
Karna keadaan tuan Marco sudah membaik ia pun di pindahkan keruangan perawatan super VIP.
Keadaannya memang lebih membaik, detak jantungnya pun kembali normal namun saat ini ia masih belum sadar sepenuhnya.
Suster mendorong brankar beserta tuan Marco menuju ruang perawatan.
Barley dan Munir mengikuti kemana perawat tersebut membawa tuan Marco.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang tak begitu besar, tak seperti rumah sakit yang ada di kota mereka.
Setelah brangkar berada di tempat semestinya, para suster kembali memeriksa beberapa alat bantu kesehatan seperti EKG dan pemasangan selang oksigen agar berfungsi sebagaimana mestinya.
Setelah selesai dengan tugasnya tersebut, Suster pun menghampiri Barley.
"Ehm Tuan, jika butuh sesuatu anda bisa menekan tombol hijau pada tombol panel dan tombol merah jika keadaan pasien darurat, " papar Suster tersebut.
"Iya Suster," jawab Barley.
"Anda juga harus lebih sering mengajak pasien untuk berkomunikasi, untuk meransang sensitivitas otak korban, melalui obrolan atau pun dengan sentuhan kecil, itu bisa mengerakan syaraf motorik pasien."
"Baik Suster, lalu kira-kira berapa lama pasien bisa sembuh total?"tanya Barley.
"Semua tergangtung perkembangan kesehatan pasien, mungkin sekitar dua minggu lagi pasien baru di ijin kan untuk rawat jalan,"
"Dua minggu Sus?"tanya Barley dengan gelisah.
"Iya Tuan, selama perawatan sebaiknya anda tidak terlalu sering meninggalkan pasien, karna dukungan orang-orang terdekat bisa mempengahuri semangat pasien untuk sembuh," papar Suster tersebut.
Suster pun kembali menjalan kan tugasnya dan membiarkan Barley yang terdiam alibat pemaparannya.
"Dua Minggu? bearti selama dua minggu aku harus berada di sini, bagaimana dengan istri ku dia pasti sedih". guman Barley, ia pun menjadi dilema.
Iya sendiri belum memberitahu pada siapapun, jika tuan Marco adalah ayah biologisnya.
Termasuk Santi, ia juga binggung bagaimana caranya ia akan mengatakan pada tuan Hasta, jika dirinya bukan lah putra kandung dari tuan Hasta.
Barley mendaratkan bokong nya di sofa, ia sendiri tak tahu bagaimana caranya ia mengakui pada tuan Hasta mengakui semuanya."
__ADS_1
"Ah, Daddy pasti kecewa jika tahu kenyataan ini, kasihan Daddy selama ini ternyata mommy membohonginya, bagaimana bisa mommy mengadung anak dari pria lain sementara ia menikah dengan Daddy," dengus Barley, ia begitu kes
"Aku tak sanggup untuk berkata jujur pada Daddy, selama puluhan tahun ia mendidik ku ,menjaga ku dan menyayangi ku dengan tulus, tapi apa yang akan terjadi jika Daddy tahu jika aku bukan putranya, hiks hiks hiks, aku tak ingin kehilangan kasih sayang Daddy, aku tak ingin Daddy membenciku karna ternyata aku hanya anak haram dari hubungan _ Akh!"
Barley nenutup mulutnya namun ia mencoba berteriak, semua ini terasa membingungkan, bagaimana pun juga tuan Hasta harus tahu yang sebenarnya.
"Aku juga tak masalah jika Daddy mengambil semua pemberiannya kepada ku selama ini, karna ia berhak semua itu, tapi aku tak ingin dia sampai membenci ku, karna mommy telah menipunya hiks hiks hiks, aku menyayangi daddy tapi aku juga menyayangi tuan Marco sebagai Daddy ku, hiks hiks."
Barley terpuruk sendiri, tak pernah terpikir olehnya akan seperti ini jadinya
Ia pun duduk di sofa seraya mencondongkan tubuhnya kedepan hingga membentuk sudut siku-siku.
Baley menakup kedua telapak tangannya pada wajah, ia pun menangis.
"Hiks hiks hiks, mommy apa yang telah mommy lakukan, aku tak percaya jika mommy _hiks hiks, " tubuh Barley terguncang menahan tangisannya ingin sekali ia teriak, sedih ,marah dan kecewa.
***
Semenentara itu, Santi duduk melamun di atas tempat tidurnya, di pangkuannya sudah ada nampan berisi makan siangnya.
Santi terlalu rindu pada Barley, beberapa hari ini suhu tubuhnya turun naik, terkadang ia mengigau ketika tidur malam.
Sejak tadi pagi, Barley belum lagi menelpon Santi, ia juga tak tahu bagaimana kabar tuan Marco terakhir.
Wati membereskan kamar Santi dan melihat Santi yang tak menyentuh makanannya namun kembali melamun.
"Nyonya, kenapa tidak di makan?" tanya Wati yang duduk di hadapan Santi.
"Ehm, saya ngak selera Mbak," ucap Santi lirih, air mata pun menetes di pipinya.
"Nyoya saya tahu apa anda pikirkan, kenapa anda tidak mengajak kedua orang tua anda untuk menginap di sini,siapa tahu kehadiran mereka bisa menghibur Nyonya," usul Wati.
Santi menoleh ke arah Wati,
"Ehm benar Mbak, jika begitu tolong siapkan kamar untuk kedua orang tua saya Mbak, siapa tahu dengan kehadiran mereka saya tak merasa kesepian lagi tinggal di rumah ini," pinta Santi.
"Baik Nyonya, tapi sebelum itu anda makan siang dahulu kasihan janin anda, ia pasti kelaparan karna anda tak makan dan kasihan juga pada tuan mudakan? jika anda sakit dia pasti semakin khawatir dan stress,"bujuk Wati.
__ADS_1
"Iya Mbak, aku tak ingin suami ku kepikiran, dia di sana juga pasti lelah, bukan ke inginannya juga untuk tak pulang,"ucap Santi sedih.
"Iya Nyonya, tuan juga pasti merindukan Nyonya saat ini, hanya saja keadaan yang tak memungkinkannya untuk pulang, anda harus banyak-banyak bersyukur jika tuan muda selamat dari kecelakaan tersebut, jika tidak_"
"Hua..., jangan lanjutkan Mbak, aku ngak sanggup meski hanya mendengarnya, ngak sanggup membayangkannya, hua hua," Santi menangis memeluk Wati.
Wati pun menyambut hangat pelukan Nyonyanya tersebut sembari mengusap punggungnya, sejak mendengar berita kecelakaan yang hampir saja menimpa suaminya, setiap harinya ia merasa khawatir terhadap Barley takut terjadi sesuatu pada suaminya , rasa was-was itu selalu muncul di pikirannya hingga membuatnya sakit, apalagi kini Barley sudah berhari-hari jauh darinya, mungkin inilah salah satu ujian rumah tangga mereka, meski mereka sama-sama rindu tapi Santi coba untuk mengerti keadaan suaminya.
Setelah meminum obat penurun panasnya Santi terlelap di atas tempat tidur dengan Kompres instan berada di keningnya.
***
Sementara di bilik penjara, Andini mondar-mandir dengan gelisah, sudah tiga hari ini, Barley tak menemuinya, sementara tuan Hasta ia tengah liburan bersafari ke kota-kota suci bersama istri barunya.
Andini mendengus kesal.
"Kemana perginya Barley! sudah tiga hari ia tak menjenguk ku, tak membawakan makan untuk ku, aku terpaksa menyuci dan memakan makanan pejara lagi, huh," dengusnya sambil mondar mandir.
Beberapa hari ini Barley men-silence handphonenya karna ia berada di ruang ICU, hingga Andini tak bisa menghubunginya, sesekali Barley keluar dari ruang ICU hanya untuk menelpon Santi dan juga urusan pekerjaannya, sementara Andini, ia memang sengaja tak menghubungi Amdini, karna Barley merasa kesal terhadap mommy-nya itu.
Andini mencoba menghubungi Barley kembali dan tersambung, karna saat itu Barley sudah berada di ruang perawatan dan bisa mengaktifkan handphonenya kapan saja.
"Hallo Barley, kamu dimana? apa kamu sidah lupa dengan mommy ini, hingga kau tak menjenguk mommy dan mengantarkan makanan untuk mommy," omel Andini tanpa jedah.
"Oh, iya mommy, aku lupa memberi tahu mommy jika aku sekarang berada di rumah sakit sedang menjaga daddy," ucap Barley datar ia semakin greget.
"Hah, Daddy sakit, daddy sakit apa Barley? tanyanya syok, pura pura peduli.
"Hm,jika daddy yang mommy maksud adalah tuan Hasta Raja Prawira, mommy salah! karna aku sedang menunggu daddy ku yang lain yaitu tuan Marco," papar Barly dengan sinis.
Deg sert ..
Seketika Andini merasa syok, mendengar penuturan Barley.
"Jadi, jadi Barley sudah tahu?"Andini.
Bersambung.
__ADS_1
Tetap di tunggu dukunganya ya reader, dan bagi yang bertanya boleh ngak di penjara memeliki hape, maka jawabannya ia lah boleh, terima kasih yang sudah komen dan memberi dukungan maaf author blm sempat balas karna kejar crazy up, love u All 😘