Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kembali Pulang


__ADS_3

Azan subuh berkumandang terdengar menyeru seluruh Alam.


Arief terbangun dan langsung menerjab-nerjabkan mata.


Ia melirik kearah samping dan melihat Dinar dan Asyia yang tertidur lelap.


"Dinar! Dinar! " Arief mengguncang pelan tubuh Dinar untuk membangunkan-nya.


Em, Dinar meliuk kan tubuhnya kemudian membuka matanya.


"Dinar sholat subuh dulu," ajaknya dengan lemah-lembut.


Ehm, Dinar mengangguk lirih, Setelah beberapa saat ia pun bangkit.


"Iya Mas." Dinar .


Setelah sholat berjamaah Dinar kembali naik ke atas ranjang dan kembali tertidur karna ia merasa begitu lelah.


Karna Dinar belum terlalu dewasa, Arief pun mengerti dan membiarkan Dinar kembali tidur.


Asyia juga terbangun,memang sudah kebiasaan-nya ia selalu bangun subuh.


Arief membuat susu formula untuk Asyia,menggendong sambil memengang botol susu , kemudian mengganti popoknya.


Setelah Asyia kembali tertidur , Arief langsung beres-beres menyiapkan barang -barang mereka, karna hari ini juga mereka akan pulang.


pukul enam pagi, Dinar terbangun dan melihat barang-barang mereka sudah rapi.


Dinar bangkit seraya mengucek-ngucek matanya.


"Mas, Kenapa tak membangunkan ku?"tanya Dinar.


"Tak apa sekarang kau bersiap saja, sebentar lagi kita akan pulang. Karna karna kerjaan Mas menumpuk, " ucap Arief.


"Ia Mas, aku mandikan Asyia, setelah itu aku siapkan sarapan untuk kita. " Dinar.


"Iya." Arief.


Setelah memandikan Asyia, Dinar menyiapkan sarapan untuk mereka.


Bik Sumi juga sudah siap dengan barang-barangnya. Rencananya mereka akan pulang sebelum siang.


Arief menghampiri ibu mertuanya.


"Bu, ayo ikut kami tinggal di kota, saya hanya tingga bertiga di sana, jika ibu mau ikut, saya akan urus kepindahan adik -adik di sana," ucap Arief sebelum mereka berangkat.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak. Ibu dan adik-adik di sini saja, rumah ini adalah rumah peninggalan bapak mu, banyak kenangan yang ada di sini."Ningsih.


"Ehm, kalau begitu jika suatu saat ibu berubah pikiran, atau ibu rindu pada Dinar, ibu hubungi saya.In shaa Allah saya jemput. Dan setiap bulannya saya akan kirim uang untuk biaya ibu dan adik-adik," ucap Arief.


Ningsih begitu haru mendengar penuturan menantunya tersebut, ia sampai meneteskan air matanya.


'Ya Tuhan, ternyata menantuku orang yang berhati mulia, persis apa yang di ceritakan oleh Sumi, beruntung sekali putriku mendapat pria seperti dirinya,' batin Ningsih.


Ningsih menghapus air matanya.


"Terima kasih Nak, tapi yang terpenting bagi ibu kamu jaga Dinar dengan baik, itu juga sudah cukup bagi ibu hiks hiks ," ucapnya dengan tersedu-sedu.


"Tapi memang sudah kewajiban saya Bu berbakti pada orang tua, bukannya ibu juga orang tua saya. Lagi pula Dinar itu anak sulung dan jadi tulang punggung keluarnya, dengan menikahinya berati saya telah menjadi tulang punggung untuk ibu dan adik-adik " sahut Arief.


Mendengar kata-kata Arief tanpa sadar Ningsih memeluk Arief.


"Terima kasih Nak, semoga tuhan memberi keselamatan, berkah yang melimpah serta kesuksesan untuk mu sepanjang waktu, hiks hiks, "ucap Ningsih dengan tubuh terguncang memeluk Arief.


Arief menitikan air matanya mengusap punggung mertuanya yang menangis haru.


"Aamiin, terima kasih atas doanya." ucap Arief.


Setelah mengurai pelukannya kini giliran Dinar yang pamit pada ibundanya.


Entah Kenapa ia begitu haru apalagi melihat sang ibunda sampai menangis karna ucapan Arief,suaminya.


"Iya Nak kamu tenang saja ya, ibu di sini baik-baik saja. Ngak usah khawatir, kamu juga jaga diri, suami dan Asyia ya. Asyia itu titipan dan titipan itu adalah amah yang harus di jaga,"ucap Ningsih sambil mengusap kepala Asyia dengan lembut, kemudian mencium pipinya.


"Iya Bu."Dinar.


Setelah pamitan pada orang tuanya. Dinar menghampiri adik-adiknya yang sudah menangis dengan air mata berlinang.


Dinar menghampiri adik keduanya yang bernama Ratih.


Ratih masih duduk di bangku SMP.


"Ratih jaga ibu dan Angga, ya. Kamu belajar yang rajin nanti biar kakak yang kuliahkan kamu, ingat cita-cita bapak, ia ingin kamu jadi dokter, in shaa Allah kk akan tabungkan uangnya. Salah satu dari kita harus bisa mewujudkan impian bapak hiks hiks hiks," ucap Dinar haru. Ia pun memeluk adiknya.


"Iya Kak, Kakak tenang saja, aku akan belajar dan berusaha agar bisa membanggakan bapak dan ibu hiks hiks hiks, " ucap Ratih haru menangis dalam pelukan Dinar.


Arief melihat Dinar dan Ratih seperti itu, ia pun teringat pada Aldo.


Sebelum meninggal ibunya menitip kan Aldo pada dirinya.Namun ia tak bisa menjaga Aldo dengan baik, hingga Aldo terjebak dalam pergaulan yang tak sehat.


Arief menangis sedih teringat akan kesalahannya yang tak mampu memegang amah dari orang tuanya.

__ADS_1


Dinar menghampiri Angga yang masih kelas empat sekolah dasar.


Belum apa-apa Angga sudah menangis duluan, ia sedih karna baru saja bertemu Dinar, kini harus berpisah kembali.


"Hiks hik Kak Dinar!" seru Angga seraya menghambur haru memeluk Dinar.


"Angga kenapa menangis? "tanya Dinar sambil mengusap punggung Angga.


"Kak, apa kakak selamanya tak akan kembali kemari lagi hiks hiks hiks?" tanya Angga sedih.


"Siapa yang bilang Dek? Nanti jika suami kakak libur, kakak main ke sini lagi, "ucap Dinar masih mengusap punggung adiknya.


"Benar ya kak, jangan mentang mentang kakak jadi orang kaya terus kakak lupa sama kami di sini," tuturnya dengan sedih, Angga sampai menangis terisak.


Dinar tersenyum," Mana mungkin kakak lupa dengan asal usul kakak dek," ucap Dinar, ia pun mengurai pelukannya.


"Angga Kakak titip ibu dan kak Ratih Ya. Sebagai laki-laki satu-satunya di keluarga ini kamu harus bisa menjaga dan melindungi ibu dan kak Ratih, ingat loh kamu itu pengganti ayah disini," ucap Dinar seraya mengusap air mata Angga, padahal air matanya tak henti mengalir.


Kini giliran Angga yang mengusap pipi Dinar." Kakak juga jaga diri baik-baik ya! jangan lupa untuk menghubungi kami selalu," ucap Angga.


"Iya dek," sahut Dinar.


Arief tersenyum bangga, karna memiliki keluarga baru yang hangat persis seperti impiannya.


Impian Arief ingin membangun rumah tangga yang sakina mawardha warohma, bersama wanita yang mencintai dan mampu menerima dirinya apa adanya.


Kini ia seperti di anugrahkan berlipat ganda, tak hanya istri yang baik, tapi juga keluarga yang hangat, yang saling menyayangi.


Setelah berpamitan Arief dan Dinar pun diantar menuju mobil mereka oleh keluarga.


Untuk yang terakhir Arief kembali menyalami ibu mertuanya seraya menyerahkan amplop coklat.


"Bu, ini untuk ibu dan adik-adik bulan ini, bulan depan saya akan transfer uangnya."Arief.


Ningsih syok, ketika Arief menyerahkan segepok uang dalam amplop coklat.


"Kenapa bayak sekali Nak? "tanya Ningsih.


"Separuhnya untuk ibu dan adik-adik, separuhnya untuk orang-orang yang membantu acara akad nikah kami Bu. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih saya untuk mereka. Maaf saya tak bisa lama-lama karna saya punya tanggung jawab pekerjaan saya." Arief.


"Iya Nak, kami mengerti." Ningsih.


Setelah kepergian Arief dan Dinar, Ningsih membuka amplop tebal tersebut, ternyata isinya uang tunai sebesar 20 juta.


"Alhamdulliah," ucap Ningsih ia pun kembali haru.

__ADS_1


Bersambung, masih penasaran ngak ama penganten jandud kita? Episode berikutnya ya, Terima kasih atas dukungannya, semoga kita sekeluarga di beri kesehatan Aamiin.


__ADS_2