?"tanya Santi.
Bulir bening menetes di sudut netra indah Barley, "Aku kesal tapi aku juga kasihan melihat Mommy yang di penjara dengan keadaan seperti itu,"ucap Barley.
Pria tangguh sepertinya juga akan rapuh jika mengalami hal yang serupa.
Satu sisi ia sadar betul apa yang di lakukan oleh Andini adalah salah, sedangkan sisi lainya ia juga tak tega membiarkan Andini berada dalam penjara dalam waktu yang cukup lama, apalagi keadaan Andini yang belum pun pulih dari luka akibat kecelakaan yang di alaminya.
Santi mengusap punggung suaminya.
"Sayang, lakukanlah apa yang menurut mu benar, bukannya sebagai anak kau juga harus berbakti pada ibumu, kau bisa kan menyewa pengacara mahal untuk mengurangi masa hukumannya?" ujar Santi memberi usul, ia tahu apa yang di pikirkan oleh suaminya itu.
"Iya sayang, aku pasti mengupayakan yang terbaik untuknya, terima kasih ya, karna kau ada bersamaku saat ini, sekarang aku tak punya siapa pun untuk ku berbagi selain dirimu," ucap Barley dengan raut wajah sedih, kemudian ia meraih tangan Santi dan mengecupnya.
Santi tersenyum melihat sikaf manis Barley terhadapnya.
"Iya sayang, "ucap Santi seraya mencium pipi Barley.
Keduanya pun saling melempar senyum.
Sesampainya di depan rumah mewah, Barley membuka pintu mobilnya untuk Santi.
Santi keluar dari mobil, "Sayang kamu hati-hati ya di jalan, jangan terlalu banyak pikiran nanti kamu sakit," ucap Santi seraya mencium punggung suaminya.
"Iya kau juga juga harus banyak istirahat, aku pergi, jaga diri mu dan bayi kita," ucap Barley kemudian mengucup kening Santi dan perutnya.
Barley masuk kembali kedalam mobil, sementara Santi melambaikan tangan ke arah suaminya yang memutar perlahan kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Setelah mengantar Santi, Barley memutuskan untuk kembali menuju kantornya.
__ADS_1
Bersambung guys, dukung author selalu ya, dengan like komen vote setiap minggu, i love u All 😘