Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Membesuk Amora


__ADS_3

Veronica datang menemui Amora.


Melihat putrinya yang terlihat kurang sehat ia pun merasa sedih.


"Amora!" Seru Veronica seraya menitikan air matanya.


"Mami,"suara Amora lirih.


 Amora tersadar mendengar panggilan dari ibunya, ia pun bangkit dan menghampiri Veronica.


"Amora kamu baik-baik saja kan?"tanya Veronica seraya menyapu bulir bening yang menetes di pipinya.


"Mami!mana mungkin aku baik-baik saja, berada di tempat seperti ini, Mami tolong aku keluarkan aku dari tempat ini!"rengek Amora.


"Iya nanti Mami coba, mengajukan penangguhan penangan kepada kamu," ucap Veronica.


"Secapatnya Mami! aku tak sanggup berada di tempat ini! aku sangat menderita dengan kehamilan ini, aku ingin membuangnya saja, aku merasa sangat tersiksa Karna anak sialan ini!" Cecar Amora sambil memukul-mukul perutnya.


Veronica kaget melihat perlakuan Amora.


"Berhenti Amora! anak yang ada di dalam kandungan kamu itu tidak bersalah! jika bukan karna kebejatan kamu! dia tidak akan parnah ada di kandungan mu!"


Veronika menarik tangan Amora agar berhenti menyakiti janinnya.


Amora menangis, hiks hiks "Tapi Mami, berada di dalam tempat terkutuk ini saja aku sudah menderita belum lagi aku harus bolak-balik ke kamar mandi yang kotor dan bau itu karna terus saja muntah-muntah, hiks hiks hiks, aku ngak sanggup Mami." Keluh Amora sambil menangis ia pun berlutut dan menangis bersimpuh.


"Iya Mami tahu Amora,Mami juga seperti itu saat mengandung kamu dahulu dan itulah resiko menjadi seorang ibu,"nasehat Veronica.


"Tapi kenapa kamu bisa tertangkap Amora? Bukannya kamu bilang kamu melarikan diri?"tanya Veronica.


"Semua ini karna Barley Mami, lihat saja suatu saat aku akan menghancurkan hidupnya sama seperti dia menghancurkan hidup ku!" Teriak Amora.


"Barley? Baiklah akan ku suruh Andini untuk memaksa Barley mencabut tuntutannya," ucap Veronica dengan tatapan mata berapi-api.


"Sekarang kamu makan dulu Amora, biar Mami yang memikirkan cara untuk mengeluarkan kamu dari tempat ini," bujuk Veronica.


"Tapi Mami aku ingin merokok,hanya itu yang bisa menghilangkan perasaan mual padaku," rengek Amora.


"Tidak Amora! wanita hamil tidak boleh merokok! Kamu sudah menghancurkan masa depan kamu sendiri dan Mami tak akan biarkan kamu menghancurkan masa depan anak yang ada dalam kandungan kamu itu! mungkin saja dia bisa bearti dan berguna bagi Mami dan kamu, suatu saat nanti, karna dialah yang akan menjadi pewaris keluarga kita." Veronica.


"Ha ha ha,.Apa yang Mami harapan dari anak sialan ini, di dalam perut saja dia sudah menyusahkan ku, apalagi nanti jika dia lahir ke dunia, cih aku tak sudi untuk mengasuhnya," cecar Amora.


Veronica menjadi berang,

__ADS_1


Plak..


Satu tamparan keras mendarat pada pipi Amora, hingga membuat Amora terhuyung ke lantai.


dengan mata yang memerah Amora menyentuh pipinya yang terasa sakit karna tamparan Veronica.


" Harusnya aku yang membuang mu sejak kecil Amora! Kelakuanmu lebih tak bermoral, kau lebih hina dan rendah dari binatang, binatang saja rela mati demi anaknya, aku menyesal telah melahirkan iblis seperti mu!" Cecar Veronica memaki-maki Amora dengan menunjuk-nunjuknya.


Amora terdiam dengan menatap tajam kearah Veronica yang mencaci makinya.


Keributan yang terjadi antara ibu dan anak tersebut menjadi pusat perhatian sekitarnya, penghuni lapas wanita yang lain.


Veronica segera pergi dari temat tersebut meninggalkan Amora.


Melihat sang ibu yang pergi begitu saja Amora menangis menjerit.


"Mami! Mami jangan pergi Mami,"teriak Amora.


"Mami jangan pergi!"teriak Amora berkali-kali meski bayangan Veronica sudah tak lagi nampak.


Sel tahanan tersebut menjadi gaduh, hingga menggangu penghuni yang lain, karna merasa terganggu seorang wanita penghuni lapas lainya buka suara dan berteriak kearah Amora .


"Hey penghuni baru!, berhentilah menangis, apa yang di katakan ibu mu itu benar adanya, binatang saja sayang pada anaknya! Wajahmu cantik tapi hati mu begitu buruk!" Cecar penghuni lapas wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.


Amora menoleh kearah wanita yang sedang mengipas tubuhnya dengan kertas karton tersebut.


" Ha haha, aku memang melakukan kejahatan dengan mencuri, tapi aku mencuri karna aku ingin anak-anakku makan-makanan yang enak, hidup begitu sulit bagi kami orang-orang miskin, sedangkan kau! Hidup enak saja masih tak mau bersyukur," papar wanita tersebut dengan santai.


Amora semakin geram melihat wanita Itu, ingin sekali ia mencekiknya namun tubuhnya masih terasa lemas,rasa mual itu kembali muncul, hingga memaksa Amora untuk kembali ke kamar mandi.


***


Setelah ngobrol sebentar, tuan Hasta mendekati Santi.


"Bagaimana Santi sudah baikan?"tanya tuan Hasta.


"Iya Daddy, mungkin besok sudah pulang," ucap Santi dengan tersenyum,ia senang atas perlakuan ayah mertuanya yang berbanding terbalik dengan ibu mertuanya tersebut, meski tuan Hasta tak banyak bicara namun dari kesehariannya Santi merasakan jika tuan Hasta seorang ayah baik.


"Ini Daddy bawa makanan untuk mu dan Barley, ucap tuan Hasta sambil meletakan tentengannya di atas nakas.


"Terima kasih Daddy," ucap Santi.


Sementara Andini masih menatap Santi dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Ya sudah Barley, Daddy harus kembali ke kantor,"ucap Tuan Hasta.


"Iya Daddy terima kasih," ucap Barley.


Andini menyilangkan kedua lengannya pada dada, ia begitu muak melihat semua itu.


Barley mengantar kedua orang tuanya menuju pintu keluar setelah itu ia kembali lagi menemui Santi.


Asti membuka bungkusan dari tuan Hasta, "Santi kamu makan dulu ya setelah itu kamu minum obat kamu," ucap Asti yang menuang makanan tersebut kedalam mangkok.


Melihat ibu mertuanya tersebut hendak menyuapi Santi, Barley menahannya.


"Tunggu Bu!"seru Barley.


Asti berhenti menunggu Barley menghampirinya.


Barley mendekat kearah Asti kemudian mencicipi makanan tersebut.


Asti dan Santi merasa heran, Asti pun menunggu perintah dari Barley selanjutnya.


Setelah merasa makanan tersebut aman dan bisa di konsumsi istrinya, barulah Barley mempersilahkan ibu mertuanya mempersilahkan Asti untuk menyuap Santi.


"Kenapa Barley? Bukannya makanan tersebut dari orang tuamu?"tanya Asti heran atas sikaf Barley yang seperti meragukan pemberian ayahnya.


"Aku tak curiga sedikitpun terhadap Daddy, aku hanya ingin memastikan makanan tersebut aman untuk Santi,aku tak ingin kejadian tersebut terulang lagi, aku tak ingin kehilangan orang yang ku sayangi untuk kedua kalinya, semua makanan dari luar harus di cicipi dahulu sebelum di berikan pada istriku,"papar Barley.


Santi syok sekaligus bahagia, ia pun tersenyum mendengar penuturan Barley betapa suaminya tersebut mengkhawatirkan dirinya.


Sayang? benarkan tuan menyayanggi ku? atau hanya menyayangi anak yang ada di dalam rahim ku, Batin Santi


Pada sore harinya Veronica menyesal telah mengumpat Amora, ia menyesalkan apa yang di katakan oleh Amora, namun sebagai ibu, ia juga tak tega melihat Amora yang harus di penjara dalam waktu yang lama, apalagi saat itu putrinya tersebut sedang mengandung.


"Aku harus lakukan sesuatu, agar Amora bisa terbebas dari tuntutannya, aku harus mengancam Andini agar dia bisa memaksa Barley untuk mencabut tuntutannya, "guman Veronica.


Veronica meraih handphonenya dan mencari kontak Andini, setalah meyentuh tombol hijau, beberapa saat kemudian telpon pun tersambung.


"Hallo Vero ada apa?"tanya Andini dengan jantung yang berdebar tak karuan.


Andini sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan Veronica kepadanya.


"Hallo Andini! kau harus bisa memaksa Barley untuk mencabut tuntutannya kepada Amora, jika tidak kau akan tahu akibatnya!" ancam Veronica tanpa basa-basi, ia pun langsung memutus sambungan telponnya.


Andini membelalakan matanya, seraya menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya.

__ADS_1


"Apa yang harus ku lakukan?"gumanya.


Bersambung dulu ya guys jangan lupa untuk dukung author ya. Terima kasih


__ADS_2