
Beberapa hari berlalu, kini keadaan Cintya sudah lebih baik begitu pun tuan Alex.
Tuan Alex harus menggunakan kursi roda tubuhnya tak lagi bisa bergerak bebas.
Tuan Demian menggandeng tangan Cintya menuju lobi rumah sakit karna tubuh Cintya yang masih terasa lemas.
Cintya terus mengkerucutkan bibirnya dan selalu membuang muka, rasanya ia semakin muak melihat suaminya tersebut.
Tiba di lobi, mobil mewah tuan Demian menghampiri mereka.
Kali ini tak hanya Cintya , tapi juga tuan Alex dan Miranda ikut pulang bersama mereka.
Tentu saja hal tersebut membuat hati tuan Demian senang.
Di dalam mobil tuan Demian duduk di samping istrinya, katanya dia tak akan pernah jauh dari Cintya yang tengah hamil anaknya.
Sebenarnya tuan Demian punya beberapa putra dan putri, mereka semua sudah berkeluarga dan menetap di luar negri, ia juga telah memiliki lima cucu dari tiga orang anaknya.
Tuan Demian memiliki lima istri sirih dan satu istri sah. Istri sahnya juga sudah berumur jadi tak mampu melayani dirinya. Istrinya hanya nengijinkan menikahi satu wanita saja. Namun, karna tuan Demian termasuk lelaki hyper ***, jadi ia lebih memilih menikahi banyak wanita dari pada menyiksa istrinya dengan service berjam-jam hampir setiap hari.
Lagi pula diantara istri-istrinya yang lain hanya Cintya yang masih muda dan berstatus gadis meski sudah tak perawan.
Dengan lembut ia menyentuh perut istrinya.
"Darling, kelak anak kita memanggil kita dengan panggilan apa? " tanya tuan Demian dengan mesra.
"Eh, engkong kali ya," dengus Cintya.
"Jangan gitulah Darling, ini kan buah cinta kita, " sahut tuan Demian.
'Cuih buah cinta apaan?' batin Cintya.
Mereka pun sampai setelah hampir setengah jam berada di perjalanan.
Para Asisten rumah tangga sudah menunggu menyambut kedatangan penghuni rumah baru mereka, yaitu tuan Alex dan Miranda.
Seorang laki-laki membantu mengeluarkan tuan Alex dari dalam mobil dan mengangkat tubuhnya dan menaikannya di atas kursi roda.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Tak ada pilihan lain bagi Miranda selain menumpang hidup dengan menantunya tersebut.
Begitu pun dengan Cintya, mau tak mau ia harus belajar menerima kenyatan jika hidupnya dan keluarganya kini bergantung sepenuhnya pada tuan Demian.
***
Dinar menidurkan Asyia lebih awal, ia pun sudah menyiapkan susu hangat sebagai persiaapan.
"Asyia, kamu tidur yang nyenyak ya, jangan bangun sebelum bibik mu ini menyelesaikan misinya. ok."
Dinar tersenyum sembari meletakan Dinar di dalam boxnya
Jantung Dinar berdetak kencang menunggu sang suami kembali dari ruang kerjanya.
Dinar menggunakan linggeri hitam berbahan satin yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Dengan riasan seadaanya, ia berusaha tampil cantik di depan suaminya.
Dinar berada di depan meja riasnya, sedang mengkoreksi penampilannya.
Kreak ...pintu terbuka, Dinar menoleh ke arah pria tampan yang sedang memasuki kamar.
Arief melempar senyum sekilas, kemudian langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan langsung memejamkan matanya.
__ADS_1
Hah, Dinar mengkerucut kan bibirnya melihat suaminya yang terlihat acu.
'Ih, padahal aku sudah berdandan dengan cantik masih saja di cuekun,' batin Dinar.
Arief tampak terlelap beberapa saat setelah menjatuhkan tubuhnyadi atas kasur.
Dengan hati dongkol Dinar berjalan mendekati tempat tidurnya, karna ia merasa kesal ia pun menghempaakan tubuhnya di atas tempat tidur, hingga tempat tidur tersebut berguncang.
Dinar memiringkan tubuhnya membelakangi Arief. Namun ia melirik ke arah Arief kembali. Arief bergeming tak sedik pun ia sadar meski Dinar membuat gerakan tiba-tiba. Dinar semakin kesal karna merasa gelisah, sejak hamil ia dorongan sexnya lebih besar.
Setelah lelah membolak balikan tubuhnya , membuat tempat tidurnya berguncang, tapi Arief juga tak bangun.
Akhirnya dengan putus asa Dinar membalikan tubuhnya membelakangi Arief, ia pun menarik selimutnya untuk menutupi tubuh yang merasa kedinginan akibat memakai pakaian tipis
Meski merasa gelisah karna di landa gelora hasratnya, Dinar berusaha nemejamkan mata untuk tidur.
Beberapa saat kemudian Dinar membuka matanya karna merasa ada yang menggerayangi tubuhnya.
Dinar pun membalikan tubuhnya dan melihat Arief yang tersenyum ke arahnya.
"Mas kamu belum tidur?" tanya Dinar sedikit kaget karna ia yakin jika sebelumnya Arief sudah terlelap.
Ehm Arief tersenyum , "Mana mungkin aku bisa terlelap dengan tenang jika tugas ku belum selesai," ucap Arief sambil mengelus pipi mulus Dinar.
Dinar tersenyum tersipu", Maksud nya apa Mas? " tanya Dinar dengan wajah yang tertunduk merona.
"Maksudnya aku belunm menunaikan napkah batin ku terhadap istriku, "ucap Arief sambil tersenyum menggoda Dinar.
Dinar semakin tersipu , apalagi kini Arief menatapnya dengan mesra
''Jadi mas Arief tahu? " tanya Dinar lagi seraya tersenyum simpul.
"Ehm, tahu. Hanya saja aku ingin menggoda kamu, berharap kamu yang meminta duluan, " ucap Arief.
"Ehm kok aku sih, aku malu Mas," jawab Dinar sambil meraba wajah manis suaminya yang tak pernah jemu di pandang.
"Ehm, pasti mau," sahut Dinar seraya tersenyum.
Arief mendaratkan ciuman pada bibir Dinar, kemudian menyesap dan mengulumnya dengan lembut.
Kedua bibir tersebur saling bertaut, hingga mengeluarkan suara decapan.
Arief memperdalam ciumnya seraya melorotkan linggeri yang menutupi tubuh sang isti.
Wajahnya perlahan turun mencium dan menjamah setiap jengkal dari tubuh sang istri.
Dua gundukan kenyal milik Dinar masih menjadi primadona Arief.
Tubuh Dinar mengelinjang merasakan sensasi yang merindingkan bulu roma tersebut.
Secara bergantian Arief meremas dan menyesap puncak bukit tersebut
Dinar nenatap sang suami dengan tatapan penuh damba.
Dinar melengkuh ia sudah tak mampu menahan lebih lama, secara reflek ia pun menarik tubuh Arief agar mengukung tubuhnya .
Arief semakin semangat melakukannya , karna merasakan gerakan istrinya yang agresif.
Pertarungan pun dimulai.
Arief mulai menasukan senjatanya dengan pelan ke dalam celah sempit milik istrinya.
Lengkuhan lirih pun silih bergantian keluar dari bibir mereka selama pertarungan hangatnya.
__ADS_1
Tubuh Arief mulai terasa panas akibat metabolisme tubuhnya yang bekerja dengan gerakan memompa dan berayun dengang cepat, keringat pun mengucur dengan deras.
Pertarungan berada di babak akhir, satu hentakan Arief berhasil menembakan peluru berupa lahar hangat.
Arie memeluk Dinar semakin erat, sebelum ia menumbangkan tubuhnya tepat di samping Dinar.
Keduanya pun saling mematap mesra dengan senyum kepuasan dan keringat yang membanjiri tubuh mereka.
Setelah tubuh sedikit mendingin Dinar kembali masuk ke dalam pelukan Arief.
Ia sungguh merasa bahagia memiliki suami yang selalu bertutur dan berlaku lembut terhadapnya.
Tak pernah sekalipun pun Arief menyakitinya baik dari perbuatan mau pun dalam tutur katanya.
***
Pagi yang cerah kedua suami istri tersebut sangat antusias memandikan baby Andhra.
Santi yang menyiram air hangatnya sementara Barley yang mengusap tubuh bayinya dengan lembut.
Andhra tampak tenang ketika tangan Barley menggosoknya dengan lembut.
"Sayang, apa kau yakin tak ingin menyewa babysister untuk putra kita? " tanya Barley.
"Ehm, memangnya kenapa sayang. Dulu orang tua ku mengurusi kami seorang diri
tidak pernah sekalipun mereka menyewa Jasa babysister , Tak pernah sekali pun mereka mengeluh, justru itu akan semakin mengeratkan hubungan ibu dan anak. Aku tak ingin Anak ku di asuh orang lain," Santi.
Setelah mengangkat tubuh bayi dari dalam bak mandi Santi langsung menutupi tubuh putranya dengan handuk.
Baby Andhra tak menangis ketika di mandikan malahan ia terlihat menyukai air, ketika keluar dari air baru terdengar suara rengekannya.
Mereka pun membawa baby Andhra ke tempat tidur.
Santi menaburkan minyak telon dan bedak tabur sebelum memakaikannya pakaian, Santi merasa kesulitan untuk bergerak karna tubuhnya di peluk oleh Barley dari belakang.
"Sayang, aku sudah kangen," bisik Barley di telinga Santi ia pun mencium ceruk leher Santi hingga membuatnya bergidik.
'Ehm, sayang masih lama. Sebulan lagi, cetus Santi sambil menyambar bibir suaminya, kemudian mengecupnya
Barley menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebulan? masih lama banget. Mana bisa tahan kalau selama itu," dengus Barley.
Santi tersenyum," Memang seperti itu aturannya Sayang. Katanya mau jadi suami yang baik, Daddy yang baik. Baru suruh puasa empat puluh hari saja sudah mengeluh", dengus Santi sambil memasang popok pada putra mereka.
Barley mengkerucut kan bibirnya.
Tiba-Tiba Barley terpikir sesuatu , ia pun membisikan hal tersebut pada Santi.
"Santi tersenyum, Ia Sayang Nanti malam ya, "ucap Santi sambil meraba wajah tampan suaminya.
'Baiklah sayang, kalau begitu aku jadi tenang bekerja, "ucap Barley kemudian mencium bibir Santi.
Ia pun mencium baby Andhra." Jangan nakal Sayang, jaga Mommy dengan baik. " Barley.
Barley beranjak dan menghampiri nakas , menghampiri telponya yang berbunyi.
"Iya Arief ,ada apa? " tanya Barley.
-
-
__ADS_1
"Apa tuan Alex yang melakukanya?!" seketika Wajah Barley memerah.
Bersambung dulu ya reader, terima kasih.