
Mobil Arief perlahan keluar dari bandara.
Arief dan Dinar berada di dalam mobil yang sama yang di kendarai oleh dirinya sendiri.
Sementara Aldo , Asyia dan Delia berada di mobil yang di kendarai sopir pribadi Arief.
Keduanya duduk bersebelahan. Saling melempar senyum. kemudian tertunduk . Saat itu Asyia berada di antara mereka.
Tak ada pembicaraan, hanya senyuman dan saling melirik yang menyatakan perasaan mereka.
"Ayah apa benar Ayah akan menikah dengan Kak Delia? " tanya Asyia.
"Ehm, tergantung Kak Delia mau apa tidak? " tanya Aldo sambil melirik ke arah Delia yang sedang mengulum senyumnya.
"Kak Delia mau kan nikah sama Ayah? " tanya Asyia pada Delia.
Seketika Delia pun mengangguk.
"Asik! " ucap Asyia sambil memeluk Delia.
"Kalau gitu boleh ngak, aku panggil kakak sekarang dengan panggilan ibu?" tanya Asyia lagi.
Delia tersenyum sambil mencolet hidung Asyia.
"Tentu boleh Sayang, " sahut Delia.
"Hore! Terima kasih Kak, ops salah deh. Terima kasih ibu," ucap Asyia yang bahagia ia pun memeluk Delia.
Aldo tersenyum bahagia ke arah Delia.
"Terima kasih ya Delia, kamu sudah merawat Asyia. Kamu juga mau menerima aku dan anak ku dengan tulus," ucap Aldo dengan tatapan mata yang berembun.
"Sama-sama Bang!" sahut Delia dengan tersenyum.
"Asyik. Kalau Ayah dan ibu menikah berati aku boleh minta adik dong?" tanya Asyia dengan bahagia.
Delia tersenyum."Boleh dong! " sahutnya dengan malu-malu.
Aldo menjadi lebih percaya diri saat ini. Salah satu alasannya semangat untuk sembuh dan selain Asyia adalah Delia.
Ia ingin jadi lelaki yang bisa melindungi seseorang yang ia cintai.
Aldo tersenyum sambil menarik tangan Delia kemudian mencium punggung tangannya.
Bukan main senangnya hati Delia saat itu. Selain tampan dan baik, Aldo juga sosok yang romantis yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
"I love you Delia," ucap Aldo sedikit berbisik di telinga Delia.
"I love you too Abang." sahut Delia dengan senyum mengulum.
Sementara Asyia binggung melihat kedua orang tersebut berbicara dalam bahasa asing.
Asyia memeluk Delia yang membelai rambut dengan penuh kasih sayang.Dalam hatinya ia merasa bahagia. 'Ternyata beginilah rasanya memiliki ibu.' batin Asyia.
"Ibu, Kalau sudah menikah dengan ayah maukah ibu mengantar ku ke sekolah? akan ku beri tahu pada teman-teman yang mengejek ku, jika aku juga punya ibu seperti mereka, " guman Asyia.
Mendengar penuturan Asyia tersebut Dinar merasa haru
"Iya, Ibu janji akan meluangkan waktu untuk mengantar jemput kamu ke sekolah setiap harinya." Delia.
"Asik! " seru Asyia bahagia.
__ADS_1
Aldo tersenyum lagi kearah Delia, betapa beruntung dirinya kini, karna di karunia calon istri yang menerima keadaannya seperti Delia.
Meski Delia tahu jika Asyia itu anak yang berpenyakitan, Meski Delia juga tahu jika dirinya seorang mantan narapidana.Tapi Delia tak pernah mempersalahkan hal itu. Justru ia begitu menyayangi Asyia.
Tuhan memang baik karna menganugrahkannya kesempatan untuk bahagia, memberinya anak yang manis yang membuatnya selalu merasa bahagia, juga seorang calon istri yang sanggup menerima segala kekurangannya.
"Terima kasih sekali lagi Delia, aku janji meski dengan sederhana aku akan berusaha membuat mu bahagia. Aku akan jadi lelaki yang bertanggung jawab pada keluarga ku, seperti abang ku. Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan ini. Aku tak akan pernah menyia-nyiakannya, " ucap Aldo. ia pun mencium punggung tangan Delia.
Delia pun tersentum haru menyambutnya
"Iya Bang. Aku juga yakin kalau abang bisa membuat ku bahagia. Karna itu aku memilih Abang, " sahut Delia dengan tatapan mata yang berembun.
Keduanya pun saling melempar senyum bahagia.
Sepanjang perjalanan Aldo dan Delia saling menggenggam tangan . Mereka pun bercanda dan tertawa bersama Asyia.
***
Setelah dua hari berlalu.
Aldo meminta kepada Arief untuk secepatnya melamar Delia.
Arief dan Dinar langsung menyambut baik niat Aldo tersebut.
Tanpa menunggu waktu yang lama, ia dan istrinya akan melamar Delia untuk Aldo.
Saat ini mereka semua sedang menuju rumah keluarga Delia.
Beberapa hantaran pun sudah di persiapkan oleh Dinar selaku kakak ipar Aldo.
Mereka semua berada di dalam mobil,
Sebelumnya Delia sudah memberi tahu kepada keluarganya tentang kedatangan keluarga Aldo tersebut. .
Tentu saja mereka menyambut baik niat keluaga Aldo yang ingin melamar putri mereka yang boleh di katakan tak lagi muda.
Saat ini Delia berusia dua puluh tujuh tahun sementara Aldo tiga puluh tahun.
Apalagi mendengar dari Delia jika keluarga Arief adalah keluarga yang baik budi pekertinya.
Setelah berbasa basi dan berkenalan dengan anggota keluarga lainya.Arief langsung menyatakan maksudnya. Bicara langsung pada ibunda Delia.
"Begini Bu, kedatangan saya kemari selain untuk berkenalan dengan keluarga Delia, saya sebagai kakak dari Aldo juga ingin menyampaikan niat baik kami untuk mempersunting putri ibu yang bernama Delia. Dan saya berharap ibu bisa mempertimbangkan niat baik tersebut. "Arief.
Ibunda Delia menyimak seksama penuturan dari Arief. setelah berkompromi dengan beberapa saudaranya mereka pun segera memberi keputusan.
"Baiklah Mas Arief. Niat baik mas Arief saya terima. Delia juga sudah dewasa dan sudah sepantasnya untuk memiliki pendamping hidup. Saya berharap calon suami Delia bisa menerima keadaan kami yang seperti ini. Dan juga bisa menerima kekurangan dan kelebihan putri kami, agar tak menyesal nantinya. " ibunda Delia.
"Tentu Bu. Kami sudah lama mengenal Delia. Saya juga berharap ibu dan keluarga bisa menerima adik dan keluarga saya, ya seperti inilah keadaan kami. yang tentunya itu tahu sendiri jika Aldo sudah memiliki seorang putri. " Arief.
"Tentu saja itu bukan suatu halangan Mas Arief. Jika keduanya merasa cocok dan berniat yang baik, kami sekeluarga hanya bisa merestui hubungan mereka."
Mereka semua yang ada di ruangan tersebut saling melempar senyum.
"Alhamdulilah," ucap merka serempak.
"Jika dari pihak keluarga Delia sudah menerima lamaran kami.Bagaimana jika kita tentukan saja tanggal pernikahan mereka? " usul Arief.
"Betul itu! Menurut saya semakin cepat semakin baik, " ucap Ibunda Delia.
Delia dan Aldo saling melempar senyum mesra. keduanya terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Suasana berlangsung khidmat ketika kedua keluarga berkompromi menentukan tanggal pernikahan Aldo dan Delia.
"Saya punya rencana, Bagaimana jika pernikahan mereka terjadi dalam dua bulan kedepan." usul ibunda Delia.
Arief dan Dinar berkompromi sejenak.
"Kami setuju Bu! Saya rasa waktu dua bulan tersebut cukup untuk mempersiapkan pernikahan bagi keduanya " Arief.
Setelah sepakat mereka pun menentukan tanggal pastinya. Sebelum itu mereka juga meminta persetujuan kedua calon pengantin tersebut.
"Jadi Aldo menurut kamu bagaimana jika pernikan kaliam terjadi dalam dua bulan kedepan? " tanya Arief.
Aldo mengulum senyumnya." Kalau saya sih maunya sekarang saja Bang, " cetus Aldo tanpa ragu.
Delia pun tersipu mendengar pertanyaan dari Aldo.
"Sudah ngak sabar banget Do, " canda Arief.
"Dua bulan itu sudah ngebut untuk menyiapkan acara resepsi dan pernikahan." Arief.
"Itu kan kalau bisa," sahutnya lagi.
Mereka semua tersenyum melihat Aldo yang sepertinya sudah tak sabar untuk menikah.
Setelah sepakat dengan waktu dan tanggalnya mereka pun ijin pamit.
"Begini Bu, berhubung Delia dan Aldo akan segera menikah. Kami bermaksud menitipan Delia di sini sampai keduanya resmi menikah. Karna jika dia masih tinggal bersama kami, kami tak ingin terjadi fitnah. " Arief.
"Benar Nak saya setuju, lebih baik Delia di sini untuk sementara waktu.Demi menjaga nama baik dari kedua keluarga. "
Arief tersenyum, "Terima kasih Bu. Karna kita sudah sepakat tanggal pernikahan , kami permisi dulu. Beberapa minggu lagi kami akan datang kembali untuk meminang Delia secara resmi. " Arief.
"Iya Mas Arief . Terima kasih untuk semuanya. "
Sebelum pulang Aldo menghampri Delia dengan memimpin tangan Asyia.
Delia, Abang pulang dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Dua bulan lagi Abang akan datang sebagai suami kamu," ucap Aldo.
"Iya Bang,Abang juga jaga diri baik-baik ya. jangan sampai kecantol dengan cewek lain loh. " Delia.
"Ehm, In Syaa Allah ngak akan Delia. Kamu sudah sempurna bagi Abang. Tak ada yang lain lagi di hati Abang. " ucap Aldo.
"Ehm..Ehm, Udah gombalnya Bang? " sahut Dinar menggoda Aldo.
Keduanya pun tersenyum tersipu malu.
"Sudah Do, tenang saja sebentar lagi Delia juga akan jadi milik kamu, in shaa Allah." goda Arief sambil menepuk pundak Aldo yang terasa berat meninggalkan Delia.
Ibu Asyia pasti kangen, dua bulan tak bertemu ibu. Tapi Asyia juga senang karna sebentar lagi Ayah dan ibu akan menikah. Asyai jadi punya orang tua yang lengkap, tutunya sambil memeluk Delia.
"Iya Nak. Asyia jaga diri baik-baik.Jangan nakal dan ingat minum vitaminnya secara teratur. Nanti ibu telpon setiap malam sebelum Asyia tidur, setuju? " tanya Delia
"Setuju," sambut Asyia.
Mereka pun pulang di hantar oleh seluruh keluarga Delia.
Delia melambaikan tangannya.Kini impiannya untuk menikah dengan seseorang yang ia cintai sudah di depan mata. pernikahan tersebut tingga menghitung hari.
Bersambung dulu ya reader. Terima kasih atas dukungannya saran dan komentarnya. dukungan kalian sangat bearti bagi autor.
Wasalammualaikum.
__ADS_1