
Cintya Datang kerumah orang tuanya,untuk mengeluhkan suaminya tersebut.
Baru saja tiba di muka pintu Cintya sudah berteriak.
"Mami! Mami! Papi! papi!" teriak Cintya memenuhi seisi ruangan tersebut.
Hiks hiks hiks, anak manja itu menangis tegugu di sofa ruang tamu rumah mereka.
Miranda dan tuan Alex langsung menghampiri putri mereka yang terdengar gelisah.
"Ada apa Cintya?!" tanya tuan Alex.
'Hiks hiks hiks, aku ngak sanggup lagi menjalani pernikahan dengang engkong itu Papi! hiks hiks hiks." Cintya menangis sambil menghentakkan kakinya.
Miranda menghampiri putrinya.
"Kenapa Nak?" tanya Miranda sambil mengusap punggung putrinya.
Hiks hiks.
"Aku ngak sanggup Mami, si aki-aki itu hampir setiap hari mendatangi ku. Dia minta jatahnya terus hua hua, hiks hiks," Cintya menangis sejadi-jadinya.
Miranda memeluk tubuh Cintya.
"Aku ngak kuat jika setiap hari harus melayani dia, kulitnya yang keriput, mulutnya yang bau ambis serta bau tubuhnya yang berbau minyak angin menyengat, bikin aku muntah - muntah setiap hari, hiks hiks hiks, aku tersiksa lahir batin Mami hiks hiks." Cintya mengungkapkan perasaannya dengan menangis sejadi-jadinya.
Tuan Alex dan Miranda saling melirik.
"Kamu sabar saja Cintya, bentar lagi tuan Demian bakalan mati kok," sahut tuan Alex mencoba menenangkan putinya.
"Tapi Papi aku sudah ngak tahan, apa harus nunggu aku hamil dulu baru tuh engkong -engkong mampus. Jangan- jangan justru aku yang mampus duluan. Setiap hari muntah melihat gendoruwo cungkring tersebut, hiks hiks hiks." Cintya.
"Pokoknya aku ngak mau kembali ke rumah itu lagi hiks hiks hiks." Cintya menangis memeluk Miranda.
Miranda merasa kasihan dengan putrinya tersebut.
"Iya Papi, Kasihan Cintya. Dia masih muda masih bisa miliki masa depan yang cerah. Kalau dia terus terjebak di pernikahan itu, maka sama saja kita menyiksa putri kita sendiri."
Tuan Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dilema mulai timbul di hatinya.
"Cintya beri papi waktu tiga bulan lagi, setelah perusahaa Papi bangkit dan kita kembali punya kekuasaan, maka akan ku habisi tuan Demian tersebut. Kau harus berpura-pura baik dengan tuan Demian. Jika perlu kau hamil anaknya, kau bujuk rayu saja dia agar dia memberi separoh warisannya untuk mu. Setelah itu kita lenyapkan tua bangka itu! " ucap tuan Alex.
"Hah, hamil anaknya? amit-amit Papi. aku ngak mau punya keturunann dari engkong itu, " dengus Cintya sambil bergidik ngeri.
Tiba tiba Cintya merasa mual, ia pun berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel.
Uek Uek ,
Miranda menghampiri Cintya merasa kasihan pada putri nya yang terlihat kurus.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Miranda menuntunnya kembali.
Cintya pun duduk kembali duduk di atas sofa.
Baru beberapa saat, ia mendapat telpon dari tuan Demian.
__ADS_1
"Hallo sayang. Kamu di mana? " tanya tuan Demian.
"Ehm, aku di rumah Papi," sahut Cintya lemah.
"Kamu pulang sekarang ya Sayang.Aa' ada hadiah untuk mu, "ucap tuan Demian.
"Iya , "Cintya langsung menutup telponya.
'Mami! si aki itu menyuruhku pulang Hiks Hiks, " tanggis Cintya lagi.
"Ya sudah kamu pulang dulu Nak,biar Papi yang akan mengurus nya nanti," ucap tuan Alex membujuk Cintya.
Setelah menenangkan kembali pikirannya dengan berat hati Cintya pulang ke rumah nya.
***
Waktu menunjukan pukul lima sore
Cintya mengintip dari jendela kamarnya, mendengar suara mobil masuk ke halaman parkirnya, matanya mengekori ke mana arah mobil tuan Demian yang perlahan masuk ke halaman rumahnya.
"Cuih, mau apa lagi si engkong itu ke sini, alasannya saja ingin memberiku hadiah,"
Cintya mondar mandir di depan tempat tidurnya menunggu tuan Demian dengan resah.
Beberapa detik berikutnya terdengar suara sol sepatu dari arah luar kamarnya.
Kreak pintu terbuka, tampak lah pria tua membawa seikat buket mawar merah yang mengguncup.
Dengan senyum ketulusan ia menghampiri Cintya yang menatap dengan tatapan benci.
Tak sedikit pun Cintya tersenyum dengan hadiah yang di maksud tuan Demian.
Cintya menatap dengan sinis, namun ia menyambut pemberian tuan Demian tersebut.
Tiba-tiba saja tercetus ide di kepala Cintya.
"Ehm Aa' kenapa kasih bunga ini, aku kan maunya bunga deposito, aku mau mobil mewah, uang yang banyak," cetus Cintya.
"Ha ha ha, tenang saja sayang, jika kamu hamil, Aa akan beri apa pun yang kamu minta." tuan Demian.
"Ehm begitu", guman Cintya.
'Aha kalau begitu aku pura-pura hamil saja,' batin Cintya.
"Ehm benar ya Aa, kalau aku hamil Aa' akan berikan apa saja untuk aku." Cintya.
"Tentu saja! sekarang layani saja Aa' " ucap tuan Demian.
Ia pun menarik tubuh Cintya di atas ranjang.
Cintya terbaring sambil menutup mata dan hidung nya. Ia pun menutup bibirnya agar tak di sentuh oleh kakek tua itu.
Tuan Demian memulai serangannya, meski sudah tua tapi permainan tuan Demian cukup brutal beberapa gaya pun di peragakan dalam satu ronde, Cintya kewalahan tubuhnya di buat beberapa kali terlentang, berguling dan tiarap oleh aki tua tersebut.
setelah menuntaskan pertarungan tanpa perlawanan tersebut selama berjam-jam,tuan Demian tumbang dan langsung tertidur pulas.
Sementara Cintya menangis frustasi di sampingnya. karna aki-aki tersebut semakin hari tenaganya semakin kuat.
__ADS_1
'Cih kapan mampus nya sih nih, orang. Udah ngak sabar gue lihat nih orang di kapanin' batin Cintya.
Tiba-tiba ia melirik selimutnya yang berwarna putih polos.
Cintya pun menarik selimut tersebut kemudian menutupi tubuh polos laki-laki tua itu.
"Nah kalau gini kan udah kaya mayat nih aki, moga aja malaikat yang lewat dan cabut nyawanya nih engkong, karna di kira ni engkong udah mau mampus. Biar ngak nyusahin aku, "dengus Cintya ia pun tertawa terkekeh.
***
,Tuan Alex berada di dalam ruangannya, seorang wanita datang menghamprinya.
'Ini Tuan berkas yang anda minta, laporan keuangan perusahaan, laporan penjualan produk kita, serta laporan hasil produksi, " ucap perempuan tersebut.
Ehm, Tuan Alex langsung memeriksa berkas laporan statistik penjualan produknya.
Matanya membulat seketika melihat data penjualan yang tertera pada berkas tersebut.
"Apa?! ada apa dengan penjualannya?! kenapa masih sama dengan bulan lalu?! " tanya tuan Alex dengan penuh emosi.
Sementara sang sekertaris hanya tertunduk.
Tuan Alex kembali membuka berkas laporan produksinya dan laporan keuangangannya.
Kali ini ia lebih marah lagi, Tuan Alex melempar berkas tersebut ke lantai.
"Bodoh! Kalian semua bodoh! produksi meningkat tapi penjualan malah menurun! kalau begini terus perusahaan ini bisa mengalami krisis keuangan! " cecar tuan Alex.
Plak bunyi meja di tepak dengan tangan.
Sekertaris tersebut pun kaget.
Suasana begitu mencengram, tuan Alex sudah kehabisan cara untuk mengangkat perusahaannya seperti sepuluh tahun yang lalu, saat ia berjaya dan menjadi pengusaha paling sukses.
Kini perusahaan kembali mengalami krisis.
Tiba-tiba seseorang datang terburu buru menghampiri tuan Alex.
"Maaf tuan, para buruh pabrik berdemo di depan kantor kita Tuan!" ucap pria tersebut dengan gugup.
"Apa? kenapa bisa terjadi seperti itu? " tuan Alex semakin syok.
"Para Kayawan berdemo menuntut gaji mereka dalan dan pensangon mereka yang belum di bayar oleh perusahaan."
"Hah?! " tuan Alex kaget, ia pun melihat ke luar jendela.
Kengerian terjadi di depan kantor mereka, para buruh berdemo dan berorasi menuntut hak hak mereka.
Tuan Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bagaimana Tuan? jika tidak di beri hak mereka, perusahaan kita bisa di laporkan ke Depnaker, pabrik kita bisa di tutup dan dilarang beroperasi!" ucap pria tersebut yang menjabat salah satu manager di perusahaan tuan Alex.
Seketika dada tuan Alex terasa sakit , ia memegang dada nya kemudian tumbang begitu saja.
Tuan Alex langsung terkapar.
"Tuan!" Seketika semua orang yang ada di sana menyeru tuan Alex yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung